
Rachel terbangun dengan kepala yang berdenyut sakit. Buru-buru bangkit dari ranjang dengan tergesa-gesa menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang lagi-lagi hanya berupa cairan bening kekuningan. Hampir setiap pagi ia mengalami keadaan yang tak nyaman seperti itu.
Tapi tak sedikitpun ia mengeluhkan keadaannya itu. Tetap tegar meski harus berjuang seorang diri.
Dibasuhnya wajahnya yang tampak pucat itu dengan air dingin hingga tampak sedikit lebih segar. Melangkah dengan sedikit terhuyung-huyung menuju pintu kaca balkon kamarnya. Menatap suasana pagi hari di luar sana. Salju sudah mulai berhenti turun. Tampak pula tumpukan salju tebal serta boneka-boneka salju serupa olaf yang mulai menyusut, menandakan musim dingin akan segera berakhir.
Di eratkannya jaket berbahan rajut milik Mahavir yang saat ini terbalut di tubuhnya seraya menghirup dalam-dalam aroma yang masih tertinggal disana.
Kini hanya tertinggal Rachel seorang diri menjalani kehidupannya di penthouse mewahnya tersebut. Karena sehari setelah sampai di London Bryan sudah kembali masuk asrama dan menjalani aktivitasnya sebagai mahasiswa Oxford. Begitupun Lily yang sudah kembali ke rumah Granny mereka. Hanya saja kadang Lily maupun Anna sesekali menyempatkan diri menginap dan menemani Rachel secara bergantian di Penthouse tersebut.
Berkali-kali Granny, Lily maupun Anna membujuknya untuk tinggal bersama mereka, namun Rachel terus saja bersikeras untuk tetap di Penthouse-nya. Rachel sama sekali tak ingin meninggalkan tempat itu karena yakin suatu hari nanti Mahavir akan tiba-tiba pulang dan mencarinya. Kadang Rachel menertawakan kebodohannya sendiri, mengingat betapa ia dulunya begitu ingin lari dan meninggalkan tempat itu saat Mahavir mati-matian memintanya untuk tetap tinggal disisinya. Dan kini disaat laki-laki itu sudah tak ada, justru ia yang mati-matian tak ingin meninggalkan tempat itu. Walaupun harus bergelung dengan kesendirian dan keheningan yang ada.
Awal-awal kesendiriannya, Rachel sangat merasakan apa yang namanya kesepian. Setiap malam hanya diisi dengan tangisan kerinduan. Melampiaskan kesedihannya dengan airmata. Menyerukan nama lelaki yang amat dirindukan nya itu hingga ia terlelap dan terbuai ke alam mimpi. Mata merah dan bengkak selalu menjadi kesehariannya di setiap pagi. Jika melihat keadaan dirinya sendiri, Kadang Rachel hanya bisa tersenyum miris.
Hingga akhirnya ia pun tersadar kalau apa yang dilakukannya itu amat sangat sia-sia dan justru akan berpengaruh pada keadaan janinnya. Kembali mengingatkan dirinya kalau menyesali segala sesuatunya tidak akan membuat waktu terulang kembali dan malah akan mengurungnya pada kesedihan yang tak berujung. Pada akhirnya semua memang sudah terjadi dan ia harus tegar menghadapinya.
Rachel meraup seluruh udara disekitarnya dalam satu tarikan napas panjang, memasukkan pasokan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru nya.
Salah satu hal yang selalu dilakukannya setiap kali melakukan segala sesuatu yang mengingatkannya akan sosok Mahavir.
Seperti saat ini dimana ia tertegun di depan kulkas. Menatap hampa bahan-bahan makanan di dalam sana. Mengingat saat-saat ia terus bertanya pada Mahavir ingin di masakkan apa dan laki-laki itu malah memeluknya dari belakang dan terus berkata menginginkan dirinya, menginginkan dibuatkan anak yang lucu-lucu.
Vir....anak lucu yang kamu inginkan sudah ada disini.... Lirihnya sembari mengusap lembut perutnya.
Di tutupnya pintu kulkas tersebut setelah mengambil beberapa buah. Memasukkan dua keping roti gandum ke dalam alat pembakaran sembari membuat susu hamil yang sudah dipersiapkan oleh Bryan dan Lily sesaat sebelum Bryan kembali ke asrama.
Yah, adiknya itu bahkan membelikannya stok persedian susu hamil dan vitamin selama beberapa bulan kedepan untuknya. Beberapa catatan kecil yang dibuat oleh adiknya itupun tertempel di beberapa tempat untuk sekedar mengingatkannya.
