Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Spaghetti Bang Cio


Saat ini Sandra, Daven, Aileen, juga Bunda Sya dan Ayah Radit sedang duduk berkumpul di ruang keluarga. Seperti biasa, celotehan-celotehan lucu Aileen selalu bisa membuat suasana rumah menjadi lebih menyenangkan.


"Kak.. Kakak tau enggak? Kalau sekarang di perut Aunty Vio udah ada dedek bayinya loh." Ujar Sandra memberitahukan kabar kehamilan Viola kepada Aileen. Pasalnya karena kemarin Sandra dan yang lainnya sibuk mempersiapkan acara 4 bulanan Aleera, jadi mereka belum sempat memberitahu Aileen mengenai kabar gembira kehamilan Viola.


Aileen yang mendengar ucapan sang Bunda tampak terlihat sangat antusias.


"Benelan Bunda? Belalti Kakak adeknya tambah 1 lagi?" Tanya Aileen kepada Sandra.


Sandra menganggukkan kepalanya.


"Iya, adek Aileen tambah satu lagi." Jawab Sandra.


"Yeye... adek Kakak jadi banyak." Ujar Aileen dengan semangat. " Belalti nanti adek balu Kakak jadi belapa?"


Ucapan Aileen ini membuat yang lain tertawa. Karena Aileen benar-benar sangat menggemaskan.


"Adeknya Kakak jadi 4." Jawab Sandra.


Dengan polos Aileen menghitung jari-jarinya. Dan saat jarinya berjumlah 4, Aileen langsung tertawa senang.


Biasanya punya adek satu saja rata-rata pada enggak suka. Lah ini Aileen mau punya adek langsung 4, tapi dia benar-benar kelihatan bahagianya.



Saat ini Daven sedang mengerjakan beberapa pekerjaan yang memang harus dia selesaikan malam ini juga. Daven sampai tidak sadar kalau saat ini sudah jam 10 malam. Saat Daven menoleh kearah ranjang, tidak dia dapati adanya Sandra disana.



"Oo iya, tadi Sandra bilang mau nidurin Aileen dulu kan ya." Ucap Daven seorang diri.



Setelahnya Daven mulai membereskan semua barang-barangnya. Kemudian Daven keluar untuk pergi ke kamar Aileen. Daven sih sangat yakin kalau saat ini Sandra pasti sudah tertidur disana. Karena sudah menjadi kebiasaan Sandra kalau menidurkan Aileen,dia pasti bakalan ikut tidur juga.



Dan benar, begitu Daven masuk ke kamar Aileen, Daven langsung melihat bagaimana saat ini Sandra sudah tampa pulas tidur disamping Aileen yang juga sudah tidur juga.



Melihat itu, Daven tersenyum. Maunya sih Daven ikut tidur bertiga di ranjang itu. Tapi ukurannya yang memang lebih kecil dari pada ranjang yang ada dikamar Sandra, tentu saja akan jadi sempit kalau Daven ikut tidur disana. Sementara Daven sekarang tidak bisa tidur kalau tidak ada Sandra disampingnya, untuk itu tidak ada pilihan lain selain Daven menggendong Sandra dan memindahkannya ke kamar mereka.



Daven memberikan kecupan pada dahi Aileen.


"Maafin Daddy ya, Kak. Bunda-nya Daddy pindah ke kamar. Kakak tidur yang nyenyak ya, sayang."



Setelah mengatakan itu, tanpa kesulitan Daven langsung menggendong tubuh Sandra dan membawanya ke kamar. Usia kandungan Sandra yang sudah mau masuk 4 bulan nyatanya tetap tidak membuat Daven kesulitan saat menggendongnya. Daven merasa tubuh Sandra tetap ringan-ringan saja tanpa perbedaan yang berarti. Padahal saat ini berat badan Sandra sudah naik hampir 10 kg. Tapi karena pada dasarnya tubuh Sandra tinggi, jadi meskipun berat badannya naik cukup banyak, tidak terlalu terlihat jelas pada perubahan bentuk tubuhnya.



Dengan perlahan Daven menidurkan Sandra keatas ranjang. Apa yang Daven lakukan ini tampaknya tidak membuat tidur Sandra menjadi terusik. Karena Sandra tampak nyaman-nyaman saja dalam tidurnya.



