Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 10.Terpaksa Menginap


Langit masih suram, beberapa kali petir terdengar bergemuruh. Hujan masih berlangsung tapi tidak terlalu deras seperti sebelumnya, hanya tersisa gerimis-gerimis kecil.


Arloji Mahavir sudah menunjukkan pukul 14.30.


30 menit berlalu setelah dari tempat pemakaman tadi. Pakaian yang dikenakan oleh Rachel dan Mahavir telah kering dibadan.


Perjalanan pulang ke rumah masih sangat jauh. Hingga Mahavir memutuskan untuk berhenti sejenak mengisi perut mereka di sebuah rumah makan yang tampak sederhana.


"Mau makan apa?" Tanya Mahavir.


"Kamu saja, aku tidak lapar"


"Sekarang sudah jam berapa? Tadi pagi kamu hanya sarapan Roti, itupun tidak habis Rachel!! Makanlah biar sedikit." Bujuk Mahavir.


"Aku tidak biasa makan ditempat seperti ini" Jawab Rachel ketus. Pandangannya menelisik tajam memperhatikan tiap detil yang ada di rumah makan itu dan membuatnya semakin tidak berselera.


"Rachel kita ini jauh dari perkotaan, kamu tidak akan menemukan restoran disini. Aku pesankan makanan yah.. "


"Terserah!!" Jawab Rachel ketus.


Mahavir hanya tersenyum-senyum melihat istrinya yang pemilih-milih itu.


Tidak lama kemudian dua porsi nasi goreng dan dua teh manis datang ke meja mereka. Tanpa menunggu lama Mahavir langsung menyantap nasi goreng miliknya dengan lahap karena dirinya memang telah lapar sedari tadi.


"Aku sangat heran denganmu, bisa dibilang kamu itu seorang konglomerat di London. Tapi aku perhatikan kamu sangat terbiasa makan di sembarang tempat."


"Terus memang nya kenapa?? Kalau lagi lapar kan tidak boleh pilih-pilih makanan. Lagipula sudah kubilang kalau aku ini sempat dibesarkan di panti asuhan kan?"


Rachel hanya terdiam mendengar perkataan Mahavir, nasi goreng miliknya hanya dimakan sebanyak 3 sendok itupun dengan rasa keterpaksaan karena juga merasa sedikit lapar.


Setelah makan siang yang terlambat itu mereka pun melanjutkan kembali perjalanannya.


Gerimis yang tadinya turun dengan pelan berubah menjadi hujan yang sangat deras. Kaca depan mobil pun semakin kabur membuat jarak pandang menjadi lebih pendek, sementara medan yang akan mereka tempuh sedikit terjal dan berliku.


"Sepertinya kita harus berhenti dulu, berbahaya kalau meneruskan perjalanan." Mahavir kemudian memutar stir mobil dan berbelok ke arah pusat keramaian daerah itu.


"Terus kita kemana?" Tanya Rachel.


"Kita cari tempat nongkrong dulu sambil menunggu hujan kembali reda." Mahavir mengamati bangunan dipinggir jalan kemudian berhenti tepat dihadapan bangunan Ruko yang berderet-deret. Ruko tersebut terdiri dari 6 petak dengan masing-masing tinggi 2 lantai. Di salah satu ruko merupakan mini market.


"Kenapa berhenti disini?"


"Tunggu sebentar." Mahavir kemudian turun dan berlari memasuki mini market. Tidak lama kemudian Mahavir muncul dengan sebuah payung.


"Turunlah, disana ada warung kopi, kulihat tidak ada pengunjungnya. Kita bisa bebas menunggu hujan reda disana." Mahavir mengarahkan payung ke Rachel.


"Aku menunggu di mobil saja."


"Rachel....!!!"


"Ok, ok,.. " Rachel kemudian menurut.