Setelah menghabiskan susu beserta sarapannya, Rachel pun berangkat ke kantornya dengan mengendarai salah satu mobil Mahavir yang masih terparkir rapi di privat park penthouse tersebut.
"Vir, mobilmu aku pakai lagi hari ini yah...." Izinnya setiap kali menggunakan barang-barang suaminya.
"Aku tahu kamu melarangku untuk menyetir sendiri, maka dari itu cepatlah datang dan kembali supiri aku kemanapun." Lanjutnya lagi berguman seorang diri. Kemudian melajukan mobil mewah itu dengan segera menuju tempatnya bekerja. Tapi sebelum ke kantornya, Rachel lebih dulu singgah ke hotel Alister seperti kebiasaannya selama kembali ke London. Sekedar mencari tahu kabar terbaru dari beberapa karyawan dan staff disana.
Sudah berkali-kali Rachel datang ke hotel itu, bahkan dalam sehari ia bisa sampai tiga kali bolak balik kesana. Tapi hasilnya tetap nihil, seolah semua orang yang ada disana memang diperintahkan untuk tutup mulut. Atau mungkin mereka yang memang sama sekali tidak tahu menahu apapun? Entahlah! Yang pastinya Rachel tak pernah mau menyerah begitu saja. Walaupun harus berkali-kali kesana bahkan terus menunggu tanpa batas, Rachel masih sanggup.
"Can't you give me Mr. Stuart's phone number?" Tanya Rachel meminta nomor ponsel Mr. Stuart entah tuk kesekian kalinya.
Kedua resepsionis wanita itu lagi-lagi kompak menunduk. "I'm so sorry madam..." Ucap keduanya takut-takut.
Rachel menghela napas. Mengulum senyumnya dan mengangguk pelan, "it's okay..." Balasnya ramah. Kemudian berbalik meninggalkan hotel berdesain megah itu tanpa ada kekecewaan sedikitpun ditampilkan di wajah cantiknya, dan melanjutkan mengendarai mobilnya menuju kawasan Oxford Street dimana bangunan kantornya berada.
Pagi ini Rachel kembali berkutat sebagai seorang fashion desainer. Menyusun beberapa draft koleksi busana musim semi yang akan ditampilkannya dalam fashion show yang akan digelarnya di salah satu hotel berbintang di London. Sengaja ia menerima job runway agar pikirannya bisa sedikit teralihkan tanpa kehilangan fokus mencari tahu kabar Mahavir.
"Miss Rachel..." Merry melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan wajah tertekuk.
"What's wrong with your face?" Rachel mengernyit memandangi asistennya itu. Wanita pirang itu sudah mengaku padanya kalau ia bekerja padanya atas permintaan dari Mahavir dan juga ia memiliki hubungan saudara dengan Mr. Stuart. Namun walau begitu, keberadaan Stuart pun tak dapat diketahuinya sampai sekarang.
Merry merengut sembari meletakkan beberapa daftar perusahaan yang sebelumnya sering menjadi vendor dan sponsor pertunjukan catwalknya.
"No one is willing to join again?" (Tak ada satupun yang bersedia bergabung lagi?)
Merry mengangguk pelan. "So far they have helped because Mr. Alister, your husband asked them." (selama ini mereka membantu karena tuan Alister-suami anda yang meminta mereka.)
"I know that..." Rachel mengulas senyumnya. Dia sudah menduga hal ini. Sepertinya ini juga ada campur tangan dari mertuanya.
"It's okay....! this time we try to stand alone." (Tak apa, kali ini kita coba berdiri sendiri.)
Merry kembali mengangguk walau sangat pelan dan berat hati. Merasa miris melihat pimpinannya tersebut. Sungguh keadaan wanita cantik perfeksionis yang tadinya sangat angkuh dan percaya diri itu kini tampak begitu rapuh namun berusaha tampak tegar di depan orang-orang. Dengan cepat Merry meninggalkan Rachel sendiri diruangannya saat melihat mata wanita itu sudah mulai berkabut menahan genangan airmatanya.
Rachel segera mengusap matanya. Tak ingin lagi menangis untuk hal yang sia-sia. Di raihnya daftar yang tadi di letakkan Merry di atas mejanya dan menatapnya sendu.
Vir, ternyata aku memang bukan apa-apa tanpamu...
Gumamnya tersenyum getir seraya memasukkan daftar itu ke dalam laci terbawah meja kerjanya, lalu bersiap-siap untuk kembali lagi ke hotel Alister. Berharap kali ini ada seorang staff yang berbaik hati memberikan informasi apapun kepadanya.
