
Hai.. Hai... I'm back....sorry yah Up nya telat 🙏
soalnya dua hari kemarin Kk authornya lagi quality time bersama keluarga.
Happy Reading....
***
Keesokan harinya, Rachel masih dilarang beraktivitas ke kantor oleh Mahavir. Tanpa sepengetahuan Rachel, Mahavir sudah menyuruh Marry untuk meng-handle semua pekerjaan istrinya untuk beberapa hari ke depan.
Sementara Bryan kembali mengantar Risya ke Hall untuk latihan dari pagi tadi.
Bryan terduduk pada salah satu kursi yang ada di ruang loby Queen Elizabeth hall, loby yang di desain unik dengan beberapa kursi dan meja bundar layaknya sebuah kafe. Sementara Risya sudah sedari tadi masuk ke dalam auditorium bersama kawan-kawannya untuk latihan.
Tadinya Bryan ingin ikut masuk ke auditorium, tapi ia langsung teringat akan kehebohan dari kawan-kawan Risya saat mengantarnya kemarin, membuatnya urung mengikuti Risya dan akhirnya kembali ke loby dan duduk menunggu disana.
Bryan menengok ke kiri dan kanan, suasana loby terlihat agak sepi. Ia kemudian menengok jam pada ponselnya, setelah memperkirakan waktu di Jakarta, ia lalu menghubungi seseorang dengan nama 'My Sweetheart' pada tampilan layar ponselnya. Panggilan pertama tidak terangkat, panggilan kedua pun sama, barulah panggilan yang ketiga kalinya yang tersambung.
"Sorry ian, tadi ada pasien." ucap Raya diujung sana saat sambungan terhubung.
"Masih sibuk?"
"Sekarang sudah selesai, tapi aku buru-buru. Aku mau ke rumah sakit, ada beberapa resume pasien yang mau ku antarkan ke mamaku."
"Oh, baiklah. Nanti aku telfon lagi kalau sudah sampai di rumah."
"Tapi, sepertinya aku bakalan lama di rumah sakit. Aku ada janji dengan beberapa dokter koas disana."
"Oh, tak apa kalau begitu. Aku hanya ingin menanyakan kabar Aya saja."
"Aku baik kok, sudah dulu yah..."
"Iya, miss yo......" Belum selesai ucapan Bryan, sambungan itu langsung terputus.
Bryan menghela nafas panjang. Entah mengapa beberapa hari ini Raya seakan menghindar darinya. Setiap kali ia menelfon, Raya selalu beralasan sibuk dan mengakhiri pembicaraan di telepon dengan sepihak.
Bryan mendorong tubuhnya hingga bersandar pada sandaran kursi. Wajahnya terlihat tertekuk sambil terus memandangi layar ponselnya. Hatinya terasa galau, tapi ia sendiri bingung dengan sikapnya. Hatinya sangat berat untuk memutuskan sepihak hubungannya dengan Raya, tapi setiap kali mengingat Rey, rasa bersalah yang begitu dalam terus saja menggerogoti dirinya.
Helaan nafas panjang kembali hembuskan oleh Bryan. Setelah lama menimbang-nimbang dan melihat layar ponselnya, akhirnya Bryan men-diall nomor Reynold. Tak menunggu waktu lama, sambungan itupun terhubung. Namun dari ujung sana langsung terdengar suara makian.
"Hei, bocah. Jaga adikku baik-baik disana, jangan macam-macam padanya. Jangan menyentuhnya, jangan banyak bicara padanya, jangan melihatnya lebih dari lima menit." Cerocos Rey di ujung sana.
Bryan sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya dengan dahi yang mengerut.
Setelah yakin suara Rey sudah merendah, ia kembali mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Maksudnya?" Tanya Bryan masih kebingungan.
"Risya cerita padaku, katanya dia sudah dapat menstruasi pertamanya, dan katanya hanya ada kamu yang ada saat kejadian itu dan membantunya."
"Lalu?" Bryan menggaruk pelipisnya. "Bukannya kamu harusnya berterimakasih padaku kan? Bukan malah memakiku..."
"Justru karena itu. Sekarang dia sudah jadi anak gadis. Jadi kamu harus jaga jarak dengannya. Jangan pernah macam-macam dengannya."
"Macam-macam bagaimana? Kalau hanya satu macam?" Pancing Bryan. "Kalau aku pegang tangannya atau menciumnya bagaimana?" Lanjutnya memprovokasi Rey sambil menahan tawanya.
"MAU MATI KAMU?" teriak Rey di ujung sana penuh emosi.
"Memangnya kamu bisa apa kalau jauh disana?"
