
Setelah kejadian dimana jam 2 pagi Sandra ngidam ingin makan nasi Padang, kini untuk kedua kalinya Sandra terbangun di jam tengah malam karena dia menginginkan sesuatu. Benar, akhirnya Sandra ngidam lagi. Kali ini yang Sandra lakukan inginkan adalah es krim rasa mint. Aneh? tidak aneh sebenarnya. Karena di Mall banyak yang menjual es krim rasa mint. Hanya saja masalahnya ini sudah jam setengah 2 pagi. Dimana ada yang menjual es krim rasa mint? ind*mart dan Alf*mart? Mungkin ada, tapi kemungkinannya juga kecil. Pasalnya es krim kemasan yang ada di Indonesia jarang yang memiliki rasa mint. Dan sekarang Sandra sangat menginginkan es krim rasa mint itu.
Sandra menoleh kesamping, yang mana saat ini terlihat Daven tampak sangat lelap dalam tidurnya. Wajah Daven juga terlihat begitu tenang saat tertidur. Sejujurnya saat ini Sandra tidak tega kalau dia harus membangunkan Daven. Biar bagaimanapun ini masih dini hari dan Daven juga baru tidur sekitar 3 jam karena sebelumnya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda karena tidak berangkat ke kantor. Ingin rasanya Sandra mencari sendiri makanan yang sedang dia inginkan ini. Tapi sebelumnya Daven sudah mengatakan kepada Sandra, kalau dia menginginkan sesuatu, jam berapapun itu, Sandra diharuskan untuk membangunkan Daven.
Karena pertimbangan itu dan juga karena tidak ingin membuat Daven kecewa, akhirnya Sandra memutuskan untuk membangunkan Daven. Tidak apa-apa lah, lagi pula besok juga weekend dan Daven juga tidak bekerja. Jadi besok Daven bisa istirahat sepuasnya.
"Abang..." Sandra mengguncang pelan tubuh Daven.
Hanya beberapa kali Sandra melakukan itu, dan Daven langsung membuka matanya.
"Kenapa, sayang?" Tanya Daven dengan suara baritonnya yang terdengar sedikit serak. Mata Daven juga baru terbuka setengah saja, mungkin karena Daven masih sangat mengantuk. Tapi melihat wajah Daven yang seperti itu, Daven justru terlihat sangat menggemaskan dimata Sandra. Sejenak Sandra terpesona dengan betapa menggemaskan dan juga tampannya Daven. Namun dengan cepat Sandra berusaha untuk menguasai dirinya.
"Aku pengen es krim." Jawab Sandra.
Baru setelah mendengar ucapan Sandra, mata Daven langsung terlihat melebar dan sepertinya sudah langsung terbangun sepenuhnya. Daven langsung mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk. Hingga kini Daven dan Sandra saling berhadapan. Ya, Daven benar-benar menepati janjinya untuk menjadi suami yang siaga.
"Es krim apa?" Tanya Daven kepada Sandra.
Daven yakin kalau es krim yang Sandra inginkan bukanlah es krim yang saat ini mereka stok di lemari es. Karena kalau hanya es krim biasa, mungkin Sandra sudah memilih untuk langsung turun dan langsung memakannya tanpa membangunkan Daven terlebih dahulu. Dan dengan Sandra membangunkan dirinya karena menginginkan sesuatu, Daven merasa sangat senang. Karena Daven merasa dibutuhkan oleh Sandra.
"Aku pengen es krim rasa mint. Tapi nggak tau dimana yang jual es krim rasa itu." Jawab Sandra.
Es krim rasa mint? Biasanya kalau di kedai-kedai es krim atau di Mall ada banyak yang menjual es krim rasa mint. Tapi masalahnya biasanya es krim di jual saat siang hari. Dan sekarang sekarang jam... Daven melihat ke arah jam di dinding yang saat ini menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Ya udah, aku cariin." Ujar Daven.
Kemana Daven akan mencari? Tidak tau, yang jelas Daven akan mencari sampai dia mendapatkan apa yang menjadi keinginan Sandra.