***
Di tempat yang berbeda,
Mahavir menggeram penuh amarah. Rahangnya mengeras diiringi gigi yang bergemelatuk kuat dibaliknya. Sorot mata tajamnya terarah penuh menatap nanar laki-laki yang mempunyai bola mata yang sama dengannya. Ia sangat terkejut begitu mengetahui kalau dirinya ternyata dirawat di Amerika. Tempat yang sangat jauh dari tempat terakhir kali dirinya berada tanpa adanya kehadiran orang yang dicintainya. Bahkan sampai saat ini pun tak ada seorangpun yang mau memberitahukan kabar apapun dari istrinya.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa aku bisa berada di sini tanpanya?" Tanya Mahavir dengan sorot mata tajamnya yang terarah penuh menatap nanar laki-laki paruh baya itu. Saat ini ia tak berdaya di atas brankar-nya karena kedua tangannya diikat pada sisi-sisi brankar guna menahan dirinya agar tak lagi berusaha untuk melakukan tindakan-tindakan yang bisa merugikan dirinya sendiri.
Presdir James, sang Ayah berdiri dengan menopang sebagian beban tubuhnya pada sebuah tongkat kayu berukir di sisi brankarnya. Menatap balik sang putra satu-satunya dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Tenanglah. Dia baik-baik saja." Jawab Presdir setelah beberapa saat terdiam.
"Keadaanmu sudah seperti ini, tapi kamu masih mencari-carinya?"
"Aku seperti ini bukan karena dirinya. Ini semua murni kecerobohanku. Tak ada sangkut pautnya dengannya!" Seru Mahavir dengan nada suara yang mulai meninggi.
"Sampai kapan matamu itu terbuka. Semua yang terjadi dalam hidupmu itu karena dia. Wanita itu hanya membuat masalah dalam kehidupanmu. Aku menyesal tidak menahanmu waktu itu. Seharusnya memang aku tak membiarkanmu ke Indonesia menjemputnya. Sadarlah! Dia itu sama sekali tak cocok untukmu.
"Apa yang ayah lakukan padanya?" Tanya Mahavir dengan nada menuntut.
Presdir James menghela napas kasar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Menoleh memberi isyarat mata pada Mr. Forrer yang berdiri tepat di belakangnya. Mr. Forrer mengangguk kemudian mengeluarkan amplop coklat dari balik jas nya dan segera menyerahkan amplop tersebut pada Tuan James.
"Apa kamu pikir wanita itu masih mau mengurusi dirimu dalam keadaan seperti ini?" Tanyanya sembari mengeluarkan beberapa foto dan melemparkannya ke atas tubuh Mahavir. "Wanita itu bahkan masih bisa tertawa saat dirimu masih belum sadarkan diri." Tambahnya lagi.
Mahavir mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat lembaran foto tersebut. Sekilas ia bisa melihat beberapa potret yang menampilkan wanita yang sangat dicintainya itu sedang tersenyum bahagia bersama Lily, Raya dan Rey. Ada pula potret Rachel yang sangat terlihat cantik dengan make up glow dalam balutan gaun berpotongan pendek yang terlihat sangat ceria. Yang ternyata foto itu diambil secara diam-diam saat acara pernikahan sahabatnya sendiri.
"Aku yakin ini hanyalah akal-akalan ayah saja. Aku tahu dia tak seperti itu."
Kembali Presdir menoleh pada Mr. Forrer. Tangan kanannya itu menunduk sekilas, melangkah maju menghampiri Mahavir lalu mengeluarkan ponselnya. Membuka salah satu media sosial lalu memperlihatkan tampilan ponselnya itu pada Mahavir. Tampak dimana Rachel masih mengenakan seragam pasien rumah sakit dan terlihat tertawa geli diantara Lily, Risya, serta Bryan yang tampak seperti badut dengan riasan menor di wajah dan rambutnya.
"Kamu bisa melihat sendiri itu postingan dari siapa bukan?" Presdir James menyunggingkan senyum sinisnya. "Bahkan saat masih di rawat akibat kecelakaan bersamamu, dia sudah bisa tertawa seperti itu." Cemohnya.
Mahavir memalingkan wajahnya segera dari ponsel tersebut. Mr Forrer kembali memasukkan ponselnya ke balik jas lalu melangkah mundur.
"Ayo, sadarlah. Wanita itu sama sekali tidak memikirkanmu. Kamu hanyalah laki-laki yang tidak dianggapnya."
