Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Gagal kencan?


Lagi dan lagi, setelah pembahasan yang cukup sensitif kemarin, Sandra bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apapun diantara dia dan Daven. Padahal Daven sendiri sudah menyiapkan diri kalau hubungan dirinya dan Sandra kembali canggung seperti dulu. Tapi sepertinya Sandra memang sudah dewasa, Sandra bahkan tidak pernah mempermasalahkan apapun yang terjadi di dalam rumah tangganya. Sikap Sandra yang tenang dan selalu mengalah ini benar-benar patut untuk diacungi jempol.


Dan siapa yang akan tau jika ketenangan yang selama ini Sandra tunjukkan akan menemui batasnya suatu saat nanti.



"Kita pergi kencan yuk Bang." Ujar Sandra kepada Daven.



Daven yang sedang menyeruput kopinya, seketika langsung tersedak saat mendengar ucapan Sandra.



Sementara Sandra yang melihat itu hanya mengulas senyum pada bibirnya.


"Kencan?" Tanya Daven memastikan.



Sandra menganggukkan kepalanya.


"Iya kencan, kita pergi jalan berdua. Ya istilahnya pacaran gitu." Jawab Sandra.



"Kenapa tiba-tiba pengen kencan?"



"Ya nggak papa. Emangnya kenapa? Kita kan selama ini nggak pernah jalan berdua. Nggak pernah kencan apalagi pacaran. Ya aku pengen aja ngrasain yang namanya pacaran." Jawab Sandra dengan tatapan memohon.



Terlihat Daven tetap diam sembari menatap wajah Sandra. Sampai akhirnya....



"Oke, kita pergi kencan. Kamu mau kita pergi kemana?" Ujar Daven pada akhirnya.



Melihat tatapan memelas Sandra, membuat Daven tidak tega untuk menolaknya. Lagi pula tidak ada yang salah dengan mereka pergi berkencan bukan?



Untuk Daven sendiri, hitung-hitung dia sedikit menebus kesalahan yang selama ini dia lakukan kepada Sandra.



"Yesss... Oke, nanti malem ya. Buat tempatnya, nanti aku pikirin lagi. Kalau gitu, aku keluar dulu. Selamat bekerja Bang Cio." Dengan senyum cerah yang tersungging pada bibir manisnya, Sandra keluar dari ruangan Daven.



Sepanjang hari selama Sandra bekerja, senyum pada bibirnya tidak pernah sekalipun luntur. Sandra selalu merasa semangat dan juga bahagia setiap mengingat kalau malam ini dia akan pergi kencan dengan Daven.


"Kenapa San? Kayanya lagi seneng banget. Dapet jackpot?" Ujar Beni kepada Sandra.


Senyum Sandra semakin lebar.


"Lebih dari jackpot tau Mas." Jawab Sandra.


"Terus apa?" Tanya Beni yang tidak bisa menahan rasa kepo yang muncul ini. Salahkan Sandra yang membuat Beni jadi kepo ya kan?


"Nanti malem aku sama Bang Cio mau pergi kencan. Kita mau pacaran berdua." Jawab Sandra dengan semangat.


"Ya ampun... Aku kira apaan." Beni tidak habis pikir kenapa hanya akan pergi kencan saja Sandra akan sebahagia ini. Ya wajar saja sih kalau Beni berpikir Sandra agak sedikit lebay, karena Beni kan tidak tau kalau ternyata ini akan menjadi kali pertama Sandra melakukan kencan.


"Iiihh, cuma gitu doang reaksinya? Mas Beni emang nggak asik." Ujar Sandra kesal.


"Ya aku harus bereaksi gimana? Kan kamu sama Pak Daven yang mau pergi kencan. Sedangkan aku? Aku cuma bisa diem di rumah main sama kucing." Jawab Beni nelangsa.


Sandra tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.


"Oo iya aku lupa kalau Mas Beni kan jomblo ya." Ujar Sandra.



"Abang, enaknya nanti kita pergi kencan kemana ya? Eehmm... Gimana kalau kita pergi nonton bioskop? Kayanya nonton bioskop asik deh."



Disaat sedang makan siang bersama, Sandra masih dengan semangat membahas kencan mereka nanti malam. Sandra bahkan sudah sibuk mencari tempat-tempat rekomendasi yang cocok untuk dirinya dan Daven berkencan.



Sementara Daven, laki-laki itu hanya mengiyakan apapun yang Sandra katakan. Daven tidak masalah kemana pun Sandra ingin mereka pergi berkencan.



