Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 124. Menjemput Rindu.


Sepasang paruh baya berjalan tergopoh-gopoh melewati Koridor rumah sakit. Wajah mereka dilingkupi kepanikan dan kekhawatiran. 21 jam penerbangan dari Jakarta ke New York, dan begitu tiba di bandar udara Jhon F. Kennedy, keduanya langsung melanjutkan ke rumah sakit di daerah Manhattan itu.


Setelah mendapatkan kabar mengenai putri kesayangan mereka, detik itu juga keduanya langsung memesan tiket dan terbang menyusul ke New York.


"Paman, bibi..." Rey yang terduduk di kursi tunggu depan meja Nurse Station langsung bangkit berdiri begitu melihat dua orang tua itu.


"Bagaimana keadaan Rachel, nak?"


"Syukurlah dia baik-baik saja. Kandungannya juga baik-baik saja."


Ny Amitha langsung menghela napas lega dengan menyentuh dadanya. "Terima kasih, nak Rey. Untung saja kamu menyusul kemari."


"Semuanya serba kebetulan, bibi. Saya juga tak menyangka kalau Rachel ada disini."


Ny Amitha mengangguk paham dan mengusap punggung Rey.


"Lalu dia dimana sekarang?" Tanya Pak Wijaya.


"Kemarin Rachel sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Mari saya antar paman dan bibi ke sana."


Pak Wijaya dan Ny Amitha mengangguk dan mengikuti langkah Rey menuju kamar perawatan yang berada di area super VVIP.


Pak Wijaya dan Ny Amitha mengerutkan alisnya melihat sekumpulan bodyguard yang berdiri tegap di depan pintu.


"Nak Rey, mereka....?" Ny Amitha setengah berbisik pada Rey.


"Apa Vir juga ada di dalam?" Tanya Pak Wijaya langsung menyela perkataan istrinya.


Rey mengusap tengkuknya, bingung mau menceritakan dari mana. "Sebaiknya Paman dan bibi masuk dulu." Ucapnya, melewati jejeran bodyguard yang berjaga itu lalu meraih handle pintu dan membukanya.


Begitu pintu ruangan terbuka, Pak Wijaya maupun Ny Amitha tak langsung masuk. Keduanya mendadak tertegun di ambang pintu melihat sosok Tuan James yang sedang duduk pada kursi di samping brankar putrinya.


Tangan Pak Wijaya terkepal kuat dan langsung mengayunkan langkah panjangnya memasuki ruangan itu mendekati posisi Tuan James.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU!" dengan penuh emosi Pak Wijaya menarik kerah jas pebisnis itu, hingga orang tua itu tertarik ke atas dan berdiri dengan paksa. Tongkat yang bersandar di antara pahanya langsung terjatuh ke lantai.


Semua mata yang ada di dalam ruangan itu membulat dan terkesiap mendapati kemarahan yang begitu besar, yang baru dilihatnya dari sosok laki-laki tua yang terkenal sangat baik itu.


Mendengar keributan itu beberapa bodyguard yang ada di luar ruangan langsung menghambur masuk.


"It's okay. I'm fine." Tuan James menaikkan tangannya dan mengibaskannya. Meminta bodyguard nya itu mundur dan tak ikut campur.


"Daddy!" Rachel dan Ny Amitha serempak memanggil Pak Wijaya. Ny Amitha berlari cepat menarik suaminya. "Tenanglah. Jangan gunakan emosimu." Ucapnya menarik tangan suaminya itu dari kerah jas besannya.


Rey sendiri langsung berdiri di sisi Tuan James dan membantu menyanggah tubuh Tua itu yang sedikit kesulitan menopang tubuhnya.


Rahang Pak Wijaya masih berdenyut-denyut menahan amarah, tapi akhirnya mengalah dan menarik tangannya setelah mendorong kasar tubuh Tuan James.


"Daddy! Apa yang daddy lakukan?" Rachel hendak turun dari ranjang tapi Ny Amitha menahannya.


"Tak apa Nak. Ayah baik-baik saja." Tuan James menenangkan Rachel lalu kembali memandangi Pak Wijaya.


"Sorry, Langdon." Ucap Tuan James seraya merapikan Jas-nya. "Aku akui kalau aku sudah sangat bersalah. Aku menyesal." Ungkapnya merendahkan egonya.


"Kau keterlaluan James. Sangat keterlaluan. Aku tahu putriku bersalah. Aku juga menyesal atas perbuatan putriku pada putramu. Tapi tak seharusnya kamu ikut campur diantara mereka. Memaksa memisahkan mereka yang saling mencintai."


