
Daven baru saja menyelesaikan pekerjaannya saat jam menunjukkan pukul 10 malam. Saat Daven melihat ke ranjang, tidak Daven temukan Sandra disana. Tentu saja, karena tadi Sandra sudah bilang kepada Daven kalau istrinya itu mau menidurkan Aileen terlebih dahulu.
Kini tatapan Daven tertuju pada layar yang menampilkan cc tv di kamar Aileen. Benar sekali, setelah Sandra mulai tidur dikamar Daven, mereka berdua sepakat untuk memasang kamera cc tv di kamar Aileen. Hal ini juga merupakan rekomendasi dari Aleera agar Sandra dan Daven bisa dengan mudah memantau keadaan Aileen jika sedang tidur sendiri. Dan kini pada layar menampilkan gambar dimana bukan hanya Aileen saja yang saat ini sudah tidur, melainkan ada Sandra juga yang ternyata sudah memejamkan matanya.
"Ditungguin di kamar ternyata malah ikut tidur sama Aileen." Gumam Daven dengan senyum yang tersungging pada bibirnya.
Dengan segera Daven beranjak dari sofa dan berjalan keluar kamar. Tentu tujuannya adalah kamar Aileen.
Seperti gambar pada layar, Sandra dan Aileen memang sama-sama sudah tidur. Setelah memberikan beberapa kecupan dan juga mengucapkan selamat malam kepada Aileen, kini Daven beralih pada Sandra. Dengan perlahan Daven menyingkap selimut yang menutupi Sandra. Dan dengan perlahan pula Daven mengangkat tubuh Sandra dari ranjang itu.
Benar, Daven akan menggendong Sandra dan membawanya ke kamar. Dan ya, Daven bisa dengan mudah menggendong tubuh ramping Sandra tanpa adanya sebuah kendala. Karena tubuh Sandra memang cukup ringan untuk seorang Daven.
"Abang..." Ucap Sandra dengan suara serak khas orang baru bangun tidur yang masih mengantuk.
Sandra terbangun dari tidurnya tentu bukan tanpa alasan. Bagaimana Sandra tidak bangun coba? Sedangkan saat ini Daven sedang asik mengendus- ngendus leher Sandra. Rasa hangat sekaligus geli yang ditimbulkan membuat tidur Sandra terganggu dan akhirnya terbangun.
"Akhirnya bangun juga." Bisik Daven lirih ditelinga Sandra.
Daven berhenti melakukan apa yang sejak tadi dia lakukan. Kini Daven dengan lembut mengubah posisi Sandra menjadi menghadap kearahnya.
"Ada apa? Bang Cio butuh sesuatu?" Tanya Sandra kepada Daven.
Daven langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku butuh sesuatu." Jawab Daven.
Sandra sama sekali tidak berpikir kalau yang Daven butuhkan adalah sesuatu yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Sandra saat ini.
"Abang butuh apa? Perlu aku cariin atau aku ambilin mungkin?"
Kali ini Daven menggelengkan kepalanya. Sampai akhirnya...
"Aku butuh kamu." Jawab Daven dengan sebuah senyum dibibirnya.
Kalau saja Daven tidak menjawab seperti itu, Sandra mungkin tidak akan sadar dengan arti tatapan Daven saat ini karena dia memang masih mengantuk. Tapi sekarang Sandra paham, karena bukan sekali atau 2 kali saja Daven menatap Sandra seperti ini. Setiap Daven menginginkan dirinya, Sandra selalu melihat tatapan ini dimata Daven.
"Boleh?" Tanya Daven memastikan.
Ya, seperti inilah Daven sekarang. Kalau dulu Daven hampir tidak pernah mau menyentuh Sandra, sekarang sangatlah berbeda. Karena jika Sandra ada di dekatnya dan Daven tidak melakukan apa-apa, entah kenapa Daven selalu merasa ada yang kurang. Daven merasa dia butuh untuk menyentuh Sandra jika mereka sedang berdua saja seperti ini. Oke, katakan saja Daven mesum atau sebagainya. Tapi Daven memang sudah mengakui kalau dirinya mesum bukan?
"Boleh." Jawab Sandra lirih.
Dengan Daven mau menyentuh dirinya, ini menjadi sebuah kebahagiaan untuk Sandra. Jadi, Sandra tidak akan mungkin menolaknya. Karena Sandra juga menyukai sentuhan Daven pada dirinya.
