Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Perubahan Daven


Plukk...


Sandra terbangun dari tidurnya saat dia merasakan wajahnya dipukul oleh sebuah tangan kecil. Sandra tau kalau yang melakukan itu adalah Aileen, namun dengan isengnya Sandra justru memilih untuk tetap berpura-pura tidur.


"Endaa..." Panggil Aileen sembari memukul-mukul Sandra. Tapi tenang saja, pukulan Aileen sama sekali tidak sakit kok.


"Endaa... Ilinn au cucu." Ucap Aileen dengan suara menggemaskannya.


Tapi Sandra memilih untuk tetap berpura-pura tidur.


Hingga akhirnya, tanpa Sandra duga, Aileen menaiki tubuh Sandra dan memberikan ciuman basah pada wajahnya. Rasa geli membuat Sandra tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.


"Iya-iya, Bunda bangun sayang." Ujar Sandra sembari tetap tertawa.


Aileen yang melihat Sandra sudah membuka mata juga ikut tertawa. Dengan isengnya balita 2 tahun setengah itu terus memberikan ciuman basahnya pada wajah Sandra.


Ceklekk... Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Sementara Sandra dan Aileen tidak menyadarinya. Mereka berdua tetap asik bersendau gurau bersama. Siapa yang membuka pintu kamar? Yap benar sekali, Daven lah yang membukanya.


Sebenarnya Daven sama sekali tidak berniat untuk ke kamar Aileen. Hanya saja, Daven yang memang sudah bangun sejak jam setengah 7 merasa heran saat sampai jam setengah 8 Sandra dan Aileen tidak kunjung turun. Karena biasanya mereka berdua paling lambat turun setidaknya jam 7.


Untuk itu Daven ke kamar Aileen untuk memastikan kalau baik Aileen maupun Sandra memang masih ada di kamar. Dan ternyata dugaan Daven memang benar.


"Ekhemm..." Daven berdehem pelan.


Dan meskipun pelan, itu membuat Sandra dan Aileen langsung menyadari keberadaan dirinya.


"Bang Cio." Ujar Sandra dengan suara lirih.


Sementara Aileen, balita itu langsung turun dari tubuh Sandra.


"Edyy..." Aileen memanggil Daven. Tangannya melambai-lambai seolah meminta agar daddy.nya itu menghampirinya.


Daven sendiri langsung menghampiri Aileen, kemudian menggendong putrinya itu dan memberikan ciuman didahinya.


"Udah bangun ya putri Daddy, semalem bobok nyenyak nggak?" Tanya Daven kepada Aileen.


Aileen sendiri sepertinya belum paham dengan maksud pertanyaan Daven. Hingga akhirnya Aileen menatap Sandra seolah bertanya apa maksud ucapan sang Daddy.


"Aileen jawab, Aileen bobok nyenyak Daddy.. gitu sayang." Ujar Sandra kepada Aileen.


Setelahnya Aileen menatap kearah Daven lagi.


"Ilin bobo enyakk Eddy..." Jawab Aileen sembari tersenyum menggemaskan.


Daven juga tersenyum, Daven tidak menyangka kalau bicara Aileen saat ini sudah semakin jelas. Seingat Daven, beberapa bulan yang lalu Aileen masih memanggilnya dengan sebutan Didy. Tapi sekarang cara memanggilnya sudah bertambah jelas.


Cup...


Lagi-lagi Daven memberikan kecupan pada dahi Aileen, ditambah juga pada pipinya.


Sandra yang melihat itu tersenyum. Pasalnya, ini adalah kali pertama Daven melakukan itu. Biasanya Daven hanya akan mencium dahi Aileen sekali, kemudian sibuk dengan yang lainnya lagi. Atau lebih tepatnya menghindari Aileen.


Sekarang Sandra yakin kalau Daven memang sedang mencoba untuk menjadi lebih baik lagi dalam menjalankan perannya sebagai seorang suami dan juga ayah.


Flashback


Daven beranjak dari ranjang dan berjalan menuju Sandra. Tanpa Sandra duga, Daven memeluknya.


"Jangan menyerah ya, sekarang aku juga akan berusaha untuk bisa mencintai kamu. Aku harap kamu masih bisa sabar untuk menunggu. Aku sadar, kalau baik Aileen maupun aku sangat membutuhkan kamu di hidup kita."


