
Setelah sarapan, satu persatu keluarga Santoso, keluarga Mama Nisa dan juga keluarga Persada memutuskan untuk meninggalkan hotel dan pulang ke rumah. Begitu juga dengan Daven dan Sandra.
Rendra dan Viola juga ikut pulang? Ooo tentu tidak. Kedua pengantin baru itu bahkan sejak pagi belum turun untuk sarapan. Dan saat mencoba untuk di ketuk pintu kamarnya, tidak ada sahutan dari dalam. Ya mereka sih maklum saja. Namanya juga pengantin baru kan? Pasti semalam sudah... ehem, ya itulah ya. Kalian pasti tau.
Sandra sendiri hanya semobil dengan Daven, Aileen dan juga Suster Ati.
"Daddy... Ilin mau main ke Timezone." Ujar Aileen tiba-tiba.
Daven menoleh ke arah Sandra sejenak. Terlihat Sandra tengah mengulum senyum.
"Coba Aileen tanya sama Bunda, boleh enggak." Jawab Daven.
Kini perhatian Aileen langsung beralih kepada Sandra.
"Boleh kan Bunda? Sebental aja... Ilin janji nggak lama-lama mainnya." Ujar Aileen mencoba untuk merayu Sandra.
Sandra menoleh ke arah Aileen.
"Yakin cuma sebentar? Janji kalau diminta udahan Aileen nggak bakal rewel?" Tanya Sandra kepada Aileen.
Seperti balita pada umumnya, terkadang Aileen memang rewel jika sedang menginginkan sesuatu. Pernah Aileen tidak mau di ajak pulang saat bermain di Timezone padahal sudah lebih dari 2 jam gadis cilik itu bermain.
"Iya Bunda. Ilin janji nanti enggak bakal lewel." Jawab Aileen dengan semangat 45.
Mendengar jawaban Aileen, Sandra menganggukkan kepalanya.
"Oke, Aileen boleh main di Timezone." Jawab Sandra dengan lembut.
Akhirnya Sandra mengabulkan keinginan Aileen untuk bermain di Timezone. Lagi pula weekend lalu Aileen juga belum mendapatkan jatahnya bermain.
Kalau kalian bertanya kenapa Sandra tidak langsung mengatakan iya, ini karena Sandra tidak ingin terlalu menuruti semua yang Aileen inginkan. Biar bagaimanapun, Sandra ingin agar Aileen tau bahwa apa yang kita inginkan tidak semuanya bisa kita dapatkan. Dan perlu sedikit atau bahkan banyak usaha untuk bisa mendapatkan. Bukan karena Sandra pelit atau dia tidak menyayangi Aileen loh ya. Dan bukan karena saat ini Sandra sudah hamil lalu dia jadi seperti ini. Tidak, bukan itu alasan lainnya.
Sesampainya di Timezone, Aileen langsung bermain di temani oleh Suster Ati. Sebenarnya Sandra yang ingin menemani, tapi Aileen melarang.
"No, Bunda disini aja sama Daddy. Nanti adek-adek Ilin di dalam pelut capek." Ujar Aileen.
Seringnya Daven mengatakan kepada Sandra agar tidak terlalu lelah beraktifitas karena saat ini sudah ada twins di dalam perutnya sepertinya melekat di pikiran Aileen. Jadi bukan sekali atau dua kali Aileen meminta kepada Sandra untuk tidak capek-capek. Bahkan sekarang Aileen juga sudah tidak mau lagi di gendong Sandra. Aileen beralasan kalau saat ini tubuhnya sudah berat dan Aileen juga sudah besar. Jadi bisa jalan sendiri.
Bukankah Aileen sangat menggemaskan dan pintar? Mungkin karena saat ini Aileen juga sudah hampir berusia 4 tahun. Yap, kurang dari 2 Minggu lagi Aileen akan berusia 4 tahun.
Jadi selama Aileen bermain bersama Suster Ati, Sandra dan Daven duduk di cafe yang lokasinya tidak jauh dari Timezone. Saat ini Sandra sedang menikmati Chocolate Ice dengan Fried Fries. Sementara Daven hanya memesan Americano.
Sementara tatapan Sandra tertuju kepada Aileen yang tampak asik bermain. Daven justru sedang asik sendiri menatap Sandra. Dari tatapannya, orang-orang pasti akan tau kalau Daven memberikan tatapan memuja kepada Sandra. Senyum tipis bahkan tampak tersungging dibibir Daven.
Hingga akhirnya Sandra sadar kalau saat ini Daven sedang menatap dirinya. Tapi meski sudah tertangkap basah oleh Sandra, Daven sama sekali tidak mencoba untuk mengalihkan perhatiannya. Justru senyum dibibir Daven terlihat semakin lebar.
"Abang liatin apa sih? Liatin aku?" Tanya Sandra berpura-pura tidak tau.
Daven menganggukkan kepalanya.
"Iya, liatin kamu." Jawab Daven dengan senyum manisnya.
