Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 40.Kepergok.


Rachel yang telah bersiap-siap, menemui Mahavir di ruang kerjanya. Disana Rachel menunggu Mahavir yang memeriksa beberapa laporan sambil menanyakan kejadian yang terjadi sewaktu di Villa.


"Jadi Dirga sekarang dimana?" Tanya Rachel setelah sekian kali bertanya dengan pertanyaan yang sama tapi tak jua di jawab oleh Mahavir. Rasa takut akan bertemu lagi dengan laki-laki itu masih menyelimutinya.


Mahavir mengusap wajahnya, menutup laptop nya lalu bangkit dari meja kerjanya menghampiri Rachel di sofa tamu. Kemudian berbaring di pangkuan Rachel. Mahavir meraih tangan Rachel dan menggenggamnya.


"Dia sudah mendekam di penjara untuk waktu yang sangat lama. Dan aku pastikan dia tidak akan lagi bisa mendekatimu. kamu tidak usah takut lagi. Lupakan semua kejadian yang dulu-dulu. Yahh.." Mahavir berucap lalu mengecup punggung tangan Rachel.


"Lalu bagaimana dengan Aretha? Dia baik-baik saja kan?"


"Dia tidak apa-apa, kata Rey dia sempat syok tapi dia langsung memutuskan pertunangan nya dengan Dirga. Dia juga titip salam padamu, dan meminta maaf karena tidak bisa ikut kesini."


"Aku merasa bersalah dengannya..."


"Hei.. Justru dia yang sangat merasa bersalah padamu. lagipula harusnya kamu bersyukur, teman mu itu tidak jadi bersama dengan laki-laki brengsek seperti itu. Apa jadinya kalau mereka sudah menikah baru ketahuan, kan lebih parah jadinya. Dengan kata lain kita ini telah menyelamatkannya."


"Iya juga sih..." Ujar Rachel. Secara tak disadarinya jari-jarinya bermain di kepala Mahavir, mengusap-usap rambut laki-laki itu. Membuat seulas senyum terukir di bibir Mahavir.


Mahavir mengangkat tangannya lalu membelai pipi Rachel. "Sayang...."


"Hmm?" Rachel sedikit tersentak dengan belaian lembut tangan Mahavir.


"Mau pergi honeymoon tidak?"


Rachel mengernyit lalu mencubit hidung Mahavir. "Astaga vir, aku bahasnya apa, kamu bahasnya apa!"


"Kamu tidak mau?"


"Kan kamu sendiri yang pernah bilang kalau kamu tidak mau pergi kalau cuma jalan-jalan saja. Katanya bukan honeymoon namanya kalau tidak...." Rachel mengatupkan kedua bibirnya. Pipinya tiba-tiba merona malu.


"Kalau tidak apa?" Mahavir berpura-pura tak tahu. "Ayo mikir apaan sampai mukanya merah begitu?"


"Ya..Yah pokoknya yang kamu pernah bilang....."


"Aku bilang begitu yah.."


"Iyya..."


"Padahal kemarin kita hampir saja melaku.. mmpp" Ucapan Mahavir terhenti karena mulutnya dibekap oleh Rachel.


"Jangan membahasnya lagi, okey?"


Mahavir mengangguk, Rachel pun melepas tangannya dari mulut Mahavir.


"Sayang, Di London nanti kamu mau tinggal di mana?"


"Yah kembali ke rumah Granny lah.." Jawab Rachel, sengaja menggoda Mahavir.


Mahavir yang tidak setuju dengan jawaban Rachel langsung bangkit dan duduk di samping Rachel. Mahavir menarik dagu Rachel agar wajah istrinya itu berhadapan dengannya.


"Granny? nenek kamu? Terus aku gimana?"


"Ya terserah kamu..." Rachel menepis tangan Mahavir dan memalingkan wajah nya.


"Kok terserah aku? Kamu tidak mau tinggal dengan ku? Bagaimana pun kamu istriku, kamu harus ikut denganku." Gusar Mahavir.


"Padahal baru semalam kamu bilang kalau ke manapun aku mau kamu akan membawaku." Ujar Rachel menahan tawanya.


"Tapi kan tidak ke rumah nenek mu juga." Gerutu Mahavir. Kesal dengan pilihan Rachel. Mahavir pernah sekali bertemu dengan nenek Rachel saat berkunjung ke rumahnya menemui daddy dan mommy Rachel. Neneknya yang mengetahui dirinya, habis dipukuli dan melarang untuk mendekati cucunya. Apalagi sekarang yang malah sudah menjadi suami sah nya Rachel. Bisa-bisa dibunuh ditempat dia disana.


