
Saat ini Sandra dan Daven sedang sarapan. Sudah 3 hari ini hubungan Sandra dan Daven tidak ada perubahan, bahkan cenderung semakin buruk. Baik di rumah ataupun di kantor, Daven sama sekali tidak mau berinteraksi dengan Sandra. Apapun yang Daven butuhkan di kantor, laki-laki itu akan meminta bantuan kepada Beni. Daven juga sudah 3 hari ini selalu lembur. Sandra bukan tidak tau kalau sudah tiga malam ini Daven selalu pulang saat jam hampir menuju tengah malam karena memang sengaja menghindari dirinya.
Selama 3 hari ini Sandra memang diam. Tapi bukan berarti Sandra hanya diam saja tanpa berpikir untuk mencari solusi dari masalah yang sedang mereka hadapi. Tapi, selama ini Sandra tidak menemukan solusi apa-apa selain hanya dia harus berpisah dengan Daven.
"Bang, kita harus bicara." Ujar Sandra kepada Daven.
Daven yang sedang menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya terdiam, kemudian menatap Sandra sekilas.
"Bicara aja." Jawab Daven dengan suara datar. Kemudian melanjutkan makannya.
Membuat Sandra hanya bisa menghela nafas pelan. Tidak bisakah Daven bersikap dewasa? Sandra muak dengan Daven yang selalu menghindar setiap mereka memiliki masalah. Saat ini Sandra benar-benar lelah dengan semua ini.
"Aku mau ki..."
Belum juga Sandra menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ponsel Daven berbunyi. Membuat Sandra langsung menghentikan ucapannya.
"Iya halo..." Ucap Daven saat mengangkat panggilan telefon itu.
"..."
"Iya, saya kesana sekarang." Setelahnya Daven menutup panggilan telefonnya. Kemudian Daven menatap Sandra. "Sudah selesai kan sarapannya? Kita berangkat ke kantor sekarang." Ujar Daven dengan suara datar.
"Aku hari ini nggak ke kantor." Jawab Sandra tak kalah datarnya.
Daven terdiam, dia baru menyadari kalau saat ini Sandra memang tidak memakai baju kantornya. Sandra hanya memakai dress rumahan yang biasa Sandra pakai saat di rumah.
"Ooo... Ya udah." Setelah mengatakan itu Daven langsung beranjak dari kursinya dan pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Sandra. Bahkan Daven juga tidak mencium dahi Aileen seperti yang biasa laki-laki itu lakukan jika hendak berangkat ke kantor. Sandra bisa mengerti kalau Daven marah lalu mengabaikan Sandra. Tapi, Daven dengan sifat kekanak-kanakannya juga ikut mengabaikan Aileen. Padahal disini Aileen tidak memiliki salah apa-apa.
Lagi-lagi Sandra hanya bisa menghela nafas lelah. Keputusannya semakin bulat. Tidak peduli dia sedang hamil, Sandra memilih untuk berpisah dengan Daven. Sudah cukup perjuangan Sandra selama ini. Sudah cukup Sandra menyakiti dirinya sendiri selama 2 tahun ini. Tidak, Sandra tidak akan melakukan itu lagi. Kali ini Sandra akan menjadi egois demi dirinya. Dan Sandra mohon, siapapun tolong jangan membenci dirinya hanya karena keputusan yang dia buat ini.
Dan sekarang Sandra akan menyelesaikan semuanya. Tapi tenang saja, Sandra tidak akan membongkar apapun mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga dirinya dan Daven. Biar bagaimanapun apapun yang terjadi didalam rumah tangga dirinya dan Daven, ini adalah kesalahan bersama.
"Bunda..." Terdengar suara Aileen memanggil Sandra.
Membuat Sandra tersadar dari lamunannya ini. Sandra sampai tidak sadar kalau saat ini ada Aileen bersamanya.
"Kenapa sayang?" Tanya Sandra dengan lembut.
Aileen menatap kebawah.
"Maaf Bunda... baju Ilin kotol. Ilin tumpahin syusyu ke baju." Ujar Aileen.
Sandra menatap seragam biru yang Aileen pakai terlihat jelas basah dengan noda berwarna coklat yang cukup banyak.
