Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 88.Dilema.


Mahavir berdiri di ambang pintu, sejenak memandangi istrinya yang terlelap selama beberapa detik hingga akhirnya menutup pintu dengan perlahan. Hampir saja ia berbuat kesalahan karena terbawa perasaan dan nafsu sesaatnya. Mahavir menghela nafas panjang kemudian melangkahkan kakinya menuju arah tangga.


"Tuan Alister, apa anda tak jadi menemaninya?" Tanya Kimmy yang baru keluar dari kamar sebelahnya, mengagetkan Mahavir dan membuyarkan lamunannya.


Mahavir hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Itu... Apa saya bisa bicara sebentar?" Pintanya sembari mempersilahkan Mahavir duduk di sofa.


Mahavir berbalik, mengangguk dan duduk di sofa yang dipersilahkan oleh Kimmy.


"Hmm...itu...Saya mewakili Sam ingin meminta maaf pada anda."


"Sam?" tanyanya dengan menaikkan kedua alisnya.


"Ah, dia suami saya. Karena dia hubungan anda dengan Rachel jadi..."


"Apa maksudmu?"


"Sa..saya juga baru tahu tadi, kalau ternyata karena Sam yang memperlihatkan foto-foto anda saat mengamati Rachel di kampus dulu, Rachel jadi mengetahui identitas anda.


"Jadi..??" Mahavir yang terkejut langsung membulatkan matanya menatap Kimmy. Rahangnya terlihat mengeras, sementara kedua tangannya terkepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Membuat Kimmy merasa sangat terintimidasi.


"Apa saja yang dia katakan padamu..."


"I.. Itu....." Kimmy menunduk takut salah bicara.


"Katakan saja, tak usah takut padaku..."


"Dia hanya cerita tentang masa lalu anda, bagaimana anda menipunya dan bagaimana perasaannya saat ini. Sejujurnya saat ini Rachel belum siap dengan....."


"Aku tak punya niat sedikitpun untuk menyakitinya." Ucapnya menyela perkataan Kimmy.


"Saya tahu Tuan Alister. Saya juga sudah menasehatinya. Hanya saja sepertinya dia masih merasa terluka dengan cara anda menipunya dan butuh waktu untuk menyembuhkan luka itu."


Mahavir mengangguk dan bangkit berdiri. "Tolong jaga dia. Pastikan dia tak kemana-mana setelah bangun dari tidurnya."


"Anda tak perlu khawatir. Saya sendiri yang akan mengantarkannya saat perasaannya sudah membaik."


"Aku pegang kata-katamu." Ucapnya lalu akhirnya melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. Kimmy mengikut di belakangnya untuk menutup pintu.


Kimmy menghela nafas lega sepeninggal Mahavir. Aura Mahavir betul-betul mengintimidasi dirinya. Setelah sedikit beberes di lantai bawah, Kimmy beranjak menapaki anak tangga menuju ke lantai atas. Namun belum sampai di pertengahan tangga bel pintu kembali berbunyi.


* * *


Malam semakin larut. Udara semakin turun ke suhu yang terendah. Beberapa ruas jalan-jalan raya sudah mulai tampak lengang. Namun sebuah mobil sport terlihat menerobos jalan-jalan sepi itu.


Mahavir melajukan kendaraannya dengan begitu cepat. Satu tangannya memegang kendali stir, sementara satu tangannya yang lain menumpu di bingkai kaca jendela mobil dan terus bergerak memijit-mijit pelipisnya. Sesekali ia melirik ke arah samping kanannya lalu menghela nafas dengan kasar.


Saat ini pikirannya betul-betul kacau dan tak tahu harus bagaimana. Dirinya yang sekarang seperti bukan dirinya yang sebenarnya. Ia juga menyadari hal itu, tapi cinta seakan membuatnya gelap mata.


"AAARRRGGGHHH...." teriaknya bersamaan dengan kepalan tangannya yang melayang memukul stir mobil. Meluapkan sesuatu yang terasa sesak di dadanya.


Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Setelah merasa lebih tenang ia kembali melirik ke samping kanannya, dimana kursi penumpang di sampingnya itu di huni oleh wanita yang menjadi sumber kekacauan pikirannya. Tertidur lelap seperti seorang bayi yang tanpa dosa.


Apa yang harus kulakukan padamu sayang agar engkau mau menerimaku?


Haruskah aku mengurungmu sehingga tak lagi lari dariku?


Tangannya lalu terjulur menyentuh puncak kepala wanita itu dan mengusapnya dengan lembut. Setelahnya, ia menautkan jari-jarinya ke sela-sela jari jemari Rachel dan menggenggamnya dengan begitu eratnya.


