Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Jangan memberi harapan


Entah berapa banyak dan juga sebesar apa kesabaran yang Sandra miliki. Tetap saja setelah kejadian beberapa hari yang lalu dimana Sandra dan Daven melakukan pembahasan mengenai masalah anak, kini mereka tetap terlihat biasa saja. Seolah pembahasan itu tidak pernah terjadi diantara mereka.


Sandra yang sebenarnya ingin segera menyelesaikan masalah itu memutuskan untuk berhenti sejenak. Hal ini agar Sandra tidak membuat Daven terlalu tertekan. Karena Sandra sangat tau bagaimana tidak suka dan tidak nyamannya Daven saat mereka membahas masalah itu.



Weekend ini Sandra, Daven dan juga Aileen menginap di rumah keluarga Santoso. Seperti biasa, disana ada Kendra, Aleera dan juga anak-anak mereka. Hanya saja weekend ini tidak ada Rendra, karena saat ini laki-laki itu sedang ada projek di Bali.



Bunda Sya dan Ayah Radit tentu saja sangat bahagia dengan kedatangan anak-anak dan cucu-cucunya. Rumah yang selalu sepi mendadak ramai dengan suara celotehan anak-anak kecil.



Setiap mengingat sekarang rumah menjadi sepi sejak anak-anaknya menikah, Bunda Sya jadi menyesal dulu tidak memiliki banyak anak. Harusnya paling tidak Bunda Sya ingin punya anak paling sedikit 6. Tapi mau bagaimana lagi, karena insiden keguguran di kehamilan ke 3-nya dulu, Ayah Radit menjadi trauma dan membuat sebuah keputusan untuk menjalani operasi vasektomi karena tidak ingin membuat Bunda Sya hamil lagi. Jadi setelah itu tidak ada lagi kesempatan untuk Bunda Sya bisa hamil lagi.



"Nah kalau gini kan rumah jadi serasa hidup, rame ada suara anak-anak. Setiap hari Bunda kesepian tau dirumah sendiri. Mas Rendra sekarang lebih sering tinggal di apartemen dari pada di rumah, udah gitu dia sibuk kerja terus. Apalagi kalau lagi ada projek di luar kota, bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu Mas Rendra nggak pulang." Bunda Sya mengeluarkan isi hatinya kepada suami dan anak-anaknya.



Aleera dan Sandra tersenyum mendengar curhatan Bunda Sya. Ayah Radit, Kendra, dan Daven hanya tersenyum tipis.



"Emang paling bener dulu buatin adek lagi buat aku, Bun." Ujar Sandra dengan tawa kecilnya. Dulu Sandra selalu merengek kepada Bunda Sya dan Ayah Radit ingin memiliki adik. Tapi sampai usianya sekarang ini, permintaan itu tidak terkabulkan. Dan sekarang Sandra sudah tau apa penyebabnya Bunda Sya dan Ayah Radit tidak memberinya adik.



"Itu tuh Ayah..." Ujar Bunda Sya.



Ayah Radit hanya menanggapi santai dengan mengangkat kedua bahunya. Bagi Ayah Radit tidak apa-apa jika Allah SWT tidak menghadirkan anak lagi untuknya. Kehadiran Kendra, Rendra dan Sandra sudah lebih dari cukup. Ayah Radit tidak ingin Bunda Sya mempertaruhkan nyawanya lagi demi seorang anak. Mungkin agak sedikit lebay, tapi Ayah Radit tidak akan sanggup jika dia sampai kehilangan Bunda Sya lebih dulu. Dalam doa-doa yang Ayah Radit panjatkan, Ayah Radit selalu meminta agar dia yang lebih dulu meninggal daripada istrinya. Ayah Radit yakin kalau Bunda Sya masih bisa bertahan hidup jika tanpa dirinya disampingnya, tapi tidak dengan Ayah Radit. Jika Bunda Sya meninggalkan dirinya lebih dulu, Ayah Radit benar-benar akan menjadi seperti orang yang hilang arah.



Setelahnya pembicaraan beralih ke topik yang lain. Dan tiba-tiba, Bunda Sya bertanya sesuatu kepada Sandra. Pertanyaan yang tidak pernah Sandra pikirkan sebelumnya kalau akan Bunda Sya tanyakan.



