Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Bukan pamer!


Hari ini keluarga Santoso sedang melangsungkan acara aqiqah untuk Saga, Dewa, dan juga Arora. Sebelum kelahiran si kembar dan Arora, Sandra dan Aleera memang sudah sepakat untuk melakukan acara aqiqah bersama. Mengingat jarak mereka melahirkan juga tidak berbeda jauh. Dan ya, keluarga setuju dengan rencana Sandra dan Aleera.


Acara aqiqah juga berlangsung dengan hikmad. Selama acara berlangsung anak-anak tampak tidur dengan nyaman di gendongan orang tuanya. Yang lain, yakni Aidan, Ariel, Arzan, dan Aileen, mereka juga tidak rewel sedikitpun. Mereka tampak menikmati acara aqiqah dari adik-adik mereka. Mengingat ini masih pagi, jadi suasana juga masih sangat nyaman.


Semua orang juga ada disini, bahkan Davian dan Della juga membawa pasangan mereka masing-masing, yakni Putri dan Marcel.


"Arora boboknya lucu banget sih, Ly." Ujar Sandra berbisik ditelinga Aleera.


Meski usianya masih 15 hari, tapi sudah tampak kalau besar kelak Arora akan tumbuh menjadi gadis cantik seperti Ariel.


Daven dan Kendra yang berada disamping istri mereka hanya tersenyum tipis mendengar pembicaraan keduanya.


Aleera tersenyum.


"Makasih Onty San." Jawab Aleera.


Berada ditengah-tengah antara Saga dan Dewa yang tubuhnya sudah lebih besar dibandingkan dengan Arora membuat bayi cantik itu terlihat semakin menggemaskan.


Tiba-tiba Bunda Sya menghampiri Sandra dan Aleera.


"Anak-anak dibawa naik aja enggak papa. Lagian acaranya juga sebentar lagi udah selesai kok. Biar mereka tidurnya juga bisa lebih nyaman." Ujar Bunda Sya.


Sandra dan Aleera menganggukkan kepalanya, kemudian memanggil baby sitter anak-anak mereka untuk membawanya ke kamar.



Menjelang dzuhur, acara aqiqah sudah selesai. Akhirnya kini Sandra dan yang lain bisa mengistirahatkan tubuh mereka. Kesempatan ini mereka gunakan untuk makan siang bersama. Karena jujur saja, larut dalam acara membuat mereka sampai tidak sempat makan. Bahkan anak-anak saat ini juga sudah masuk ke kamar masing-masing untuk tidur siang.



"Makan yang banyak Kak, biar baby-nya tambah sehat." Ujar Sandra kepada Viola.



Viola tersenyum.


"Kamu juga makan yang banyak San, biar ASI-nya semakin lancar." Jawab Viola.



Sandra tertawa kecil.


"Kalau itu udah pasti Kak, Kakak tau sendiri sekarang porsi makan aku sebanyak apa kan." Ujar Sandra.



Viola juga ikut tertawa, kemudian tatapannya beralih kepada Aleera yang tampak tersenyum mendengar obrolan mereka.


"Kamu juga jangan lupa makan yang banyak, Ly." Ujar Viola kepada Aleera.



Aleera tersenyum.


"Iya, Kak." Jawab Aleera.



Hubungan antara Aleera dan Viola juga sama dekatnya antara Sandra dan Viola. Hanya saja kan kita tau sendiri kalau Aleera tipe orang yang cukup pendiam, jadi terkesan tidak banyak bicara. Tapi sebenarnya kalau sudah dekat, Aleera adalah orang yang cukup asik juga kok.



Tiba-tiba Daven duduk disamping Sandra.


"Aku laper." Bisik Daven.



"Mau aku suapin?" Tanya Sandra kepada Daven.



Biasanya sudah dapat dipastikan kalau Daven akan menggelengkan kepalanya. Karena setau Sandra, Daven cukup malu kalau harus memperlihatkan kemesraan mereka dan juga sifat manjanya ini di depan keluarga.



Tapi ternyata dugaan Sandra salah, karena Daven justru menganggukkan kepalanya sesaat setelah Sandra menawarkan diri untuk menyuapi suaminya ini.


"Aaa..." Daven membuka mulutnya menunggu suapan dari Sandra.