Tadinya ia sudah berniat memberikan waktu pada istrinya itu untuk menenangkan diri di rumah Kimmy. Tapi entah mengapa ia berubah pikiran saat meninggalkan rumah Kimmy. Sepanjang perjalanan dari sana ia gelisah. Ketakutan kembali menderanya. Ia begitu takut kalau Rachel akan kabur lebih jauh darinya. Memikirkannya saja ia tak sanggup. Akhirnya Mahavir memutuskan putar balik kembali ke rumah Kimmy dan membawa Rachel kembali bersamanya. Biarlah ia dikatakan posesif atau apa, yang penting hatinya bisa merasa lega saat wanita itu berada dalam jangkauan matanya.


Dilema, mungkin yang dirasakannya saat ini. Disatu sisi ia begitu tak ingin Rachel jauh darinya, dan di satu sisi lainnya ia juga tak ingin Rachel merasa tertekan bahkan tak bahagia bersamanya. Tapi diantara itu semua keegoisannya lebih mendominasi.


Selama lima belas tahun lamanya ia mampu menahan diri dan cukup puas dengan hanya melihat wanita pujaan hatinya itu dari kejauhan. Merindukannya secara diam-diam, membantu jalan karirnya dan menjaganya tanpa berharap balasan apapun.


Akan tetapi begitu dirinya sudah merasakan hidup bersama wanita itu, terbangun di pagi hari dengan melihat wajahnya, mendengar tawanya, serta merasakan kehangatannya membuat Mahavir menjadi serakah dan tak bisa lagi mengontrol dirinya. Untuk saat ini apapun akan dilakukannya agar istrinya itu tak bisa meninggalkannya.


* * *


Pagi kembali merangkak, sinar mentari yang cerah menembus melewati celah-celah jendela. Sepasang mata yang terlelap akhirnya terusik dengan silau semburat cahaya sang mentari itu.


Rachel mengerjapkan matanya, sejenak mengamati langit-langit kamar kemudian langsung terbangun dengan kebingungan dan terheran-heran saat mendapati dirinya terbangun di kamarnya sendiri. Tangannya terangkat memijit pelipisnya dan mengingat-ingat kejadian sebelum ia tertidur. Tapi yang ada diingatannya adalah saat berada di kamar Kimmy dan bukan di tempat dirinya berada saat ini.


"Aku yang membawamu kembali..."


Suara itu refleks membuat kepala Rachel mendongak dan menengok ke samping. Netranya langsung menangkap sosok laki-laki menggunakan kaos hitam dan celana bahan berwarna coklat gelap, terduduk di sofa yang berada tak jauh dari tempat tidurnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan kedua mata yang menatapnya dengan intens.


"Aku menunggumu di depan kantormu tanpa kenal lelah, tapi kamu lebih memilih meninggalkanku..." Ucapnya lagi dengan intonasi yang pelan namun penuh penekanan di tiap katanya.


Melihat tak ada reaksi mual dari Rachel dengan aroma makanan, Mahavir pun bangkit berdiri dan berjalan ke arah nakas. Mengambil nampan yang berisi makanan yang masih hangat lalu duduk di sisi pinggir tempat tidur berhadapan dengan Rachel dan meletakkan nampan itu di atas pangkuan Rachel yang masih memandanginya dengan terheran-heran.


Laki-laki itu balas memandanginya selama beberapa saat, raut wajahnya yang tadi dingin penuh emosi perlahan melembut. Tangannya lalu terangkat meraih anak-anak rambut yang berhamburan di wajah Rachel dan menyelipkannya ke belakang telinga tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Sudah aku bilang, aku tak akan meninggalkanmu! Aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Mengapa kamu membawaku dengan cara seperti ini?" Tanya Rachel dengan menatap tajam Mahavir seakan menuntut penjelasan.


"Makanlah dulu..." Ucapnya pelan, mengacuhkan pertanyaan Rachel sembari menyendokkan bubur dan mengangkat sendok itu kedepan mulut Rachel.


Bukannya membuka mulutnya, Rachel malah menepis sendok itu hingga tangan Mahavir bergeser menjauh dan sendok itu terpelanting jatuh ke lantai.


Mengapa?? Mengapa disaat aku ingin berusaha memahami mu, kamu kembali menghancurkannya Virr...??


Netra Rachel menatap nanar laki-laki yang ada di hadapannya. Nafasnya terdengar memburu seakan menahan luapan emosi di dadanya.


Mahavir menarik nafas dalam-dalam berusaha untuk sabar. Berusaha tersenyum selama beberapa detik lalu berucap lembut. "Tak tahukah kamu begitu khawatirnya aku saat kamu menghilang?" Tanyanya dengan raut penuh kekecewaan.


