Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Menggagalkan rencana Rendra


Tidak terasa jam kerja Daven sudah selesai. Kini dia, Sandra, dan Aileen sudah akan pulang ke rumah.


Aileen berada digendongan Daven, saat ini gadis cantik itu tengah tertidur. Karena sejak tadi, Aileen sibuk kesana-kemari dari ruangan Daven ke ruangan Davian. Hingga akhirnya Aileen tidak sempat tidur siang. Kalau saja hari ini Daddy Dani berangkat ke kantor, pasti Aileen juga akan terus bolak balik ke 3 tempat antara ruangan Daddy-nya, Uncle-nya, dan Opa-nya. Ya beginilah Aileen, anaknya kadang memang terlalu aktif.


Setelah Daven memastikan Aileen tidur dengan nyaman di carseat-nya, Suster Ati masuk kedalam dan duduk disamping Aileen.


Daven dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Sandra.


Eeh, bukannya tadi Sandra datang ke kantor membawa mobil sendiri? Benar, tapi saat ini mobil itu sudah diambil oleh supir karena Daven memintanya.


Sesampainya di rumah, Daven langsung menggendong Aileen dan membawanya ke kamar. Sementara Sandra memilih untuk mengistirahatkan diri di ruang keluarga.


Tidak lama kemudian, Sandra mendengar suara Rendra. Sepertinya laki-laki itu sedang mencoba untuk menghubungi Viola, hanya saja panggilan telfonnya tidak diangkat.


"Ini kenapa Viola nggak angkat ya? Padahal udah seminggu loh kita nggak ketemu. Nggak ngobrol juga. Emangnya kamu nggak kangen sama aku?" Terdengar gumaman Rendra.


Mendengar itu, Sandra tersenyum sendiri. Karena Rendra terlihat menggemaskan.


Saat Rendra turun dan melewati Sandra, sepertinya laki-laki itu tidak menyadari keberadaan dirinya. Karena posisi sofa memang membelakangi tangga. Dan itu adalah keberuntungan untuk Sandra.


Melihat Rendra seperti hendak keluar, Sandra langsung beranjak dari sofa. Sandra khawatir kalau tebakannya ini benar, kalau Rendra akan pergi ke rumah Viola.


"Mau kemana Mas?" Tanya Sandra saat melihat Rendra akan keluar rumah.


Rendra menoleh ke arah Sandra.


"Mau ke rumah Viola. Dari tadi Viola nggak bisa dihubungi soalnya." Jawab Rendra jujur.


"Yahh... Tapi aku mau minta tolong ke Mas Rendra." Ujar Sandra memasang wajah penuh harap.


Melihat itu, Rendra menghela nafas. Rendra tau, kalau sudah seperti ini biasanya Rendra tidak akan bisa menolaknya. Sandra akan menjadikan ini sebagai alasan keinginan twins.


"Minta tolong apa?" Tanya Rendra kepada Sandra.


Mendengar pertanyaan Rendra, Sandra tersenyum.


"Masakin opor ayam." Jawab Sandra dengan wajah tanpa dosa.


"Opor ayam?" Tanya Rendra dengan raut wajah tidak percaya. Rendra harap, apa yang dia dengar itu salah.


Tapi nyatanya yang Sandra inginkan memang benar opor ayam. Terbukti dengan Sandra yang langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya, Opor ayam." Jawab Sandra.


Lihat bagaimana wajah Rendra saat ini terlihat sangat frustasi. Dulu saat Aleera ngidam, okelah karena permintaannya tidak terlalu memberatkan Rendra. Tapi ngidam Sandra ini benar-benar sangat memberatkan Rendra. Rendra sampai tidak habis pikir dengan ngidam Sandra.


"Dek... Kemarin aja kamu udah minta Mas buat temenin kamu ke Lembang cuma buat minum susu. Sekarang kamu mau minta Mas buat dimasakin opor ayam? Kenapa nggak minta dibuatin sama Bunda aja. Masakan Bunda jelas jauh lebih enak daripada Mas." Ujar Rendra kepada Sandra.


Sandra memperlihatkan wajah sedihnya.


"Kalau aku yang mau, aku pasti bakalan minta Bunda yang masakin opor ayamnya. Tapi ini kan bukan aku yang mau. Ini twins yang mau. Masa Mas Rendra nggak mau kabulin permintaan twins. Nanti kalau lahir terus mereka ileran gimana coba? Mas mau tanggung jawab emangnya?" Tanya Sandra kepada Rendra.


