Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 47.Sepertinya kamu berhasil membuatku jatuh hati....


Setelah menikmati makan siang, Rachel dan Mahavir melanjutkan perjalanannya menyusuri little clarendon street yang merupakan jalan perbelanjaan. Dari sana Mahavir mengayuh sepedanya berkeliling melewati sungai cherwell yang indah dan jembatan Hartford dimana banyak wisatawan yang sedang mengambil potret dibawah sana.


Rachel nampak sangat menikmati setiap pemandangan yang dilihatnya. Kedua tangannya tampak nyaman melingkar di pinggang Mahavir, dengan senyum yang terus terkembang dari kedua bibirnya.


Sesekali Mahavir menoleh, melirik ekspresi wajah Rachel yang berseri-seri itu.


Setelah melewati beberapa persimpangan, Mahavir berhenti di depan salah satu bangunan tua berdesain Victoria klasik yang tampak seperti Museum. Bangunan yang berdiri megah di tengah-tengah dalam wilayah Oxfordshire.


"Kenapa berhenti disini? Kita mau kemana?" Melebarkan pandangannya ke sekitar, mencari tahu tujuan selanjutnya.


"Ikut saja." Mahavir memarkirkan sepeda pada tempat khusus lalu menggenggam dan menarik tangan Rachel untuk mengikutinya.


Langkah kaki Mahavir membawa Rachel memasuki Abingdon County Hall Museum. Bangunan yang berisikan beberapa barang-barang unik dan antik peninggalan sejarah. Setelah sedikit bercakap-cakap dengan petugas yang ada disana mereka langsung menaiki tangga yang membawanya kelantai teratas.


"Virr ngapain kita disini?" Rachel kembali bertanya, penasaran untuk apa suaminya itu membawanya kesana.


Mahavir tidak menjawab dan hanya menuntun Rachel menapaki tiap anak tangga hingga mencapai puncaknya di atap Museum itu.


Pemandangan indah dari atap yang menghadap ke alun-alun pasar langsung menjemput pandangan mereka.


Kedua mata Rachel tampak melebar dan berbinar-binar, terkesima dengan apa yang kedua matanya lihat. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menelisik tebaran bangunan-bangunan klasik dengan menara-menara runcing yang terlihat seperti bangunan istana dalam film-film princess yang dulu ditontonnya. Dengan antusias dia menunjuk beberapa ikon kota itu, menanyakan segala macam hal yang berkaitan dengan itu.


Dari belakang Mahavir mendekapnya, kedua tangannya melingkar di pinggang ramping Rachel. Menenggelamkan tubuh wanita itu kedalam dekapannya. Dan Rachel masih saja berceloteh seperti seorang gadis cilik yang meminta penjelasan dari ayahnya


Mahavir ikut tersenyum puas melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah istrinya itu. Di jatuhkannya dagunya diantara bahu dan leher Rachel, membuat istrinya itu sedikit tersentak kaget.


"Virr......" Degup jantung Rachel tiba-tiba berdetak cepat. Hembusan nafas Mahavir sangat terasa di kulitnya. Membuatnya sudah tidak lagi fokus dengan pemandangan yang dilihatnya di bawah sana.


"Bagaimana, kamu suka?" Setengah berbisik di telinga Rachel.


Rachel mengangguk pelan, kemudian mencoba merenggangkan lingkaran tangan Mahavir dari pinggangnya. Dengan perlahan ia memutar tubuhnya hingga membuat dirinya saling berhadapan dengan Mahavir.


Rachel melirik ke kiri dan kanan melihat situasi dan kondisi sekitar. Saat dilihatnya keadaan terlihat sepi, ia langsung menarik kerah longcoat Mahavir, sedikit berjinjit. Dan....


CUP


Rachel mengecup bibir Mahavir dengan lembut. Membuat laki-laki itu membelalak dengan kedua alis yang terangkat karena terkejut.


"Itu bayaran ku...."


Mahavir yang masih dalam ekspresi yang sama, tidak mengerti maksud dari Rachel. "Bayaran??"


Dengan tersipu malu Rachel menjawab "Karena kamu sudah meminjamkan sepatumu untukku...." Menjeda sejenak, menunduk malu menyembunyikan rona malu wajahnya kemudian kembali berucap. "Tadi kamu minta cium di bibir kan......?"


Mahavir yang sempat terkejut baru mengerti maksud dari istrinya, dan menganggukkan kepalanya pelan. "I...iiyyah....tapi......"


"Tapi?" Rachel menengadahkan wajahnya menatap tak mengerti pada Mahavir. "Tapi apa?"


"Sepertinya satu kali kecupan saja tidak cukup. Sepatuku kan harg...." Perkataan Mahavir terhenti karena Rachel kembali mengecup bibirnya


"Sudah cukup?"


