
Hari ini Sandra dan Daven sudah mulai kembali bekerja lagi karena masa cuti singkat mereka sudah selesai. Di rumah mungkin status Sandra dan Daven adalah sepasang suami istri. Tapi di kantor, status mereka tetaplah bos dan sekretarisnya. Ya, Sandra dan Daven sepakat untuk tetap bersikap profesional selama mereka di kantor.
Hari pertama Sandra dan Daven menginjakkan kaki mereka di kantor sebagai sepasang suami istri, tentu saja kehadirannya mengundang perhatian karyawan-karyawan lain. Mereka masih tidak menyangka kalau Daven yang merupakan idola baru di kantor mendadak menikah dengan sekretarisnya. Dan yang membuat mereka lebih tidak menyangka lagi adalah terbongkarnya status seorang Sandra yang ternyata merupakan putri bungsu dari pengusaha besar Raditya Diko Santoso, pemilik dari Santoso Grup.
Fakta bahwa pemilik dari Persada Grup dan Santoso Grup sudah bersahabat sejak lama membuat para karyawan beranggapan kalau Daven dan Sandra menikah karena di jodohkan. Pasalnya semua tau mengenai status Daven yang merupakan seorang duda yang ditinggal mati oleh istrinya. Dan pernikahan mendadak antara Daven dan Sandra tentu saja membuat opini mengenai perjodohan diantara keduanya berkembang diantara karyawannya.
Sandra dan Daven bukan tidak tau mengenai gosip tentang perjodohan, mereka tau. Hanya saja Daven dan Sandra memilih untuk tetap diam daripada harus memberikan penjelasan. Menurut mereka itu bukan hal penting yang harus diklarifikasi.Terserah juga mereka mau beropini seperti apa.
Sesampainya di ruangan Daven, disana sudah ada Beni yang menunggu. Ada beberapa berkas di tangan Beni yang harus Daven tandatangani.
Benar, beberapa pekerjaan yang awalnya merupakan pekerjaan Sandra kini dipegang oleh Beni. Sandra menghandle pekerjaan yang hanya bisa dia kerjakan di kantor, sementara Beni menghandle pekerjaan luar, seperti dinas luar kota.
"Selamat pagi Pak Daven, maaf pagi-pagi seperti ini saya sudah ada di ruangan bapak. Saya mau minta tandatangan untuk berkas yang kemarin belum sempat Pak Daven tandatangani." Ujar Beni kepada Daven.
Beni memberikan berkas ditangannya kepada Daven. Daven sendiri sudah mempelajari berkas itu kemarin karena Beni mengirimkannya melalui e-mail dalam bentuk pdf. Untuk itu hari ini Daven hanya tinggal membubuhkan tanda tangannya.
Sementara Daven dan Beni mengurus masalah pekerjaan, Sandra berlalu menuju pantry untuk membuatkan kopi. Jangan lupa kalau setiap memulai kerjanya Daven amat sangat membutuhkan kopi. Meskipun sebenarnya di rumah tadi Daven sudah minum kopi.
Kini Sandra sudah tidak satu ruang lagi dengan Marcel. Selain karena Sandra sudah bukan lagi sekretaris Papa Dani, alasan utamanya karena saat ini Sandra sudah memiliki partnernya sendiri, yaitu Beni. Statusnya yang sama-sama sebagai sekretaris Daven tentu saja akan memudahkan kerja Sandra dan Beni jika mereka dalam satu ruangan. Awalnya sih Sandra maunya tetap satu ruangan bersama Marcel, tapi ruangan Marcel akan menjadi sempit kalau di huni oleh 3 orang.
Jadi ya sudah, akhirnya mau tidak mau Sandra memisahkan diri dari ruangan Marcel ke ruang kerjanya yang baru bersama dengan Beni.
Sekarang sih Sandra nyaman-nyaman saja bekerja satu ruangan dengan Beni. Pasalnya tidak seperti yang Sandra pikirkan diawal, ternyata Beni pribadi yang baik dan juga asik, tidak jauh berbeda dengan Marcel.
Dan lagi, sekarang Sandra, Marcel dan Beni sudah saling akrab satu sama lain. Sebelum Sandra menikah dengan Daven, tidak jarang Beni ikut makan siang bersama dengan dirinya, Marcel dan juga Davian.