"Kamu lupa kalau ada Mahavir yang akan menggantikanku disana?" Ancamannya.
Bryan terkekeh, "Dasar..... Eh, aku juga tidak mungkin berbuat macam-macam dengan adikmu......Kecuali sudah menciumnya, lanjut batin Bryan.
"Aku sudah mewanti-wanti Risya untuk jaga jarak padamu, dan tidak lagi banyak bicara. Jadi jangan memancingnya. Ingat itu."
"Oh, berarti kamu yang membuat Risya jadi berubah sikap padaku?" Bryan menghela nafas lega, karena ternyata perubahan sikap Risya padanya bukan karena menyadari kesalahannya.
"Iya, aku melarangnya terlalu dekat padamu."
"Cihhh...memangnya aku seburuk apa dimatamu?"
"Aku kan harus jaga-jaga. Raya saja yang bertahun-tahun aku kejar, kamu bisa taklukkan dalam seminggu. Bahkan sudah menciumnya. Siapa yang tahu kalau kamu bakal melakukan hal yang sama dengan adikku."
"Kalau seandainya hal itu sudah terjadi bagaimana?"
"GILA KAMU? Kamu sudah apain adikku?"
"Astaga, aku hanya bercanda. Ternyata kamu emosian sekali. Mana ada cewek yang mau dekat-dekat kalau kamu seperti itu." Bryan tertawa kecil selama beberapa detik, lalu kembali serius. "Aku menelfon mu untuk masalah lain..."
"Masalah apa?"
"Soal Raya..."
Tak ada suara beberapa saat dari ujung sana. Hanya ada helaan nafas panjang yang terdengar beberapa kali. Hingga Bryan kembali membuka mulut.
"Aku ingin memberimu kesempatan."
"Kesempatan? Maksudnya?"
"Kamu bisa mendekatinya. Kalau kamu bisa mendapatkan perhatiannya, aku akan melepaskannya untukmu."
"Kamu gila yah? Kamu mau mempermainkannya?"
"Bukan, bukan seperti itu..." Bryan berdecak kesal, "Aku tidak berniat mempermainkannya. Hanya saja aku sudah dengar kisah kalian dari kak Vir, dan aku merasa bersalah hadir diantara kalian. Aku..aku hanya ingin memperbaikinya. Aku tulus menyukai kak Raya, tapi aku sadar perasaanku padanya tidak sebesar perasaanmu padanya."
"Kamu sadar dengan ucapanmu ini? Apa kamu tidak menyesal nantinya?"
"Mungkin aku akan menyesal, tapi aku akan lebih menyesal kalau bahagia di atas penderitaan orang lain."
"Tapi bagaimana dengan Raya? Bagaimana dengan perasaannya? Dia akan sakit kalau tahu kamu seperti ini padanya."
"Sepertinya Raya juga masih setengah hati padaku, kalau kamu kembali mengejarnya, mungkin dia akan goyah."
Terdengar tawa kecil di ujung sana. "Gila, baru kali ini ada laki-laki yang menyuruh laki-laki lain untuk mengejar pacarnya."
"Aku hanya memberimu kesempatan, kalau tak mau ya sudah. Begitu aku lulus, aku akan menikahinya, dan kamu sudah tidak punya kesempatan lagi."
"Tunggu, tunggu... Kamu serius?"
"Memangnya aku terdengar bercanda?"
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
"Aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya harus bersikap adil, sebelum perasaanku terlalu jauh pada kak Raya. Kata kak Rachel, kak Raya juga sebenarnya ada rasa padamu, hanya saja kak Rachel tidak tahu apa yang membuat kak Raya menutupi perasaannya."
"Benar seperti itu?"
"Buat apa aku bohong!" Kembali Bryan berdecak kesal. "Tidak lama lagi aku sudah aktif kuliah, dan tidak akan punya banyak waktu untuk menghubungi kak Raya. Sekarang saja kami jarang saling menghubungi karena perbedaan waktu dan dia yang selalu sibuk di rumah sakit. Bagaimana kalau aku sudah kuliah. Jadi ini kesempatan kamu untuk bisa mengejarmu."
"Aku tanya sekali lagi, kamu serius dengan perkataanmu?"
"Astaga,... Ya sudah. Aku tutup telfonnya."
"Tunggu, tunggu..." Terdengar suara helaan nafas. "Baiklah, aku setuju."
Bryan menelan ludahnya berkali-kali sebelum akhirnya berucap lirih. "Semoga kamu bisa mendapatkan hatinya...."
"Terima kasih. Tapi benar kamu tidak apa-apa?"