Mahavir tertegun selama beberapa detik, ia sama sekali tak menyangka Rachel akan mendengar permintaannya yang cuma berniat menggodanya. Refleks Mahavir menggeleng pelan, "Sepatuku harganya mahal, dua kali kecupan rasanya belum cukup..."


Rachel mengernyit. "Jadi kamu mau bilang kalau ciuman ku tidak sebanding dengan harga sepatumu?" Mulai mendelik kesal.


"Bu.. Bukan, bukan begitu...." Mahavir mengusap tengkuknya, sepertinya dia sudah salah bicara.


Rachel memandangi Mahavir dalam-dalam. Laki-laki itu seperti sedang berfikir mencari alasan lain untuk membuatnya kembali menciumnya. Wajah kebingungannya saat ini justru terlihat menggemaskan di mata Rachel.


CUP'


Saking gemasnya refleks Rachel kembali mengecup bibir Mahavir yang sontak membuat laki-laki itu kembali membelalakkan matanya. sedikit syok dengan kelakuan Rachel yang sedikit memberi kejutan untuknya.


Mahavir memasang senyum jahil dengan sedikit membungkukkan badannya. "Kakiku tadi terasa sangat sakit........" Mencoba memasang tampang memelas untuk mendapatkan kecupan tambahan. Dan......berhasil!!


CUP'.....Rachel kembali mengecupnya.


"Tadi juga kedinginan...." Berpura-pura mengeluh.


CUP'.....kembali mengecupnya lagi.


"Tadi juga kotor...."


CUP'......lagi kecupan untuk kesekian kalinya.


"Dan.........." Mahavir mencoba mencari alasan lain.


Rachel menahan senyumnya melihat tingkah manja suaminya. Di angkatnya kedua tangannya lalu mengalungkannya ke leher Mahavir. Kembali ia mendaratkan kecupannya dengan cukup lama.


Mahavir masih diam tak merespon.


Ragu-ragu Rachel membuka bibirnya dan perlahan menyesapi bibir Mahavir secara bergantian dengan lembut. Menikmati aroma mint segar dari mulut laki-laki itu.


Untuk kesekian kalinya Mahavir kembali tertegun. Hari ini merupakan sejarah dalam hidupnya, untuk pertama kalinya perempuan itu yang berinisiatif duluan menciumnya dengan sedikit agresif.


Rachel menghentikan kegiatannya. Kedua matanya menatap lembut manik mata berwarna hazel didepannya. "Kenapa tidak membalas ciumanku?" Tanyanya dengan malu-malu bercampur rasa canggung. Terlihat jejak rona merah di kedua pipinya. Saat ini dia berusaha menahan rasa malu karena telah memperlihatkan sisi lain dari dirinya yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya.


Senyum sejuta watt terpancar dari wajah Mahavir. Perlahan diapun mengangkat tangannya dan meletakkannya di tengkuk Rachel. Yang tanpa aba-aba langsung menyatukan bibir mereka. Rachel pun membalasnya dengan suka cita, dan membuat ciuman itu menjadi sedikit panas.


Hingga kemudian terdengar suara dari seorang laki-laki bule paruh baya berdehem di dekat mereka. Dengan cepat Rachel melepaskan tautan bibir mereka dan mendorong Mahavir menjauh.


"Excuse me..." Laki-laki bule paruh baya yang tampak seperti wisawatan itu berjalan melewati mereka. Namun beberapa langkah kemudian berbalik, "Please continue..." Ucapnya dengan tersenyum-senyum lalu meninggalkan Rachel dan Mahavir yang tersenyum canggung.


Selepas wisawatan itu berlalu, Rachel dan Mahavir saling tersenyum dan terkekeh bersama.


"Sudah, ayo turun. Sudah sore." Rachel menarik Mahavir menuju tangga. Namun Mahavir menariknya kembali. "Ada apa?"


Mahavir mengusap kedua bibir Rachel dengan ujung jempolnya. "Masih basah..." Ucapnya disertai kerlingan mata.


Refleks Rachel mengusap kembali bibirnya menggunakan punggung tangannya. Wajahnya kembali merona.


Mahavir menunduk dan mendekatkan wajahnya ke telinga Rachel. "Mau dilanjut?" Tanyanya yang langsung dibalas dengan cubitan di pinggangnya. "Aww sakit sayang...." Teriaknya kemudian berlari menyusul Rachel yang tadi sudah berlari lebih dulu menuruni anak tangga.


* * *


Bryan baru saja turun dari bus bersama tiga orang pemuda berbeda kewarganegaraan yang tampak sebaya dengannya, mereka baru saja mengunjungi perpustakaan berarsitektur klasik yang merupakan perpustakaan tertua di dunia.


"Bryan come with us for afternoon tea" Ajak salah seorang dari mereka.