Jam dinding di warung kopi itu telah menunjukkan pukul 18.00. Mereka telah menunggu selama berjam-jam tapi hujan tidak juga reda malahan semakin deras. Kilat semakin mengerjap dan suara gemuruh semakin meledak-ledak.


Rachel terlihat sedikit ketakutan, kedua tangannya dia pelukkan ke tubuhnya yang gemetaran karena udara dingin yang dengan mudahnya menembus pakaiannya yang tipis.


Mahavir menyadari hal itu, dia kemudian berjalan keluar menengok ke kanan kiri ruko tersebut dan terlihat berbicara dengan pemilik warung kopi.


"Sepertinya malam ini kita terpaksa harus menginap" Ucap Mahavir sesaat setelah berbicara dengan pemilik Warung kopi.


"Menginap? di mana??" tanya Rachel.


"Katanya ada sebuah wisma di belokan setelah ruko ini."


"Wisma???"


"Iyya!! kalau kamu cari hotel berbintang ya tidak akan ada!! Belum ada tanda-tanda hujan akan reda, tidak mungkin kita menunggu disini terus." Mahavir mencoba membuka pikiran Rachel.


Rachel pun mengikut dengan keputusan Mahavir. Akhirnya mereka ke wisma tersebut dan memesan sebuah kamar.


Rachel terdiam kaku terduduk di ujung ranjang kamar itu. Pandangannya memutar memerhatikan seluruh isi kamar. Sementara Mahavir terduduk di ujung sebelah nya.


"Kenapa lagi?" tanya Mahavir yang memperhatikan tingkah laku istrinya.


"Kenapa cuma pesan satu kamar?"


"Rachel... Ini wisma, berbahaya kalau ketahuan ada seorang wanita tidur sendirian. Memang nya kamu mau kalau tiba-tiba ada orang masuk diam-diam."


"Terus, Kita tidur disini? Raa..rranjang nya cuma satu dan kecil."


"Muat kok untuk berdua" Ucap Mahavir santai dan dibalas dengan tatapan dari Rachel.


"Bercanda" Ujar Mahavir setengah terkekeh


"Kamu saja yang pakai, Aku tidak masalah tidur di lantai." Lanjutnya lagi.


Mahavir terus memandangi istrinya yang masih Kalut itu.


Rachel masih terdiam membatu, memasang ekspresi wajah yang aneh dengan alis tertekuk dan pipi yang bersemu merah, terlihat begitu menggemaskan di mata Mahavir.


Tanpa disadari Rachel, Mahavir menggeser duduknya mendekat ke tubuh istrinya itu, dan...


"CUP"


Bibir Mahavir mendarat sempurna di pipi Rachel,


belum sempat Rachel bereaksi atas kecupan itu


Mahavir kembali mendaratkan ciuman singkat ke bibir istrinya itu.


Sejenak mata mereka saling bertatapan, ada kilatan cahaya yang terjadi diantaranya.


Mahavir menggerakkan tangannya membelai lembut rambut Istrinya itu. Melihat tidak ada pergerakan maupun penolakan dari Rachel, kembali Mahavir mengecup bibir manis itu dengan singkat. Mahavir menunggu sinyal dari Rachel, tapi istrinya itu masih terdiam dengan pipi yang bersemu merah. Karena tidak mendapat respon penolakan Mahavir kembali hendak mengecup bibir manis itu lebih dalam lagi,


Tapi tiba-tiba...


"HHAAACCCHHIIIIIIII......" Rachel bersin dengan kerasnya hingga membuat Mahavir terkejut.


Dengan panik Mahavir menangkupkan kedua tangannya ke pipi Rachel dan semakin panik ketika menyadari Rachel sedikit demam.


"Mahavir....!!! Bisa-bisa nya kamu memikirkan hasrat mu sendiri tanpa menyadari kalau istri mu sedang sakit!!!!" Batin Mahavir.


Rachel terlihat lemah dengan tubuh sedikit menggigil. Mahavir baru menyadari wajah pucat istrinya itu. Di sambarnya dengan cepat kunci mobilnya.


