Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 56. Kotak Rahasia Mahavir.


Risya mengedarkan pandangannya melihat interior ruang kerja Mahavir. Suasana dan desain ruangan itu sangat berbeda dari ruangan lainnya. Bila ruangan lainnya lebih berdesain modern, di ruang kerja ini malah terlihat lebih elegan dengan interior klasik khas kerajaan.


Lukisan-lukisan klasik serta lemari dengan berbagai macam buku-buku terlihat mendominasi memenuhi semua dinding ruangan itu. Kedua mata Risya betul-betul takjub menelisik tiap detail barang yang ada.


"Kamu kenapa ikut masuk? Tunggu di luar saja. Sana-sana!" Mengibaskan tangan mengusir Risya keluar dari ruang kantor Mahavir.


"Risya cuma mau lihat-lihat saja. Masa gak boleh." Terus melangkah semakin masuk.


"Ini ruangan yang tidak boleh di masuki oleh sembarang orang." Tukas Bryan sembari membuka lemari kaca di sisi kanan.


"Lalu kak Bry sendiri?" Tanya Risya, dengan tangan yang sudah memutar-mutar Globe bola dunia yang ada di atas meja kerja.


Bryan menoleh lalu berkacak pinggang. "Kalau begitu jangan menyentuh sembarangan." Bryan memperingatkan lalu fokus mencari kotak P3K yang dilihatnya kemarin saat mengambil kunci mobil.


"Kak Bry, kak Vir itu orangnya gimana? Risya penasaran mau lihat Boss kak Rey itu. Kata kak Rey, boss nya itu sahabatnya sejak sekolah dulu, itu sebabnya kak Rey dipercayakan untuk memimpin hotel Calister, hingga di hadiahkan mobil Porsche segala." Celoteh Risya sambil menduduki kursi kerja Mahavir.


"Astaga, Rey bilang begitu?" Tanya Bryan yang masih fokus mencari keberadaan kotak obat di lemari. "Rey itu memang mulut ember!"


"Loh, memangnya bukan yah?"


Bryan berbalik, namun terkejut melihat Risya terduduk di kursi kerja kakak iparnya. "Bocah, Jangan duduk disitu. Disini saja." Menunjuk pada sofa cokelat yang ada di samping lemari lalu kembali berbalik membuka pintu-pintu lemari. Risya yang ditegur Bryan langsung bangkit dari duduknya, tapi belum berpindah tempat. Tangannya malah usil membuka laci-laci meja satu persatu dan mengamati isinya.


"Tidak salah sih, cuma harusnya dia tidak cerita itu ke sembarang orang." Lanjut Bryan.


"Risya kan adik kak Rey, bukan orang lain."


Bryan menghela nafas, "Pokoknya itu jadi rahasia, jangan pernah bilang ke orang lain kalau Rey dan Mahavir teman sekolah. Ingat itu."


"Siapapun?"


"Iyyah, kak Rachel sekalipun."


"Kenapa?"


"Jangan banyak tanya. Pokoknya dengarkan aku saja. Demi keamanan negara. Kalau kamu keceplosan, bisa terjadi perang dunia."


Risya terkekeh mendengar perkataan Bryan. Lalu kedua matanya fokus melihat kotak yang terbuat dari besi berwarna gold. Tanpa meminta izin, Risya mengangkat kotak itu dan membukanya. Lalu mengeluarkan benda yang tersimpan rapi di dalamnya.


"Kak Bry, ini milik siapa? Tidak mungkin kan milik Kak Vir?" Tanya Risya sambil mengibas-ngibaskan benda itu di udara.


Bryan menengok ke arah Risya, mencoba melihat apa yang Risya maksud. Namun sedetik kemudian, Bryan terperanjat kaget dan dengan cepat menghampiri Risya.


"Astaga dapat dimana ini?" Bryan langsung menarik benda yang dipegang Risya dengan kasar dan kembali memasukkannya ke dalam kotak penyimpanannya.


Aduhhh...Kalau kak Rachel lihat bisa gawat. Kenapa kak Vir teledor begini! Harusnya ini disimpan di tempat yang jauh dari kak Rachel.


Guman Bryan dalam hati.


"Dapat di dalam situ." Menunjuk ke laci ketiga sebelah kiri.


Dengan cepat Bryan meletakkan kembali kotak itu ketempat semula dan mengunci lacinya, lalu kuncinya dia masukkan ke dalam vas kristal yang ada di sudut lemari hias.