(Bryan ayo ikut kami minum teh sore)


"Thank you, but I made an appointment with my brother, now he is waiting"


(Terima kasih, tapi saya sudah membuat janji dengan kakak saya, sekarang dia menunggu)


"Okey, Nice to meet you Bryan, see you again at the ceremony"


(Oke, senang berjumpa denganmu Bryan. Sampai jumpa di Ceremony nanti)


"Fine, see you later.." Ucap Bryan menutup perjumpaan mereka.


(baiklah,sampai jumpa kembali)


Selepas tiga pemuda itu berlalu, bergegas Bryan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang dengan nama kontak 'My sweetheart' pada layar ponselnya, sembari berjalan menyusuri jalan beraspal menuju pusat kota.


Setelah dering kedua, sambungan teleponnya pun terhubung dan memperdengarkan suara lembut dari ujung sana.


"Baru selesai?" Tanya Raya diujung sana dengan suara penuh semangat.


"Iyya gak apa-apa." Ucapnya tapi dari nada suaranya terdengar kecewa. "Gimana disana? lancar?"


"iya, berkat kak Mahavir semuanya jadi mudah."


"Syukurlah..."


"Belum tidur?"


"Belum, kan nunggu telepon dari ian....."


Bryan menengok arloji pada pergelangan tangan kirinya. Menghitung maju dengan cepat. Disana sudah hampir jam 12 malam. "Astaga maaf, sudah buat Aya menunggu selama ini. Sekarang Aya tidur saja, disana sudah tengah malam. Besok Aya dinas pagi kan?"


"Tapi kan...." Terdiam sejenak, terdengar helaan nafas kecewa. "Baiklah......."


"Aya... Jangan marah ya. Kalau sudah bangun chat aku, aku akan telfon balik. Aku tunggu."


"Iya...! salam sama Rachel yah..."


"Iya, entar aku sampaikan. Ingat chat aku."


"Iya, bawel...!!"


Bryan terkekeh pelan....kemudian berucap dengan lembut. "I miss you..."


"Miss you to... Take care yah disana...."


"Makasih sayang....have a nice dream." Ucap Bryan menutup pembicaraan itu lalu mempercepat langkahnya menuju tempat dimana Mahavir dan Rachel menunggunya.


Dari kejauhan nampak Mahavir dan Rachel sedang bersendau gurau, dengan segera Bryan menghampri.


Bryan melihat beberapa tentengan paper bag di tangan Mahavir. "Wah, dari belanja ya kak?"


"Ah, ini tadi diberi sama pemilik toko buah yang sepedanya aku sewa." Jawab Mahavir seraya memperlihatkan isi paper bag nya pada Bryan. "Mau?"


"Di beri? Free gitu?" Mengambil satu buah apel, menggosok permukaan kulit apel tersebut di kaosnya dengan cepat lalu menggigitnya.


Rachel geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya. "Jorok!"


Bryan hanya terkekeh sambil menjulurkan lidahnya pada Rachel. Rachel hanya tersenyum sinis.


"Gimana tadi? mau masuk asramanya atau nyewa flat di luar?"


"Asrama saja kak Vir, tadi aku sudah daftar dengan teman baru yang akan sekamar denganku, orang nya asyik."


"Syukurlah, nanti biar Stuart yang urus selanjutnya."


"Makasih kak!" kembali menggigit apelnya. "Kita Pulang sekarang?"


"Tidak, tahun depan!!" Rachel menjawab sewot yang membuat Bryan kembali meledeknya.


Mahavir mendesah pelan kemudian menggeleng-geleng melihat Rachel dan Bryan yang jarang terlihat akur.


"Iya kita naik bus saja, Ayo..." Mahavir menjawab dengan menarik tangan Rachel berjalan menuju stasiun bus. Bryan mengikuti dengan mulut yang masih mengunyah apel dengan lahapnya.


Mereka bertigapun kemudian menaiki sebuah bus tingkat berwarna merah dengan tujuan London.


"Kenapa naik bus?" Tanya Rachel yang sudah duduk di kursi samping jendela dan Mahavir mengapit di sampingnya. sementara Bryan di kursi seberangnya tengah asyik memandang ke jendela.


"Biar Bryan bisa tahu semua transportasi umum."


"Tapi...." Ucapan Rachel terpotong karena tangan Mahavir langsung menarik kepalanya menyandar pada bahunya.


"Tidurlah"


Rachel mengangkat kepalanya dan mendengus kesal. "Aku tidak ngantuk."


Kembali Mahavir menarik kepala Rachel dan menahannya dengan mengusap-usap kepalanya.


"Ihh, orang tidak mau tidur juga." berusaha menarik kepalanya, tapi ditahan oleh Mahavir.


"Kalau tidak tidur aku cium sekarang." ancamnya.


