Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Menyuapi Daven


Tidak terasa jam sudah menunjukkan waktu istirahat. Sandra yang menyadari itu langsung saja menghentikan pekerjaannya dan melakukan peregangan pada otot tubuhnya yang saat ini terasa sangat kaku. Bagaimana tidak kaku kalau sejak pagi yang Sandra lakukan hanya duduk dan fokus pada pekerjaannya di komputer. Sejak tadi bahkan Sandra sama sekali tidak beranjak dari kursinya meskipun hanya sekedar untuk ke kamar mandi.


Menjelang akhir bulan seperti ini, pekerjaan Sandra memang menjadi lebih banyak. Bahkan banyaknya menjadi 2 kali lipat.


"Ughh... Rasanya badan aku pegel banget." Ujar Sandra.


"Sama San, kalau akhir bulan kaya gini emang kita kaya nggak dikasih jeda buat istirahat sebentar." Ujar Beni menyahuti.


Dan diiyakan oleh Sandra.


"Tapi kalau kamu masih mending, kalau badan pegel ada yang bisa mijitin. Kalau aku kan nggak ada." Ujar Beni.


Sandra menoleh kearah Beni.


"Kata siapa? Aku juga nggak ada yang mijitin. Kan sekarang aku nggak tinggal sama Bunda." Jawab Sandra.


Biasanya kalau tubuh Sandra sedang tidak enak dan pegal-pegal, maka Bunda Sya lah yang akan turun tangan untuk memijatnya. Entah percaya atau tidak, tapi pijitan Bunda Sya memang sengefek itu untuk Sandra. Bahkan tidak hanya Sandra, hampir semua anggota keluarga Santoso jika merasa sedang tidak enak badan maka yang dicari adalah pijitan Bunda Sya.


Tapi baik Sandra, Rendra, ataupun Kendra, mereka tidak pernah meminta secara langsung kepada Bunda Sya kalau mereka ingin dipijit. Dan yang namanya seorang ibu, Bunda Sya sangat peka dan langsung tau kalau salah satu dari anak-anaknya sedang tidak enak badan. Bahkan tanpa diminta pun Bunda Sya akan memijat mereka. Karena itulah, keluarga Santoso sangat jarang minum obat. Karena hanya dengan pijitan Bunda Sya saja biasanya sudah cukup untuk membuat mereka menjadi lebih enakan. Kecuali jika memang sakitnya agak lebih serius, maka tentu saja minum obat menjadi pilihan terakhir.


"Ya kan sekarang ada Pak Daven sebagai gantinya. Nggak papa kali kalau suami sekali-kali pijitin istrinya. Kamu minta aja, pasti Pak Daven nggak bakal nolak. Secara kalian kan pasti udah..." Beni menghentikan ucapannya kemudian menarik turunkan alisnya bersamaan dengan senyum tengilnya.


Sandra langsung paham dengan kalimat yang akan Beni katakan. Dan seketika saja wajah Sandra memerah memikirkannya. Padahal nyatanya hubungan antara Sandra dan Daven tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya. Hubungan Sandra dan Daven malah cenderung seperti Abang dan adiknya. Jangankan untuk melakukan sesuatu seperti yang Beni pikirkan. Sekedar bermesraan seperti sepasang kekasih saja tidak pernah Daven dan Sandra lakukan. Dan di rumah Daven dan Sandra juga jarang sekali terlibat obrolan. Setelah pulang kerja biasanya Daven akan langsung masuk ke kamar dan keluar hanya untuk menemani Aileen bermain sebentar. Ingat, menemani ya, bukan mengajak Aileen bermain. Karena yang Daven lakukan hanya menatap Aileen yang tengah asik bermain sendiri ataupun bersama dengan Sandra dan suster Ati.


Jadi jika interaksi antara Daven dengan Aileen saja sangat minim apalagi dengan Sandra kan? Dan itulah salah satu hal yang sangat ingin Sandra rubah. Sandra ingin membuat Daven memiliki lebih banyak interaksi bersama dengan Aileen. Pasalnya dimata Sandra, sosok Daven yang merupakan seorang Ayah sama sekali tidak mencerminkan kalau dirinya adalah Ayah. Daven terlihat terlalu acuh dengan putrinya sendiri. Meskipun Sandra tau betul betapa Daven sangat menyayangi Aileen. Sandra paham kalau Daven bukan laki-laki yang bisa dengan mudah menunjukkan perhatiannya.