"Aku keluar dulu, kunci pintunya baik-baik! Jangan pernah membukanya kalau itu bukan aku" Perintah Mahavir, Rachel pun menurut dengan lemah.


Hampir 25 menit lamanya, Mahavir akhirnya kembali dengan beberapa kantong belanjaan di tangan nya.


Satu kantong berisi berbagai macam obat flu, obat masuk angin dan berbagai macam minyak, mulai dari minyak kayu putih, minyak angin, hingga minyak gosok. Di kantong lainnya ada air mineral serta beberapa cemilan Roti dan biskuit. Sementara di kantong yang besar ada 1 buah sweater hoodie dan 1 buah celana pendek.


Mahavir menyentuh kening Rachel, masih terasa hangat. "Bagaimana perasaan mu sekarang?" Tanya Mahavir dengan raut wajah yang sangat khawatir.


"Aku baik-baik saja" Ucap Rachel dengan bibir sedikit bergetar.


"Minum dulu obat ini!" Mahavir memberikan sebutir tablet dan sebotol air mineral yang telah dibuka tutupnya.


Rachel meraih obat tersebut dengan tangan gemetaran kemudian langsung meminumnya bersama dengan air mineral.


Rachel betul-betul begitu lemah hingga tidak lagi menghiraukan apa yang Mahavir lakukan, dia pasrah.


Mahavir pelan-pelan membuka kaitan Bra istrinya kemudian dituangkan minyak kayu putih ditangannya dan digosokkan nya telapak tangannya ke punggung istrinya itu berharap itu bisa membuat tubuh istrinya hangat.


"Sebaiknya kamu ganti baju dulu" Ucap mahavir setelah memasang kan kembali resleting dress Rachel.


"Maaf, aku hanya bisa mendapatkan pakaian ganti seadanya di distro yang ada di dekat sini." Mahavir menyerah kan sebuah hoodie berwarna abu-abu dan celana pendek berwarna hitam.


Rachel menatap sendu, dan meraih sepasang pakaian tersebut tanpa banyak tanya. Bila keadaan nya normal tentu saja dia tidak akan mau sembarangan memakai pakaian yang tidak jelas asalnya. Tapi dengan keadaan nya sekarang dia tidak punya pilihan lain.


"Bisa pakai sendiri? Apa perlu aku bantu?" Mahavir menawarkan bantuan.


Rachel menggeleng pelan, "Aku bisa sendiri"


Mahavir memapah Rachel ke kamar mandi dan menunggu nya didepan pintu. Tidak berapa lama Rachel keluar telah menggunakan setelan yang telah dibelinya.


Mahavir membaringkan tubuh Rachel ke ranjang, kemudian dia selimuti tubuh istrinya itu rapat-rapat.


"Tidurlah, aku akan menjagamu" Mahavir mengusap pucuk kepala istrinya dan mencium keningnya yang masih hangat.


Didera rasa ngantuk yang berat, samar-samar Rachel masih merasakan tangan Mahavir yang menggosok-gosok telapak kakinya, berusaha membuatnya hangat.


Pukul 02.30 dini hari, Rachel terbangun dengan rasa kering di tenggorokan nya. Di mengedarkan pandangannya kemudian terhenti ketika matanya menangkap sosok Mahavir. Pria itu tertidur duduk di lantai dengan menyandarkan kepalanya ke dinding.


Masih teringat jelas reaksi dari Mahavir tadi, rasa kekhawatiran nya tidak dibuat-buat, dan tangannya begitu terasa dingin sewaktu menyentuh nya tadi.


"Benarkah dia sekhawatir itu padaku?


Mengapa???...... "


Rachel kemudian menyentuh bibir nya, dia masih bisa merasakan hangat nya sentuhan bibir suaminya tadi. Walaupun singkat tapi dia bisa merasakan kelembutan nya.


