
"Kenapa sayang?" Tanya Daven saat Sandra tidak kunjung menjawab pertanyaan.
Sandra menghela nafas.
"Tadi ketumpahan sedikit cairan puding yang masih panas." Jawab Sandra jujur.
"Sakit?" Tanya Daven sembari menatap kulit Sandra yang katanya ketumpahan cairan puding panas.
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Enggak sakit." Jawab Sandra.
"Bohong." Ujar Daven yang kemudian menatap mata Sandra.
Sandra tersenyum.
"Hehe... Ya tadi sih sakit, tapi sekarang udah enggak kok. Udah aku olesin salep buat luka bakar." Jawab Sandra.
"Lain kali hati-hati ya." Ucap Daven.
Sandra menganggukkan kepalanya.
Daven diam, laki-laki itu tampak terpaku dengan tangan Sandra yang memerah itu. Entah apa yang Daven sedang pikirkan. Dia bahkan tidak melepaskan tangan Sandra dari genggamannya.
"Bang, lepasin tangannya. Ini pudingnya dimakan dulu." Ujar Sandra.
Mendengar ucapan Sandra, kini Daven mengalihkan pandangannya dan menatap mata Sandra.
"Aku nggak masalah kalau kamu nggak bisa masak, sayang. Jadi, kamu nggak perlu susah payah belajar masak hanya karena terbebani dengan stigma masyarakat kalau seorang istri harus bisa masak. Karena buat aku, tanpa kamu bisa masak pun kamu sudah sempurna. Aku nggak mau kamu terluka." Ucap Daven.
Sandra terdiam mendengar ucapan Daven.
"Kalau aku pengen belajar masak karena pengen bisa, apa aku boleh?" Tanya Sandra.
Tidak dipungkiri, Sandra juga ingin bisa masak seperti Bunda Sya, Mama Laras, dan juga Aleera. Rasanya pasti akan sangat membahagiakan saat suami dan anak-anaknya nanti bisa makan hasil masakannya. Bukankah itu sebuah kebanggaan tersendiri untuk seorang istri dan juga ibu?
Daven tersenyum.
"Kalau itu karena kamu yang ingin, aku izinkan. Tapi, tetap harus hati-hati. Jangan sampai kamu terluka." Ucap Daven.
Daven paham, dan dia tidak ingin menyakiti hati Sandra hanya karena rasa khawatirnya ini terlalu berlebihan. Biar bagaimanapun, Daven tidak ingin Sandra sampai terluka. Apalagi karena dirinya.
Lagipula Daven tidak akan ingin menjadi egois lagi. Hanya karena dirinya tidak ingin, bukan berarti Sandra juga sama kan? Bisa saja Sandra memang belajar memasak karena memang dirinya ingin melakukan itu. Daven tentu saja tidak boleh melarangnya. Apalagi yang Sandra lakukan ini bukan sesuatu yang berbahaya.
Mendengar Daven mengizinkan dirinya, tentu saja Sandra merasa bahagia.
"Iya, janji aku bakalan hati-hati. Sekarang Abang cobain dulu pudingnya." Ujar Sandra.
Daven meraih piring berisi puding yang sudah Sandra siapkan untuk dirinya.
Setelah menyuapkan satu sendok puding kedalam mulutnya, Daven terdiam, sebuah senyum muncul dibibirnya.
"Gimana, Bang? Enak nggak?" Tanya Sandra kepada Daven.
"Enak, enak banget." Jawab Daven.
"Beneran? Bang Cio nggak bohong kan?" Sandra masih tidak percaya dengan ucapan Daven. Bisa saja Daven mengatakan itu hanya untuk menyenangkan dirinya saja kan?
"Iya, aku nggak bohong sayang. Ini emang enak. Tadi katanya kamu udah cobain. Kamu juga bilang kalau ini enak, sekarang kenapa jadi nggak percaya?" Tanya Daven kepada Sandra.
Sandra tersenyum.
"Iya, tadi aku cobain juga enak. Ya udah, aku mau potongin buat Kak Davi juga, biar dia cobain." Ujar Sandra dengan semangat.
Sandra baru saja akan mengambil pisau untuk memotong puding yang akan dia bagikan kepada Davian. Tapi, sebelum tangannya menyentuh pisau, Daven mengambil pisau itu.
"Davi nggak usah, ini khusus buat aku semua." Ujar Daven dengan nada suara datar.
Setelah mengatakan itu, Daven kembali fokus dengan puding di piringnya. Bahkan dengan santai, Daven memotong puding itu lagi.