Mahavir melirik kesal ke Rachel, sepintas dia menangkap ekspresi Rachel yang tersenyum menahan tawa. Ah..aku dijahili ternyata...


"Yah sudah kalau kamu mau di rumah nenek mu, aku kembali ke Alister hotel saja. Lumayan tiap hari bisa liat tamu-tamu bule yang cantik-cantik."


"Yah sudah ke sana saja, awas kalau kamu datang mencari ku."


"Marah yah? Jealous ya?"


"Iih kepedean."


Mahavir tertawa kecil. "Yah sudah, ayo kita turun sarapan. Kata Rey, Raya dan Bryan sudah ada di Resto bawah." Ujarnya lalu menarik tangan Rachel dan menggenggamnya. Berjalan keluar menuju lift yang tersedia. Kali ini tidak menggunakan lift khusus yang tepat berada di samping ruang kerjanya. Melainkan lift umum yang berada di ujung setelah melewati ruang selasar lantai teratas itu.


Rachel dan Mahavir kini telah berada di depan pintu lift, hendak menuju ke lantai tempat cafe dan Resto hotel berada.


'Ting'


Pintu lift terbuka, Rachel dan Mahavir yang baru saja hendak masuk ke dalam tiba-tiba dikejutkan dengan pemandangan yang ada di dalam sana.


Sama kagetnya dengan dua orang yang ada di dalam sana.


Karena mereka sama-sama terkejut dan terpaku di tempat. Pintu lift itu kembali menutup. Menyisakan Rachel dan Mahavir yang saling memandang satu sama lain.


"Vir, yang tadi itu....?" Rachel menduga-duga. Dia terus mengedip-ngedipkan kedua matanya mencoba memastikan bahwa dia tidak salah lihat. "I.. itu seperti Bryan dan Raya."


Mahavir sama terkejutnya. Dia juga masih tertegun di tempat. Hingga dua pertanyaan dari Rachel pun lolos begitu saja melewati nya.


"Vir, Apa yang aku lihat tadi itu, juga kamu lihat?" Rachel bertanya sekali lagi. Sahabat dan adiknya? Apa ini betul terjadi? Sungguh diluar perkiraan.


"Sepertinya kamu tidak salah lihat, karena aku juga melihat nya."


Saat Rachel dan Mahavir masih saling memastikan, lift kembali terbuka. Terlihat Bryan dan Raya saling canggung dengan jarak yang saling berjauhan.


Dengan cepat Rachel masuk ke dalam lift, hendak menginterogasi mereka, tapi dengan cepat pula Bryan keluar dan menarik Mahavir menjauh dari lift itu.


"Aku mau bicara dengan kak Vir dulu." Ucap Bryan sesaat sebelum pintu lift menutup. Bryan beralasan untuk menghindari Rachel, dia tahu betul dengan sifat kakaknya itu yang akan terus bertanya hingga ke akar-akarnya.


Selepas lift itu membawa Rachel dan Raya turun ke lantai tujuan mereka. Bryan malah terdiam berdiri mematung. Ternyata dia baru tersadar kalau sepulang dari Villa dia belum bertegur sapa lagi dengan Mahavir. Bryan masih takut dengan kemarahan kakak iparnya kemarin atas kelalaiannya sewaktu di villa.


Mahavir memandangi Bryan yang berdiri menunduk. Sedikit heran dengan sikap pemuda itu. "Ikut aku, kebetulan ada yang ingin ku bicarakan...!" Mahavir berjalan kembali ke ruang kerjanya. Bryan mengikut dengan patuh.


Mahavir menduduki sofa tamu yang ada di ruang kerjanya dengan wajah yang serius. Bryan yang masih dalam mode takutnya masih berdiri dan mengusap-ngusap tengkuknya.


"Kenapa tidak duduk?"


"Itu.. Kak Vir masih marah?" Tanya Bryan ragu-ragu.


"Marah? Marah kenapa?" Kedua alis Mahavir terangkat. Bingung dengan maksud pertanyaan Bryan.


"Aku minta maaf kak, soalnya aku sudah lalai mengikuti perintah kak Vir."


Mahavir mengernyit, mencoba memahami maksud adik iparnya itu. Setelah beberapa saat Mahavir baru menyadari dan langsung tertawa kecil. "Astaga Bryan kamu masih memikirkan itu"


Bryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu ikut duduk di samping Mahavir.