"Tuh kan mukanya langsung merah. Pasti langsung bikin rencana buat nanti malem nih." Ujar Beni menggoda Sandra.


Sandra tertawa kecil untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya sedang merasa miris pada dirinya sendiri.


"Ooo pasti dong." Jawab Sandra santai.


Dan langsung mendapat sorakan dari Beni.


Nyatanya setelah Sandra sah menjadi istri Daven, tidak pernah sekalipun laki-laki itu menyentuh Sandra secara intim. Dan sudah pasti sampai saat ini Sandra masihlah seorang perawan ting-ting.




Kini Sandra sedang ada di ruangan Daven. Keduanya sedang makan siang bersama. Untuk makan siang kali ini, Sandra membeli Nasi Padang dengan lauk ayam bakar. Sementara untuk Daven, Sandra membelikan laki-laki itu soto ayam. Pasalnya Daven menyukai makanan yang berkuah, dan soto menjadi salah satu makanan kesukaan Daven.



"Sotonya enak nggak Bang? Itu aku beli di tempat langganan Bunda soalnya." Ujar Sandra kepada Daven.



"Enak." Jawab Daven singkat.



Sama sekali tidak ada inisiatif untuk menawarkan soto itu kepada Sandra. Biasanya kalau perempuan bertanya apakah makanan itu enak atau tidak, itu tandanya mereka ingin mencicipinya kan?



Dan seperti biasa Daven bukanlah laki-laki peka seperti yang Sandra pikirkan. Karena nyatanya Daven sama sekali tidak memiliki pikiran kalau dengan Sandra bertanya seperti itu berarti dia menginginkannya.




Dan kali ini makan siang Sandra dan Daven kembali hening tanpa adanya pembicaraan. Lagi pula percuma, Sandra sudah membuka obrolan tapi Daven dengan cepat langsung mematikan obrolan yang Sandra buat dengan susah payah dengan jawaban singkatnya.



Daven sendiri lebih dulu menghabiskan makan siangnya. Sementara Sandra, masih banyak nasi dan lauk yang ada di piringnya.



"Abang masih laper nggak?" Tanya Sandra kepada Daven.



"Kenapa?" Bukannya menjawab dengan iya atau tidak, Daven malah balik bertanya.



"Aku udah mulai kenyang deh kayanya. Abang mau nggak bantu aku habisin? Mubazir nanti kalau enggak habis. Lagian nasi padangnya enak kok. Aku jamin Abang pasti suka. Ya, aku suapi. ya?" Sandra langsung saja menjelaskan secara rinci agar Daven tidak lagi bertanya. Bahkan setelah mengatakan itu, Sandra langsung menyodorkan sendok berisi nasi dan lauknya ke mulut Daven.



"Aaa..." Ujar Sandra.



"Aku udah kenyang, San." Jawab Daven.



"Nggak papa, diisi dikit lagi pasti masih cukup kok. Mubazir kalau nggak habis loh Bang." Sandra masih kekeh dengan usahanya menyuapi Daven.



Tanpa diduga dan tanpa mengucapkan kata, Daven membuka mulutnya menerima suapan Sandra.



"Enak kan Bang?" Tanya Sandra dengan senyum cerah yang tersungging dibibirnya.



Daven hanya menganggukkan kepalanya sembari mengunyah. Dan seperti biasa, wajah Daven tetap datar.



Sampai akhirnya, nasi padang milik Sandra habis juga. Bukan dihabiskan berdua, melainkan Daven semua yang menghabiskannya. Pasalnya Daven tidak sadar kalau ternyata Sandra hanya menyuapinya saja. Sandra tidak melanjutkan makannya karena dia terlalu menikmati apa yang sedang dia lakukan, yaitu menyuapi Daven.



Dan dengan hanya menyuapi Daven saja itu sudah membuat Sandra amat sangat bahagia. Kapan lagi Sandra bisa melakukannya kan? Karena kesempatan seperti ini tidak tau apakah akan datang lagi atau tidak.