"Yah bohong kan kalau aku bilang tidak apa-apa, tapi aku sudah mempersiapkan hatiku...." Kembali menghela nafas. "Aku yang salah, aku yang tak tahu diri. Dan sekarang aku baru menyadarinya."
"Baiklah aku mempercayaimu. Lalu dimana adikku sekarang?"
"Tapi kenapa malah kamu yang mengantarnya kemana-mana? Mana Vir?"
"Astaga pengantin baru itu tak usah kamu tanyakan, kayak kamu tidak tahu saja."
"Astaga, jadi mereka sudah....?"
"Sudah apa? Jangan libatkan aku dengan pikiran kotormu."
"Heheh... Ternyata temanku itu sudah goll yah...akhirnya buka segel juga..."
"Astaga, itu mulut bisa di filter sedikit tidak?"
"Maaf, maaf, aku lupa kalau kamu masih di bawah umur."
"Hei, Hei.. Aku sudah dewasa yah!"
"Iya, iya."
"Ya, sudah. Aku tunggu kabar selanjutnya darimu."
"Kabar apa?"
"Astaga....!! Memangnya tadi kita bahas apaan?" Maki Bryan, ia mengacak-acak rambutnya saking kesalnya. Berbicara dengan Rey sama saja dengan berbicara dengan teman kelasnya yang kadang kurang nyambung dan telat mikir.
"Oh, Raya? Iya aku akan berusaha. Nanti aku kabari. Titip adikku yah."
"Iya, iya, aku akan menjaga calon jodohku di masa depan dengan baik." Gurau Bryan.
"APA KAMU BILANG?"
"Astaga, bisa pecah gendang telingaku kalau begini." Bryan menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu mendekatkannya kembali. "Bercanda, bercanda!"
"Ya sudah, sekarang aku lagi di jalan."
"Iya, iya." Ucap Bryan lalu mematikan ponselnya.
Bryan tertawa kecil lalu mengusap tengkuknya. Ia sendiri bingung dan tak percaya dengan apa yang sudah dikatakannya pada Rey.
Ya Tuhan... semoga saja apa yang kulakukan hari ini tidak membuatku menyesal dikemudian hari....
Bryan... Bryan....
kalau Raya jodohmu, dia akan tetap disisimu....
kalau bukan jodoh..... ?? yah... cari yang lain....
siapa??
Mmm.....Risya mungkin...hehehh...
Guman batin Bryan bermonolog sendiri, dan menertawakan dirinya sendiri.
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya, Bryan melipat kedua tangannya ke depan dada lalu kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil memandangi langit-langit Hall yang berdesain Brutalist hingga akhirnya ia tertidur.
Beberapa jam kemudian, Risya keluar dari auditorium. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Bryan dan akhirnya tertawa geli begitu mendapati Bryan tertidur di kursi loby.
Risya berjalan pelan menghampiri Bryan lalu dengan setengah membungkuk ia meniup-niup telinga Bryan. Bryan sedikit menggeliat geli namun belum terbangun, Risya kembali meniup-niup hingga sebuah tepukan dari tangan Bryan mendarat di pipinya.
"AWW..." Teriak Risya sambil mengusap pipinya.
Teriakan Risya sontak membuat Bryan terbangun.
"Sorry, sorry Ris...tak sengaja. Tadi kirain nyamuk."
Risya mendelik kesal. "Mana ada nyamuk gede dan secantik ini?" Marahnya.
Bryan tersenyum geli. "Iya, iya...Cantik." ulangnya. "Sakit?"
Risya melirik kesal lalu, memalingkan wajahnya sambil memakai tas punggungnya. "Sakitlah..!"
"Maaf, maaf...kan tidak sengaja." Mengusap lembut pipi Risya yang tak sengaja di tamparnya. "Sudah selesai? Pulang sekarang?"
"Iya!" Jawabnya dengan ketus. Membuat Bryan menahan senyumnya.
"Sudah, jangan ketus begitu!" Menarik lengan Risya lalu merangkul bahunya dan berjalan keluar Hall menuju parkiran, kemudian masuk ke dalam mobil sport berwarna merah.
"Sudah, jangan cemberut seperti itu lagi!" Seru Bryan sembari menyalakan mesin mobil dan langsung melesatkannya ke jalan raya.
* * *
Seharian ini Rachel di Penthouse hanya pasrah dan mengikuti semua keinginan dari Mahavir sesuai dengan janjinya sendiri.
Dan saat ini mereka sedang duduk santai pada sofa yang ada di rooftop balkon Penthouse mereka yang berdampingan dengan kolam renang.
"Vir...."