Mendengar jawaban Daven, Sandra mencoba untuk tidak salah tingkah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Sandra tidak bisa menahan diri untuk tidak salah tingkah.
"Enggak ada alasan khusus. Aku cuma pengen liatin kamu aja. Abisnya kalau liat kamu bawaannya selalu tenang." Jawab Daven jujur.
Benar, memang itu alasannya. Sebenarnya Daven bahkan sudah merasakannya sejak dulu. Hanya saja saat itu Daven terus berusaha untuk menyangkalnya. Sedangkan sekarang? Tentu saja tidak lagi. Daven tidak lagi memiliki alasan untuk menyangkal perasaannya kepada Sandra.
Mendengar jawaban Daven kali ini, Sandra bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. Sandra terlalu speechless saat mendengarnya.
"Pipi kamu tambah merah." Ujar Daven menggoda Sandra.
Refleks Sandra memegang pipinya yang memang terasa panas.
"Ya ini karena Bang Cio godain aku terus. Kan aku jadi malu." Jawab Sandra salah tingkah.
Daven tersenyum, tangannya meraih tangan Sandra.
"Aku nggak punya niat buat godain, sayang. Apa yang aku katakan itu jujur apa adanya." Jawab Daven.
Ya, Daven tidak memiliki niat untuk membuat Sandra salah tingkah atau bagaimana. Apa yang Daven lakukan ini karena ya memang ini yang dia rasakan.
Dengan tangan yang saling bertaut dan mata yang saling bertatapan, tiba-tiba Daven mengatakan sesuatu yang sesungguhnya selama ini sangat Sandra nanti-nantikan.
"Sandra... Kamu mau nggak kalau besok aku ajak ziarah ke makam Larisa?" Tanya Daven.
Apakah ini hal yang sangat Sandra nantikan? Ya, benar sekali. Sandra menunggu Daven mengatakan ini kepada dirinya. Karena sesungguhnya sudah sangat lama Sandra ingin berziarah ke makam Larisa. Karena biar bagaimanapun Larisa adalah perempuan yang sangat berarti dalam hidup Daven dan Aileen. Sandra tidak akan menutupi fakta kalau Larisa adalah ibu yang melahirkan Aileen dan juga mendiang istri yang sangat dicintai oleh Daven. Hanya saja karena selama ini Daven tidak pernah mengajaknya, Sandra tidak pernah mau membahasnya lebih dulu. Apalagi hubungan Sandra dan Daven bisa dikatakan tidak benar-benar baik.
Lalu apakah Aileen tau soal Larisa? Iya, Aileen tau. Hanya saja karena usianya masih kecil, Aileen belum benar-benar paham kalau Larisa adalah ibu yang melahirkan dirinya. Lalu apakah Sandra yang memperkenalkan Aileen soal Larisa? Bukan, Sandra bahkan tidak pernah membahas sedikitpun soal Larisa kepada Aileen ataupun Daven. Bukan karena Sandra membenci Larisa, tidak sama sekali. Memang iya awal pernikahan Sandra sedikit cemburu karena besarnya cinta yang Daven miliki kepada Larisa. Tapi bukankah hal seperti itu wajar? Jadi alasan kenapa Sandra tidak pernah membahas soal Larisa kepada Aileen ataupun Daven, ini karena Sandra merasa kalau dia tidak memiliki kapasitas untuk itu. Sandra khawatir kalau dia justru salah berbicara. Jadi selama ini Sandra memilih untuk diam.
Mendengar ucapan Daven, tanpa sadar mata Sandra berkaca-kaca. Ini karena Sandra terlalu bahagia. Namun Daven justru salah mengartikannya.
Tampak wajah Daven mendadak seperti panik.
"Kalau kamu enggak mau, enggak papa kok. Aku nggak akan maksa. Tapi jangan nangis, aku nggak bisa kalau liat kamu nangis." Ujar Daven dengan suara lembut.
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Aku mau Bang. Aku mau banget. Justru ini adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu. Dimana Bang Cio siap untuk memperkenalkan aku ke Kak Larisa." Jawab Sandra.
Sandra tidak ingin Daven salah paham dengan air matanya ini.
"Beneran? Kamu nggak papa?" Tanya Daven memastikan.
Sandra menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku nggak papa. Aku malah seneng banget Bang." Jawab Sandra.
Mendengar jawaban Sandra, hati Daven terasa menghangat.
"Kenapa kamu menunggu aku sampai mengajak?" Tanya Daven.
"Karena aku ingin Bang Cio sendiri yang mengajak. Aku tidak mau bersikap lancang dan justru membuatnya Bang Cio nggak nyaman karena apa yang aku lakukan." Jawab Sandra.
Kali ini Daven yang merasa terharu mendengar jawaban Sandra. Daven sangat tidak menyangka kalau ternyata Sandra menunggu dimana dia mengajak wanita itu untuk dia ajak berziarah ke makam Larisa.