"Boleh." Jawab Daven singkat.



Mendengar kata boleh, lagi-lagi senyum Sandra semakin mengembang.


"Atau Bang Cio punya rekomendasi tempat yang cocok buat kita kencan mungkin? Abang maunya kita pergi kencan kemana?" Tanya Sandra kepada Daven.



"Kamu beneran tanya pendapat aku?" Ujar Daven.



"Iya dong, kan kita yang mau kencan. Masa aku tanya pendapat orang lain." Jawab Sandra.



Daven mengangguk-anggukkan kepalanya.



"Hotel? Makan di restoran hotel maksudnya? Aku sih ayo aja." Jawab Sandra dengan senyum cerahnya. Karena memang Sandra sih mau-mau saja kemanapun Daven akan mengajaknya pergi berkencan



"Bukan, kita di kamar hotel aja." Ujar Daven sembari tersenyum penuh arti.



Melihat itu, Sandra sadar bahwa kencan yang dia maksud dengan yang Daven maksud sangatlah berbeda.



"Iihhh... Itu namanya bukan kencan Bang." Ujar Sandra kesal.



Sedangkan Daven hanya tertawa saat melihat wajah kesal Sandra.



Sementara itu, Sandra yang sedang fokus dengan pekerjaannya mendadak harus berhenti sejenak untuk mengangkat panggilan telefon pada ponselnya.


Suster Ati


Sandra mengerutkan dahinya, tidak biasanya suster Ati menghubungi dirinya disaat jam kantor seperti ini. Kecuali kalau benar-benar ada hal mendesak yang sedang terjadi.


"Halo, Assalamualaikum sus, Kenapa?" Tanya Sandra begitu mengangkat panggilan telfonnya.


"Hallo, Wa'alaikumsalam Bu. Begini, Sepulang sekolah Aileen tiba-tiba demam. Tadi sudah saya kasih Paracetamol sih, tapi sekarang Aileen rewel dan terus nyariin ibu." Jawab Suster Ati.


Samar-samar Sandra juga bisa mendengar suara tangisan Aileen. Sandra juga mendengar bagaimana Aileen terus memanggil dirinya.


"Ya sudah, saya pulang sekarang Sus. Tolong jagain Aileen ya, inshaallah nggak sampai 1 satu jam saya sampai." Ujar Sandra.


Begitu panggilan telefon dimatikan, Sandra langsung membereskan semua pekerjaannya dan bergegas untuk pulang.


Tapi, sebelum pulang tentu saja Sandra harus memberitahu Daven terlebih dahulu. Tapi masalahnya saat ini Daven sedang ada rapat penting. Dan biasanya Daven akan meninggalkan ponselnya di ruangannya.


Tidak kehabisan ide, Sandra memilih untuk mengirim pesan kepada Beni agar laki-laki itu menyampaikannya kepada Daven.


^^^to Mas Beni^^^


^^^Mas Beni, aku mau minta tolong. Nanti kalau rapat udah selesai, tolong kasih tau Bang Cio kalau aku pulang dulu karena mendadak Aileen demam dan rewel.^^^


Begitu pesannya terkirim, Sandra langsung bergegas pulang.




Begitu sampai rumah, Sandra langsung ke menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan juga berganti baju. Sandra tentu tidak akan mengabaikan kebersihan, apalagi Aileen sedang sakit seperti ini. Jangan sampai hanya karena kelalaiannya Aileen justru akan semakin bertambah sakit.



Ceklek...



Begitu pintu kamar Aileen terbuka, terlihat balita cantik itu berada di gendongan Suster Ati masih dalam kondisi sesenggukan.



"Aileen..." Panggil Sandra dengan suara lembut.



Mendengar suara dan juga melihat Sandra, membuat Aileen kembali berontak ingin bersama sang Bunda.



Dengan segera Sandra mengambil alih Aileen dari gendongan Suster Ati.



"Sekarang demamnya udah agak turun Bu." Ujar Suster Ati memberitahu Sandra.



Sandra menganggukkan kepalanya.


"Makasih ya sus, udah cepat kasih penanganan buat Aileen."



"Enda..." Aileen merengek digendongan Sandra.



"Iya sayang, ini Bunda disini kok. Mana coba yang sakit kasih tau Bunda." Ucap Sandra dengan lembut.



Dengan wajah pucatnya, Aileen menunjuk kepalanya.



Cup... cup... cup...



Sandra mengecup dahi yang Aileen tunjuk.


"Sebentar lagi Aileen sembuh kok."