Sandra sendiri agak terkejut memang. Tapi Sandra tidak bertanya apa-apa. Dengan senyum dibibirnya, Sandra menyuapi Daven.



Pemandangan itu tentu saja tidak luput dari perhatian anggota keluarga yang lain. Dan mereka sangat bahagia saat melihat Daven yang saat ini sudah tidak lagi malu memperlihatkan kemesraan antara dirinya dan Sandra. Karena biasanya pasangan yang satu ini memang hampir tidak pernah memperlihatkan kemesraan mereka. Paling-paling hanya cium kening, itu pun saat Daven hendak berangkat bekerja.



"Abang, aku mau tanya sesuatu deh sama Abang." Ujar Sandra kepada Daven.


Saat ini hari memang sudah malam, semua orang juga sudah masuk ke kamar masing-masing, tidak terkecuali dengan Sandra dan Daven.


Daven yang sedang menggendong Saga seketika menoleh kearah sang istri.


"Mau tanya apa?" Tanya Daven.


"Eemm... Tadi kok tumben banget sih Bang Cio mau aku suapin? Padahal tadi ada banyak orang loh. Biasanya kan kalau lagi ada banyak orang Abang paling enggak mau kalau kaya gitu." Ujar Sandra.


Daven tersenyum.


"Kaya gitu gimana maksudnya?" Tanya Daven berpura-pura tidak paham.


"Ya itu, umbar kemesraan." Jawab Sandra dengan wajah malu-malu.


Tidak langsung menjawab ucapan Sandra, Daven menatap Saga yang saat ini sudah tidur. Kemudian Daven berjalan kearah box bayi untuk menidurkan Saga di samping Dewa yang sudah terlelap sejak tadi.


Setelah memastikan Saga dan Dewa tidur dengan nyaman dan Daven juga sudah memberikan kecupan di kening mereka, Daven berjalan menghampiri Sandra yang saat ini sedang duduk diatas ranjang sembari menatap dirinya.


"Kamu tadi tanya kenapa tiba-tiba aku mau umbar kemesraan kita? Sebenarnya aku sama sekali enggak berniat buat pamer kalau kita itu mesra. Alasan pertama kenapa aku tadi mau kamu suapi, itu karena aku memang ingin. Dan alasan kedua..." Daven menjeda kalimatnya. " Itu sebagai sebuah bukti, bahwa hal sekecil apapun itu, aku selalu butuh kamu. Sebenarnya bisa saja aku makan sendiri, tapi aku maunya kamu, kamu harus tau bahwa aku selalu butuh kamu untuk selalu ada disamping aku."


Ya, bukan karena ingin pamer kemesraan atau agar orang lain tau sebesar apa cinta yang Daven miliki untuk Sandra. Apa yang Daven lakukan semata-mata agar Sandra tau bahwa kehadiran Sandra sangat penting untuk dirinya. Tanpa Sandra, Daven merasa tidak berarti apa-apa. Katakanlah Daven lebay, tapi memang ini yang Daven rasakan sekarang.


Mendengar ucapan Daven, pipi Sandra seketika langsung merona. Ya siapa coba yang tidak meleleh mendengar kalimat yang baru saja Daven ucapkan. Kalau Sandra sih mengakui dirinya benar-benar meleleh mendengarnya.


"Iiih Abang, kan aku jadi geer." Ujar Sandra malu-malu.


Hal ini membuat Daven tertawa kecil, kemudian membawa Sandra masuk kedalam pelukannya.


"Meskipun aku jarang sekali ngomong begini, tapi percayalah, aku cinta sama kamu San." Bisik Daven ditelinga Sandra. "I love you, terima kasih sudah mau memberikan aku kesempatan ke 2 untuk bisa mendapatkan cinta besar dari kamu. Dan terima kasih karena kamu sudah mau menjadi ibu dari anak-anak aku."


Mendengar kalimat yang Daven ucapkan, Sandra langsung mengeratkan pelukan ditubuh sang suami.


"I love you too, Bang." Jawab Sandra.


Sandra tidak bisa mengatakan apa-apa selain menjawab kalimat cinta yang Daven ucapkan. Yang jelas saat ini Sandra merasa amat sangat bahagia.