
"Berhenti Mas..." Teriakan lantang dari Sandra membuat Rendra menghentikan pukulannya kepada Daven.
Rendra menatap Daven dengan nafas terengah-engah. Wajahnya benar-benar memancarkan emosi yang amat sangat sangat. Kali ini, Rendra benar-benar membenci Daven. Meskipun kesalahan tidak sepenuhnya dari Daven, tapi mendengar Daven mengatakan kalau laki-laki itu meminta Sandra untuk menggugurkan kandungannya, membuat rasa amarah dan benci Rendra seketika langsung memuncak.
Sandra turun dari lantai 2, matanya terus terpaku kepada sosok Daven yang saat ini terlihat mengenaskan. Wajahnya penuh memar dan juga darah di bibir dan hidung. Apa Rendra berniat untuk membunuh Daven? Kenapa lukanya sangat parah seperti ini. Tanpa Sandra tau kalau belum lama ini Daven juga baru saja mendapatkan pukulan dari Davian.
Sementara itu, meski dalam kesakitan, Daven masih bisa tersenyum saat melihat Sandra. Entah kenapa ada sebuah perasaan lega karena pada akhirnya dia bisa melihat wajah Sandra lagi.
"Dia bajing*n Sandra, dia bi*dab. Bagaimana bisa seorang Ayah tega meminta istrinya untuk menggugurkan darah dagingnya sendiri. Bahkan hewan pun tidak akan membunuh anaknya sendiri. Tapi apa yang dia lakukan? Lo bener-bener menjijikkan Daven." Amarah Rendra masih saja menggebu. "Dan kamu Sandra... Bagaimana bisa kamu masih melindungi laki-laki ini? Dia bahkan tidak pantas mendapatkan pembelaan dari kamu atas semua yang sudah dia lakukan. Dia melukai kamu sangat dalam Sandra..." Kali ini Rendra berteriak marah. Rendra benar-benar tidak bisa menerima kalau selama ini ternyata Sandra disakiti oleh Daven.
Dan sekarang Sandra tau alasan kenapa Daven sampai dipukuli oleh Rendra. Padahal Sandra sudah berusaha untuk menyembunyikan semuanya. Tapi Daven sendiri malah membukanya.
"Aku tau Mas marah karena itu. Tapi, aku mohon Mas tenang dulu ya. Kita masih bisa bicarakan masalah ini baik-baik. Jangan dengan kekerasan, Mas." Ucap Sandra dengan lembut. Sandra berusaha untuk membuat Rendra menjadi tenang. "Aku tau Mas semarah ini karena Mas Rendra sayang aku. Aku tau dengan pasti, Mas." Tambah Sandra.
Dan itu berhasil membuat Rendra menjadi lebih tenang. Suara lembut Sandra berhasil menyentuh hati Rendra.
Setelah itu, Kendra membawa Rendra untuk naik atas permintaan Sandra. Sandra bilang ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Daven. Begitu juga dengan Bunda Sya dan Ayah Radit, mereka juga naik ke atas tanpa diminta. Kalau Bunda Sya melakukan itu karena dia percaya bahwa Sandra dan Daven bisa menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin, sementara Ayah Radit... Entah apa yang Ayah Radit pikirkan. Sejak tadi Ayah Radit hanya diam dengan tatapan datar cenderung kosong. Bahkan saat Rendra memukuli Daven pun, Ayah Radit tetap diam.
Jadilah di ruang tamu hanya ada Sandra dan Daven saja.
"Abang tunggu disini dulu, aku mau ambil kotak P3K." Ujar Sandra kepada Daven.
Daven sendiri hanya diam. Tapi sejak tadi dia sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari Sandra. Daven seolah takut kalau dia mengalihkan tatapannya maka Sandra akan menghilang.
Tidak sampai 2 menit, Sandra kembali dengan kotak P3K ditangannya.
Dalam diam, Sandra mulai membersihkan darah-darah yang mengotori wajah Daven. Padahal sebenarnya Sandra adalah orang yang takut dengan darah, meskipun tidak takut secara ekstrim.
"Harusnya Bang Cio nggak perlu menceritakan semua masalah yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga kita. Dengan begitu, Abang nggak akan dipukuli seperti ini." Ujar Sandra.
Tapi Daven menanggapi ucapan Sandra. Bagi Daven, sama sekali tidak masalah dirinya mendapatkan pukulan dari Rendra.
"Kenapa kamu memutuskan untuk mencerai aku, Sandra?" Daven justru menanyakan topik lain.