Rachel langsung patuh, dengan pasrah dia menyandarkan kepalanya ke bahu Mahavir dengan tangan yang memegang erat lengan laki-laki itu. Dan tak lama kemudian diapun terlelap.


Mahavir tersenyum, "Dasar keras kepala." lirihnya. Sedari tadi Mahavir mendapati Rachel yang sesekali menguap tapi perempuan itu berusaha keras menahan rasa kantuknya.


Selama hampir dua jam perjalanan dari Oxford menuju London, dan selama itu pula Rachel tertidur dengan nyaman di pundak Mahavir.


Sekitar jam 8 malam mereka pun sampai ke Phenthouse mewah milik Mahavir setelah tadi sempat singgah untuk makan malam di sebuah resto siap saji. Mahavir yang kelelahan langsung membaringkan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya. Sekujur tubuhnya baru merasakan kelelahan akibat bersepeda sepanjang hari tadi. Kedua betisnya betul-betul terasa pegal. Tapi dia tak menyesalinya, pengalaman melelahkan hari ini terbayarkan dengan manis oleh ciuman dari istrinya. Mahavir pun tertidur dengan senyum yang terkembang.


* * *


'Klek'


Rachel membuka pintu kamar, dia baru saja masuk ke kamar setelah membereskan buah-buah yang dibawanya tadi. Dilihatnya Mahavir yang tengah tertidur dengan lelap.


"Pasti dia kelelahan...." Lirih Rachel memandangi Mahavir yang masih menggunakan pakaian yang lengkap. Dengan perlahan Rachel membuka sepatu dan kaos kaki Mahavir lalu menarik selimut hingga batas perut suaminya itu.


Rachel mematikan lampu kamar yang bersinar terang dan menggantinya dengan lampu tidur yang menyisakan sedikit cahaya kuning yang meremang. Setelah itu Rachel masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sekitar 15 menit Rachel pun keluar dengan tampilan yang lebih fresh, menggunakan gaun tidur selutut berwarna soft blue berbahan satin dengan handuk yang masih membungkus di kepalanya.


Rachel kembali memandangi Mahavir yang masih berada dalam posisi yang sama. Pelan-pelan Rachel menghampiri dan duduk di tepi tempat tidur. Sejenak dia memandangi garis wajah suaminya yang terlelap itu dan kemudian mengecup pelan keningnya.


"Sepertinya kamu berhasil membuatku jatuh hati padamu......" Lirihnya sambil membuka longcoat yang masih melekat di tubuh Mahavir dengan perlahan-lahan.


Mahavir menggeliat pelan, Rachel dapat menangkap ada rasa tidak nyaman yang dirasakannya.


Pelan-pelan jari jemari Rachel bergerak membuka kancing teratas dari kemeja suaminya itu. Hingga pada Saat jari Rachel membuka kancing ketiga, tangan Mahavir tiba-tiba mencekal tangannya.


"Ah, aku hanya ingin membuat tidurmu nyaman..." Rachel yang sedikit terkejut langsung menarik tangannya, dengan tersenyum ramah Rachel kembali berucap. "Bangunlah, mandi dulu lalu lanjutkan tidurmu." Berdiri dan hendak berbalik.


Dengan cepat Mahavir menarik tangan Rachel, membuat istrinya itu kembali terduduk. Mahavir memandangi penampilan istrinya itu, untuk pertama kalinya setelah menikah Mahavir melihat istrinya itu menggunakan gaun tidur yang menerawang.


"Katakan...katakan sekali lagi apa yang kudengar samar-samar tadi..."


Rachel gelagapan, "Memangnya apa yang kamu dengar tadi? Aku tak berkata apa-apa, mungkin kamu mimpi.


Mahavir mengangkat tangan Rachel yang di genggamnya dan mengecup punggung tangan itu. "Aku mendengarnya...."


"Kalau sudah dengar kenapa minta diulang?"


Mahavir kembali mengecup punggung tangan Rachel, bibirnya kini bergerak menyusuri permukaan kulit lengan Rachel. Membuat Rachel sedikit bergidik. "Katakan lagi....." Setengah berbisik ke telinga Rachel, kemudian mendaratkan kecupan-kecupan kecil pada leher putih dan jenjang itu. Aroma Chamomile yang lembut dari tubuh Rachel menguar dan menyusup masuk ke dalam pernafasannya, membuat hasratnya bangkit.


Rachel mendorong pelan wajah Mahavir menjauh, kemudian menatap Mahavir. "Tak ada siaran ulang..." Ucapnya dengan menahan senyum.


"Baiklah... Akan kubuat kamu mengucapkannya berulang kali sepanjang malam...."


* * *


Terima kasih sudah baca kisah mereka, Mohon dukungannya berupa Like, komen dan Vote nya biar Author semakin semangat melanjutkannya... 🥰🙏


Happy Reading All...


peluk cium dari Kk Author 🤗🥰