Melihat itu, Sandra tersenyum.
"Enggak papa, kan masih bisa ganti lagi. Aileen udah selesai sarapannya?" Tanya Sandra dengan lembut.
Aileen menganggukkan kepalanya.
"Sudah..." Jawab Aileen dengan suara menggemaskan.
"Ya udah, kalau gitu kita ganti seragamnya dulu. Nanti Aileen ke sekolah bareng sama Suster Ati aja nggak papa kan sayang?"
Aileen lagi-lagi menganggukkan kepala.
Biasanya Aileen memang penurut, tapi Aileen bukan tipe anak yang pendiam. Dan dengan kondisi rumah tangganya saat ini, Sandra tidak menyadari perubahan sikap Aileen yang menjadi lebih banyak diam. Mungkinkah balita berusia hampir 4 tahun ini mengerti tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kedua orang tuanya?
Hal pertama yang akan Sandra lakukan adalah, membuat surat pengunduran dirinya dari kantor. Benar, dan sekarang Sandra sedang membuat surat pengunduran dirinya. Dan jika surat ini sudah Sandra berikan kepada HRD, maka Sandra akan langsung bebas dari kantor. Karena sejujurnya Sandra memang tidak terikat kontrak di Persada Group. Jadi hal ini memudahkan Sandra untuk keluar kapanpun dia mau. Dan sekarang Sandra bersyukur karena Ayah Radit, Sandra jadi tidak terikat kontrak disana.
Dan karena saat ini sedang jam kantor, tentu saja kantor tidak terlalu ramai. Di depan hanya ada resepsionis, 2 satpam dan beberapa karyawan lain yang juga sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Tentu saja kehadiran Sandra jadi tidak terlalu kentara.
Sandra sendiri langsung mengetuk pintu ruangan HRD. Dan begitu terdengar suara dari dalam yang mempersilahkan dirinya masuk, barulah Sandra masuk ke dalam.
"Selamat pagi, Mbak Rani." Ujar Sandra menyapa perempuan yang merupakan HRD di perusahaan Persada Group.
Melihat kedatangan Sandra, Rani langsung beranjak dari tempatnya duduknya.
"Eeh, Bu Sandra. Ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Tanya Rani dengan sopan.
Selain Marcel dan Beni, semua orang di Persada Group memanggil Sandra dengan sebutan ibu. Hal ini karena mereka tau Sandra adalah istri dari Daven.
"Saya datang kesini mau memberikan surat pengunduran diri, Mbak." Ujar Sandra kepada Rani.
Mendengar itu tentu saja terkejut. Tapi dengan segera Sandra memberikan penjelasan.
"Ini bukan karena saya adalah masalah ataupun bagaimana loh Mbak. Saya mengambil keputusan ini juga atas persetujuan Pak Daven juga. Soalnya saya mau fokus mengurus rumah tangga." Ujar Sandra dengan senyum dibibirnya.
Dan seperti yang kita tau, apa yang Sandra katakan adalah kebohongan. Tapi ini semua Sandra lakukan demi kebaikan juga. Agar kantor tidak terjadi kegaduhan.
Mendengar penjelasan Sandra, terlihat kalau Rani sangat lega. Rani langsung percaya begitu saja dengan ucapan Sandra. Karena selama ini, Rani melihat kalau Sandra dan Daven adalah pasangan yang cukup romantis. Hampir tidak pernah terdengar gosip tidak enak tentang mereka.
"Oo begitu ya Bu. Kalau begitu surat pengunduran diri Ibu Sandra akan saya urus." Jawab Rani.
"Makasih ya Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu." Ujar Sandra. "Oo iya, Mbak Rani tidak usah konfirmasi ke Pak Daven, soalnya saya mau ke ruangan Paka Daven buat memberitahu secara langsung kalau saya sudah memberikan surat pengunduran diri." Tambah Sandra.
"Baik, Bu." Jawab Rani dengan sopan.
Lalu apakah Sandra benar akan ke ruangan Daven? Tentu saja tidak. Sandra akan langsung pulang ke rumah. Dia akan membereskan barang-barang miliknya. Sesegera mungkin Sandra akan keluar dari rumah itu.