
Rachel diam-diam melirik Mahavir yang sedang memakai kemejanya di depan cermin. Laki-laki itu masih merajuk sejak dilempari majalah oleh Rachel dua hari yang lalu. Rachel sendiri tidak menyangka kalau Mahavir akan bisa semarah itu padanya dan mendiamkannya hingga dua hari lamanya.
Sejak saat itu Mahavir memang sedikit menjaga jarak dengan Rachel. Bila diajak bicara pandangannya tertunduk, dia sama sekali enggan menatap wajah Rachel. Seakan dia berkutat dengan pikiran nya sendiri.
Sudah dua hari ini pula Mahavir banyak menghabiskan waktu nya di hotel Calister, dan akan pulang saat malam hari. Alasannya pada Rachel karena ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum kembali ke London.
Rachel menatap gemas, dia sungguh tidak sanggup di cuekin seperti ini. Buru-buru Rachel bangkit dari duduknya dan menghampiri Mahavir lalu membantunya mengancingkan kemejanya.
Mahavir sedikit terkejut hingga langsung memalingkan wajahnya. Tapi aroma wangi dari Rambut Rachel membuatnya kembali melihat wajah Rachel, bersamaan dengan Rachel yang menengadahkan kepalanya untuk melihat wajahnya.
Mereka saling pandang hingga beberapa detik lamanya, hingga saat Rachel tersenyum, Mahavir tersadar dan langsung memalingkan wajahnya kesamping.
Rachel terdengar menghela nafas lalu menarik kerah kemeja Mahavir untuk membuat laki-laki itu membungkuk dan,
'CUP'
Rachel mengecup pipi Mahavir sekilas, tapi mampu membuat wajah laki-laki itu memerah.
"Kamu masih marah?" Rachel memberanikan diri bertanya. Dia membuat ekspresi mukanya seimut mungkin untuk meluluhkan hati Mahavir.
Mahavir mengernyit tak mengerti. "Marah? marah kenapa?"
"Mungkin karena aku melempari mu majalah dua hari yang lalu. Karena sejak itu kamu merajuk dan tidak banyak bicara padaku." Ujar Rachel dengan wajah merengut yang dibuat-buat.
Mahavir memutar matanya mencoba mengingat-ingat. Sumpah, dia tidak marah sedikitpun kepada Rachel. Apalagi kalau hanya soal sepele seperti itu. Dia hanya mencoba sedikit menjaga jarak agar dia bisa menahan diri setiap bersama dengan istrinya itu.
Tunggu, apakah dia mengira aku sedang marah karena sedikit menjaga jarak?
Astaga apa yang aku lakukan, kenapa dia bisa salah paham begini?
Batin Mahavir mengguman.
Mahavir pun tersenyum lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Rachel. "Aku tidak marah" Ucapnya dengan nada penuh kelembutan.
"Lalu kenapa kamu seperti sengaja menjauhiku dan tidak mau memandang wajahku saat berbicara dengan ku?"
"Aku seperti itu yah?"
Rachel mengangguk.
"Maaf, aku tidak sadar. Aku hanya memikirkan sesuatu."
"Memikirkan apa?"
Mahavir terdiam beberapa saat, hingga terdengar suara ketukan pintu kamar dari luar. Dengan segera Mahavir melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Rachel lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Bryan..., ada apa?"
"Kak..." Ucapan Bryan terhenti, dia terpaku di tempat. Matanya tertuju pada kemeja Mahavir yang tidak terkancing seluruhnya lalu sedikit mengintip ke dalam kamar. "A..akuu tidak ganggu kegiatan kalian kan?" Tanya Bryan ragu-ragu.
Mahavir menjentikkan jarinya ke kening Bryan. "Hei, memangnya apa yang kamu pikirkan? Sepertinya otakmu ini sudah mulai kotor."
"Yang mencemari otakku duluan kan ka Vir sendiri." Bryan mengusap-usap keningnya. Mengingat sudah dua kali dia memergoki kakak-kakaknya itu bermesraan.
"Ada apa?" Rachel datang menghampiri ke depan pintu sambil mengikat rambutnya dengan tinggi hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Kembali Mahavir memalingkan wajahnya.
"Oh, itu... Kata Daddy besok kita ke London, apa betul?"