"Memangnya itu milik siapa kak sampai di sembunyikan seperti itu? Apa milik kekasih kak Vir? kak Vir punya kekasih lain? Atau jangan-jangan milik anak perempuan kak Vir?"


"Hush, jangan ngaco."


"Lalu? Apa itu milik kak Rachel? Kak Rachel suka princess juga? Tapi kenapa harus di sembunyi?"


Bryan berdecak kesal, lalu mencengkram kedua bahu Risya dan mendorongnya hingga terduduk di kursi kerja. Satu tangannya menarik dagu Risya, membuat pandangan mereka saling sejajar. "Risya, bocah cantik sedunia...apapun yang kamu lihat hari ini jangan beri tahukan kepada siapapun. Terlebih lagi kepada kakakku, kak Rachel. Mengerti?"


Risya mendongak menatap wajah Bryan dengan raut wajah kebingungan. "Memangnya ada apa?"


"Pokoknya dengar saja perkataanku ini. Jangan pernah bilang ke orang lain kalau Rey dan kak Vir itu pernah satu sekolah, dan anggap kamu tidak pernah melihat benda yang kamu pegang tadi. Sudah paham?" Bryan menatap Risya dengan tatapan dingin. Kedua tangannya semakin erat mencengkram bahu Risya untuk mengintimidasinya.


Melihat tatapan Bryan yang terlihat dingin dan menyudutkannya membuat Risya langsung mengangguk-anggukkan kepala dengan cepat.


"Risya janji." Menempelkan jari telunjuk dan jempolnya lalu menempelkannya ke ujung bibir kemudian menariknya ke ujung bibir satunya. Gerakan yang menandakan ia akan tutup mulut.


"Bagus." Melepaskan cengkramannya dan menarik tangan Risya. "Ayo kita keluar dari sini."


"Tapi obatnya."


"Nanti kita suruh Bik Inah mencarikannya kalau dia sudah datang!" Seru Bryan lalu menarik Risya keluar dari ruangan itu. Tapi saat keluar dari ruang kerja Mahavir, mereka berpapasan dengan Bik Inah yang baru pulang dari berbelanja di Supermarket.


"Astaga, Tuan dan nona muda mengagetkan Bibi."


"Bik kotak obat yang ada di ruang kerja kemana?"


"Oh, Maaf Tuan Muda Bryan, pagi tadi tangan bik inah terciprat minyak. Saat membersihkan ruang kerja Bibi melihat kotak obat itu, lalu mengambilnya tanpa izin." Berjalan cepat ke arah dapur, membuka kitchen set bawah dan mengeluarkan kotak obat yang Bryan cari. "Ini kotak obatnya Tuan Muda. Maaf saya lancang memakainya."


Risya langsung meraih kotak obat itu tanpa berkata sepatah katapun. Dia masih dalam mode diam, setelah Bryan mengintimidasinya tadi.


"Iya tidak apa-apa Bik, isi kotak itu kan memang gunanya untuk pertolongan pertama. Jangan merasa bersalah begitu." Menepuk pelan bahu Bik Inah lalu melangkah menuju ruang keluarga yang langsung berhadapan dengan dinding-dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota. Menduduki sofa putih panjang yang berbentuk melengkung, lalu berbalik melihat Risya yang ikut duduk di sampingnya. "Cepat obati hasil kerjamu."


Dengan cepat Risya membuka kotak P3K, mengamati isinya sejenak kemudian mengambil Bet*dine dan meneteskannya pada cotton Buds. Lalu setengah berdiri dengan satu lutut menumpu pada sofa, dan mengobati luka Bryan dengan perlahan-lahan.


"Pelan-pelan, sakit tahu!" Meringis kesakitan.


"Ini juga sudah pelan kakak astaganaga!" Semakin menekan cotton Buds-nya.


"Aww, aku bilang pelan-pelan." Menepis tangan Risya dan mendorongnya. "Dan jangan panggil aku astanaga lagi!"


"Astaga, Cowok kok cengeng banget!!"


"Itu telinga Tuan Muda Bryan kenapa?" Tanya Bik inah tiba-tiba menghampiri setelah membereskan belanjaannya.


"Digigit sama anjing gila bik!"


"Ihhh....kak Bry!!" Berdiri dan mendengus kesal. "Kemarin Risya dibilang Beo, sekarang anjing gila, besok apa lagi?"


