
Sandra terbangun dari tidurnya. Sejenak dia lupa dimana dirinya saat ini. Karena tempat ini terlihat cukup asing dimata Sandra. Barulah setelah beberapa saat Sandra ingat, kalau tadi dia ikut Daven ke kantor. Dan sepertinya Sandra tertidur saat sedang menunggu Daven yang sedang bekerja.
Lalu apakah ini adalah kamar yang ada di ruangan Daven? Karena seingat Sandra, dia tidak pernah masuk ke kamar ini. Hmm... Sepertinya memang iya.
Dengan perlahan Sandra beranjak dari ranjang dan berjalan keluar. Begitu Sandra keluar dari kamar, terlihat Daven yang saat ini masih sibuk dengan pekerjaan. Tapi Sandra tidak masalah, karena ini adalah tanggung jawab Daven. Justru Sandra akan marah kalau Daven mengabaikan tanggung jawabnya.
"Ekhem..." Sandra berdehem pelan.
Bukan karena Sandra ingin memberikan kode kepada Daven kalau dia sudah bangun. Sandra berdehem karena tenggorokannya terasa kering.
Tapi deheman pelan itu berhasil membuat Daven mengalikan perhatiannya dari pekerjaannya.
"Loh kamu udah bangun San?" Tanya Daven saat melihat Sandra.
Sandra tersenyum tipis.
"Iya, ini baru bangun Bang." Jawab Sandra.
Daven beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menghampiri Sandra. Tangan Daven terangkat dan mengusap puncak kepala Sandra.
"Kamu pengen sesuatu?" Tanya Daven kepada Sandra.
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Enggak Bang, aku nggak pengen sesuatu kok. Aku cuma pengen minum air dingin aja." Jawab Sandra.
Dengan sigap Daven langsung mengambilkan air minum dingin dari lemari es untuk Sandra. Kemudian langsung memberikannya kepada Sandra.
"Ini minum dulu." Ujar Daven kepada Sandra.
Sandra tersenyum kepada Daven kemudian mengambil gelas yang Daven berikan kepadanya.
"Terima kasih." Ujar Sandra kepada Daven."Padahal aku bisa ambil sendiri loh Bang. Abang nggak perlu repot-repot kaya gini." Tambah Sandra.
"Enggak repot, San." Jawab Daven.
Daven menuntut Sandra untuk duduk di sofa.
"Mau makan siang pakai apa? Bentar lagi udah jam makan siang loh." Ujar Daven kepada Sandra.
Sandra terdiam, biasanya dia yang melakukannya ini kepada Daven. Biasanya Sandra yang selalu bertanya mengenai makanan apa yang Daven inginkan untuk makan siang. Tapi sekarang, Daven melakukan apa yang biasanya Sandra lakukan.
"Kenapa? Kok diem aja?" Tanya Daven kepada Sandra.
Sandra tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
"Enggak papa. Cuma rasanya kaya gimana gitu. Biasanya kan aku yang selalu tanya ke Bang Cio mengenai makan siang yang Abang pengen." Jawab Sandra.
Kini giliran Daven yang terdiam. Dalam hati Daven membenarkan ucapan Sandra.
"Iya, biasanya kamu yang selalu tanyain aku mau makan apa. Sekarang gantian, aku yang bakal tanya sama kamu." Ujar Daven. "Jadi, mau makan apa?" Tanya Daven.
Senyum dibibir Sandra semakin lebar mendengar ucapan Daven. Entahlah, saat ini hatinya terasa menghangat.
"Mau ayam goreng kakek." Jawab Sandra dengan semangat.
Sebenarnya Daven tidak masalah Sandra ingin makan ayam goreng kakek. Tapi, saat ini Sandra sedang hamil. Dan tidak baik kalau Sandra makan junk food.
"Sebenarnya bukan aku mau nolak. Tapi apa nggak sebaiknya makan yang lain aja? Makanan yang lebih sehat loh. Ayam goreng kakek kan nggak sehat, San. Kamu masih ingat kan apa kata Dokter Susan? Nggak boleh terlalu banyak makan junk food. Dan harus selalu makan makanan yang sehat." Ujar Daven kepada Sandra.
"Tapi maunya ayam goreng kakek. Gimana dong? Ini mereka yang mau loh, Bang." Ujar Sandra dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Apa Sandra sedang memanfaatkan twins? Tentu saja tidak. Sandra benar-benar ingin makan ayam goreng kakek karena memang twins yang mau. Tau darimana? Ya tau sendiri. Kan Sandra yang merasakannya.
Daven yang akhir-akhir ini sangat lemah akan Sandra, akhir memutuskan untuk menuruti keinginan Sandra untuk makan ayam goreng kakek.
Dengan segera Sandra langsung menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Daven. Tidak apa-apa meskipun Sandra hanya mendapatkan jatah makan ayam goreng kakek 1 kali saja dalam seminggu.
Melihat Sandra yang mulai tersenyum, Daven juga ikut tersenyum. Lega rasanya karena Daven tidak sampai membuat Sandra menangis.
Setelah ayam goreng kakek yang dipesan datang, Daven dan Sandra langsung menikmati makanan mereka. Tapi...
"Aileen..." Gumam Sandra.
Sandra tiba-tiba ingat Aileen. Sejak tadi dia belum menelfon orang rumah untuk mengetahui keadaan Aileen. Sandra sangat khawatir kalau Aileen akan rewel karena dia tidak pulang-pulang. Karena biar bagaimanapun Sandra sudah berjanji kepada Aileen.
Dengan segera Sandra langsung mengambil ponsel miliknya yang berada didalam tas. Dan sebelum Sandra meraih ponselnya, Daven mengatakan sesuatu kepada Sandra.
"Aileen baik-baik aja, San. Tadi aku udah telfon Bunda. Katanya Aileen sama sekali nggak rewel. Tadi Aileen abis diajak Ayah mancing. Terus tidur siang sama Ayah juga." Ujar Daven.
Mendengar ucapan Daven, ini membuat Sandra merasa sangat lega. Setidaknya tidak ada hal buruk yang terjadi dengan Aileen.
"Sejujurnya aku nggak nyangka kalau Bunda sama Ayah bakal sesayang itu sama Aileen. Secara Aileen bukan cucu kandung mereka." Ujar Daven tiba-tiba.
Sandra yang tadinya hendak kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya, seketika langsung menatap Daven kembali.
"Emangnya kenapa kalau Aileen bukan cucu kandung?" Tanya Sandra kepada Daven.
Daven menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya ya nggak papa." Jawab Daven.
Daven tidak tau bagaimana menjelaskannya. Tapi kalian pasti tau dengan maksud Daven kan?
"Mau cucu kandung ataupun bukan, Aileen adalah anak aku. Dan otomatis Aileen adalah cucu Bunda dan Ayah." Ujar Sandra. "Bang Cio nggak perlu memikirkan soal itu lagi." Tambahnya lagi.
Daven menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku paham San." Jawab Daven.
Untuk bisa saling menyayangi, tidak melulu harus terikat dalam hubungan darah bukan? Karena bahkan yang masih satu darah pun ada beberapa yang justru saling membenci. Dan semoga saja, itu semua tidak terjadi di keluarga kita. Berdoa saja agar kita bisa terus saling menyayangi satu sama lain.