
"Heyy boys... Kalian lagi apa didalam perut Bunda?"
Seperti biasa rutinitas Daven sebelum tidur adalah mengajak calon anaknya untuk mengobrol. Kalau biasanya Daven memanggil mereka dengan sebutan baby karena memang belu diketahui jenis kelaminnya, sekarang Daven sudah bisa memanggil mereka dengan panggilan boys karena keduanya laki-laki.
"Lagi main Daddy..." Jawab Sandra menirukan suara anak kecil.
Lihat saja bagaimana saat ini perut Sandra sedang bergerak-gerak. Itu artinya kedua anaknya didalam sana sedang aktif bermain. Padahal saat ini sudah jam 9, bahkan Aileen juga sudah tidur, tapi si kembar malah masih asik bermain.
Cup...
Cup...
Daven mengecup perut Sandra.
"Tapi sekarang bukan waktunya main sayang, sekarang udah malem, udah waktunya kalian bobok. Bunda sama Daddy juga mau bobok loh. Mainnya besok lagi yuk." Ucap Daven dengan lembut.
Sementara itu Sandra hanya tersenyum, Sandra paham betul alasan kenapa Daven meminta kedua putranya ini untuk cepat tidur. Ya apalagi kalau bukan mau meminta jatah malamnya.
Dan ajaibnya, setelah Daven mengatakan hal itu, si kembar dengan perlahan langsung memelankan tendangannya. Hanya ada gerakan-gerakan kecil yang Sandra rasakan. Mungkin si kembar sedang mengambil posisi untuk tidur menuruti ucapan Daddy-nya.
"Loh mereka beneran tidur Bang?" Ujar Sandra merasa takjub sendiri.
Daven tersenyum.
"Anak-anak Daddy emang pinter banget. Makasih ya udah mau dengerin omongan Daddy. Bobok yang nyenyak ya sayang, besok kita main bareng lagi." Ucap Daven.
Sebelum menutup perut Sandra menggunakan dressnya, Daven memberikan dua kecupan lagi untuk kedua calon anaknya itu.
Kini tatapan Daven dan Sandra bertemu. Tampak sebuah senyum tersungging dengan wajah keduanya.
"Sekarang twins udah bobok. Jadi... gantian Daddy yang ajak main Bundanya boleh dong?" Ucap Daven dengan tatapan penuh hasrat.
Percayalah, Daven sangat suka dengan penampilan Sandra selama hamil. Entah kenapa, Daven rasa semakin hari Sandra terlihat semakin cantik. Bahkan dengan perutnya yang lebih besar dibandingkan dengan ibu hamil lainnya, itu tidak mengurangi kecantikan Sandra. Kalau saja Daven tidak ingat kata dokter untuk tidak membuat Sandra kelelahan, sudah pasti Daven akan akan mengajak Sandra bermain setiap malam. Tapi tidak, Daven tidak mau melakukan itu. Daven tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Sandra dan juga kehamilannya.
Karena itu, Sandra lah yang selama ini aktif meminta kepada Daven. Tau sendiri kan bagaimana hormon seorang ibu hamil? Rata-rata lebih besar daripada biasanya. Dan inilah suatu keuntungan yang Daven terima sejak Sandra hamil. Meskipun Daven jarang meminta, tapi Sandra lebih dulu memintanya. Dan sudah pasti Daven tidak akan menolak keinginan Sandra yang satu ini. Tapi bukan berarti Daven tidak pernah meminta ya, tentu saja Daven juga memintanya, ya seperti sekarang ini.
"Kalau Bunda-nya juga mau bobok bareng twins gimana? Mainnya besok lagi aja ya, bareng sama twins." Jawab Sandra dengan tatapan menggoda.
Percayalah, ini bukan suatu usaha Sandra menolak keinginan Daven. Karena sama seperti Daven, kalau Daven sudah meminta, Sandra juga tidak bisa menolak. Karena apa? Ya karena Sandra juga menginginkannya.
Mendengar ucapan Sandra, Daven menggelengkan kepalanya.
