Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Ingin menyerah


Begitu jam kantor selesai Sandra langsung membereskan semua barang-barangnya kemudian pulang. Tapi sebelum pulang Sandra memutuskan untuk membeli testpack terlebih dahulu, seperti yang sudah Sandra rencanakan tadi pagi. Sandra benar-benar sangat ingin mengetahui yang sebenarnya. Memastikan apakah dia benar hamil atau tidak.


Baru setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan, Sandra langsung melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Santoso. Dimana saat ini Aileen sedang menunggu dirinya.



"Assalamualaikum... Bunda... Aileen..." Sandra berteriak memanggil 2 perempuan kesayangannya.



Seperti biasa, jika sedang di rumah ini maka kebiasaan Sandra yang selalu berteriak setiap pulang maka akan kembali muncul.



"Jangan teriak-teriak dek." Seseorang dengan suara berat memberikan peringatan dengan nada lembut kepada Sandra.



Membuat Sandra seketika langsung menolehkan kepalanya kearah sumber suara.


"Ayah..." Ucap Sandra saat melihat Ayah Radit yang ternyata sedang duduk disalah satu sofa ruang tamu.



Ayah Radit tersenyum seraya menatap Sandra.


"Sini dek..." Ujar Ayah Radit sembari menepuk-nepuk bagian sofa kosong yang ada disampingnya.



Sandra dengan segera berjalan kearah Ayah Radit, mendudukkan dirinya disamping laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu. Tidak hanya itu, Sandra bahkan langsung memeluk lengan Ayah Radit, hal yang biasanya dulu setiap hari dia lakukan.


"Ayah..." Ucap Sandra dengan manja.



Ayah Radit tersenyum. Jika sedang tidak ada Aileen ataupun keponakan-keponakannya, Sandra tetaplah Sandra si bungsu yang sangat manja kepada orang tuanya.


"Kenapa hem? Adek capek?" Tanya Ayah Radit dengan lembut.



Mendapatkan pertanyaan itu, ingin sekali Sandra mengatakan kalau iya dirinya capek. Tapi bukan capek karena lelah bekerja. Melainkan capek menghadapi rumah tangganya.



Sebenarnya saat ini rumah tangga Sandra dan Daven sedang baik-baik saja. Mereka bahkan tidak pernah bertengkar mengenai apapun. Tapi entah kenapa Sandra justru merasa luar biasa lelah dengan rumah tangganya ini. Rasanya Sandra ingin menyerah saat ini juga.



Tapi, kalau Sandra menyerah, bagaimana dengan Aileen? Bagaimana dengan Ayah Radit dan Bunda Sya? Bagaimana dengan kakak-kakaknya? Mereka pasti akan sangat sedih.



Sandra menggelengkan kepalanya.


"Enggak, adek nggak capek kok." Jawab Sandra.



Ayah Radit mengusap kepala Sandra dengan lembut.


"Akhir-akhir ini Ayah selalu kepikiran sama adek. Dan Ayah jadi merasa nggak tenang. Adek nggak lagi kenapa-napa kan sayang? Adek baik-baik aja kan?" Tanya Ayah Radit kepada Sandra.



Sandra boleh saja sekarang sudah menjadi seorang istri. Tapi bagi Ayah Radit, Sandra tetaplah putri kecilnya.



Sandra yang mendengar pertanyaan Ayah Radit seketika tersentak karena terkejut. Sandra tidak menyangka kalau Ayah Radit ternyata seperti merasakan apa yang sedang dirinya rasakan.



Sandra memaksakan untuk tersenyum dengan tulus.


"Iya, adek nggak papa Yah. Adek juga baik-baik aja kok. Ayah kenapa bisa jadi kepikiran sama adek? Biasanya Ayah nggak begini loh." Jawab Sandra.



Ayah Radit tersenyum lega saat mendengar jawaban Sandra.


"Syukurlah kalau adek nggak kenapa-napa dan baik-baik aja. Ayah benar-benar Legas dengernya." Jawab Ayah Radit.



"Jadi kenapa Ayah bisa tiba-tiba khawatir sama adek begitu?" Sandra mengulang kembali pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban dari Ayah Radit.



Ayah Radit tersenyum.


"Enggak ada alasan, Ayah cuma mendadak merasa khawatir. Mungkin karena Ayah udah terlalu kangen sama adek." Jawab Ayah Radit.




"Makanya kalau Ayah kangen sama adek tuh bilang, jangan dipendem sendirian." Ujar Sandra menggoda Ayah Radit.