Setelah mendapatkan izin, tentu saja Daven tidak akan menyia-nyiakan waktunya. Dengan segera Daven mulai menyentuh Sandra kembali sembari melucuti satu persatu pakaian yang mereka gunakan.
Setelah percintaan panas yang terjadi antara Sandra dan Daven, kini keduanya berbaring dengan posisi saling berpelukan. Tangan Daven dengan lembut mengusap-usap punggung polos milik Sandra.
"Bang Cio, sebenarnya ada sesuatu yang pengen aku tanyain ke Abang. Tapi... Abang jangan marah ya, atau kalau Abang nggak mau jawab, juga nggak papa nggak usah dijawab." Ujar Sandra kepada Daven.
"Mau tanya apa?" Jawab Daven dengan suara datar andalannya.
Sudah pernah Sandra katakan agar kita jangan berharap Daven akan merubah sifat datarnya itu bukan? Karena memang sifat datar atau apapun itu yang datar-datar sudah sangat melekat pada diri seorang Daven.
"Kenapa Bang Cio nggak pengen aku hamil? Dan juga alasan kenapa Abang nggak pengen punya anak lagi selain Aileen?"
Pertanyaan yang Sandra ajukan ini membuat tubuh Daven langsung terasa tegang dan kaku. Harusnya Daven menjawab pertanyaan yang Sandra ajukan agar permasalahan menemui titik terang dan juga menemukan solusi jika memang dibutuhkan. Tapi ternyata...
"Aku nggak mau jawab pertanyaan itu." Jawab Daven dengan suara yang semakin datar.
Jujur saja mood Daven seketika menjadi sangat berantakan setelah mendengar pertanyaan yang Sandra ajukan.
"Oo, oke." Ujar Sandra sok santai.
Padahal dalam hati Sandra sangat kecewa karena Daven tidak menjawab pertanyaan ini. Karena sejujurnya Sandra sangat membutuhkannya. Sandra ingin tau sebenarnya apa alasan Daven sangat tidak ingin dirinya hamil dan memiliki anak.
Karena dengan Daven tidak menjawab pertanyaannya, ini justru membuat Sandra semakin berpikir yang tidak-tidak.
"Jangan bahas ini Sandra, dan apapun yang kamu pikirkan. Aku pastikan bukan itu alasannya." Ujar Daven seolah tau apa yang sedang Sandra pikirkan saat ini. " Sejujurnya aku pun ingin memiliki anak dari kamu Sandra... Tapi, tidak bisa. Aku tidak mau membuat kamu hamil." Sambung Daven dalam hati.
"Oke, setelah ini aku nggak akan bahas masalah ini lagi. Tapi, ada pertanyaan yang harus Bang Cio jawab, pokoknya harus." Ujar Sandra.
"Kamu mau tanya apa?"
Setelah terdiam beberapa saat.
"Seperti yang Bang Cio tau, ada sebuah quotes yang berbunyi bahwa manusia hanya bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan. Disini kita sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan pencegahan agar aku tidak hamil dengan menggunakan alat kontrasepsi. Tapi, andai... andai ternyata tiba-tiba aku hamil. Apa yang akan Abang lakukan?" Tanya Sandra kepada Daven.
Lagi-lagi Daven terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari Sandra. Karena sejujurnya Daven tidak pernah berpikir kalau kemungkinan saja Sandra bisa tiba-tiba hamil meskipun sudah menggunakan alat kontrasepsi.
Melihat Daven yang hanya diam, Sandra tersenyum kecut.
"Abang nggak akan berpikir buat minta aku gugurin kan?" Tanya Sandra lagi.
Tapi tetap saja Sandra tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari bibir Daven. Hingga akhirnya membuat Sandra menyimpulkan bahwa kalau dirinya sampai hamil, Daven akan memintanya untuk melakukan aborsi.
Kenapa Sandra menyimpulkan seperti itu? Karena Daven sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Daven memilih diam disaat jawabannya saja sangat mudah, hanya iya dan tidak. Dan sebagian orang yang memilih diam dari pada harus menjawab, kebanyakan mereka memiliki jawaban iya.
"Ya udah lupain aja. Aku janji nggak akan tanya-tanya masalah ini lagi." Ucap Sandra sebelum akhirnya mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Daven.