
Setelah seharian bersama dengan anak-anak, maka malam disaat anak-anak sudah tidur adalah waktunya untuk Sandra dan Daven melakukan quality time.
Memang Daven ini, dulu sok-sokan mengabaikan Sandra. Sekarang disaat anak sudah 3 maunya malah berduaan terus. Pokokmya dalam sehari harus ada waktu untuk mereka berdua saja. Entah itu malam hari seperti ini atau saat anak-anak sedang diajak Oma dan Opa mereka.
"Jalan sebentar yuk, kita makan di luar." Ujar Daven kepada Sandra.
Sandra tampak mengulum senyum.
"Makan di luar? Bukannya tadi kita udah makan malam Bang?" Tanya Sandra.
Sandra bukan tidak tau maksud Daven. Saat ini Sandra hanya ingin menggoda suamianya saja.
"Iya, makan di luar sekalian pacaran. Kita jarang banget loh pacaran di luar." Jawab Daven santai.
Mendengar itu, Sandra tertawa kecil,
"Pacaran? Ya ampun, kita aja udah nikah, Bang." Ujar Sandra.
Aneh saja mendengar Daven mengajaknya berpacaran. Secara sebelum menikah pun sebenarnya hubungan mereka tidak bisa dikatakan pacaran. Ya kalian pasti tau lah kalau dulu hubungan yang terjadi antara Sandra dan Daven karena sebuah perjanjian.
"Ya enggak papa, lagi pula kan sebelum nikah kita enggak sempat pacaran. Apa salahnya kalau sekarang kita pacaran? Justru bagus kan? Pacarannya pas udah halal, udah gitu pas anaknya udah 3 lagi." Jawab Daven.
Kalau Daven sedang seperti ini, Sandra benar-benar tidak menyangka kalau sebelumnya Daven adalah laki-laki es paling dingin dan cool yang pernah dia temui.
"Oke-oke, jadi Abang mau ajak aku pacaran kemana?" Tanya Sandra kepada Daven.
"Kamu maunya kita kemana?" Ujar Daven balik bertanya.
Mendapat pertanyaan balik, Sandra langsung memutar otak untuk mencari tempat tujuan untuk mereka pacaran.
"Gimana kalau kita ke cafe yang enggak jauh dari komplek Bang? Kayanya beberapa kali aku kesana, suasanya asik banget. Enggak terlalu rame juga, pasti Abang suka. Abang kan enggak suka sama tempat yang terlalu rame." Jawab Sandra.
Tanpa menunggu lama, Daven langsung setuju dengan tempat yang ingin Sandra datangi sebagai tempat mereka pacaran. Karena menurut Daven, tempat itu tidak terlalu masalah. Yang penting dengan siapa kita pergi.
"Oke, kita kesana." Ujar Daven.
Dan disaat jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam, Daven dan Sandra keluar rumah untuk berpacaran. Sampai mereka pulang nanti, anak-anak akan mereka pasrahkan kepada baby sitter masing-masing.
Selesai makan siang tadi, Sandra dibuat terkejut, panik dan juga khawatir saat dia mendapatkan kabar dari Bunda Sya kalau Viola mengalami pendarahan dan harus di operasi karena baby harus segera di keluarkan.
Terlebih kata Bunda Sya juga, tadi Viola sempat mengalami masa kritis. Meskipun alhamdulillahnya saat ini kondisi Viola sudah stabil. Meski begitu, pasca operasi caesar yang dilakukan, Viola belum juga sadar.
Awalnya Sandra akan ke rumah sakit saat itu juga. Tapi saat dia meminta izin kepada Daven, suaminya itu mengatakan untuk menunggu dirinya. Karena Daven juga hendak ke rumah sakit juga.
Drrtt... drrtt...
Ponsel Sandra bergetar kembali tanda ada panggilan masuk. Kali ini ternyata sebuah telfon dari Aleera.
"Halo Ly..."
"Halo San, Bunda udah kasih tau kamu soal kabar Kak Vio belum?" Tanya Aleera langsung pada intinya.
"Iya, tadi Bunda baru aja telfon aku, Ly." Jawab Sandra.
"Ehmm kamu mau ke rumah sakit sekarang atau gimana San? Kalau iya kita bareng, aku juga mau kesana. Kebetulan Bang Kendra juga ada disana." Ujar Aleera.
Dan karena itulah setelah ashar Sandra dan Daven menjemput Aleera ke rumahnya untuk pergi ke rumah sakit bersama.
Sesampainya di rumah sakit, Sandra dan Aleera dibuat sedih karena kondisi Viola yang terlihat cukup memprihatinkan dengan selang oksigen yang ada dihidungnya.
Tapi kata Bunda Sya, kondisi Viola saat ini sudah sangat baik. Kalau menurut perkiraan Dokter Susan, Viola akan sadar dalam waktu 2x24 jam.
Kini Daven ikut menemani Rendra ke ruang bayi bersama dengan Ayah Radit. Baru Daven tau kalau ternyata Rendra sempat mengabaikan putrinya, dan ini adalah kali pertama Rendra melihat putrinya sejak dilahirkan beberapa jam yang lalu.
Apa yang terjadi kepada Rendra pernah terjadi juga kepada Daven. Dan ya, Daven tau persis bagaimana rasanya. Kini Daven berdoa agar Viola benar-benar selamat. Karena kalau sampai terjadi sesuatu kepada Viola, Daven sangat yakin kalau Rendra akan menjadi seperti dirinya yang dulu.
Karena nyatanya kehilangan seseorang yang sangat kita cintai bukanlah suatu hal yang mudah. Butuh waktu panjang dan perjuangan yang besar untuk kita bisa bangkit kembali. Dan Daven sangat bersyukur karena Tuhan mengirimkan Sandra kepada dirinya. Bukan sebagai pengganti Larisa, melainkan sebagai penyembuh dirinya agar bisa mengikhlaskan Larisa. Karena biar bagaimana pun, sampai kapan pun Larisa akan tetap ada didalam hati Daven. Meskipun posisinya Daven letakkan pada bagian hati yang paling dalam.
Sementara posisi Sandra, dia berada didalam hati Daven yang tidak tersembunyi. Karena Daven akan selalu menunjukkan kepada Sandra kalau dia sangat mencintai wanita itu. Daven butuh Sandra sebagai pasangan, obat, dan juga penguat untuk dirinya.
Tanpa kata, Daven menepuk bahu Rendra pelan sebagai bentuk kalau dia memberikan semangat untuk kakak iparnya itu.