Dihadapan Ayah Radit, mungkin sekarang Sandra masih bisa mengendalikan diri dengan tetap menunjukkan sikap cerianya. Tapi saat nanti Sandra dikamar sendirian, siapa yang akan tau?



"Bisa aja adek ini." Ujar Ayah Radit seraya mengacak lembut rambut putri kesayangannya ini.



"Oo iya, Bunda sama Aileen dimana? Kok dari tadi nggak kelihatan?" Tanya Sandra mengubah topik pembicaraan.



"Katanya tadi mau jalan-jalan di taman kompleks. Biasanya kalau sore begini disana rame soalnya." Jawab Ayah Radit.



Sandra menganggukkan kepalanya paham.


"Oo gitu, ya udah adek naik dulu ya, Yah. Adek mau mandi, ini badannya udah lengket banget butuh yang seger-seger." Ujar Sandra.



"Ya udah sana mandi dulu, yang bersih ya..." Jawab Ayah Radit.



Sandra mengangkat kedua jempolnya sebelum naik menuju kamarnya.



Sesampainya di kamar, Sandra langsung mengunci pintu kamarnya. Mendadak tubuhnya luruh dibelakang pintu. Air mata juga menetes tanpa bisa Sandra tahan lagi.



"Hikss... Hikss... Ayah... Adek capek... adek mau berhenti."



Ya, disaat Sandra sudah tidak lagi berhadapan dengan Ayah Radit, dia mulai menangis untuk menumpahkan semua perasaannya. Begitu masuk ke kamar, Sandra merasa dia butuh untuk menumpahkan semua keresahan yang sedang dia rasakan. Sandra sudah tidak tahan lagi.



"Bunda... Ilin mau telpon muka Daddy." Ujar Aileen.


Yang dimaksud Aileen dengan telfon muka adalah video call.


Sebenarnya saat ini Sandra sedang tidak ingin berinteraksi dengan Daven. Seharian ini Sandra bahkan menanyakan kabar Daven hanya melalui Beni. Tapi karena saat ini Aileen merengek ingin melakukan video call dengan Daven, mau tidak mau Sandra harus menghubungi laki-laki itu. Apalagi disini ada Bunda Sya dan juga Ayah Radit, semakin tidak mungkin untuk Sandra menolak permintaan Aileen. Karena kalau Sandra melakukan itu, mereka pasti akan berpikir kalau Sandra dan Daven sedang ada masalah.


Padahal sebenarnya diantara mereka sama sekali tidak ada masalah. Hanya Sandra saja yang sedang bermasalah. Karena disini hanya Sandra yang sedang mencoba untuk menghindari Daven.


Tutt... Tutt... Tutt...


Pada sering ke tiga Daven mengangkat video call Sandra.


Sandra sendiri tidak mengatakan apa-apa, begitu panggilan video call diangkat dia langsung memberikan ponselnya kepada Aileen.


Meskipun saat ini Bunda Sya dan Ayah Radit melihat apa yang Sandra lakukan, tapi mereka tidak berpikir kalau saat ini Sandra sedang menghindari Daven.


"Daddy..." Aileen langsung berteriak dengan nyaring saat melihat wajah Daven di layar ponsel.


"Iya sayang... Kenapa? Kangen ya sama Daddy?" Ujar Daven kepada Aileen.


Sejujurnya saat ini Daven ingin sekali melihat wajah Sandra. Tapi, gengsi membuat Daven memilih untuk tidak bertanya dimana Sandra. Karena sudah pasti Sandra saat ini ada dibalik ponsel yang Aileen pegang. Tidak apa-apa, sekarang dengan Aileen dulu. Nanti menjelang tidur Daven akan menghubungi Sandra lagi. Karena jika sedang menginap di rumah keluarga Santoso biasanya Aileen akan tidur bersama Bunda Sya dan Ayah Radit. Jadi Daven bisa memanfaatkan itu untuk melakukan video call berdua dengan Sandra.


.


.


.


INFORMASI


Kisah Rendra sudah aku up di F**** ya. Judulnya 'Say Love Me, Rendra!' 😁


Alur 'Say Love Me, Rendra!' bakal lebih cepat dari 'Mengejar Cinta Duda Baru' karena sehari bisa 2-3 kali up πŸ₯³


Maaf banget karena aku nggak bisa up disini. Karena ada banyak pertimbangan sampai akhirnya aku memutuskan buat up disana.πŸ™ƒ


Jangan lupa mampir juga di karya lain aku yang disana ya. Cari aja nama pena *Anggifff**😍*


Kalau mau ada yang ditanyain, bisa langsung komen aja ya, pasti aku akan bales😍


Jangan lupa kritik dan sarannya 😍


Terima Kasih 😘πŸ₯°