"Apa sayang?" Tanyanya sambil mengusap dan memainkan anak-anak rambut Rachel yang kini sedang berbaring di pahanya.
"Sudah dua hari ini kita di rumah terus. Apa kita akan begini terus selama beberapa hari?"
"Kamu bosan yah?"
Rachel mengangguk dan tersenyum.
"Lalu?"
"Kamu betul-betul menagih janjimu dan menempel seperti lem. Apa aku tidak bisa beraktivitas yang lainnya?"
"Kamu tidak suka kalau aku menempel padamu terus?" Menunduk dan mengecup bibir Rachel sekilas, lalu menatap Rachel dengan dalam.
Rachel mengulas senyumnya setelah kecupan singkat Mahavir, pipinya memerah dengan kedua mata yang tersipu malu karena terus dipandangi. "Kamu bisa bosan nanti kalau terus-menerus menatapku seperti itu."
"Aku sudah berkali-kali mengatakan padamu, bahwa aku tak akan pernah bosan padamu." Tersenyum lalu kembali menunduk, mengecup bibir Rachel sedikit lebih lama.
Setelah kecupan itu selesai, Rachel langsung memutar tubuhnya, hingga wajahnya menghadap perut Mahavir dan menyembunyikan wajahnya di sana.
Mahavir tersenyum melihat istrinya masih malu-malu setelah apa yang telah mereka lakukan berkali-kali. Sementara jari-jarinya sendiri masih tak berhenti mengusap-usap rambut panjang yang berwarna hitam kecoklatan milik Rachel.
"Kamu mau jalan-jalan?"
Rachel menarik kepalanya dan melihat wajah Mahavir. "Kemana?"
"Terserah kamu...atau kalau kamu mau kita bisa pergi berbelanja kebutuhan rumah. Kita kan belum pernah berbelanja bersama, seperti pasangan kebanyakan."
"Boleh, bahan makanan di kulkas juga sepertinya sudah habis." Bangkit bangun dan duduk di samping Mahavir dengan mata yang berbinar-binar. "Kalau begitu aku siap-siap dulu yah..."
"Iya, dandan yang cantik sana."
Rachel mengangguk, mengecup pipi Mahavir sekilas lalu berdiri dan melangkah masuk ke dalam Penthouse menuju kamarnya kemudian berganti pakaian dengan cepat.
Saat akan keluar kamar, pandangannya tiba-tiba tertuju pada ponselnya yang sedang di charger tergeletak di atas nakas. Rachel mengernyit dan menghampiri nakas lalu meraih ponselnya.
Buru-buru Rachel mengaktifkan ponselnya, beberapa notif dan chat masuk secara berentetan. Rachel memeriksa beberapa email pesanan dari pelanggannya terlebih dahulu, lalu berpindah memeriksa beberapa notif di media sosialnya hingga kemudian beberapa chat yang belum sempat dibacanya dari kemarin.
Rachel membalas satu persatu chat yang masuk, hingga kemudian ia membuka chat dari Kimmy. Rachel tersenyum geli melihat beberapa emoticon dari kimmy, dan beberapa kiriman fotonya. Jarinya lalu bergerak menscroll layar ponselnya. Foto pertama tampak seorang laki-laki berkulit hitam, menggunakan kaos hoodie dan topi dengan warna senada sambil memegang buket bunga dan bingkisan coklat persis seperti yang dulu biasa dia terima di kampus. Rachel memperbesar tampilan gambar, sedikit mengernyit dan mengingat-ingat, tapi tak ada bayangan tentang laki-laki itu.
Kembali Rachel menggerakkan jempolnya menscroll layar ponselnya, gambar kedua seorang pemuda berkulit putih bersih dengan membawa paperbag besar di tangannya. Namun wajahnya tidak terlihat jelas, jempol Rachel bergerak kembali, foto selanjutnya masih orang yang sama dengan tampilan wajahnya yang terlihat lebih jelas. Seorang pemuda berwajah oriental. Mata Rachel sedikit memicing, karena dia sedikit familier dengan wajah itu. Jarinya bergerak memperbesar tampilan gambar, beberapa saat mengingat-ingat, akhirnya senyum terbit di wajahnya kala mengingat kalau pemuda berwajah oriental itu ternyata pemilik salah satu kafe langganannya semasa kuliah dulu.
Rachel mengulum senyum, mencoba menahan tawanya. Astaga... Pantas saja kalau aku ke kafenya dulu dia sering salah tingkah. Aku pesan apa, dia berikan apa... Gumam batin Rachel sembari menggeleng-geleng geli lalu kembali melihat foto selanjutnya.
* * * *