"Aku nggak akan menyerah, karena aku akan selalu mencintai Bang Cio." Jawab Sandra dengan suara lirih.


"Terima kasih." Ucap Daven lirih.


"Apa aku boleh minta sesuatu sama Abang?" Tanya Sandra kepada Daven.


Dengan perlahan Daven melepaskan pelukannya.


"Apa? Kamu mau apa dari aku?" Jawab Daven dengan suara lebih lembut.


"Aku mau Abang bisa lebih hangat dan perhatian sama Aileen. Sebelumnya maaf, tapi aku harus bilang ini. Sebagai seorang Ayah, Abang terlalu acuh sama Aileen. Waktu yang Abang punya buat Aileen terlalu sedikit. Jadi, bisa nggak kalau mulai sekarang Abang lebih sering ajak Aileen main?" Ujar Sandra sembari menundukkan kepalanya.


Daven terdiam.


"Selama ini aku terlalu jauh sama Aileen ya?" Ucap Daven seraya menatap Aileen yang saat ini sedang tertidur dengan pulas.


Sandra menganggukkan kepalanya.


Seketika perasaan bersalah kembali menyusup didalam diri Daven. Menurut Daven, apa yang Sandra katakan itu memang benar. Sebagai seorang ayah, dia terlalu acuh kepada putrinya. Bahkan untuk sekedar meluangkan waktu bersama Aileen saja sangat jarang Daven lakukan. Disaat Daven tidak lembur pun, dia menemani Aileen bermain paling lama hanya 1 jam. Menemani loh ya, bukan mengajak atau bermain bersama dengan Aileen. Setelah itu Daven langsung masuk ke kamar dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Iya, aku akan berusaha untuk menjadi ayah yang lebih baik lagi untuk Aileen." Ujar Daven.


Flashback off


"Aileen, sekarang Aileen duduk disini dulu ya ditemenin Sus. Bunda sama Daddy mau bikin video masak dulu buat Mama Aleera. Okey?"


Kebetulan sekali Aileen ngidam dibuatkan video memasak oleh Sandra dan Daven disaat keesokan harinya weekend seperti ini. Jadi pagi ini Sandra dan Daven berencana untuk langsung membuatnya.


Awalnya Aileen berontak ingin tetap digendong oleh Sandra. Tapi akhirnya setelah beberapa kali di bujuk, Aileen bisa mengerti. Dan sekarang Aileen duduk di baby chairnya bersama Suster Ati di ruang makan sembari menonton aksi Bunda dan Daddy nya memasak.


"Semua udah siap Bang?" Tanya Sandra kepada Daven.


"Udah, kamera juga udah ready." Jawab Daven dengan suara datar.


Kan, meskipun hubungan Daven dan Sandra sudah mulai berkembang menjadi lebih baik, Daven tetaplah Daven yang datar dan tanpa ekspresi.


Sementara itu, bahan-bahan dan bumbu-bumbu memang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga. Yang harus Sandra dan Daven lakukan hanya tinggal memotong-motong bahan utama dan memasaknya.


Seperti yang sudah di duga, yang Sandra lakukan hanya memotong-motong saja. Sementara yang memasak adalah Daven.


"Abang, aku juga coba mau goreng ikannya." Ujar Sandra kepada Daven.


Pasalnya Sandra merasa tidak enak dan malu sendiri karena yang dia lakukan sejak tadi setelah selesai memotong-motong, hanya menonton Daven saja.


"Beneran?" Tanya Daven kepada Sandra.


Sandra menganggukkan kepalanya. Daven pun memberikan Sandra kesempatan untuk mencoba menggoreng ikan.


Namun yang terjadi....


"Aawww..." Sandra refleks berteriak saat minyak panas menciprat ke tangannya.


Dengan segera Daven langsung menarik Sandra untuk mundur, kemudian mematikan kompornya.


"Jangan dilempar San, kalau ikannya kamu lempar begitu, jelas minyaknya bakalan nyiprat." Ujar Daven dengan suara datar.


Tapi dari wajahnya terlihat jelas kalau Daven khawatir.


"Iya maaf, aku nggak niat mau lempar kok Bang. Itu nggak sengaja." Jawab Sandra beralasan.


"Ya udah goreng ikannya lanjut nanti aja, sekarang obatin dulu luka kamu." Ujar Daven.


Meskipun tidak terciprat cukup banyak, tapi tetap saja beberapa titik di kulit Sandra terlihat melepuh.