"Besok apa lagi yah..." Berpura-pura berfikir.


"Ihh, Kak Bry nyebelin..." Maki Risya lalu berlari menuju tangga.


"Hei bocah! Katanya mau ngobatin...."


"Tau!! Obatin aja sendiri." Berlari menaiki anak tangga hingga tak terlihat lagi oleh Bryan. Bryan hanya tertawa geli.


"Sini biar Bibi saja yang lanjutkan." Tawar bik inah lalu melanjutkan mengobati luka di telinga Bryan.


* * *


Sore hari, Bryan yang baru selesai mandi tampak berdiri di depan pintu kamar Risya. Dia sedikit cemas karena Risya belum juga keluar kamar sejak siang tadi, bahkan Risya tak keluar untuk sekedar makan siang.


Setelah lama mondar-mandir tidak jelas, dengan mengendap-endap Bryan semakin mendekat ke pintu dan mencoba mendekatkan telinganya ke daun pintu. Namun saat telinganya sudah menempel sempurna, daun pintu tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok Risya di baliknya.


Dengan canggung dan malunya, Bryan langsung akting seperti orang yang sedang berolahraga.


Namun Risya tak menanggapi, dengan cuek Risya mundur selangkah dan hendak kembali menutup pintu.


"Hei bocah, tunggu dulu." menahan pintu yang akan menutup.


Risya kembali membuka pintu, berbalik dan berjalan masuk kembali ke dalam kamar lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan posisi menelungkup.


Bryan mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya terlihat tertekuk-tekuk. Heran melihat tingkah laku Risya. "Kamu masih marah?"


Risya tak menjawab, ia hanya mengangkat tangannya dan mengibaskan kelima jarinya.


"Kamu sakit?"


Kembali mengibaskan kelima jarinya.


Bryan mendesah pelan lalu menghampiri Risya dan duduk di ujung tempat tidur. "Lalu?"


Bryan tersenyum jahil lalu menarik-narik anak rambut Risya. Risya menggerak-gerakkan kepalanya tanda tak suka rambutnya di tarik-tarik.


"Tadinya aku mau ajak kamu keluar, tapi sepertinya kamu lagi badmood. Jadi aku keluar sendiri saja yaah." Pancing Bryan.


Risya masih tak bergeming.


"Yakin gak mau ikut?"


Risya masih tak bergeming.


"Ya udah aku pergi sendiri saja." Bangkit dari duduknya dan hendak melangkah. Namun tiba-tiba kaosnya tertarik kebelakang.


Bryan berbalik dan kembali duduk. "Bocah, kamu kenapa?"


"Gak tahu, perut ku rasanya aneh kak." Bangun, lalu duduk berhadapan dengan Bryan.


"Itu karena kamu belum makan. Makan dulu sana."


"Risya mau makan Burger."


"Kalau begitu sana siap-siap cepat. Baru kita keluar cari Burger."


"Setelah itu kemana?"


"Jalan-jalan di sekitar sini saja dulu."


"Naik mobil?"


"Iyalah, memangnya mau naik pesawat?"


Risya mendelik kesal lalu memukul lengan Bryan. "Ihhh...kakak!!" Menyilangkan kedua tangannya lalu menatap Bryan. "Risya mau naik Bus bertingkat yang warna merah, yang Risya lihat di sepanjang jalan kemarin."


"Buang-buang ongkos."


"Dasar pelit." Kembali menghempas tubuhnya ke atas kasur.


Bryan menggaruk kepalanya, bingung melihat Risya yang tak bersemangat seperti sebelumnya. Sejenak terdiam mengamati tingkah Risya selama beberapa saat, lalu menarik kedua tangan Risya hingga kembali terduduk. "Ayo bangun, entar keburu malam. Sore-sore begini ramai pejalan kaki. Kamu mau lihatkan suasana musim gugur?"


"Mau, mau! Mau banget." Langsung melompat turun dari tempat tidur, mengambil jaket dan sneakersnya. "Ayo kak!"


Bryan menatap heran. "Gak Mandi dulu? Minimal cuci muka dulu."


"Ahh, Kalau Risya mandi dulu nanti Risya bisa diculik orang karena kecantikan Risya bersinar-sinar." Narsisnya sambil berjongkok memakai sneakersnya.


"Terserah kamulah..." Tersenyum geli lalu berjalan keluar kamar. Risya menyusul dibelakang setelah memakai sneakers dan jaketnya.