"Gara-gara aku, kak Rachel...."


"Itu bukan salahmu, justru itu kesalahanku. Tidak seharusnya aku melempar tanggung jawab padamu. Aku hanya terbawa emosi waktu itu, aku tidak serius marah padamu. Jangan dipikirkan lagi." Mahavir menepuk pelan paha Bryan yang duduk di sampingnya. "Daripada itu, apa yang kamu lakukan tadi? Sudah mulai berani kamu yah?"


Bryan tidak menjawab, dia hanya menyengir memperlihatkan gigi putihnya.


"Kamu pacaran dengannya?"


"Masih usaha kak"


"Masih usaha? Berarti belum pacaran dan kamu cium anak gadis orang?"


"Itu.. Itu..kak Raya sangat menggemaskan. Jadi aku kelepasan."


Mahavir menepuk keningnya. "Astaga Bryan, belajarlah kendalikan dirimu. Ini Raya loh, sahabat kakak mu! Kalian selisih 10tahun, Kamu serius dengannya?"


"Memangnya tidak boleh? Orang tuanya saja berharap aku jadi menantu mereka, Kalau kak Raya nya mau, aku akan serius."


Mahavir kembali menepuk keningnya. "Astaga anak ini...." Mahavir melirik tak percaya dengan perkataan Bryan. "Kamu betul-betul menyukai nya?"


"Kalau tidak suka, mana mungkin aku berani menciumnya kak. Hah..baru saja tadi aku mau mencium nya lebih dalam, eh kak Vir sama kak Rachel mergokin, gak jadi deh..."


Mahavir menepuk keras paha Bryan dan menekannya hingga Bryan meringis kesakitan. "Masih kecil sudah pandai kamu hah? Belajar dulu sana, sukses dulu baru apa-apain anak orang."


"Bercanda kak, bercanda....! Udah lepas kak, sakit." Pinta Bryan.


"Oh, iya. Kamu serius mau kuliah di Oxford kan? Soalnya Stuart sudah mengurus semua administrasinya."


"Wah yang benar kak? Tapi daddy sudah ijinkan belum?"


"Siippp..! Thankyou kak Vir, your the best brother..." Ujar Bryan kegirangan lalu merangkul dan memeluk Mahavir.


"Iyya, Sama-sama. Kamu segera persiapkan saja semuanya. Sekalian kamu ikut ke London."


"Kapan?"


"Secepatnya, Rachel sudah mau kembali ke London masalahnya."


Bryan terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa? Mikirin Raya?"


"Heh.. Tau aja kak." Ucap Bryan terkekeh yang langsung ditanggapi Mahavir dengan mengacak-acak pucuk kepalanya.


* * *


Sementara di tempat lain, tepatnya di kamar hotel Raya. Dia sedang diinterogasi oleh Rachel.


Tapi Raya justru uring-uringan. Mengacak-acak rambutnya dan membentur-benturkan kepalanya ke tembok.


"Hei, are you crazy?" Tegur Rachel heran melihat tingkah sahabat nya itu.


"Rachel... Adik kamu itu...!"


"Iya kenapa dengan adik aku?"


"He make me crazy."


"Kamu menyukai adikku?"


"Gila, gak mungkin lah. Dia kan adikmu."


"Memang nya kenapa? Kalau kalian saling menyukai, aku tidak masalah. Toh mama papa mu juga merestui. Kita bisa jadi saudaraan dong..." Goda Rachel.


"Hahh... Rachel. Gak asyik ahh..."


"Jujur, sekarang perasaanmu bagaimana? Kenapa Bryan bisa mencium mu tadi? Aku sampai terkejut ternyata selera bocah itu tinggi juga. Tidak pernah dekat dengan cewek, eh sekali nya dekat langsung sama yang level tinggi." Cerocos Rachel.


"Udah deh, bilang aja kalau aku sudah tua. Tidak usah pakai kiasan level tinggi." Raya memutar matanya kesal. Lalu menghempas kan tubuhnya ke atas kasur.


"Ra..."


"Hemm.."


"Gimana dengan Rey?"


"Apanya yang gimana? Aku gak ada apa-apa dengannya."


"Yakin?"


"Apa sih..."


"Sedikit pun?"


"Iyya, cuma kadang ada rasa bersalah saja padanya. Gak tau juga kalau dia terus mendekat aku langsung kesal setengah mati, tapi entah mengapa kalau dia bersikap dingin rasanya bikin nyesek."


"Kalau sama Bryan?"


"Rachel sayang.... Dia adik kamu."