Daven menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan kalau ini adalah jalan terbaik untuk kita? Aku bahkan tidak setuju dengan perpisahan kita. Jadi aku mohon, tolong cabut berkas perceraian kita, San." Ujar Daven dengan suara lirih.
Sandra menatap Daven nanar. Kemudi senyum tipis yang terlihat penuh kesakitan tersungging di bibir Sandra.
"Enggak bisa Bang. Perpisahan sudah menjadi yang terbaik. Dengan begini kita tidak akan saling menyakiti lagi." Jawab Sandra.
Kini Daven menatap Sandra dengan sendu.
"Dari sisi mana kamu bilang ini adalah jalan yang terbaik? Aku bahkan tidak merasa baik sama sekali, Sandra." Ujar Daven lirih.
"Kalau kita tetap bersama, kita akan terus saling menyakiti Bang--- Abang itu memiliki trauma dengan perempuan melahirkan. Sementara Abang tau sendiri kalau saat ini aku sedang hamil dan nantinya akan melahirkan. Aku tau kalau Abang takut aku mengalami hal yang sama dengan Kak Larisa. Padahal aku sudah mengatakan bahwa hidup dan mati seseorang memiliki takdirnya masing-masing, tapi Abang tidak pernah mau mendengarkan aku. Abang juga pernah bilang kalau selama aku menjadi istri Abang, aku tidak boleh hamil. Lalu sekarang aku hamil, bukankah itu artinya aku sudah melanggar perintah Abang? Dan bukankah itu artinya aku sudah tidak berhak lagi menyandang status sebagai istri Abang? Secara aku malah hamil." Jawab Sandra dengan tenang. "Dan daripada aku terus menjadi istri Bang Cio tapi harus menggugurkan anak ini, aku lebih baik berpisah dari Abang."
"Sekarang aku tidak akan meminta kamu untuk menggugurkan anak ini. Tapi aku mohon, cabut berkas perceraian kita, San. Aku tidak ingin bercerai dari kamu." Jawab Daven.
Kalau Sandra lihat, Daven menjawab seperti ini hanya karena laki-laki itu saat ini sedang dalam kondisi putus asa karena perceraian mereka, bukan karena Daven sudah mulai bisa menerima kehamilan Sandra.
"Aku tetap tidak bisa Bang. Aku tidak ingin membuat kamu mengalami trauma lebih dalam lagi. Karena aku sendiri tidak bisa memastikan apakah aku akan selamat atau tidak saat melahirkan nanti. Aku tidak mau kalau nantinya kamu akan membenci anak ini jika saja aku juga tidak selamat saat melahirkan dia." Ujar Sandra. "Akan lebih baik kalau saat aku melahirkan nanti, aku bukan lagi istri Bang Cio. Dengan begitu Bang Cio nggak perlu merasa bersalah kalau nantinya aku tidak selamat saat melahirkan darah daging Abang ini. Karena nyatanya melahirkan anak ini adalah keinginan aku sendiri. Dan daripada nantinya Abang akan membenci anak ini seperti dulu Abang membenci Aileen karena menjadi penyebab meninggalnya Kak Larisa, Lebih baik Bang Cio tidak usah mengakui anak ini sebagai anak Abang. Jadi dia tidak akan terluka karena kebencian Abang. Biar nantinya Ayah dan Bunda saja yang merawat kalau aku meninggal setelah melahirkan dia." Ujar Sandra.
Benar, menurut Sandra akan lebih baik kalau Daven sekalian tidak menganggap anak dikandungan Sandra ini sebagai darah dagingnya dan setelah itu tidak datang mengusiknya. Daripada nanti anak ini mendapatkan kebencian dari Daven karena menjadi penyebab Sandra meninggalkan. Sandra akan sangat tidak rela kalau anaknya dibenci oleh ayahnya sendiri.
Mendengar ucapan Sandra, Daven hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab.
Dan tanpa Sandra juga Daven ketahui, nyatanya nada Ayah Radit yang sedang menguping pembicaraan mereka.
"Tidak seharusnya kamu membiarkan trauma yang kamu alami menjadi semakin dalam Daven. Selain melukai Sandra, kamu juga melukai diri kamu sendiri. Kamu benar-benar membutuhkan pertolongan."
Meskipun sebenarnya Ayah Radit benci karena Daven sudah melukai Sandra. Tapi tidak dipungkiri kalau Ayah Radit pun kasihan kepada Daven. Benar kata Sandra, mereka akan saling melukai jika terus bersama seperti ini. Kecuali kalau Daven bersedia untuk menjalani pengobatan guna menyembuhkan traumanya. Mungkin akhirnya akan berbeda.