"Langdon, coba juga pahami posisiku. Ayah mana yang tega melihat putranya menderita hanya karena seorang wanita. Bahkan hampir meregang nyawa karenanya. Sebagai orang tua aku hanya ingin yang terbaik untuk putraku."


Pak Wijaya mengusap kasar wajahnya. "Lalu untuk apa kau ada disini? Apa belum puas kau mengintimidasi putriku? Kau sudah mendapatkan putramu, jadi lepaskan putriku. Jangan usik dia. Aku tahu kau diam-diam terus mengawasinya dan mengganggu pekerjaannya. Aku masih diam akan hal itu. Tapi bila kau berniat mencelakai nya, aku tak bisa lagi tinggal diam."


"Daddy, Ayah Vir tidak seperti itu." Rachel mencoba menengahi.


"Diam Rachel. Biar daddy bicara dengannya."


"Langdon, aku sungguh minta maaf. Aku paham kau kesal padaku. Aku memang keterlaluan. Sekarang aku menyesal. Aku tak akan ikut campur lagi dengan hubungan mereka."


"Apa kau seperti ini karena sudah mengetahui kehamilan putriku, 'kan?"


Tuan James mengangguk pelan. "Aku sungguh menyesal. Aku tak tahu kalau akan seperti ini."


"Lalu dimana kau sembunyikan putramu?"


"Aku tak menyembunyikannya. Dia masih dalam perawatan intensif. Keadaannya semakin memburuk. Karena itu aku mengirimnya ke Toronto tempat pusat bedah tulang terbaik dunia."


"Astaga!" Ny Amitha menutup mulutnya, terkejut mendengar kondisi Mahavir.


"Kau tak sedang mengelabui kami kan?" Tanya Pak Wijaya skeptis.


"Aku tak mungkin berani berdusta akan keadaan putraku sendiri."


Pak Wijaya merapatkan giginya. Terdiam sesaat memandangi keseluruhan keadaan Rachel. "Sebaiknya kau sekarang pergi dari sini. Jangan tampakkan wajahmu sebelum membawa Vir pada kami." Usirnya pada salah satu donatur terbesar rumah sakit itu.


"Daddy!" Teriak Rachel tak terima. "Ayah Vir sudah menyesal. Dia sudah berjanji padaku. Kenapa daddy masih seperti itu?"


"Itu demi kebaikanmu sayang. Kita tak tahu apa sebenarnya yang direncanakan oleh pebisnis ini. Bisa saja ia mengelabui kita hanya untuk bisa mengambil anakmu nanti."


"LANGDON! APA KAU PIKIR AKU ORANG YANG SEPERTI ITU?" Teriak Tuan James. Suara beratnya menggema memenuhi ruangan itu. Tangannya gemetaran memegangi jantungnya.


"PLEASE....PLEASE....." Rachel memekik diiringi isakan tangis. "Jangan seperti ini. Ini semua gara-gara saya. Karena kesalahan saya. Saya minta maaf pada kalian. Daddy, Ayah, Saya mohon jangan seperti ini. Saya tak mau melihat ada keributan lagi. Saya hanya mau Vir kembali. Hanya itu."


Semua langsung terdiam.


Hening.


Hanya isakan tangis Rachel yang terdengar mengisi keheningan itu.


Pak Wijaya menarik napas panjang lalu ke samping brankar Rachel dan menarik putrinya itu masuk kedalam pelukannya. "Maafkan daddy, nak. Daddy terbawa emosi tadi."


Rey membantu mengambilkan tongkat Tuan James yang tadi terjatuh lalu menyerahkannya ke Presdir-nya itu.


"Baiklah, Nak. Ayah berjanji akan membawa Vir padamu bila ia sudah pulih. Sampai saat itu ayah tak akan mengunjungimu."


"Tidak Ayah. Jangan seperti ini. Saya tak bisa menunggu lama lagi. Bawa saya kesana. Bawa saya bertemu dengannya. Saya mohon Ayah."


"Rachel, ingat anak yang ada di dalam kandunganmu. Utamakan keselamatan mereka dulu. Kau sudah pernah keguguran. Itu sangat beresiko."


"Saya yakin mereka akan baik-baik saja daddy. Jarak New York dan Toronto cukup dekat. Perjalanan dari sini ke kanada hanya sejam lebih. Lebih cepat dibanding saya harus kembali ke London. Tolong izinkan saya. Saya mohon."


Pak Wijaya dan Tuan James saling pandang beberapa saat, lalu bersama-sama menghela napas berat.


"Baiklah, nak." Ucap pak Wijaya mengalah.