"Tidur yang nyenyak sayang." Bisik Daven.



Setelahnya Daven juga naik keatas ranjang, dia memberikan kecupan di dahi dan juga bibir Sandra. Membawa Sandra masuk kedalam pelukannya, kemudian ikut bergabung kealam mimpi bersama istrinya ini.



Kalau biasanya ngidam Sandra adalah sesuatu yang membuat Davian tersiksa. Kali ini tidak lagi, karena ditengah malam seperti ini, tiba-tiba saja Sandra terbangun dari tidurnya karena dia menginginkan sesuatu. Apa yang Sandra inginkan? Sandra ingin makan spaghetti buatan Daven.


Sandra menoleh kearah Daven yang saat ini tampak tidur sangat pulas. Wajar saja, ini baru jam 1 dini hari. Masih ada sekitar 4 jam lagi sampai akhirnya subuh tiba.


Jujur saja sebenarnya Sandra tidak tega membangunkan Daven. Tapi mau bagaimana lagi, yang saat ini Sandra inginkan adalah Spaghetti buatan Daven. Lagi pula kalau pun bukan buatan Daven yang Sandra inginkan, Sandra memang diharuskan untuk membangunkan Daven jika tengah malam ini menginginkan sesuatu. Karena kalau Sandra tidak membangunkan Daven, bisa-bisa Daven malah marah kepada Sandra. Tentu saja Sandra tidak ingin membuat Daven marah kepada dirinya.


Tega tidak tega, akhirnya Sandra membangunkan Daven.


"Bang Cio..." Panggil Sandra dengan suara lirih. Tangannya juga menggoyang pelan tubuh Daven agar tidak membuat Daven terkejut.


Hanya dengan satu panggilan dan satu sentuhan, Daven langsung membuka matanya.


"Ada apa, sayang?" Jawab Daven dengan suara parau khas orang baru bangun tidur.


"Pengen makan spaghetti." Jawab Sandra.


Mendengar jawaban Sandra, Daven langsung membuka penuh matanya.


"Sebentar, aku cuci muka dulu." Ujar Daven.


Tanpa protes dan banyak bertanya, Daven langsung beranjak dari ranjang ke kamar mandi untuk mencuci muka agar rasa kantuknya cepat hilang. Ya, sebagai seorang suami dan ayah, Daven memang sesigap itu.


Sandra yang melihat itu tersenyum. Dalam hati dia sangat bersyukur karena sudah dianugerahi dengan suami yang sangat siaga seperti Daven.




Sekarang, Sandra dan Daven sudah ada di dapur. Daven sedang sibuk memasak spaghetti yang Sandra inginkan, sementara Sandra hanya duduk di meja makan sembari memperhatikan Daven yang sedang memasak. Bukannya Sandra tidak mau membantu, tapi memang Daven yang tidak ingin dibantu dan meminta Sandra untuk lebih baik duduk saja. Sebagai istri yang baik, tentu saja Sandra menuruti perintah suaminya dong?



Melihat Daven yang sedang memasak memang bukan pertama kalinya untuk Sandra. Tapi setiap melihat pemandangan itu, Sandra selalu saja dibuat terpesona karenanya. Entah kenapa, menurut Sandra laki-laki yang pintar memasak itu ada nilai plusnya sendiri.



Eehh, tapi Kendra dan Rendra juga pintar memasak. Tapi Sandra sama sekali tidak pernah terpesona ataupun memberikan nilai plus. Ya sudahlah ya, namanya juga sama Abang sendiri. Jadi kelebihan yang Abang miliki seolah transparan dimata adek.



Tidak lama kemudian, 2 piring spaghetti bolognese terhidang di meja makan. Sengaja Daven memasak 2 porsi, karena Daven ternyata juga lapar.



Daven memang membuat 2 porsi dan menempatkannya di 2 piring yang berbeda. Itu artinya Daven makan satu piring dan Sandra makan satu piring kan? Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Karena mereka menghabiskan 2 piring itu bersama. Sandra menolak untuk makan sendiri, hingga akhirnya Daven yang menyuapinya. Ya namanya juga ibu hamil yang sedang ngidam. Jadi kadang permintaannya itu memang agak sedikit aneh.