"Ra, Sekarang anggap dia bukan adik aku. Jujur, bagaimana perasaanmu kalau sama Bryan?"


Raya berfikir sejenak,


"Jujur sih, tak tahu kenapa setiap berdekatan Bryan itu langsung menyebabkan gangguan jantung, gangguan pernapasan, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, Diabetes, asam lambung kumat, migrain, vertigo, pusing, kejang-kejang dan ketidakwarasan."


"RAYA!!! Aku nanya nya serius...! Jangan bercanda. Dasar dokter somplak!!"


"Hahahha...kepo!"


"Malas ah, bicara sama kamu." Rachel ikut membaringkan tubuhnya di samping Raya. Mereka sama-sama berbaring terlentang, memandangi langit-langit kamar.


"Rachel...."


"Hmm??"


"Bagaimana seandainya kalau Dirman masih hidup?"


Rachel terdiam sejenak, "Syukurlah kalau dia masih hidup."


"Kalau seandainya nih ya, Dirman memang masih hidup terus kalian bertemu, bagaimana? Apa kamu masih membencinya?"


"Hmm.. Entahlah, justru saat ini aku merasa sangat bersalah padanya." Ucap Rachel lalu menoleh ke Raya. "Kenapa tiba-tiba kamu membahas Dirman?"


"Hah..??" Raya berfikir mencari alasan. "Ti.. Tidak apa-apa sih, aku hanya mau tahu pendapat mu saja."


"Lalu bagaimana kamu sama Mahavir?"


"Aku sedang berusaha membuka hati. Bagaimanapun kan dia sudah jadi suamiku. Sepertinya dia tulus mencintaiku."


"Kamu sudah percaya padanya?"


"Sepertinya begitu... Entahlah.. Dia punya aura yang bikin orang nyaman bersama nya."


"Syukurlah kalau begitu, Aku berharap kamu bahagia selalu, apapun itu kedepannya kalau kalian ada masalah bicarakan baik-baik. Jangan lakukan kebiasaan kamu seperti dulu yang langsung menjudge seseorang tanpa mau tahu. alasannya. Setiap tindakan dan kesalahan orang pasti ada alasan nya, jadi dengarkan dulu baru memutuskan."


"Cie.. Cie.. Sok dewasa bangett, calon iparku ini."


"Ye.. Dibilangin juga!"


"Ra, aku akan kembali ke London."


"Hah?" Raya langsung duduk dan memandangi Rachel. "Kapan?"


"Secepatnya..."


"Gak bisa yah kamu menetap di sini saja?"


"Kerjaan ku disana, vir juga lebih nyaman disana."


"Yah, kita berpisah lagi dong."


"Sekarang sudah canggih kali, sejauh apapun terkikis oleh keberadaan sosial media."


"Tapi kan beda."


"Kalau kamu ada waktu luang, jalan-jalan kesana yah..,nanti kita jalan-jalan bareng."


"Nanti aja dilihat. Soalnya jadwal dinasku full schedule, ini saja kalau bukan mama ku yang uruskan izinku mana bisa aku berlibur seperti ini. Lagipula aku malas perjalanan jauh. Berjam-jam di pesawat bikin bete, gak bisa ngapa-ngapain.


"Kamu yah.!! Rumah sakit milik papamu, klinik milik Mama mu, pastinya mudah buatmu untuk ambil cuti panjang."


"Sorry yah, biarpun mereka orang tuaku, kami tetap profesional kalau di tempat kerja. Kecuali kemarin itu mama berikan izin karena ada Bryan yang ikut menjemput.'


"Iyya, sepertinya mama mu itu sangat terpesona dengan adikku."


"Sudah deh, gak usah bahas itu lagi! Eh..kamu belum sarapan kan? Cari makan yuk, aku tadi makan dikit gara-gara Bryan." Ajak Raya sembari menarik tangan Rachel.


"Iyya, sepertinya perut ku juga keroncongan nih." Ujar Rachel lalu mengikuti langkah Raya.


"Ra, Aku panggil Vir dan Bryan juga yah." Raya menggerak-gerakkan ponsel yang ada di tangannya.


"Kalau gitu aku balik ke kamar lagi deh." Raya berbalik hendak masuk kembali ke kamar.


"Ehh, iya.. Iya.. Gak jadi." Kini Rachel yang menarik Raya.


"Liat orang nya gak mau, tapi pas di cium mau." Ledek Rachel tertawa geli. Membuat Raya tersenyum kecut.


* * *


Happy Reading 🙏🥰🤗