"Ah iya, aku lupa memberitahukanmu. Besok Siang jadwal keberangkatannya. Kamu beres-beres, jangan sampai ada yang tertinggal yah."
"Wah..Kak Vir, kenapa baru bilang sekarang?" Guman Bryan menggaruk-garuk kepalanya kesal. Lalu berjalan meninggalkan kamar Rachel, tapi tidak lama kemudian kembali lagi. "Kak Rachel tau di Rumah Sakit mana kak Raya praktek?"
"Kenapa?"
Bryan mengusap tengkuknya.
"Sudah dua hari ini kak Raya menghindari ku, aku telepon tak pernah diangkat, aku datang ke kliniknya dia tidak mau menemui ku."
"Itu berarti dia tidak suka padamu. Jangan mengganggunya lagi. Lebih baik kamu siap-siap saja." Jelas Rachel.
Bryan memasang ekspresi kecewa.
"Kak Rachel bantuin dong."
"Bantuin apa?"
"Kak Rachel telepon kak Raya dan buat janji, biar nanti aku samperin ke tempat janjian itu." Pinta Bryan.
Rachel mengernyit, menatap heran dengan ide gila adiknya. Sementara Mahavir hanya menggaruk-garuk pelipisnya tidak mau terlibat dengan pembicaraan kakak beradik itu.
"My beautiful sister who is the only one in the world. Please....." Pinta Bryan dengan merapatkan kedua tangannya
"Ogah." Rachel lalu menarik Mahavir dan menutup pintu meninggalkan Bryan yang mengacak-acak rambutnya.
"Kak... Bantuin dong, sekali ini saja. Please!! My sister yang cantiknya kebangetan, tolonglah adikmu ini memperjuangkan cinta pertamanya." Bryan menggedor-gedor pintu kamar Rachel.
Tak lama kemudian Mahavir keluar dan membisikkan sesuatu. Senyum mengembang di bibir kedua laki-laki itu. Bryan memberi dua jempol kepada Mahavir lalu bergegas masuk ke kamarnya.
"Apa yang kamu bisikkan ke Bryan? Jangan-jangan kamu kasih ide yang lebih gila lagi." Ucap Rachel lalu berbalik tapi tangan Mahavir dengan lincah menariknya dan melepaskan ikatan rambutnya. Hingga rambutnya jatuh tergerai dengan indahnya.
"Kenapa di buka?"
"Lebih bagus digerai." Jawab Mahavir asal lalu menghempas tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Tidak jadi pergi?" Rachel bertanya dengan heran karena baru saja Mahavir memakai kemejanya.
"Kamu mau aku pergi?"
"Bukan itu maksudku."
Rachel menghampiri dan duduk di samping Mahavir. "Kalau tidak jadi pergi kemejanya diganti dengan kaos. Tuh jadi kusutkan." Rachel menarik kemeja Mahavir hendak melepaskannya. Jiwa fashionista nya meronta-ronta melihat pakaian yang kusut.
Mahavir terkesiap dengan apa yang Rachel lakukan. Spontan Mahavir menarik istrinya itu hingga terjatuh ke atas tubuhnya, lalu memeluknya dengan erat
"Kamu apaan sih?" Rachel menarik diri dan berusaha melepaskan pelukan Mahavir, hingga tubuhnya jatuh ke sisi kanan suaminya itu.
"Jangan banyak bergerak, kalau tidak aku tidak hanya sekedar memeluk mu saja."
Rachel langsung terdiam dan kembali merapatkan dirinya dengan Mahavir. Senyum pun terukir di bibir Mahavir.
"Sebentar saja, dua hari kemarin aku tidak memelukmu." Pinta Mahavir sembari membelai-belai rambut Rachel.
"Aku masih ngantuk, temani aku tidur sebentar lagi." lanjutnya, lalu memejamkan kedua matanya.
Rachel hanya pasrah berada dalam pelukan Mahavir. Kembali dia bisa mencium aroma tubuh suaminya itu dengan dalam.
* * *
Bryan melajukan motor sport nya. Menuju rumah sakit tempat Raya praktek. Atas saran Mahavir, dengan nekat dia mendaftarkan diri sebagai pasien sakit gigi setelah memastikan jadwal praktek drg.Raya pada suster yang berjaga.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya tiba giliran Bryan. Dengan percaya dirinya Bryan langsung duduk ke Dhental chair. Raya belum melihat keberadaan Bryan karena tertunduk membaca rekam medis pasiennya.