"Tapi kau harus cukup istirahat dan memeriksakan semuanya pada dokter dulu. Kalau dokter sudah mengatakan kandunganmu sudah aman, baru Ayah akan membawamu dengan jet pribadi Ayah." Tuan James ikut berucap terpatah-patah.


***


Rachel tak bisa apa-apa dan juga tak bisa memaksakan diri. Walaupun kerinduannya pada Mahavir semakin hari semakin menumpuk hingga meluap di rongga hatinya, tetapi Rachel berusaha meredamnya. Ia tak ingin lagi egois dan mementingkan dirinya sendiri. Cukup baginya bila bisa mendengarkan kabar mengenai perkembangan kondisi suaminya itu dari hari ke hari lewat informasi yang diterima Tuan James dari dokter yang menangani Mahavir. Rachel sengaja meminta pada Tuan James untuk tak memberitahukan dirinya pada Mahavir, agar laki-laki itu bisa fokus pada kesehatannya.


Hingga sebulan lebih pun melesat dengan cepatnya. Dokter Obgyn terbaik di kota New York sudah memeriksanya dengan baik dan mengatakan jika kandungan Rachel sudah cukup kuat untuk melakukan perjalanan.


Sesuai janjinya, Tuan James pun menepati janjinya. Menyiapkan jet pribadinya untuk membawa Rachel menemui putranya.


"Bagaimana, apa kamu sudah siap?" Tanya Tuan James melangkah bersama tongkatnya menghampiri Rachel yang sudah lebih dulu duduk di lounge bandara. Terduduk diapit oleh Pak Wijaya dan Ny. Amitha. Sementara Rey duduk di seberangnya, masih setia bersama mereka.


Rachel mengangguk cepat. "Sangat siap. Saya sudah menunggu ini sejak lama." Ucapnya antusias.


"Apa kamu yakin tak ingin kami menemani ke sana?" Tanya Ny Amitha menahan tangisnya.


Rachel hanya mengangguk lalu memeluk mommy-nya itu bergantian dengan daddy-nya.


"Titip salam buat Vir." Rey berucap setelah Rachel melepaskan pelukannya dari orang tuanya.


"Pasti." Ucapnya seraya menyeka bulir bening yang terjatuh dari sudut matanya. "Terima kasih Rey, atas bantuanmu." Tambahnya lagi hendak memeluk Rey, tapi laki-laki itu dengan cepat menghindar. Rachel melirik ke arah Tuan James dan mengulas senyumnya.


"Aku bukannya takut padanya, tapi aku memegang amanah istriku untuk tidak dekat dengan perempuan manapun." Bisik Rey ke dekat Rachel.


"Hmm" Tuan James berdehem hingga Rey kembali menjaga jarak dari Rachel.


"Tak perlu sungkan. Kalian sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri." Ucap Rey akhirnya.


"Baiklah kita berpisah disini. James aku titip putriku dan calon cucu kita padamu. Jaga mereka melebihi nyawamu sendiri." Ucap Pak Wijaya menepuk pundak sahabatnya itu.


"Pasti. Kau tenang saja. Ada pewaris keturunanku di dalam sana, aku pasti akan menjaganya dengan baik." Janjinya dengan lantang dan tegas.


Di lounge itupun, mereka saling terbagi. Rachel bersama Tuan James melangkah ke arah kanan menuju jalur landasan pesawat pribadi. Sementara Pak Wijaya, Ny Amitha dan Rey berjalan ke sayap kiri bangunan menuju ke jalur keberangkatan pesawat komersil.


***


Sepasang mata cekung tampak menerawang jauh keluar jendela. Menatap hampa cuaca berawan dan sedikit mendung diluar sana. Terduduk lemah di atas kursi roda tanpa semangat untuk hidup.


Keadaannya cukup kacau, tubuhnya semakin kurus dengan wajah yang juga tirus. Lingkaran hitam nampak jelas di bawah kedua matanya, serta rambut-rambut halus sudah memenuhi sebagian wajahnya. Sudah tak lagi menghiraukan keadaan dirinya sendiri.


Helaian selimut tebal tiba-tiba terbalut di tubuhnya dari belakang. Membuatnya sedikit tersentak, melirik sekilas wanita cantik yang dengan sabarnya mengurus dirinya kemudian kembali mengalihkan pandangannya menatap ke depan.


"Di sini dingin, Vir. Jendelanya aku tutup yah?"


Kepala lelaki itu menggeleng pelan. "Jangan, biarkan saja seperti itu." Lirihnya dengan suara lemah dan bergetar.


Hanna berjongkok di depannya, meletakkan tangan dengan jari-jari jenjangnya di atas tangan Mahavir. Mengusap lembut tangan kanan yang di diagnosis telah mengalami kelumpuhan.


