
Daven meraba sisi kanan ranjang yang mendadak terasa kosong. Merasa tidak menemukan adanya Sandra disampingnya, Daven dengan segera langsung membuka matanya. Dan betapa terkejut Daven saat dia tidak mendapati Sandra ada disana. Hanya ada Aileen yang masih tertidur dengan sangat pulas.
Tidak ingin membuat Aileen sampai bangun, Daven dengan perlahan beranjak dari ranjang. Kemudian memasang guling disamping Aileen agar putrinya itu tidak terjatuh. Lagi pula ranjang Sandra memiliki ukuran yang besar, jadi semoga saja tidak membuat Aileen sampai jatuh.
Hal pertama yang Daven lakukan adalah mencari Sandra di kamar mandi. Namun seperti dugaan, Daven tidak menemukan Sandra disana. Dan itu membuat jantung Daven terasa tidak karuan. Pikiran-pikiran buruk lagi-lagi bermunculan di kepala Daven.
Daven takut kalau Sandra pergi meninggalkan dirinya. Daven seolah lupa kalau saat ini dia sedang ada di rumah Ayah Radit. Yang mana tidak mungkin Sandra pergi dari sini.
Dengan segera Daven langsung keluar kamar. Mungkin apa yang Daven lakukan ini tidak sopan, tapi Daven dengan nekat membuka satu persatu kamar untuk memastikan kalau Sandra tidak tidur disalah satu kamar itu. Semua kamar sudah Daven buka, dan tidak ada Sandra didalam sana. Sepertinya Sandra juga tidak tidur disana, karena kasur dan seprei terlihat sangat rapi.
Dengan segera Daven langsung turun ke bawah. Dengan harapan Daven akan menemukan Sandra di dapur atau dimanapun. Karena yang terpenting Daven bisa menemukan Sandra. Dan nyatanya Daven tidak menemukan Sandra ada di dapur, ruang makan, bahkan di ruang keluarga.
Sampai tiba-tiba...
Daven mendengar suara pintu yang ditutup.
Dengan segera Daven menuju ke sumber suara. Sekarang Daven bisa melihat dengan jelas Sandra yang saat ini sedang berjalan dengan senyum cerah dibibirnya.
"Sandra..." Daven langsung memanggil Sandra.
Membuat Sandra seketika menoleh kearah Daven.
"Eeh... Bang Cio kenapa bangun?" Tanya Sandra kepada Daven.
Harusnya Daven yang bertanya seperti itu. Tapi ini justru malah kebalikannya.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu, San. Kamu dari luar habis ngapain?" Tanya Daven kepada Sandra.
Daven sangat berusaha menahan diri untuk tidak memberondong Sandra dengan berbagai pertanyaan karena wanita itu sudah membuat dirinya cemas setengah mati.
Sandra terdiam beberapa saat. Sebenarnya Sandra tidak ingin memberitahu Daven. Tapi mau bagaimana lagi, Sandra tidak memiliki alasan lain.
"Aku... Aku habis dari luar ambil pesanan." Jawab Sandra jujur.
Dan itu membuat Daven seketika langsung mengerutkan dahinya.
"Pesanan? Pesanan apa jam setengah 2 seperti ini?" Tanya Daven tidak percaya.
Sandra mengangkat kantung kresek yang ada ditangannya.
"Pesanan nasi padang, Bang." Jawab Sandra seraya menundukkan kepalanya.
Kali ini ganti Daven yang terdiam. Matanya menatap lurus kantung yang ada ditangan Sandra. Sekarang Daven tau apa yang sedang terjadi dengan Sandra. Benar, Sandra sedang ngidam.
Daven menghampiri Sandra, kemudian memeluk tubuh Sandra.
"Baby pengen makan nasi Padang ya." Ucap Daven dengan dengan lembut.
Sandra pikir Daven akan memarahi dirinya. Tapi ternyata tidak, Daven justru memeluknya.
"Iya, tiba-tiba aja pengen banget makan nasi padang." Jawab Sandra.
Daven melepaskan pelukannya.
"Ya udah, ayo makan dulu. Aku temenin." Ujar Daven.
Daven menggandeng tangan Sandra menuju ruang makan. Dengan sigap Daven menghidupkan lampunya. Menarik salah satu kursi dan menuntun Sandra untuk duduk.
"Mau pakai sendok atau pakai tangan aja?" Tanya Daven kepada Sandra.
"Pakai tangan aja, Bang." Jawab Sandra.