Raya bangkit dari balik meja kerjanya dan menghampiri Dhental chair lalu duduk di samping Bryan. Pandangan nya masih tertutupi oleh badan asisten nya yang sedang menyiapkan peralatan yang telah disterilkan.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Bisik Raya sambil berbalik melihat asistennya.
"Periksa gigi."
"Serius? Jangan bercanda, pasien lagi banyak-banyaknya."
"Aku serius. Sekarang periksa gigi ku dokter cantik." Bryan berucap sambil menarik tangan Raya untuk memeriksa giginya. Bryan pun membuka mulut nya lebar-lebar.
Sekali lagi Raya berbalik melihat asistennya yang terlihat menahan senyum. Lalu kembali menatap kesal pada Bryan.
Raya menghela napas lalu mengambil mirror mouth dan memasukkannya kedalam mulut Bryan untuk melihat keseluruhan bagian giginya yang berjejer rapi berwarna putih bersinar.
Raya mencoba bersikap profesional tapi bayangan bibir Bryan saat mengecupnya tiba-tiba terlintas dalam ingatannya hingga membuat mirror mouth yang dipegangnya terjatuh.
Dengan cepat asisten Raya menunduk dan mengambil alat yang terjatuh itu lalu mensterilkannya. Memberi kesempatan Raya untuk mengusir Bryan.
Bryan pun bangkit dengan terpaksa dari Dhental chair tapi sebelum itu dia berbisik lebih dulu ke telinga Raya. "Angkat telepon ku, kalau tidak aku akan datang lagi."
Raya mengangguk lalu mendorong Bryan keluar dari ruangannya. Raya mendesah pelan melihat kepergian Bryan yang masih sempat berbalik dan memberi kode dengan mendekatkan jari jempol dan kelingking yang terbuka ke telinganya.
"Loh pasiennya ke mana dok?" Tanya asisten Raya balik kanan balik kiri mencari pasiennya.
"Hah tadi itu cuma orang iseng." Raya lalu mendorong asistennya itu masuk kembali ke dalam ruangan.
"Pacarnya ya dok? Ganteng yah..."
Raya menatap geram sementara asistennya itu terus tersenyum-senyum.
"Panggil pasien selanjutnya." Perintah Raya.
* * *
Raya menatap gemas pada pemuda yang saat ini kembali duduk di Dhental Chair Untuk kedua kalinya dalam satu hari ini. Bryan benar-benar datang lagi sebagai pasien di klinik tempat praktek malamnya. Dan kini mereka berdua seperti sedang bermain dokter-dokteran.
Raya menghela nafas berkali-kali mencoba menahan kekesalannya. Sudah sejam lamanya dia memeriksa gigi Bryan, yang dari tadi mengeluhkan satu persatu giginya. Hingga keseluruhan dari jumlah giginya sudah diperiksa semua oleh Raya.
Kekesalan Raya sudah sampai di ubun-ubun. Dia sudah tidak sanggup berakting memeriksa gigi yang memang tidak sakit sama sekali.
"Sudah cukup Bryan, katakan apa maumu."
"Aku ingin bicara."
"Bicaralah, kamu kan sudah bicara sekarang."
"Tidak disini."
"Aku sibuk."
"Kalau begitu aku tidak akan beranjak dari tempat ini." Bryan bersikeras. Ini kesempatan terakhirnya untuk bisa bicara dengan Raya.
"Please kak..." Pinta Bryan dengan suara memelas. Dan akhirnya Raya pun luluh dan mengikuti keinginannya.
"Kak Raya bawa mobil?" Tanya Bryan saat mereka sudah ada di parkiran.
Raya menggeleng pelan. Bryan membuka jaket yang di pakainya lalu memakaikan nya ke Raya. Tak lupa juga dia memakaikan helm.
"Tak apa-apa kan kita naik motor?"
Raya mengangguk. Dia masih kesal untuk sekedar mengeluarkan suaranya.
Segera setelah keduanya naik ke motor saling berboncengan, motor itupun langsung melesat dengan cepatnya. Membuat Raya mau tidak mau melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Bryan.
