Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Tunggu 2 tahun


Disaat Rendra sudah diperbolehkan untuk pulang, Sandra masih harus stay di rumah sakit karena Daven ingin agar Sandra sudah benar-benar sehat saat pulang ke rumah. Dan kebetulan sekali Sandra juga betah-betah saja berada di rumah sakit. Selain karena ada Saga dan Dewa, ada juga Aileen yang selalu menemani dirinya setelah pulang sekolah.


“Abang, laper…” Ujar Sandra kepada Daven.


Daven yang sedang menggendong Dewa menoleh kearah Sandra.


“Mau pesen makanan?” Tanya Daven kepada Sandra.


Mendengar ucapan Daven, Sandra langsung tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Seperti biasa, Daven memang selalu mengertikan Sandra.


“Iya mau…” Jawab Sandra dengan semangat.


Padahal baru sekitar 2 jam yang lalau Sandra sarapan. Tidak hanya sarapan dengan makanan dari rumah sakit saja yang Sandra makan. Karena Sandra juga memakan makanan yang Bunda Sya bawakan.


“Ya udah pesen aja itu pakai HP aku.” Ujar Daven. “Aku nidurin Dewa dulu.” Tambahnya lagi.


Berbeda dengan Saga yang sudah tertidur dengan pulas setelah tadi menyusu, Dewa masih belum juga tidur. Padahal terlihat dengan jelas kalau Dewa sudah sangat mengantuk. Tapi entah kenapa bayi tampan itu masih bersikeras untuk membuka matanya. Mungkin masih ingin main bersama dengan Daddy-nya.


“Aku boleh pakai HP Bang Cio?” Tanya Sandra kepada Daven.


Daven yang mendengar itu mengerutkan dahinya.


“Ya boleh sayang. Pakai aja, kamu kan juga tau password HP aku. Kamu bebas pakai HP aku buat apa aja.” Jawab Daven.


Benar, selama ini Sandra memang tidak pernah membuka-buka ponsel milik Daven. Memang iya Sandra mengetahui passwor ponsel suaminya ini. Bahkan tidak hanya password ponsel saja, pin ATM, password m-banking, dan segala password yang Daven miliki, dia memberitahukannya kepada Sandra. Tapi Sandra merasa kalau dia tidak perlu membuka-buka ponsel Daven atau sebagainya. Selain karena Sandra memiliki ponsel sendiri, itu juga karena Sandra merasa kalau ponsel adalah bagian dari privasi Daven yang tidak perlu dia ketahui.


Sandra mengambil ponsel milik Daven yang tergeletak diatas meja dengan ragu. Pasalnya ini akan menjadi kali pertama Sandra membuka ponsel milik Daven. Sementara itu, Daven bisa melihat dengan jelas bagaimana Sandra terlihat ragu.


“Enggak papa, di HP aku juga enggak ada apa-apanya kok.” Ujar Daven. “Kalaupun ada sesuatu yang bikin kamu penasaran ya tinggal dibuka aja.” Tambahnya lagi.


Sandra tersenyum, kemudian mulai membuka ponsel milik Daven. Hal itu tidak luput dari perhatian Daven. Entah kenapa melihat Sandra yang mulai mau membuka ponsel miliknya membuat Daven merasa bahagia. Sungguh, Daven ingin Sandra mengetahui apapun tentang dirinya. Agar Sandra tau kalau dia memang tidak menyembunyikan apapun dari wanita itu. Setelah masalahnya dengan Sandra selesai, Daven memang sangat terbuka kepada istrinya ini. Daven merasa tidak ada yang perlu dia sembunyikan dari Sandra.


“Sama pesen es krim boleh enggak Bang?” Tanya Sandra kepada Daven.


Daven menganggukkan kepala tanda memperbolehkan Sandra untuk membeli es krim. Lagi pula kata dokter tidak masalah kalau Sandra mau minum es atau makan makanan pedas asal tidak berlebihan. Karena itu semua tidak membuat proses pemulihan Sandra menjadi terganggu.


Sandra tersenyum, dengan segera dia langsung memesan es krim juga. Meskipun twins sudah lahir, nyatanya es krim tetap menjadi salah satu makanan favorit Sandra.


“Bang Cio mau pesen sesuatu juga apa enggak?” Tanya Sandra kepada Daven.


Daven menggelengkan kepalanya.


“Enggak, aku masih kenyang kok.” Jawab Daven.


Baiklah, setidaknya Sandra sudah menawari Daven. Kalau Daven tidak mau ya Sandra pesan untuk dirinya sendiri.


Btw tadi Sandra meminta izin Daven untuk beli es krim kan? Nyatanya yang Sandra beli bukan hanya itu. Sandra juga membeli cireng isi ayam, bakso, takoyaki, dan boba. Banyak kan? Iya memang banyak.


Selesai memesan, Sandra langsung memberikan ponsel itu kepada Daven lagi. Sementara Daven dia tidak mengecek kembali pesanan milik Sandra dan langsung menyimpan ponselnya di meja.


“Loh ini Dewa belum bobok juga? Itu Abangnya udah bobok dari tadi loh nak.” Ujar Sandra kepada Dewa yang ada didalam gendongan Daven.


“Iya nih, padahal keliatan udah ngantuk. Tapi enggak mau bobok juga.” Jawab Daven.


Karena sudah sejak tadi Daven menggendong Dewa, akhirnya Sandra yang mengambil alih Dewa dari gendongan Daven. Lagi pula Daven pasti sudah lelah juga. Sandra juga berinisiatif untuk menyusui Dewa lagi, karena mungkin alasan Dewa belum juga tidur karena Dewa belum kenyang.


“Kenapa Bang, kok liatinnya gitu sih?” Tanya Sandra kepada Daven.


Bagaimana tidak, Daven menatap Dewa yang sedang menyusu dengan tatapan yang cukup intens. Kan Sandra jadi merasa malu karena ditatap seperti itu. Secara tatapan Daven tertuju pada ***********.


“Pengen.” Jawab Daven santai.


Mendengar jawaban Daven, seketika mata Sandra langsung membesar. Pengen? Maksudnya apa? Davan pengen nyusu juga seperti Dewa?


“Apa? Pengen apa?” Tanya Sandra.


Daven tersenyum smirk.


“Ya pengen kaya Dewa. Sebelum ada Saga sama Dewa, itu kan punya aku.” Jawab Daven.


Nah kan, tebakan Sandra benar. Yang Daven maksud memang 2 aset miliknya ini.


Kali ini Sandra ikut tersenyum.


“Sabar ya, untuk 2 tahu kedepan ini jadi punya Saga dan Dewa dulu. Abang harus ngalah sama anak-anak." Ujar Sandra.


Daven menghela nafas pelan. Ya mau gimana lagi, memang nyatanya seperti itu kan? Lagi pula Daven yakin tidak sampai 2 tahun kok. Pasti Saga dan Dewa mau berbagi dengan Daddy-nya.