"Ya enggak boleh dong, tetep harus main dulu sama Daddy. Kan seharian ini udah main sama twins. Jadi harus gantian dong." Ujar Daven.
Nah, kalau sudah seperti ini, ya sudahlah ya langsung gas aja. Dari pada nanti semakin malam kan? Yang ada nanti Sandra malah sudah mengantuk.
Siang ini Sandra sedang duduk bersama dengan Bunda Sya, saat Viola datang ke rumah. Seperti biasa tentu saja Sandra dan Bunda Sya menyambut hangat kedatangan Viola.
"Diantar sama supir kan Kak?" Tanya Sandra kepada Viola.
Sandra harus memastikan kalau Viola tidak menyetir mobil sendiri. Karena kalau kakak iparnya ini ketahuan oleh Mas-nya yang paling cerewet, bisa-bisa Viola kena marah Rendra.
Viola menggelengkan kepalanya.
"Iya dong, kamu kan tau sendiri San kalau Kakak enggak boleh bawa mobil lagi sama Mas Rendra." Jawab Viola.
"Taulah, soalnya nasib kita sama." Ujar Sandra.
Ya, sama seperti Viola yang sudah tidak boleh lagi menyetir mobil sejak hamil, Sandra pun juga demikian. Daven juga melarang Sandra untuk menyetir mobil sendiri.
Kini perhatian Viola tertuju kepada Bunda Sya. Kalau sudah begini, Sandra sangat tau kalau pasti ada sesuatu yang sedang Kakak iparnya inginkan. Lihat saja bagaimana Viola saat ini menatap Bunda Sya malu-malu.
"Jadi Bun, salah satu alasan aku kesini karena pengen brownies buatan Bunda." Ujar Viola memberitahukan keinginannya.
Bunda Sya tersenyum, sementara Sandra tertawa kecil.
"Nyatanya brownies buatan Bunda emang debest Kak, makanya enggak heran kalau calon anak kita didalam perut suka sama brownies buatan Bunda. Aku aja sejak hamil jadi suka banget sama brownies buatan Bunda." Ujar Sandra.
Kalau hari ini Bunda Sya membuat brownies, sudah pasti yang suka bukan hanya Viola saja. Karena Sandra juga sangat menyukai brownies buatan Bunda Sya.
"Sejak hamil? Bukannya sebelum hamil adek juga suka banget brownies buatan Bunda. Sampai-sampai satu loyang full harus dikhususkan buat adek sendiri." Jawab Bunda Sya.
Sandra kembali tertawa mendengar jawaban Bunda Sya.
"Iya juga sih, Bun.Bunda bener banget, dari dulu 1 loyang harus khusus buat aku aja." Ujar Sandra.
Setelah mengobrol sebentar, Bunda Sya langsung beranjak ke dapur untuk membuatkan brownies. Mau Sandra, Aleera, ataupun Viola yang ngidam, kalau Bunda bisa membuatnya makan Bunda Sya akan langsung membuatkannya. Bunda Sya tidak pernah memperlakukan ketiganya secara berbeda. Entah menantu atau putrinya, semua adalah anak-anak Bunda Sya.
"Jadi mau bikin brownies kan?" Tanya Sandra dengan semangat.
Yang ngidam memang Viola, tapi yang terlihat paling semangat adalah Sandra.
"Iya, adek mau ikut bantu bikin?" Tanya Bunda Sya.
Pasalnya tadi Viola bilang dia juga ingin sekalian ikut belajar membuat brownies. Dan siapa tau Sandra juga ingin ikut belajar juga kan? Tapi ternyata Sandra menggelengkan kepalanya.
"Enggak, aku mau liat aja. Bunda sama Kak Vio aja yang bikin." Jawab Sandra seraya tersenyum lebar.
Ya gimana ya, Sandra memang berniat untuk belajar memasak. Tapi tergantung mood, kalau sedang tidak ingin belajar ya Sandra malas belajar masak. Jadi mending liat Bunda Sya dan Viola memasak saja kan?