Hari masih sore, tapi langit sudah mulai berubah warna. Tampak warna jingga dan keunguan saling membaur di birunya langit.
Motor sport itu membawa keduanya ke sebuah kafe modern di pusat kota. Bryan menggenggam tangan Raya tanpa menunggu persetujuan gadis itu hingga masuk ke dalam Kafe.
"Mau makan?" Tanya Bryan sambil menarikkan kursi untuk Raya.
"Minum saja."
Bryan memanggil seorang waitress dan memesan dua jenis minuman. Lalu duduk tepat di depan Raya. Tidak lama kemudian minuman dingin mereka pun datang.
Suara musik yang ceria terdengar mengalun menyapa tiap pengunjung yang datang. Kedua mata Bryan tak berkedip sedikit pun memandangi Raya, membuat Raya jadi salah tingkah hingga mengedarkan pandangannya ke sana kemari. Bryan yang sedari tadi merasa gemas dengan tingkah laku Raya memotretnya diam-diam.
"Kak..." Bryan memanggil Raya dan membuat gadis itu kembali fokus melihatnya. Dia ingin memberitahukan mengenai keberangkatan nya besok, tapi terlebih dahulu dia ingin memastikan status hubungan mereka.
"Kak Raya setujukan jadi pacarku? Kak Raya juga menyukaiku kan?"
Raya tidak menjawab, tangannya terangkat meraih gelas minumannya dan menyedotnya melalui sedotan beberapa kali. Mencoba membasahi tenggorokannya yang sudah kering sedari tadi.
"Aku menganggap kak Raya setuju karena tidak ada penolakan." Bryan menyimpulkan sendiri. Karena memang tidak ada kata-kata penolakan yang terlontar dari mulut Raya. Bahkan Raya tidak menepis saat Bryan menyentuhnya.
"Sepertinya hubungan kita tidak akan berhasil. Usia kita terlalu terpaut jauh." Raya akhirnya berucap setelah lama berfikir.
"Kita tidak akan tahu kalau tidak mencobanya."
"Aku terlalu tua buat mu....."
"Dan aku terlalu muda buat kakak? Begitu yang kak Raya maksud?"
"Saat ini pun kamu memanggil ku dengan sebutan kakak? Mana ada perempuan yang dipanggil oleh pacarnya sendiri dengan sebutan kakak?"
"Kalau cuma itu aku akan ganti panggilan kakak, bagaimana kalau sayang? My sweetheart? My Girl? My love? atau mungkin ada saran?
Raya melongo tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Lalu kemudian bergidik geli. "Panggil nama aja kan bisa... " Guman Raya pelan.
Bryan tersenyum mendengar ucapan Raya yang nyaris tak kedengaran. Dia meminta di panggil dengan namanya saja, itu berarti dia setuju menjalin hubungan dengannya.
"Baiklah aku panggil dengan nama kecil kak Raya, yaitu Aya. Dan kak Raya bisa memanggil ku dengan ian. Ini jadi panggilan sayang kita. Hanya aku seorang yang memanggil Aya, dan hanya Aya sendiri yang memanggil ku ian. Bagaimana?"
Raya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bocah ini betul-betul tidak memberinya celah. Tanpa sadar Raya mengangguk. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Semenjak Bryan menciumnya, pikiran dan perasaannya sudah tidak terkendali. Benarkah dia juga menyukai Bryan? Laki-laki yang usianya terpaut jauh darinya? Pertanyaan itu terus menari-nari dalam otaknya.
Bryan diam memperhatikan Raya yang terlihat memikirkan sesuatu selama beberapa detik, Hingga kemudian Bryan kembali berucap, "Besok aku akan ke London."
DEG
Satu kalimat yang singkat, membuat Raya terpaku. Situasi macam apa ini? Baru pacaran langsung ditinggal?
"Kamu ikut dengan Rachel dan suaminya?"
"Iyya, sekalian. Semua sudah diurus oleh kak Vir."
"Berapa lama?"
"Entahlah, tergantung bagaimana aku beradaptasi. Bisa cepat atau bisa lama. Kemungkinan sekitar tiga atau empat tahun. Tapi aku akan berusaha sesekali pulang kalau sempat."
Raya menunduk. Kembali pikirannya jauh berkelana memikirkan hubungan mereka kedepannya.
* * *