
"Eddy..." Aileen langsung berteriak dengan heboh saat melihat kedatangan Daven.
Benar, saat ini Sandra sedang berada di Bandara untuk menjemput Daven setelah 3 hari berada di luar kota. Sebenarnya Daven sudah menolak untuk dijemput karena dia tidak ingin merepotkan Sandra. Tapi seperti biasa Sandra yang keras kepala tentu saja akan tetap melakukan apa yang dia inginkan. Sandra terus memaksa Daven untuk memberitahukan jadwal kepulangannya. Hingga akhirnya Daven memilih untuk menyerah dan memberitahukan kepada Sandra jam pesawatnya landing juga memberi izin Sandra untuk datang menjemputnya.
Daven tersenyum tipis, sangat tipis. Kemudian meraih Aileen kedalam gendongannya.
Seperti janji Daven kepada Sandra, kini Daven berusaha untuk menjadi ayah yang lebih baik untuk Aileen.
Sandra tersenyum menghampiri Daven, kemudian meraih tangan suaminya itu dan menciumnya. Ya, seperti yang dilakukan pasangan suami istri pada umumnya.
Sementara Daven sendiri, meskipun dia sedikit agak terkejut saat Sandra mencium tangannya, namun itu tidak berlangsung lama. Daven kembali memasang wajah santainya.
"Langsung pulang aja kan Bang?" Tanya Sandra kepada Daven.
Sandra pikir Daven pasti sedang lelah setelah perjalanan selama 2 jam dengan pesawat. Jadi Sandra mengusulkan untuk sebaiknya mereka langsung pulang saja. Tapi nyatanya Daven justru memiliki rencana lain. Dibandingkan langsung pulang ke rumah, Daven malah memilih untuk mengajak Sandra dan Aileen bertandang ke Mall.
"Kalau kita jalan-jalan di Mall dulu gimana? Aku pengen ajak Aileen main di time zone." Ujar Daven kepada Sandra.
"Emangnya Bang Cio nggak capek?" Tanya Sandra.
Daven menggelengkan kepalanya.
Jadi, sementara Daven, Sandra dan Aileen pergi ke Mall. Beni pulang lebih dulu menggunakan taksi.
"Aku aja yang bawa mobilnya, San." Ujar Daven saat melihat Sandra akan masuk ke mobil.
Sandra menoleh kearah Daven.
"Bang, Abang pasti capek loh. Aku aja ya yang bawa mobil. Jadi Abang bisa sambil istirahat." Sekali lagi Sandra menghawatirkan kondisi Daven. Meskipun Daven bilang tidak capek, Sandra tau kalau itu bohong.
"Aku udah bilang kalau aku enggak capek, Sandra." Daven masih kekeh ingin dia yang menyetir mobilnya.
Sementara Sandra yang keras kepala juga tidak mau mengalah.
"Nggak boleh, Abang duduk aja yang anteng sama Aileen." Jawab Sandra juga kekeh.
Tidak ingin berdebat, akhirnya Daven memutuskan untuk mengalah. Karena tidak dipungkiri kalau sebenarnya Daven memang capek. Hanya saja Daven ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Aileen dan juga Sandra setelah sebelumnya 3 hari lamanya mereka berjauhan.
Dan sejujurnya, baru kali ini Daven merasa sangat rindu kepada Aileen dan Sandra selama mereka berjauhan. Jadi, apa sudah bisa dikatakan kalau Daven mulai memiliki rasa kepada Sandra? Kita tidak akan pernah tau kalau Daven belum mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Sandra.
Tapi yang jelas, Daven sudah mulai menerima takdirnya. Daven tidak lagi menyalahkan Aileen atas kepergian Larisa. Daven sepenuhnya sadar, kalau Larisa meninggal karena memang sudah menjadi takdirnya.
Aileen begitu semangat begitu kakinya menginjak Mall. Suasana yang ramai dan terang, membuat Aileen terlihat begitu senang. Karena memang, tidak seperti Daven yang sebenarnya lebih menyukai kesunyian, Aileen sangat menyukai suasana ramai, seperti mendiang ibunya.