Daven menganggukkan kepalanya. Kemudian mengambilkan piring untuk dijadikan alas nasi padang Sandra. Karena kalau tidak memakai piring, meja bisa kotor oleh minyak-minyak yang meresap di kertasnya.
Sementara itu, Sandra hanya menatap Daven dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kok diam? Makan Sandra. Tadi katanya pengen makan nasi padang." Ucap Daven dengan nada lembutnya.
Sandra tersenyum, kemudian mulai makan setelah sebelumnya berdoa terlebih dahulu. Daven yang melihat itu juga ikut tersenyum.
Sampai setelah beberapa suap, Sandra menoleh kearah Daven.
Daven menggelengkan kepalanya.
"Enggak, buat kamu aja." Jawab Daven.
"Cobain dulu deh, enak banget loh. Ini aku juga pasti nggak bakal habis kalau makan sendiri, soalnya porsinya banyak banget." Ujar Sandra.
Sandra menyuapkan nasi padang-nya kepada Daven. Yang membuat Daven mau tidak mau membuka mulutnya menerima suapan dari Sandra.
"Gimana? Enak kan Bang?" Tanya Sandra kepada Daven.
Daven menganggukkan kepalanya.
"Iya, enak kok." Jawab Daven.
Bagi Daven, apapun yang Sandra suapkan untuknya, rasanya akan semakin enak. Benar, Daven tidak berbohong. Selama ini, Daven selalu menikmati makanan yang Sandra suapkan untuk dirinya. Bahkan dalam kondisi tidak mood makan saja, kalau Sandra yang menyuapi, maka Daven akan makan dengan lahap.
Dan saat ini, Sandra makan sembari menyuapi Daven juga. Sampai akhirnya satu porsi nasi padang berhasil mereka habiskan hanya dalam waktu sebentar. Tapi meski begitu, Sandra tetap kenyang kok.
Dan tanpa Daven juga Sandra ketahui, ternyata saat ini ada Ayah Radit dan Bunda Sya yang sejak tadi melihat kebersamaan itu. Dan ya, itu membuat Ayah Radit dan Bunda Sya menjadi sangat lega sekaligus bahagia. Setidaknya keputusan mereka memberikan Daven kesempatan kedua sudah benar.
Sembari menunggu nasi didalam perut turun, Daven dan Sandra memilih untuk tetap duduk di ruang makan. Tidak ada obrolan diantara keduanya. Sandra sendiri bingung harus membahas apa dengan Daven. Sementara Daven, sebenarnya banyak hal yang ingin dia katakan kepada Sandra. Hanya saja Daven sedang memilih kata yang tepat agar dia tidak sampai menyakiti Sandra.
Sampai akhirnya...
"Kenapa tadi nggak bangunin dan kasih tau aku kalau kamu pengen makan nasi padang San?" Tanya Daven kepada Sandra.
Kecewa? Kalau Daven boleh jujur, sebenarnya iya. Rasanya Daven bahkan ingin sekali marah, tapi Daven tidak ingin seperti itu. Daven ingin mendengarkan penjelasan Sandra terlebih.
Sandra terdiam sejenak.
"Tadinya aku mau bangunin Bang Cio, tapi aku lihat Bang Cio nyenyak banget tidurnya. Aku jadi nggak tega buat bangunin Bang Cio. Apalagi besok Abang harus bangun pagi dan kerja." Jawab Sandra jujur.
Jawaban Sandra ini menandakan kalau wanita itu masih membatasi diri dengan Daven. Sandra belum sepenuhnya kembali menjadi Sandra yang sebelumnya.
"Lain kali, mau kamu pikir aku capek banget, kalau kamu pengen makan sesuatu, kamu kasih tau aku ya? Aku malah seneng kalau tengah malam seperti ini kami bangunin aku buat menuhin keinginan kamu. Kamu jangan pernah merasa nggak enak atau apapun itu. Karena... Aku suami kamu kan? Jadi tidak apa-apa kalau kamu mau bergantung sama aku." Ujar Daven.
Daven sebisa mungkin berbicara selembut yang dia bisa, karena dia benar-benar tidak ingin menyakiti Sandra.
Mendengar itu, Sandra hanya menganggukkan kepala.
"Janji?" Ujar Daven seraya mengangkat jari kelingkingnya.
Sandra tersenyum, kemudian menautkan jari kelingkingnya di kelingking Daven.
"Iya janji." Jawab Sandra.