
Malam ini Daven dan Sandra sedang berada disalah satu hotel milik keluarga Persada. Ingin tau kenapa mereka ada disana? Itu karena hari ini Davian dan Putri melangsungkan pernikahan mereka. Ya, setelah hampir 2 tahun Davian berjuang untuk meyakinkan Putri, akhirnya gadis itu luluh juga.
Sandra sendiri sebenarnya tidak tau pasti apa yang menyebabkan Putri membutuhkan waktu lama untuk yakin dan mau menikah dengan Davian. Mengingat selama Sandra mengenal Davian, laki-laki itu memiliki kepribadian yang amat sangat baik. Tapi ya sudahlah, biarkan itu menjadi urusan Davian dan Putri saja. Sandra juga tidak mau ikut campur dengan masalah itu. Yang jelas saat ini Sandra ikut merasa bahagia karena hari ini keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri. Hanya tinggal acara resepsi yang akan diadakan nanti malam.
Sandra yang saat ini sedang melepaskan hiasan rambut kepalanya, tiba-tiba merasakan pelukan hangat dari belakang. Tanpa menoleh, Sandra bisa melihat diri Daven yang memeluknya.
"Apa Abang?" Tanya Sandra dengan lembut.
Tidak menjawab pertanyaan Sandra, Daven justru menyusupkan wajahnya pada ceruk leher Sandra.
Saat acara akad tadi, baik pengantin maupun keluarga pengantin memang menggunakan kebaya. Dan saat ini Sandra bahkan belum melepas kebayanya.
"Abang awas dulu, peluknya nanti lagi ya. Aku mau lepas kebaya sekalian mandi, soalnya gerah banget..."
Meskipun saat ini masih jam setengah 1 siang, tapi Sandra memutuskan untuk mandi karena saking tidak tahannya dengan rasa gerah yang dia rasakan. Memang sejak tadi bahkan sampai sekarang Sandra berada di ruangan ber AC, tapi Sandra tetap merasa gerah. Dan Sandra paling tidak tahan dengan yang namanya gerah.
Daven melepaskan pelukannya dari tubuh Sandra. Dan Sandra pikir setelah ini Daven akan duduk atau apapun itu untuk membiarkan dirinya bersih-bersih. Tapi ternyata tidak...
"Ya udah bareng aja, aku juga mau sekalian mandi."
Sandra mengulum senyum seraya menggelengkan kepalanya.
"Emang Abang gerah juga?"
Daven menganggukkan kepalanya.
"Iya..." Jawabnya "Liat kamu bikin aku gerah."
Kalau seperti ini, Sandra tentu saja paham dengan maksud Daven. Mereka sudah menikah selama 4 tahun, dan tidak sekali dua kali Daven bersikap seperti ini.
Pipi Sandra tampak sedikit merona, dan itu tentu saja tidak luput dari perhatian Daven.
"Ini masih siang loh Bang, nanti aja kalau malem."
Daven mengangkat satu alisnya, kemudian tampak menyunggingkan senyum smirk andalannya. Senyum yang Sandra tau itu menunjukkan kalau Daven tidak menerima alasan apapun.
"Diluar ada anak-anak loh Bang."
"Emangnya kenapa kalau ada anak-anak? Mereka kan sama Suster. Dan sekarang mereka juga lagi pada tidur. Aku bisa pastikan kalau dalam waktu 2 jam kedepan mereka enggak akan bangun."
Benar, saat naik tadi Aileen, Saga dan Dewa memang terlihat mengantuk. Dan bersama dengan masing-masing suster mereka, saat ini ke tiganya sedang tidur di kamar sebelah. Btw kamar hotel yang Sandra dan Daven tempati memang tipe presidential suite yang memiliki 1 kamar utama dan 2 kamar lainnya. Itulah kenapa saat ini Daven bisa bebas melakukan apa yang dia mau bersama dengan Sandra.
Daven kembali melingkarkan tangannya pada pinggang Sandra.
"Ayolah sayang, aku janji enggak akan lama." Bisikan Daven berhasil membuat Sandra menjadi merinding.
Dan pada akhirnya, tetaplah Daven menjadi pemenangnya. Sandra tentu saja tidak bisa menolak keinginan suami tercintanya.
Padahal kalau dipikir-pikir lagi, yang menjadi pengantin baru kan Davian dan Putri. Tapi kenapa jadi Daven dan Sandra yang seperti pengantin baru ya? Tapi ya sudahlah ya. Pada dasarnya sekarang Daven memang sangat bucin kepada Sandra. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa jauh dari istrinya. Setiap ada kesempatan, Daven akan memanfaatkannya dengan semaksim mungkin. Contohnya ya seperti sekarang ini.
Tepat jam 7, kini Sandra sudah tampak cantik dengan dressnya. Ya, malam ini Sandra beserta Aleera, Della, Viola, dan Rani akan menjadi Bridesmaids Putri.
Sandra yang mendengar ucapan Daven tampak mengulum senyum malu-malu. Padahal akhir-akhir ini Daven sangat sering memberikan pujian untuk dirinya. Tapi tetap saja Sandra selalu merasa salah tingkah setiap mendapatkan pujian dari suaminya itu.
"Terima kasih Bang, Bang Cio juga ganteng banget malam ini."
Daven mengangkat satu alisnya.
"Jadi malam cuma malam ini ganteng bangetnya? Biasanya aku enggak ganteng?"
Tidak-tidak, maksud Sandra tentu saja bukan seperti itu. Biasanya pun Daven sudah ganteng kok.
"Ganteng dong Bang, dalam keadaan apapun Bang Cio tetap ganteng. Tapi malam ini Abang kelihatan lebih ganteng dari biasanya."
Daven tersenyum tipis, kemudian dia berjalan menghampiri Sandra dan memeluknya.
"Iya, aku tau kok."
Mendengar ucapan Daven yang sangat percaya diri, Sandra tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Sayang... melihat kamu yang malam ini cantik banget, rasanya aku jadi enggak pengen turun deh. Aku pengen kita habisin waktu berdua aja disini." Bisik Daven.
Sandra menggeleng kepalanya tidak percaya mendengar ucapan Daven. Entah kenapa Sandra merasa sejak tadi Daven selalu ingin menempel dengan dirinya.
"Apa sih Bang, enggak boleh gitu dong. Ini kan resepsi pernikahan Kak Davian, kita harus turun. Udah, ayoo... Aileen sama si kembar udah nunggu di luar loh."
Ya, ini adalah pernikahan Davian, saudara kembarnya sendiri. Tidak mungkin Daven justru malah di kamar mengurung Sandra bersamanya.
"Nanti disana jangan jauh-jauh dari aku ya. Aku takut kalau nanti ada yang naksir kamu."
Nah loh...