Aileen berlari kesana kemari dengan semangat. Membuat Sandra dan Daven benar-benar harus waspada dan tidak boleh lengah sedikitpun. Sandra sendiri tidak masalah, selama masih aman dan dalam pengawasan, Sandra membiarkan Aileen mengeksplor apapun yang balita cantik itu ingin ketahui.
Karena Daven tau, mengurus anak seusia Aileen yang sedang aktif-aktifnya pasti sangat melelahkan. Mereka harus mengikuti kemana saja langkah balita cantik pergi.
"Enggak, kan gantian biasanya gantian juga sama suster Ati." Jawab Sandra santai.
Selain itu, sebelum ada Aileen, Sandra sudah cukup berpengalaman mengurus Ariel dan Aidan. Sifat Ariel yang tidak berbeda jauh dengan Aileen membuat Sandra tidak terlalu kaget dengan keaktifan putri sambungnya itu. Tidak, bukan putri sambung, melainkan putrinya. Apapun itu, bagi Sandra, Aileen adalah putrinya.
"Sejujurnya untuk wanita seperti kamu yang belum pernah punya anak, kamu sangat hebat mengurus anak kecil, San." Untuk pertama kalinya Daven memberikan pujian kepada Sandra. "Aku yang merupakan Daddy nya saja terkadang kewalahan kalau harus mengurus Aileen sendiri." Tambah Daven.
"Enggak papa, wajar kok. Kan yang harus Abang urus bukan cuma Aileen. Banyak pekerjaan lain yang harus Abang urus dan juga pikirin. Kalau aku kan nggak terlalu banyak yang di urus. Jadi, menurut aku Abang juga hebat kok." Tidak mau kalah, Sandra juga balas memberikan pujian kepada Daven.
Dug... dug... dug...
Tanpa Sandra tau, jantung Daven berdetak dengan keras saat mendapatkan pujian dari Sandra.
Setelah lelah bermain, kini Daven membawa Sandra dan Aileen ke sebuah restoran untuk makan siang.
Awalnya Aileen terlihat menikmati makanannya, namun setelah makanan sudah habis separuh, Aileen mulai rewel dan merengek ingin digendong oleh Sandra.
"Aileen sama Daddy dulu ya, Bunda lagi maem sayang." Ujar Daven kepada Aileen.
Daven tentu saja merasa kasihan juga kepada Sandra. Tadi hampir 2 jam lamanya Sandra sibuk menemani Aileen bermain dan mengikutinya kesana kemari. Dan sekarang Aileen mulai rewel disaat Sandra sedang makan setelah tadi tenaganya terkuras cukup banyak.
Tadi apakah Daven tidak ikut menemani Aileen bermain? Tentu saja Daven ikut. Daven bahkan meminta Sandra untuk beristirahat selagi dirinya menemani Aileen. Tapi, Aileen sama sekali tidak ingin berjauhan dengan Sandra. Jadi meskipun Daven sudah menemani Aileen, Sandra juga tetap harus ikut.
Aileen memberontak saat Daven ingin mengambil alih dirinya dari gendongan Sandra.
"Udah nggak papa Bang, Aileen pasti udah ngantuk makanya jadi rewel kaya gini. Biar aku yang gendong aja, sebentar lagi dia juga pasti tidur." Ujar Sandra.
Terlihat Sandra sama sekali tidak kesal meskipun gara-gara Aileen kegiatan makannya jadi terganggu. Sandra justru dengan sabar menggendong Aileen sembari menepuk-nepuk dengan pelan pantatnya. Membuat Aileen yang memang sudah mengantuk langsung memejamkan matanya.
Daven hanya bisa menatap pemandangan itu dengan perasaan hangat. Semakin kesini Daven semakin merasa beruntung karena Sandra adalah istrinya. Daven sekarang setuju dengan ucapan Davian saat dia dan Sandra belum menikah. Kalau kita benar-benar membuka hati, maka untuk mencintai Sandra bukanlah hal yang sulit. Karena pada dasarnya Sandra merupakan wanita yang sangat mudah untuk dicintai.
Tapi, meski begitu Daven belum berani sesumbar dengan mengatakan bahwa saat ini dia sudah mencintai Sandra. Daven masih perlu meyakinkan diri bahwa dia memang mencintai Sandra. Dan disaat yang tepat nanti, Daven akan mengatakannya kepada Sandra.