Rachel menggeleng dan menyunggingkan senyum sinisnya. "Khawatir? Kalau kamu mengkhawatirkan diriku, kamu tak akan membawaku tanpa sepengetahuanku seperti ini!! Kalau kamu betul-betul mengkhawatirkanku kamu tak akan memperlakukanku seperti ini." Marahnya. Kedua bahunya bergetar dan naik turun seiring nafasnya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca.


"Aku tak ingin berdebat saat ini. Jadi makanlah dulu. Isi tenagamu, demi dirimu dan bayi kita." Ucapnya lalu bangkit berdiri dan mengabaikan amarah Rachel. "Aku akan mengambilkan sendok yang baru." Imbuhnya seraya melangkah ke arah pintu.


Prang... Prang...


Rachel yang merasa diacuhkan menghempas nampan yang ada di atas pangkuannya hingga semuanya berserakan di lantai.


Mahavir yang baru melangkah tiga langkah sontak berbalik. Memandangi Rachel dan semua yang berserakan dilantai secara bergantian. Tangannya terkepal menahan diri agar tidak terpancing emosi.


"Aku akan mengambilkan sarapan yang baru untukmu." Ucapnya dengan tegas lalu kembali berbalik dan melangkahkan kakinya.


"VIRR...." Panggilnya, membuat Mahavir menghentikan langkahnya.


"Tak bisakah kamu sedikit memberi kebebasan padaku? Tanpa orang yang terus mengikutiku secara diam-diam?" Rachel bertanya seraya menatap tajam ke arah Mahavir yang membelakanginya.


"Maaf, Sayangnya aku tak bisa...! Aku tak ingin lagi mengambil resiko apapun." Seru Mahavir tanpa berbalik dan bergeming di tempatnya.


"VIRR...!!" Teriaknya lagi. Membuat Mahavir akhirnya berbalik dan memandanginya.


"Sudah berkali-kali aku katakan, aku tak akan kabur meninggalkanmu. Aku hanya butuh waktu untuk menyendiri dan memikirkan semua ini. Tak bisakah?"


"Bisa... Tapi lakukan itu dirumah ini. Aku akan pindah ke kamar sebelah kalau kamu hanya ingin sendiri. Mulai saat ini lakukan semuanya di rumah ini. Kamu tak perlu lagi keluar. Urusan pekerjaan, biar Merry yang akan datang kemari membawa semua pekerjaanmu." Ucapnya sarkas lalu kembali melangkah hingga menghilang di balik pintu.


"BRENGSEK..!! KAMU BRENGSEK VIRR...!!!" Teriak Rachel dengan berurai airmata. Kedua tangannya terangkat menutup wajahnya dan menangis sejadi-jadinya.


* * *


Sudah dua minggu lamanya Rachel terkurung di penthouse. Tiap kali berusaha keluar akan ada yang menahannya di depan pintu. Orang-orang yang tadinya diam-diam mengikuti dan menjaganya selama ini sekarang bertugas berjaga di depan pintu utama penthouse agar Nyonya Muda-nya itu tak bisa kemana-mana. Hanya Bik Inah dan Merry yang bebas keluar masuk melawati penjagaan itu dan Mahavir yang sesekali keluar untuk mengerjakan sesuatu di hotel Alister.


Selama itu pula Rachel akhirnya bersikap pasrah dan mengikuti semua keinginan Mahavir. Akan makan bila di suguhkan makanan, tidur bila sudah tiba waktunya, bekerja disaat Merry datang membawa pekerjaannya dan melakukan semua aktivitas lainnya seperti arahan dari Mahavir.


Seperti saat ini keduanya sedang berada di meja makan dan saling berhadapan untuk makan malam. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring menjadi pemecah keheningan diantara mereka. Bik Inah yang menyiapkan makan malam tadi sudah pulang lebih dulu karena permintaan Mahavir yang hanya ingin berdua dengan Rachel di penthouse mereka.


Mahavir menatap sayu wanita yang terduduk Di hadapannya dengan pandangan kosongnya. Melahap makanannya dalam diam walaupun sangat terlihat jelas bahwa ia begitu memaksakan dirinya. Tak ada lagi senyum darinya, bahkan tak ada lagi isak tangisnya. Seolah airmatanya sudah kering dan hatinya mati rasa. Rachel betul-betul membuat dirinya layaknya boneka Mahavir. Bagaikan patung yang tak bernyawa. Seperti robot yang bergerak sesuai kehendak Mahavir.