"Apa dia tulus mencintaiku...???"


Pelan-pelan Rachel turun dari ranjang dan menghampiri suaminya itu, dipandangi nya dalam-dalam wajah nya yang terlelap itu...


"Ternyata kamu pria yang baik,


Kamu tidak mengambil kesempatan dalam ketidakberdayaan ku....."


"Terima kasih.... " Lirih Rachel dalam hati.


Kemudian diam-diam dia kecup lembut pipi suaminya itu.


Mahavir masih terlelap, pelan-pelan Rachel menjauh dari Mahavir. Tapi kakinya tidak sengaja menginjak kantong plastik belanjaan tadi. Hal itu membuat Mahavir terbangun.


"Bagaimana demam mu?" Ucap Mahavir kemudian menangkup kan tangannya ke wajah Rachel.


"Aku sudah tidak apa-apa." Rachel tersenyum lembut.


"Syukurlah.... " Ucap Mahavir kemudian bernafas lega.


"Terima kasih..... "


"Itu sudah menjadi kewajiban ku, apapun yang terjadi kepadamu adalah tanggung jawabku."


"Walaupun......" Lirih Rachel


"Walaupun...???"


"Mmmm......Walaupun kamu belum mendapatkan hak mu sebagai suami??"


"Rachel sayang.... Aku akan selalu bersabar sampai kamu siap, aku tidak akan memaksa bila kamu tidak menginginkan nya"


"Maaf, tadi aku terbawa suasana hatiku dan tidak sadar menyentuh bibirmu." Lanjut Mahavir.


Rachel kembali terdiam, matanya menatap Mahavir, tapi kali ini dengan tatapan lembut nya.


Mahavir sejenak terkesiap, selama ini mata cantik itu hanya bisa melotot tajam padanya, tapi malam ini... Mata itu bisa memperlihatkan kelembutan nya.


"Virrr... "


"Hmmm??"


"Maafkan aku bila kadang bersikap kasar padamu. Kamu tahu sendiri, aku mengenalmu baru 4 hari."


Mahavir menatap Istrinya itu....


"Tapi aku mengenalmu sejak 15 tahun yang lalu..."


Lirih batin Mahavir, tak sanggup berucap.


"Sebenarnya aku punya sedikit trauma masa lalu, hal itu yang membuatku tak bisa membuka hati pada seseorang." Ujar Rachel.


"Tolong bersabar lah padaku, biarkan aku mengenalmu dulu lebih dalam." Lanjut nya lagi.


"Untukmu aku akan selalu bersabar, aku akan berusaha pelan-pelan membuka hati mu dan membiarkan ku masuk kedalam nya." Ucap Mahavir menatap lembut istrinya. "Mari kita saling mengenal satu sama lain dan pelan-pelan memulai nya dari awal."



Mahavir menyodorkan tangannya dan disambut dengan uluran tangan Rachel. Sejenak mereka saling tatap dengan genggaman tangan yang kuat.


"Kembalilah beristirahat" Ucap Mahavir.


"Kamu??" Tanya Rachel.


"Aku akan kembali tidur juga."


"Di lantai?"


"Mau dimana lagi?"


"Seperti yang kamu bilang, mungkin ranjang nya cukup untuk kita berdua."


"Rachel... Jangan memancingku."


"Aku percaya padamu, tadi kamu sudah berjanji tidak akan melakukan nya tanpa persetujuan ku."


Mahavir mengusap wajahnya, dia masih bingung dengan perubahan sikap istrinya itu.


"Semoga saja besok dia tidak berubah ke sifat sebelum nya... "


Ucap Mahavir sesaat sebelum membaringkan tubuhnya ke ranjang dan terlelap membelakangi Istrinya.


Tidak begitu lama suara dengkuran halus Mahavir terdengar. Rachel memandangi punggung suaminya.


"Good night my husband, have a nice dream...."


* * *


~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰


* * *