"Tapi tanganmu sudah sangat dingin."


Mata lelaki itu melirik ke arah tangannya yang tak bisa di gerakkannya. "Tolong lepaskan tanganmu."


"Vir...."


"Hanna, please. Jangan menyentuhku."


Hanna segera menarik tangannya. Lalu memperbaiki selimut rajut di tubuh Mahavir hingga menutupi keseluruhan tubuh laki-laki itu.


"Kamu belum makan apapun sejak pagi tadi. Kita makan dulu yah?"


Mahavir membisu. Hanya menatap kosong angin yang berhembus cukup kuat hingga ranting-ranting pohon saling bergesekan.


Hanna meletakkan tangannya pada pegangan kursi roda itu, bersiap mendorongnya.


"Siapa yang memintamu mendorongku?" Tegurnya dengan nada suara terdengar dingin. Membuat Hanna langsung mengurungkan niatnya. Kembali ke samping Mahavir dan berjongkok di samping kursi rodanya.


"Vir, sampai kapan kamu seperti ini?"


Mahavir kembali mengabaikannya.


"Vir, udara semakin dingin. Bila terus disini, bisa-bisa kamu tambah sakit, Vir."


"Biarkan saja. Biarkan aku mati membeku di sini."


"Vir....,"


"Tinggalkan aku sendiri..."


"Tapi Vir...,"


"AKU BILANG TINGGALKAN AKU SENDIRI!!" teriaknya membentak Hanna.


"TERSERAH! AKU LELAH, VIR. TAK MENGAPA JIKA KAU TERUS MENGABAIKANKU, TAPI JANGAN SAKITI DIRIMU SENDIRI!!" Hanna balas meneriaki Mahavir lalu memutar tubuh dan berlari keluar ruangan meninggalkan lelaki keras kepala itu. Sudah tak sanggup melihatnya yang semakin hari semakin terlihat menyedihkan.


Hanna mengayunkan langkahnya dengan terisak. Merasa sesak melihat kondisi Mahavir yang semakin memprihatinkan. Berlari menunduk sambil menyeka airmatanya sampai matanya menangkap sepatu pentofel mengkilap bersama ujung tongkat di depannya. Hanna mengangkat wajahnya dan terkejut melihat Ayah Mahavir, dan semakin terkejut begitu melihat seorang wanita yang berdiri di belakangnya.


"Paman, dia...?" Hanna menggigiti bibirnya. Matanya menatap penuh amarah pada wanita cantik itu, tapi begitu wanita itu melangkah maju hingga memperlihatkan perutnya yang membuncit. Hanna langsung tercengang dengan mata membulat. "Kamu.....,"


"Maaf, Hanna. Paman membawanya kemari." Ucap Tuan James mencoba menarik Hanna dari keterkejutannya. "Ternyata paman telah salah paham selama ini."


Hanna masih tertegun. Memandangi Rachel dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Tuan James tampak mengawasi, takut bila Hanna kecewa dan langsung bersikap kasar pada menantunya. Tapi di luar ekspektasi-nya. Hanna malah menyambut kedatangan Rachel.


Hannah menarik kedua tangan Rachel dan menggenggamnya. Airmatanya langsung luruh.


"Terima kasih sudah mau datang. Cepatlah, cepat temui dia. Aku sudah tak sanggup melihatnya seperti itu."


"A-ada apa dengan Vir?"


Hanna menggeleng, menyeka airmatanya. "Temui, temui dia cepat. Dia sudah sangat merindukanmu...,"


"Dimana? Dia dimana? Vir ku dimana?"


Hanna sudah tak sanggup berucap, tangannya terjulur menunjuk sebuah pintu yang berada di ujung lorong itu.


Tanpa berucap lagi, Rachel langsung mengayunkan kakinya berlari ke arah pintu itu. Mengabaikan teriakan Tuan James yang memintanya tidak berlari.


Kerinduannya sudah tak terbendung lagi. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang hingga rasanya hampir melompat keluar dari rongga dadanya.


Langkahnya baru terhenti di depan pintu. Menarik napas dalam dan panjang kemudian menghembuskannya perlahan bersamaan dengan tangannya yang menyentuh handle pintu dan memutarnya.


'DRITT...,'


Pintu itu terbuka seiring dengan suara berderit pelan. Udara dingin menusuk yang berhembus dari arah jendela yang terbuka di dalam ruangan itu langsung menyambar keseluruhan tubuh Rachel. Membuat Rachel bergidik, mematung sejenak dengan mata yang langsung tertuju pada satu titik.