
"Boleh ikut apa enggak?" Tanya Sandra.
Huftt... Disisi lain Daven juga merasa tidak mungkin mengajak Sandra keluar tengah malam seperti ini. Karena Daven sangat tau kalau angin malam tentu saja tidak baik untuk ibu dan juga janin.
Jadi keputusannya adalah?
"Ya udah, kita cari besok aja." Jawab Daven pada akhirnya.
Dengan pertimbangan kalau Daven tidak ingin membuat Sandra nantinya sakit karena keluar rumah tengah malam. Masalah twins yang bisa saja ileran, semoga saja tidak. Karena besok begitu Mall buka, Daven akan langsung membeli es krim rasa mint yang menjadi keinginan Sandra dan juga twins.
Sandra tersenyum karena akhirnya Daven tidak lagi ngotot untuk keluar dan mencari es krim yang Sandra inginkan. Dengan Daven sudah memiliki niat untuk mencarikan saja itu sudah membuat Sandra terharu. Sandra menghargai apapun yang Daven lakukan untuk dirinya. Dan Sandra tidak ingin membuat Daven kesulitan hanya karena menuruti ngidamnya. Benar, sebesar inilah rasa cinta Sandra kepada Daven.
"Jadi kita tidur lagi?" Daven kepada Sandra.
Sandra tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba rasa perut Sandra berbunyi. Cukup keras, hingga Daven pun bisa mendengarnya.
"Kamu lapar ya?" Tanya Daven dengan senyum dibibirnya.
Dengan senyum malu-malu, Sandra menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku laper Bang." Jawab Sandra.
"Pengen makan pakai apa? Mau aku masakin?" Tanya Daven dengan lembut.
Kalian tentu tau kan kalau Daven juga cukup jago memasak?
Sandra memang lapar, hanya saja saat ini dia tidak ingin makan makanan yang berat seperti nasi ataupun mie instan. Loh, Sandra boleh makan mie instan memangnya? Iya boleh kok. Sandra sudah konsultasi dengan Dokter Susan. Dan kata Dokter Susan boleh-boleh saja kalau memang Sandra sedang sangat ingin. Tapi harus ada batasan, baiknya dalam satu minggu Sandra mengonsumsi mie instan hanya 1 kali saja. Dan malah akan lebih baik kalau lebih jarang dari itu. Mungkin sebulan hanya 1 kali? Itu lebih baik.
"Mau makan roti tawar sama nutella aja." Jawab Sandra.
Membayangkan roti tawar dengan olesan nutella, benar-benar menggugah selera Sandra saat ini.
Daven menganggukkan kepalanya. Bersama-sama, mereka keluar dari kamar dan turun ke dapur. Sesampai di dapur, Daven langsung meminta Sandra untuk duduk. Sementara itu Daven sibuk mengambil roti tawar dan nutella yang berada di lemari es.
"Aku olesin sekalian mau?" Tanya Daven kepada Sandra.
Sandra langsung menganggukkan kepalanya. Tidak mungkin Sandra menolak niat baik Daven.
"Mau berapa?" Tanya Daven lagi.
"2 tangkup aja cukup kok, Bang. Aku enggak mau makan terlalu banyak soalnya." Jawab Sandra.
Daven menganggukkan kepalanya paham. Dengan cekatan Daven mulai mengolesi roti tawar dengan nutella. Selesai satu tangkup, Daven langsung memberikannya kepada Sandra. Tapi Sandra meminta untuk di letakkan dipiring saja, karena Sandra ingin makan sembari menonton TV.
Dan kini, Sandra dan Daven duduk di ruang keluarga sembari menonton TV. Posisi Sandra saat ini bersandar di dada bidang Daven. Sementara tangan Daven melingkar di pinggang Sandra. Tanpa bisa ditahan, Daven mengusap dengan lembut perut Sandra selagi istrinya itu sibuk mengunyah roti dengan mata yang tertuju kepada layar TV.