Daven? Laki-laki itu terlalu introvert untuk ikut geng Sandra makan di luar. Daven lebih senang makan sendirian di ruangannya.
Tapi sekarang semua orang sudah tau mengenai status Sandra yang merupakan istri dari Daven. Jadi, apakah Sandra masih bisa makan siang bersama yang lainnya? Sebenarnya bisa saja. Tapi kalau Sandra harus meninggalkan Daven makan sendirian di ruangannya. Apa kata orang lain coba? Nanti yang ada mereka malah berpikiran kalau rumah tangga Sandra dan Daven tidak harmonis.
Ya walaupun itu memang benar adanya, tapi Sandra tidak ingin orang lain mencap hubungan rumah tangganya bersama Daven itu buruk.
"Jangan bengong terus San." Ujar Beni menyadarkan Sandra yang sedari tadi asik dengan lamunannya sendiri.
Meskipun Beni tau kalau status Sandra yang pada saat itu adalah calon istri dari atasannya sendiri, Beni memanggil Sandra hanya dengan nama panggilannya saja tanpa adanya embel-embel Ibu. Itu karena Sandra sendiri yang meminta. Sandra tidak mau di panggil dengan panggilan ibu oleh Beni. Selain karena posisi mereka di perusahaan sama, dari segi usia Beni juga lebih tua dari Sandra. Usia Beni 27 tahun, sama seperti Daven.
"Aku nggak bengong Mas." Jawab Sandra menyangkal tuduhan Beni.
Beni sendiri sudah sangat hafal dengan kebiasaan Sandra yang satu ini. Apalagi sejak awal Marcel sudah memberitahu Beni kalau Sandra memiliki hoby bengong.
"Iya, terserah kamu aja lah San." Ujar Beni.
"Eehh Mas, Bang Daven ada jadwal keluar kota kapan lagi?" Entah ada angin apa tiba-tiba Sandra bertanya mengenai jadwal kunjungan luar kota Daven.
"Untuk sebulan kedepan sih nggak ada kunjungan luar kota atau luar negeri San. Kenapa emangnya?." Jawab Beni.
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Nggak papa, cuma mau tanya aja." Ujar Sandra.
Beni sendiri mengulum senyum mendengar jawaban Sandra.
"Kenapa? Kamu mau ikut kalau Pak Daven ada kunjungan luar kota? Mau sekalian bulan madu yah?" Tanya Beni iseng.
"Enggak, aku nggak mau ikut kok. Beneran cuma mau tanya doang. Aku kepo soalnya." Jawab Sandra menyangkal tuduhan Beni.
"Padahal ya San, aku udah susunin jadwal kalau-kalau Pak Daven sama kamu mau cuti panjang buat kalian pergi bulan madu. Karena alasan itu juga aku nggak nyusunin kunjungan luar kota sama luar negeri buat Pak Daven. Tapi ternyata kalian malah cutinya cuma sebentar. Sia-sia banget usaha aku buat susunin jadwal Pak Daven." Ujar Beni memberitahukan sebuah fakta kepada Sandra.
Sandra tertawa mendengarnya.
"Ya salah sendiri Mas Beni langsung susun jadwal Bang Daven tanpa tanya dia atau aku." Jawab Sandra santai.
"Ya kan aku taunya setelah nikah kalian mau langsung bulan madu." Ujar Beni.
"Enggak, kerjaan kita terlalu banyak. Sayang kalau waktunya terbuang cuma buat bulan madu doang." Jawab Sandra beralasan.
Dan tentu saja alasan yang Sandra katakan itu bohong. Karena nyatanya bukan seperti itu. Sandra dan Daven hanya tidak memiliki cukup alasan kuat yang kuat untuk mereka bulan madu.
"Pantesan kalian cocok sebagai pasangan. Ternyata pikiran kamu sama Pak Daven itu sama." Ujar Beni.
"Sama?"
"Iya, sama-sama isinya cuma soal pekerjaan doang." Jawab Beni.
Awalnya Beni merasa aneh karena Daven dan Sandra tidak melakukan bulan madu setelah keduanya menikah. Tapi mendengar alasan yang Sandra katakan tadi, Beni jadi sadar kalau Daven dan Sandra memang cocok menjadi suami istri, sama-sama terlalu cinta dengan pekerjaan.