"Iihh... Masa sama kembaran sendiri nggak mau berbagi. Nggak boleh gitu, Bang. Itu namanya pelit." Ujar Sandra.
"Biarin, toh dari dalem perut Mama aku udah berbagi sama Davi. Nggak cuma sama Davi malah, sama Della juga. Yang ini bagian aku." Jawab Daven santai.
"Nggak boleh gitu tau Bang. Saudara itu harus saling berbagi sampai kapanpun. Kenapa sih Bang Cio kayanya suka sebel sama Kak Davi? Padahal Kak Davi baik loh." Tanya Sandra.
Daven menghela nafas.
"Kalau berbagi yang lain, aku masih nggak papa. Tapi kalau ini, aku nggak mau." Jawab Daven.
Sandra mengerutkan dahinya.
"Loh kenapa? Kan ini cuma puding." Ujar Sandra.
Daven memilih untuk diam tidak menanggapi pertanyaan Sandra. Fokusnya tetap pada puding di piring yang dia pegang.
"Nggak mungkin kan Bang Cio cemburu sama Kak Davi?" Tanya Sandra tiba-tiba.
Sandra tidak tau kenapa dia justru bertanya seperti ini. Karena sebenarnya ini hanya pertanyaan iseng saja.
Daven tampak tidak terusik dengan pertanyaan Sandra. Tapi tanpa diduga, Daven justru mengiyakan ucapan Sandra.
"Iya, aku cemburu sama Davi." Jawab Daven santai.
Daven jujur kok, selama ini dia memang sering cemburu setiap melihat interaksi antara Sandra dengan Davian. Aneh memang, karena Davian adalah saudara kembar Daven. Tapi ya gimana lagi, kenyataannya Daven memang cemburu dengan Davian.
Kali ini Sandra benar-benar terkejut.
"Haa? Bohong banget. Nggak mungkin lah Bang Cio cemburu sama Kak Davi." Ujar Sandra tidak percaya.
Daven yang sudah menghabiskan pudingnya, kemudian meletakkan piringnya diatas meja.
"Kenapa nggak mungkin? Beneran kok, aku cemburu sama Davi. Bahkan aku udah cemburu dari dulu. Kamunya aja yang nggak sadar." Jawab Daven.
"Kok bisa sih?" Sandra masih saja tidak percaya dengan ucapan Daven.
"Dari dulu, kamu deket banget sama Davi. Kalau ada Davi, keberadaan aku pasti selalu tersingkirkan dari mata kamu. Aku sendiri cukup sadar, pribadi Davi yang lebih hangat dibandingkan aku, pasti bikin kamu lebih nyaman sama dia dibandingkan sama aku." Jawab Daven.
Sandra yang mendengar itu, tanpa sadar membuka mulutnya karena saking tidak percayanya dengan jawaban Daven.
"Lah tapi dari dulu aku cintanya sama Bang Cio. Kalau sama Kak Davi, aku cuma anggap dia sebagai kakak aja, dan nggak pernah lebih dari itu. Makanya aku selalu nyaman sama Kak Davi." Ujar Sandra.
Sementara itu, Daven memilih untuk diam dan tidak mengatakan apa-apa. Tapi di dalam hati, Daven tersenyum. Ucapan Sandra seolah menegaskan kalau wanita itu benar-benar mencintainya.
Melihat itu, lagi-lagi Sandra tersenyum.
"Ciee... yang cemburu sama kembaran sendiri. Aku nggak nyangka loh Bang." Ujar Sandra menggoda.
Apakah Daven jadi salah tingkah karena Sandra menggodanya? Jawabannya tidak, Daven justru tersenyum lebar. Setidaknya Daven lega karena dia sudah bisa seterbuka ini kepada Sandra.
"Mulai sekarang jangan terlalu dekat sama Davian ya." Ujar Daven.
"Apa nih bawa-bawa nama gue." Ujar Davian yang tiba-tiba masuk ke ruangan Daven dengan Aileen yang berada di gendongannya.
Sepintas sebelum masuk, tadi Davian mendengar namanya disebut-sebut.
"Kepo..." Jawab Daven dengan santai.
"Apa San?" Tanya Davian kepada Sandra.
Davian tau, dua tidak akan mendapatkan jawaban jika bertanya kepada Daven.
Sandra hanya tersenyum seraya mengangkat kedua bahunya.
Nyatanya bertanya kepada Sandra pun tetap tidak dapat jawaban.