"Jam segini nggak ada kartun ya Bang?" Tanya Sandra kepada Daven.
Kartun? Bukankah target penonton kartun adalah anak kecil? Lalu anak kecil mana yang di jam segini masih menonton kartun? Sudah pasti tengah malam tidak ada channel yang menayangkan film kartun. Itu yang Daven tau.
"Enggak ada sayang. Kalau mau nonton kartun ya paling harus lewat YouT*be." Jawab Daven.
"Ya udahlah, nonton ini aja." Ujar Sandra.
Kalian tau apa yang sedang Sandra tonton saat ini? Yakni berita tengah malam. Yang sebelumnya tidak pernah sekalipun Sandra tonton.
Menonton TV sembari asik mengunyah membuat Sandra tidak sadar kalau roti tawarnya sudah habis. Kalian pasti akan mengira kalau setelah habis, maka Sandra akan kembali naik ke kamar. Tapi ternyata tidak seperti itu, Sandra justru minta kepada Daven untuk dibuatkan 1 tangkup lagi. Tidak hanya itu, Sandra juga mengambil 1 cup es krim di lemari es.
Daven sendiri tidak masalah dengan itu. Karena saat pemeriksaan kemarin, Karena sejauh ini Dokter tidak melarangnya asalkan Sandra tidak mengonsumsinya terlalu berlebihan.
Hingga tanpa sadar, setelah menghabiskan 3 tangkup roti tawar dan juga 1 cup es krim, Sandra tertidur dengan nyenyak bersandar pada Daven. Daven yang melihat itu hanya tersenyum melihat betapa menggemaskannya Sandra.
Apakah Daven berencana untuk membangun Sandra? Tentu saja tidak. Nanti Daven akan menggendong Sandra dan membawanya ke kamar. Hanya saja Daven perlu menunggu sampai Sandra benar-benar nyenyak. Tanpa mengusik tidur Sandra, Daven meraih remot dan mematikan TV.
Oke, kita tunggu 10 menit lagi baru Daven akan menggendong Sandra ke kamar. Karena sepertinya Sandra juga sudah mulai nyenyak.
Belum 10 menit, tiba-tiba Daven melihat Ayah Radit yang turun. Ayah Radit yang melihat Daven dan Sandra ada di ruang tengah awalnya sedikit terkejut, tapi setelahnya sebuah senyum tersungging dibibir Ayah Radit.
"Sandra habis ngidam apa, Dave?" Tanya Ayah Radit dengan suara lirih.
"3 tangkup nutella dan 1 cup es krim, Yah." Jawab Daven.
Daven tidak memberitahu Ayah Radit mengenai ngidam Sandra yang seven adalah es krim rasa mint. Bukan karena Daven tidak ingin di cap sebagai suami yang tidak siaga karena tidak bisa menuruti ngidam Sandra. Daven menjawab itu karena saat ini hanya jawaban itu yang terlintas di kepalanya.
Ayah Radit hanya menganggukkan kepalanya kemudian melenggang ke dapur untuk mengambil air minum.
"Ayah naik duluan ya." Ujar Ayah Radit kepada Daven.
Dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Daven. Tanpa Daven tau, Ayah Radit melangkahkan kaki ke kamar dengan senyum yang tersungging dibibirnya. Bahagia rasanya saat mendapati putri kecilnya kini mendapatkan suami yang bisa dikatakan sangat baik seperti Daven. Benar, bagi Ayah Radit, Daven adalah suami yang sangat baik untuk Sandra. Terlepas mengenai apa yang sebelumnya pernah terjadi. Biarlah itu menjadi cerita masa lalu saja.
Dirasa Sandra tidak akan terbangun saat dia gendong, Daven memutuskan untuk membawa Sandra naik ke kamar sekarang. Dan ternyata memang benar, Sandra sama sekali tidak terganggu apalagi terbangun.
Cup...
"Tidur yang nyenyak sayang." Bisik Daven dengan lembut.