"Eehh... Nanti dulu Bang, jangan buru-buru cari di luar. Kita cari dulu di aplikasi delivery, siapa tau ketemu dan bisa beli lewat situ." Ujar Sandra menghentikan gerakan Daven.
Daven yang hendak turun dari ranjang akhirnya mengurungkan niatnya.
"Emang ada di aplikasi delivery?" Tanya Daven.
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Enggak tau, makanya kita cari dulu aja." Jawab Sandra.
Daven menganggukkan kepalanya. Bersama dengan Sandra, dia mencari es krim rasa mint di aplikasi delivery itu. Tapi nyatanya tidak ada satupun toko es krim yang saat ini buka. Secara saat ini dini hari, toko es krim mana yang akan tetap buka di jam seperti ini.
Melihat itu, Daven tentu saja merasa sangat tidak tega. Bisa saja Daven membujuk Sandra agar lebih baik mereka mencari es krim besok saja. Tapi Daven tidak sanggup untuk mengatakan itu.
"Aku cari sekarang ya, siapa tau nanti ketemu es krim rasa mint yang kamu mau." Ujar Daven dengan lembut.
Sandra terdiam. Dia memang sangat ingin makan es krim mint saat ini juga. Tapi masalahnya Sandra juga tidak tega kalau harus meminta Daven pergi keluar hanya untuk mencari es krim yang dia inginkan di jam seperti ini.
"Enggak usah, besok aja. Aku masih bisa tahan kok. Sekarang juga udah enggak terlalu pengen." Jawab Sandra berbohong.
Benar, Sandra berbohong. Nyatanya Sandra masih menginginkan es krim itu. Tapi Sandra lebih tidak ingin kalau Daven sampai pergi keluar untuk mencari apa yang menjadi keinginannya.
"Bohong..." Ucap Daven dengan mata yang menatap Sandra dengan pandan menyelidik. Sudah dikatakan kalau Sandra itu tidak pandai berbohong. Jadi saat Sandra berbohong, Daven atau siapapun yang sudah mengenal Sandra dekat pasti tau seperti apa Sandra kalau sedang berbohong. Yang mana kalau sedang berbohong maka Sandra akan terlihat gelisah.
Mendapatkan tuduhan Daven, Sandra jadi tergagap sendiri. Mau lanjut berbohong juga sudah tidak mungkin lagi. Ya, secepat ini seseorang bisa mengetahui Sandra sedang berbohong atau tidak. Dan sejauh ini, kebohongan Sandra yang berhasil hanya saat dia mengatakan ngidam opor ayam buatan Rendra.
"Iya, emang aku bohong. Aku masih pengen es krimnya. Tapi aku nggak mau kalau Bang Cio keluar buat cariin aku es krim. Daripada Bang Cio tengah malam kaya gini keluar, mending ngidamnya di pending besok aja. Twins juga pasti bakalan ngerti kok." Ujar Sandra pasrah.
Daven menatap Sandra lembut. Tangannya terulur untuk menangkup kedua pipi Sandra.
"Kan aku udah bilang sama kamu, kalau aku bakal usahain buat dapatin apa yang kamu dan twins mau. Dan sekarang aku mau berusaha untuk mendapatkan es krim rasa mint yang kamu mau, sayang." Ujar Daven.
Lagi-lagi Sandra terdiam memikirkan ucapan Daven. Sejujurnya Sandra tersentuh mendengar itu. Tapi masalahnya Sandra tetap tidak mau kalau Daven pergi meninggalkan dirinya untuk mencari es krim itu. Jadi...
"Kalau gitu aku ikut keluar buat cari. Kalau enggak boleh, Bang Cio juga nggak boleh pergi buat cari." Jawab Sandra.
Sandra dengan sikap keras kepalanya terkadang memang sulit untuk diluluhkan.
"Sayang..." Ujar Daven membujuk.
Tapi Sandra tetap menggelengkan kepalanya.
"Boleh ikut apa enggak?" Tanya Sandra.
Huftt... Disisi lain Daven juga merasa tidak mungkin mengajak Sandra keluar tengah malam seperti ini. Karena Daven sangat tau kalau angin malam tentu saja tidak baik untuk ibu dan juga janin.
Jadi keputusannya adalah?