Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Aku ngantuk, sayang


Menuruti keinginan Sandra, kini Rendra, Daven dan juga Sandra sudah berada di Lembang. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung, hanya untuk minum susu sapi. Bukankah ini sangat waow?


Sebenarnya Sandra tidak tega melihat wajah Rendra yang tampak ikhlas tidak ikhlas menuruti keinginannya ini. Apalagi ngidam kali ini hanya ngidam akal-akalan Sandra saja demi mencegah Rendra agar tidak pergi ke rumah Viola. Tapi apa yang Sandra lakukan ini tidak terlalu berlebih-lebihan kan? Cuma minta ditemenin minum susu di Lembang, nggak terlalu ngrepotin kok. Itu yang Sandra pikirkan.


Dan setelah perjalanan dari Jakarta selama 4 jam dan karenakan macet, nyatanya Sandra benar-benar hanya ingin minum susu sapi saja. Setelah itu mereka langsung pulang.


Sebagai suami, Daven saja merasa sedikit aneh. Meskipun Daven tau kalau apa yang Sandra lakukan ini karena bukan benar-benar ngidam.


Kalau Daven sudah tau Sandra hanya ngidam bohongan, kenapa Daven memilih untuk ikut ke Lembang? Padahal sebelumnya Daven akan berangkat ke kantor? Jawabannya karena Daven ingin memastikan kalau Sandra aman. Meskipun sebenarnya Daven percaya, bersama Rendra, maka Sandra sudah pasti aman. Tapi Daven ingin memastikannya sendiri.


Dan sekarang, Sandra, Daven, dan juga Rendra sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Tidak lupa mereka juga membeli beberapa botol susu dari sana. Hal ini Rendra yang menyarankan, dengan alasan agar nantinya kalau Sandra ingin minum susu sapi asli Lembang, mereka tidak perlu repot-repot untuk kembali ke Lembang.


Mendengar alasan Rendra, tentu saja Sandra hanya bisa tertawa. Sementara Daven tersenyum tipis.


Rendra dan Daven secara bergantian mengendari mobil. Sementara Sandra duduk di belakang dengan posisi tiduran. Seperti biasa, Sandra memang selalu *****. Kalau sudah duduk dibelakang, apalagi dia hanya sendiri maka tidak mungkin Sandra menyia-nyiakan hal itu untuk tidak tidur.


Dan lihatlah bagaimana saat ini Sandra sudah tertidur dengan sangat nyenyak.


"Sandra emang kadang masih kaya anak kecil, Dave. Ini karena selama ini aku, Bang Kendra, dan Ayah selalu manjain dia. Dan kamu pasti tau akan hal ini. Secara, kita udah temenan sejak kecil. Jadi, kalau sekiranya ada sifat dari Sandra yang kamu nggak suka, tolong tegur Sandra baik-baik. Jangan sampai kamu buat Sandra terluka lagi. Dan kalau misal dirasa kamu nggak bisa bertahan sama Sandra, kembaliin dia ke keluarga dengan baik-baik." Ujar Rendra tiba-tiba.


Sejenak, Daven tersentak saat mendengar ucapan Rendra. Hatinya terasa tercubit karenanya.


"Mungkin aku nggak bisa janji kalau tidak akan menyakiti Sandra. Karena biar bagaimanapun aku hanya manusia biasa yang pastinya banyak khilaf dan salah. Tapi aku akan selalu berusaha untuk tidak sampai membuat Sandra terluka. Dan kalau Sandra terluka, percayalah, aku tidak melakukan itu dengan sengaja. Karena aku pun juga tidak ingin Sandra sampai terluka." Jawab Daven dengan tenang.


Daven bisa saja berjanji kalau dia tidak akan membuat Sandra terluka. Tapi siapa yang akan tau dengan apa yang terjadi kedepannya? Bisa saja tanpa sadar Daven memang tidak sengaja membuat Sandra terluka kan?



Lagi-lagi, dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Sandra, Daven dan Rendra harus mengalami macet lagi. Jarak yang seharusnya bisa ditempuh selama kurang dari 3 jam kini kembali mereka tempuh selama 4 jam. Dan sesampainya di rumah, Sandra, Daven, dan Rendah langsung masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.