"Ini tidak benar." Mahavir menggeleng tak terima. "INI TAK BENAR!!" Teriaknya penuh amarah dengan tangan yang terus bergerak berusaha melepaskan ikatannya.
"Apa kamu tahu, kalau dia bahkan sudah kembali ke London dan memulai aktivitasnya seperti tidak pernah terjadi apapun? Bahkan saat ini dia sudah menyiapkan fashion show terbarunya."
Mahavir semakin menggelengkan kepalanya. Airmata mulai terjatuh dari kedua matanya. Tak ingin mempercayai apa yang dilihat dan didengarnya. Tidak mungkin Rachel seperti itu. Istrinya itu sudah berjanji padanya tepat sebelum kecelakaan itu terjadi. Tapi, bukti yang dilihatnya saat ini mampu menepis rasa percayanya itu.
"Nak, kalau dia betul-betul memikirkanmu, dia pasti akan mati-matian mencarimu. Bukankah dia wanita yang cerdas? Tidak sulit baginya untuk datang kesini bukan?" Presdir James melangkah perlahan menghampiri Mahavir lalu mengusap pelan lengan putranya itu.
"Saat kamu masih sehat dan sempurna saja ia sangat sulit menerimamu. Apalagi saat keadaanmu seperti ini?" Tanyanya menyudutkan Mahavir. Membuat putranya itu memejamkan matanya tak sanggup berucap.
"Lupakan dia nak. Lupakan semua tentangnya. Menyerahlah pada cinta bertepuk sebelah tanganmu itu. Mulailah kehidupan yang baru bersama orang yang lebih bisa menerima dirimu."
Kembali Mahavir menggelengkan kepalanya. Tetes demi tetes cairan bening kian terjatuh dari pelupuk matanya.
"Mana Stuart?" Tanyanya ketika teringat sosok asistennya itu.
"Dia banyak pekerjaan. Mengurus semua pekerjaan yang selama ini kamu tinggalkan."
"Ayah juga sengaja menjauhkannya dariku kan?"
"Terserah kamu mau berpikir seperti apa."
Kembali Mahavir memejamkan matanya dengan kedua tangan yang mengepal kuat menahan amarahnya.
"Sudahlah! Sekarang kamu istirahat, pulihkan keadaanmu secepatnya. Perusahaan membutuhkan tenagamu." Menepuk-nepuk pelan tangan Mahavir lalu berbalik dan melangkahkan kakinya hendak beranjak dari tempat itu.
"Walaupun kedepannya aku tak bisa bersamanya, tapi cintaku tak akan pernah bisa untuk yang lain. Takkan pernah ada wanita lain selain dirinya." Mahavir berucap lirih dengan suara serak menahan sesuatu yang bergejolak di hatinya.
Presdir berhenti melangkah. Menarik napas dalam dan membuangnya perlahan seraya menunduk sejenak. "Up to you. But I don't want to see you with her anymore." (Terserah kamu. Tapi saya tak akan pernah mau melihatnya lagi bersamamu.) Ucap Presdir penuh penekanan, lalu kembali melangkah keluar meninggalkan Mahavir dalam keheningan ruangan yang terasa begitu dingin.
"Paman..." Tegur Hannah sembari bangkit berdiri dari kursi tunggu begitu Ayah Mahavir keluar dari ruang perawatan VVIP itu.
"Paman serahkan dia padamu. Tolong kamu temani anak keras kepala itu. Bujuk dia baik-baik agar bisa melupakan wanita itu."
"Tapi paman..."
"Hannah, I know you love him very much." Presdir James menyela cepat ucapan putri rekan bisnisnya itu sambil menepuk pelan pundaknya.
Hannah sontak terdiam tak berkutik. Tak percaya kalau Presdir James menyadari perasaannya terhadap putranya itu. Perasaan yang selama ini dipendamnya dalam-dalam sejak kuliah bersama laki-laki itu di Oxford.
"Don't hide your feelings anymore. show him. so that he also knows that there are people who love him more sincerely." (Jangan lagi tutupi perasaanmu itu. Tunjukkan padanya, agar dia juga tahu kalau ada orang yang lebih tulus menyayanginya.)
Hannah tertegun sesaat, kemudian akhirnya mengangguk pelan.
"Paman akan ke Paris beberapa hari. Tolong jaga dia."
Kembali Hannah mengangguk. Memandangi laki-laki paruh baya itu hingga menghilang dari pandangannya. Menarik napasnya dalam-dalam lalu beranjak masuk ke dalam ruang perawatan Mahavir.
***