"Bukan nggak mau kabulin dek. Tapi Mas mau ke rumah Viola dulu. Nanti deh, pulang dari rumah Viola bakalan langsung Mas buatin opor ayamnya." Ujar Rendra pada akhirnya.


Rendra harap, Sandra bisa mengerti.


Tapi... Nyatanya Sandra tidak sebaik itu. Karena sesaat kemudian, Sandra langsung menangis. Dan tangisannya itu membuat Daven, Bunda Sya, dan Ayah Radit turun.


"Sandra... Kenapa nangis sayang?" Tanya Bunda Sya kepada Sandra.


"Adeknya kamu apain, Mas?" Tanya Ayah Radit.


Sedangkan Daven hanya menatap dengan wajah datar. Kemudian mengambil alih Sandra dari pelukan Rendra. Tadi saat mendengar suara tangisan Sandra, jantung Daven hampir saja copot. Daven benar-benar khawatir terjadi sesuatu kepada Sandra.


"Enggak, aku nggak apa-apain Sandra kok, Yah. Sandra minta buat di masakin opor ayam, tapi Mas bilang nanti aja, soalnya Mas mau ke rumah Viola dulu." Jawab Rendra jujur.


"Ke rumah Viola? Nanti kan juga ketemu di hotel Mas." Ujar Bunda Sya.


"Iya, Mas juga tau Bun. Tapi kan nggak papa kalau Mas ketemu Viola sebentar kan? Udah seminggu loh Mas nggak ketemu sama Viola." Ujar Rendra.


Sepertinya rasa rindu Rendra kepada Viola saat ini sudah benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Karena jujur saja, ini adalah rekor terlama Rendra tidak mendengar suara dan melihat wajah Viola.


"Ya terus gimana? Mas tega biarin adeknya nangis kaya gitu karena pengen dimasakin opor ayam sama Mas?" Ujar Ayah Radit.


Mungkin ini terdengar kejam, tapi mau bagaimana lagi. Ini adalah satu-satunya cara untuk membuat Rendra membatalkan niatnya untuk pergi ke rumah Viola.


Rendra menatap Sandra, seketika perasaan tidak tega menghinggap dalam dirinya.


"Ya udah, Mas masakin opor ayamnya. Tapi bantuin ya Bun. Mas nggak tau bahan-bahannya soalnya." Jawab Rendra pada akhirnya.


Bunda Sya langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya, Bunda bantuin." Jawab Bunda Sya.


Rendra berjalan kearah Sandra, kemudian mengecup puncak kepalanya.


"Jangan nangis lagi, ini opornya mau Mas buatin." Ujar Rendra kepada Sandra.


Sandra hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, Rendra berjalan menuju dapur bersama dengan Bunda Sya untuk membuatkan opor ayam permintaan Sandra.


Sementara tanpa Rendra tau, saat ini Sandra tengah tertawa kecil. Daven dan Ayah Radit yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Sejujurnya opor ayam ini bukanlah bagian dari ngidam Sandra. Ini hanyalah upaya Sandra untuk mencegah Rendra agar tidak jadi ke rumah Viola. Tadi, saat Sandra mendengar gumaman Rendra dan tiba-tiba Mas-nya itu hendak keluar, Sandra langsung tau kalau Rendra akan pergi ke rumah Viola. Untuk itu, Sandra langsung memikirkan cara untuk mencegahnya.


Dalam pelukan Daven, ternyata Sandra tersenyum. Hanya Daven dan Ayah Radit yang melihatnya. Hampir saja tadi Daven akan memarahi Rendra kalau benar laki-laki itu yang sudah membuat Sandra menangis.


"Dasar nakal." Ujar Daven kepada Sandra.


Sandra hanya tertawa kecil.


"Tapi akting aku bagus kan? Iya nggak, Yah?" Ujar Sandra kepada Ayah Radit.


Ayah Radit tersenyum.


"Iya, akting adek bagus." Jawab Ayah Radit.


"Aku kira tadi kamu nangis beneran loh, kamu bikin aku khawatir." Ujar Daven.


Sandra hanya menanggapi dengan sebuah senyum tanpa rasa bersalah. Setidaknya dia berhasil menggagalkan rencana Rendra untuk pergi ke rumah Viola.