Mereka berdua pun masuk ke dalam lift yang membawanya turun hingga ke lantai dasar.


Begitu keluar dari gedung Penthouse, angin sejuk langsung menyapa. Baik Bryan maupun Risya langsung merapatkan jaket mereka.


"Yakin mau naik Bus saja?" Tanya Bryan memastikan sekali lagi.


"Iyya kak."


"Gak takut kalau banyak orang asing?"


"Kenapa harus takut? Kita kan juga orang! Manusia maksud Risya..!" Terkekeh pelan


Bryan menoleh melihat Risya dari atas hingga ke bawah kaki. "Mungkin kita sampai malam, kamu gak bakalan kedinginan kan?"


"Gak lihat ini jaketku udah double kak? Kalau kedinginan lagi pinjam jaket kak Bry aja." Jawab Risya enteng.


Bryan hanya menyunggingkan senyum tipis lalu melangkahkan kaki menapaki jalur khusus pejalan kaki, Risya pun turut mensejajarkan langkahnya di samping Bryan.


"Kita kemana dulu kak?"


"Kalau ke kantor kak Rachel dulu saja bagaimana? Siapa tahu dia mau ikut makan burger."


"Boleh, boleh, Risya juga mau lihat kantor kak Rachel."


"Iya sekalian kan, kalau ada kak Rachel ada yang bayarin."


"Yah, kak Bry Modus!!!" Seru Risya tertawa lepas. "Ketahuan gak punya duit."


"Ada kok, cuma tidak seberapa. Kan aku belum kerja."


"Kak Bry masih kuliah? Umur kak Bry memangnya berapa?"


"Aku baru saja daftar kuliah, tahun ini aku baru 18 tahun. Awal tahun nanti sudah 19 tahun."


"Oh, ternyata masih muda yah.." Ucapnya sedikit menyengir.


"Kamu kira umur ku berapa bocah?" Melirik kesal.


"Iissh, jangan panggil aku bocah kak, akhir tahun ini ulang tahun ku yang ke 14 tahun, itu berarti kita hanya selisih 4 tahun."


Bryan menoleh ke arah Risya, memandanginya selama beberapa saat lalu kembali fokus melihat jalan di depannya.


"Kak, yang tadi kakak telfon itu pacar kakak?"


"Iya..."


"Sudah lama pacaran?"


"Baru juga. Baru sekitar seminggu."


"Wah baru pacaran langsung LDR-an."


Bryan tertawa kecil, "Tahu juga kamu istilah itu."


"Tahu sedikit sih...dengar-dengar dari film-film saja."


"Ohhh...." Guman Bryan pelan, dan Risya sudah tak bertanya lagi.


Kemudian mereka saling terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.


Risya tak lagi berkata-kata sebab kedua matanya sudah fokus menikmati pemandangan di sekitar. Melihat dedaunan berwarna oranye yang berjatuhan dari pohon. Dari kejauhan pun nampak Bus-bus merah bertingkat yang menjadi ciri khas Britania Raya sedang berlalu lalang.


Setelah berjalan santai melewati beberapa blok, Bryan dan Risya menaiki bus yang membawanya ke Oxford Street. Sepanjang perjalanan di atas Bus Risya pun masih terdiam, seakan terhipnotis memperhatikan detail bangunan-bangunan yang sedari tadi mereka lewati.


Beberapa menit berlalu, Bus mereka pun sampai di tujuan. Sedikit berjalan kaki lagi selama beberapa menit hingga sampailah mereka ke sebuah bangunan dengan perpaduan desain arsitektur bangunan tua.


Setelah berbicara di Lobby, mereka berdua pun diantar ke ruangan Rachel oleh seorang wanita pirang bermata biru.


"Miss Rachel's been looking for you" Ucap wanita itu menyampaikan ke Rachel, sambil membukakan pintu untuk Bryan dan Risya.


(nona Rachel ada yang mencari anda)


Rachel yang tengah memandangi tablet nya langsung mendongak dan melihat ke arah pintu.


* * *


Ayo, ada yang tau gak benda apa yang disembunyikan itu??


kalau ada yang fokus bacanya sejak awal pasti tahu benda apa yang pernah Rachel berikan pada Dirman dulu...


Apakah benda itu akan membuka jati diri Mahavir?


ataukah Risya yang keceplosan?


hmmm,, liat nanti aja yah.... 🤭😉