Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Penggoda


Tidak terasa usia Saga dan Dewa sudah menginjak 3 bulan. Dan ketampanan diwajah mereka semakin hari tampak semakin terlihat. Kalau awal-awal terlihat Saga dan Dewa begitu mirip dengan Sandra, maka menginjak besar mereka berdua agak sedikit mulai mirio dengan Daven. Ya walaupun hanya sekedar mata saja yang mirip, tapi tidak apa-apa. Yang penting ada sedikit kemiripan diantara Saga dan Dewa dengan Daddy mereka.


Btw untuk sekarang Sandra dan Daven belum mulai pindah ke rumah mereka. Selain karena masih belum tega harus meninggalkan Bunda Sya dan Ayah Radit hanya berdua, kebetulan beberapa bagian rumah mereka juga sedang dalam tahap renovasi.


Karena sebelumnya kan design rumah memang dibuat khusus sesuai dengan keinginan Larisa. Daven pikir akan lebih baik kalau beberapa bagian dirubah agar sesuai dengan keinginan Sandra. Meskipun sebenarnya selama ini Sandra juga tidak pernah protes soal design rumah ini, entah kenapa Daven merasa perlu merubah beberapa bagian.


"Abang..." Panggil Sandra dengan suara lirih.


Daven yang saat ini sedang mengerjakan beberapa berkas seketika menoleh kearah Sandra yang sedang duduk diatas ranjang. Disamping Sandra ada Aileen yang saat ini sudah terlelap dengan nyenyak. Benar, malam ini Aileen tidur bersama dengan Sandra dan Daven. Saga dan Dewa? Kedua bayi itu juga sudah terlelap di dalam box mereka. Setelah sebelumnya Aileen mengajak mereka berdua bermain.


Daven meletakkan berkas yang tadi sedang dia baca, kemudian beranjak dan berjalan menghampiri Sandra.


"Kenapa? Udah ngantuk?" Tanya Daven kepada Sandra.


Sandra menganggukkan kepalanya.


"Iya, Abang belum selesai juga kerjanya? Udah malem loh, udah hampir jam setengah 10." Jawab Sandra.


Padahal Daven juga mulai bekerja sekitar jam setengah 9, saat anak-anaknya sudah mulai tidur. Karena tadi Daven juga ikut bermain bersama dengan Aileen, Saga dan juga Dewa. Itu artinya baru sekitar 1 jam saja Daven bekerja. Tapi Sandra sudah memanggilnya.


Tangan Daven terulur untuk mengusap puncak kepala Sandra.


"Aku masih ada 1 berkas lagi sayang. Kamu tidur duluan aja. Ini sebentar lagi selesai kok." Ucap Daven dengan lembut.


Mendengar itu, Sandra langsung memanyunkan bibirnya. Jangan salah, Sandra memang bisa jadi semanja ini kepada Daven. Tapi itu berlaku kalau anak-anak tidak melihatnya.


"Ya terus maksud Bang Cio aku harus tidur sendiri tanpa Abang peluk? Tega banget sama istri." Ujar Sandra.


Ucapan Sandra ini membuat Daven tertawa kecil. Kalau saja tidak ingat Aileen sedang tidur bersama dengan mereka, sudah bisa dipastikan Daven tidak akan tahan untuk tidak menerjang Sandra saat ini juga karena saking gemasnya.


"Ya udah, kalau gitu tunggu sebentar. Aku selesain berkas yang ini, habis itu langsung tidur. Enggak sampai 15 menit kok. Ya?" Jawab Daven pada akhirnya.


Dari pada nantinya Sandra malah ngambek ya kan, lebih baik Daven yang mengalah.


Sandra tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Ya udah iya boleh." Ujar Sandra.


Daven memberikan sebuah kecupan didahi Sandra sebelum dia kembali ke sofa untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sementara Sandra, dia menatap dan mengamati Daven dari ranjang. Daven dengan wajah seriusnya ternyata amat sangatlah tampan.


Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Udah baik, penyayang, lembut, ganteng lagi. Dan yang terpenting cinta sama aku. Rasanya bersyukur banget bisa punya suami kaya Bang Cio.


Selagi Daven kembali fokus dengan pekerjaannya, Sandra berjalan menghampiri Daven. Kemudian duduk disamping suaminya itu.


Daven yang menyadari kedatangan Sandra tampak mengulum senyum.


"Enggak ada apa-apa, aku cuma mau temenin Abang kerja aja." Jawab Sandra.


Daven kemudian meletakkan berkas yang dia pegang ke meja. Dan tanpa diduga, Daven mengangkat tubuh Sandra kemudian mendudukannya dipangkuan dirinya.


"Kenapa hem? Bohong banget kalau bilang cuma mau temani aku. Kamu mau apa?" Tanya Daven dengan lembut.


Sandra tertawa kecil.


"Bohong apaan sih, orang aku beneran cuma mau temenin Abang aja." Jawab Sandra. "Udah lanjut aja kerjanya, aku cuma mau temenin Abang doang." Tambahnya lagi.


Dengan Sandra yang tetap berada di pangkuannya, Daven kembali melanjutkan pekerjaannya. Tapi... Daven sama sekali tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaannya. Bagaiamana tidak, bibir Sandra dengan aktif menciumi lehernya. Kalian tau sendiri bagaimana lemahnya iman Daven kalau sudah berdekatakan dengan Sandra.


"Sayang, stop. Jangan ciumin leher aku, sebentar lagi aku selesai." Ujar Daven.


Sandra tersenyum.


"Ya udah tinggal dilanjutin aja, aku cuma pengen cium wangi Abang aja. Abis wanginya macho banget." Jawab Sandra.


Mengidahkan peringatan dari Daven, Sandra kembali melanjutkan kegiatannya menciumi leher Daven. Tidak hanya mencium, Sandra bahkan memberikan gigitan-gigitan kecil dileher Daven.


Daven tampak memejamkan matanya. Bibirnya terkatup dengan rapat berusaha agar tidak mengeluarkan suara dari bibirnya.


Beberapa menit mencoba untuk bertahan dari serangan yang Sandra lakukan pada lehernya, pada akhirnya Daven kehilangan kendali.


Dengan cepat Daven langsung mengangkat tubuh Sandra kedalam gendongannya.


"Abang..." Ujar Sandra terpekik lirih.


"Kamu yang memulai, maka kamu juga yang harus menuntaskannya sayang." Bisik Daven.


"Tapi ada Aileen..." Ujar Sandra mengingatkan.


Daven menghela nafas pelan.


"Kita tidak harus menuntaskan ini di atas ranjang sayang. Ada banyak tempat dimana kita bisa menuntaskannya." Jawab Daven dengan suara parau.


Setelah mengatakan itu, Daven langsung membawa Sandra masuk ke kamar mandi. Tidak bisa melakukan diatas ranjang? Itu sama sekali tidak masalah. Istilah kata, ada banyak jalan menuju Roma. Dan Daven memiliki banyak stok tempat dimana dia dan Sandra tidak harus melakukannya diatas ranjang.


Salah sendiri menggoda dirinya. Kini Sandra harus siap untuk membantu Daven menuntaskan dan juga menyelesaikan semua ini. Karena Daven sudah benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Dasar penggoda..." Bisik Daven dengan nada suara yang terdengar berat.