"Adek, Bunda mau tanya sesuatu sama adek. Bukan maksud apa-apa Bunda bertanya seperti ini. Jadi Bunda mohon adek jangan tersinggung ya." Ujar Bunda Sya.



Semua yang mendengar ucapan Bunda Sya, seketika memusatkan perhatian kepada wanita berusia hampir paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu. Terutama Sandra dan Daven. Meskipun Sandra yang akan ditanya, tapi Daven merasa kalau ini pasti akan berkaitan dengan dirinya.



"Apa, Bunda mau tanya apa sama adek?" Jawab Sandra berusaha untuk tetap santai.




Sebelumnya memang tidak pernah ada pembicaraan seperti ini. Sebelumnya Bunda Sya beranggapan kalau pernikahan Sandra dan Daven masih terlalu dini untuk ditanyai mengenai hal ini. Tapi sekarang pernikahan Sandra dan Daven sudah 1 tahun. Usia pernikahannya hampir sama dengan saat Aleera hamil baby Arzan. Dan sekarang Bunda Sya hanya sedang penasaran saja, karena jujur saja Bunda Sya sudah ingin menggendong cucu dari Sandra. Tapi meski begitu, Bunda Sya tidak akan memaksa Sandra untuk segera memiliki anak. Menurut Bunda Sya, anak adalah anugerah dari Allah SWT yang kedatangannya biasanya tidak dapat diprediksi.



"Iya, Bun. Adek nunda buat punya momongan." Jawab Sandra jujur.



Semua hanya diam mendengar jawaban Sandra. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini.



Beberapa detik setelah keheningan, Daven tiba-tiba mengeluarkan suaranya.


"Ini karena aku yang minta Bun. Kita masih ingin menikmati momen-momen bertiga dulu bersama Aileen. Tapi Bunda tenang saja, dalam waktu dekat inshaAllah aku dan Sandra akan segera kasih Bunda cucu." Ujar Daven.



Sandra seketika menoleh kearah Daven dengan tatapan terkejut. Dan yang menangkap reaksi itu adalah Aleera. Aleera sendiri memang sudah tau kan alasan dibalik Sandra dan Daven menunda untuk memiliki anak.



Bunda Sya tersenyum.


"Enggak papa, kalian santai saja. Bunda enggak maksa kalian buat cepet-cepet punya anak kok. Karena biar bagaimanapun anak adalah anugerah dari Allah SWT. Bunda yakin keputusan kalian untuk menunda punya momongan adalah keputusan yang sebelumnya sudah direncanakan dengan matang dan banyak pertimbangan. Tidak apa-apa, maaf ya kalau pertanyaan Bunda buat adek sama Daven jadi nggak nyaman. Bunda sama sekali nggak bermaksud bikin kalian merasa seperti itu." Ujar Bunda Sya denr lembut.



Sementara itu, Ayah Radit dan Kendra diam-diam menatap Sandra dan Daven dengan pandangan menyelidik. Sepertinya Ayah Radit dan Kendra mulai merasakan adanya ketidakberesan dalam rumah tangga Sandra dan Daven. Sebagai sesama laki-laki, Ayah Radit dan Kendra seolah tau kalau ada yang sedang Daven sembunyikan dari mereka.



"Iya Bunda, adek tau kok. Adek minta doanya aja ya, biar adek bisa cepet-cepet kasih Bunda sama Ayah cucu." Jawab Sandra.



"Bunda pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk adek dan pastinya untuk semuanya." Ujar Bunda Sya.



Kini Sandra dan Daven tengah duduk berdua ditaman belakang rumah keluarga Santoso. Tadi Daven berkata izin kepada yang lain kalau dia ingin keluar untuk mencari angin. Dan Sandra juga izin untuk menyusul suaminya itu.


"Bang Cio kenapa tadi bilang kaya gitu? Jangan bikin Bunda berharap kalau nyatanya kita nggak bisa menuhin keinginan Bunda. Kan Abang sendiri yang bilang kalau Abang tidak ingin aku hamil." Ujar Sandra dengan suara lirih.


Mendengar ucapan Sandra, seperti biasa yang Daven lakukan hanya diam tanpa menjawab sepatah kata pun.