Tanpa sadar Mahavir meneteskan airmatanya. Bukan, bukan yang seperti ini yang Mahavir inginkan. Dia melakukan semua ini bukan untuk mengurung istrinya itu melainkan menjaganya agar selalu berada dalam pengawasannya.


Mahavir meletakkan sendok dan garpunya diatas piring dengan kasar hingga menimbulkan bunyi dentingan yang menggema. Namun Rachel bahkan tak terkejut dan bergeming di posisinya. Ekspresinya datar sembari menghabiskan makanannya.


"Aku sudah selesai, aku akan kembali ke kamar dan beristirahat." Rachel berucap dengan suara lemahnya lalu bangkit berdiri tanpa memandang sedikitpun ke arah Mahavir.


"Aku masih ingin bicara...." Pinta mahavir.


Rachel mengangguk pelan lalu kembali duduk di posisi semula dengan patuhnya.


Mahavir memejamkan matanya hingga butiran bening yang cukup besar terjatuh dari sudut matanya. Ia mengusap wajahnya lalu menelan ludahnya dengan susah payah. Kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Rachel di kursinya. Pelan-pelan Mahavir memutar kursi Rachel hingga berhadapan dengannya lalu ia sendiri duduk bersimpuh di depan istrinya itu.


Tangan Mahavir bergerak meraih kedua tangan Rachel dan mengecup lembut masing-masing punggung tangannya. Airmatanya kembali tumpah dan terjatuh membasahi punggung tangan Rachel.


"Sayang......mau sampai kapan kamu bersikap seperti ini padaku?" Tanyanya dengan begitu putus asa.


Rachel diam membisu, pandangannya masih kosong. Seakan jiwanya berada di tempat lain.


Melihat sikap dingin Rachel, Mahavir menjatuhkan kepalanya di pangkuan istrinya itu. "Kumohon jangan seperti ini sayang, aku sakit melihatmu seperti ini. Lebih baik kamu melampiaskan amarahmu padaku. Pukul aku sebanyak apapun yang kamu mau, makilah aku sepuasmu. Tapi jangan mendiamiku seperti ini...." Pintanya dengan frustasi lalu menggerakkan kedua tangan Rachel memukul-mukul kepalanya sendiri.


Keduanya terdiam selama beberapa saat. Hening. hanya suara detak jarum jam yang terdengar diantara mereka, hingga suara lemah dari Rachel mengisi keheningan itu.


"Aku hanya bersikap sesuai keinginanmu...." Ucap Rachel lirih, bahkan nyaris tak kedengaran sambil memandangi pemandangan kota yang berkerlap kerlip dari balik kaca dinding pembatas penthouse.


Mahavir mengangkat kepalanya, memandangi wajah Rachel lalu menggeleng pelan. "Aku tak pernah menginginkan yang seperti ini. Aku merindukan dirimu yang dulu sayang...."


"Terlambat, aku sudah tak bisa kembali seperti dulu lagi..."


"Rachel......sayangku...." Panggilnya dengan isakan yang tertahan. "Apakah tak ada kemurahan hatimu untuk bisa menerima ku walau hanya setengah hati? Aku hanya ingin bersamamu. Mengapa kamu begitu membenci diriku? Tak adakah sedikit ruang untukku walau hanya secuil? Sedikit, sedikit saja. Tolong sisakan setengah saja tempat di hatimu untukku..... " Pintanya dengan memelas, harga dirinya sebagai laki-laki sudah tak ada lagi. Wajahnya berurai airmata di hadapan Rachel.


Rachel memejamkan matanya, airmata yang sudah ditahannya selama dua minggu ini akhirnya ikut tumpah. Ia lalu memandangi Mahavir lekat-lekat. Penampilannya begitu sangat kacau, bahkan Rachel baru menyadari kalau laki-laki itu bahkan sudah tak mengurus dirinya sendiri. Dibawah matanya terdapat cekungan hitam dan rambut-rambut halus mulai tumbuh memenuhi area dagunya.


Tanpa sadar kedua tangan Rachel bergerak menangkup kedua pipi Mahavir dan membelainya dengan lembut. Membuat hati Mahavir seketika menghangat.


"Kenapa kamu jadi seperti ini Vir?"


* * *


Maaf ya Readerskuu..🙏🙏


kali ini Up nya lamaaaa....


Soalnya selain kesibukan author, ibu author juga tiba-tiba sakit dan perlu perhatian lebih. Sehingga pikiran author terpecah dan tak bisa konsen menulis.


sekali lagi mohon maaf yah... mungkin up kedepannya juga akan sedikit lebih lama...🙏


mohon pengertiannya dan supportnya selalu.


salam sayang selalu.. 🥰🤗