Lebih tepatnya Sandra dan Rendra yang beristirahat. Sedangkan Daven langsung disibukkan dengan pekerjaan yang hari ini dia tinggalkan tiba-tiba.



Aileen, gadis cantik itu saat ini sedang diajak Bunda Sya dan Ayah Radit ke rumah Kendra. Jadi Sandra bisa beristirahat dengan baik.



Sementara itu, Rendra yang hari ini sudah lelah karena selama perjalanan lebih sering dia yang menyetir mobil, memilih untuk mengurungkan niatnya datang ke rumah Viola. Rendra sudah terlalu lelah. Mungkin besok Rendra akan kesana.



Sandra terbangun dari tidurnya saat sayup-sayup dirinya mendengar suara adzan yang berkumandang. Dengan perlahan matanya terbuka. Terlihat cahaya terang dari lampu langsung menyorot matanya. Setelah menyesuaikan diri dengan cahaya lampu, barulah Sandra beranjak dari posisi berbaringnya. Kini tatapan Sandra tertuju kepada Daven yang ternyata sedang tidur dengan posisi duduk. Di meja terdapat laptop dan juga berkas-berkas. Sepertinya Daven ketiduran saat sedang mengerjakan pekerjaannya.


Dengan perlahan Sandra beranjak dari ranjang. Sandra berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun agar tidak mengganggu tidur Daven.


Sandra berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan piyama, agar lebih nyaman. Setelahnya Sandra langsung meng-qada sholat Maghrib yang tadi dia tinggalkan bersama sholat Isya.


Selesai sholat, barulah Sandra mendekati Daven. Sandra duduk disamping Daven. Sejenak Sandra terpukau dengan ketampanan Daven.


Sungguh, Sandra sama sekali tidak lebay. Daven benar-benar sangat tampan. Bahkan menurut Sandra, Daven jauh lebih tampan dari Kendra dan Rendra. Kalau dengan Davian, meskipun wajah mereka kembar, tapi menurut Sandra tetap tampan Daven.


Oke oke, tentu saja Sandra memiliki pikiran seperti itu, secara Daven adalah suaminya. Jadi maklum saja ya guys ya.


"Bang... Bang Cio." Panggil Sandra dengan lembut.


Tidak ada respon, Daven benar-benar nyenyak dalam tidurnya.


Sandra mencoba lagi, kali ini dibarengi dengan usapan lembut pada lengan Daven.


"Bang Cio, bangun..." Ucap Sandra.


Dan apa yang Sandra lakukan ini berhasil membangunkan Daven. Dengan perlahan mata Daven mulai terbuka. Hingga membuat kini Sandra dan Daven saling bertatapan.


Daven diam, begitu juga dengan Sandra. Sekali lagi, Sandra dibuat terpukau dengan ketampanan Daven. Hingga akhirnya Sandra disadarkan dengan keterpukauannya saat tiba-tiba Daven merebahkan kepalanya di paha Sandra.


"Eehh... Kok malah tidur lagi." Ujar Sandra saat melihat Daven kembali memejamkan matanya.


"Aku ngantuk, sayang." Bisik Daven dengan suara parau.


Sandra kembali terdiam. Kali ini bukan karena terpukau dengan ketampanan Daven. Melainkan karena Sandra terkejut dengan panggilan Daven kepadanya. Selama ini Daven tidak pernah memanggil Sandra dengan panggilan sayang, setelah pernyataan cintanya. Dan sekarang? Apa Sandra tidak salah dengar?


Daven yang sadar kalau Sandra hanya diam, kemudian membuka matanya. Daven kembali mengubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan Sandra.


"Kenapa?" Tanya Daven dengan wajah bingung.


"Bang Cio barusan panggil aku sayang?" Tanya Sandra kepada Daven.


Kini Daven tersenyum.


"Iya, kenapa emangnya? Kamu nggak suka kalau aku panggil sayang?" Tanya Daven kepada Sandra.


Dengan cepat Sandra langsung menggelengkan kepalanya.


"Enggak, suka kok. Aku suka banget." Jawab Sandra dengan semangat.


Sementara itu Daven langsung tertawa, kemudian dia membawa Sandra kedalam pelukannya. Daven benar-benar gemas kepada Sandra karena istrinya itu terlihat sangat menggemaskan.