
Lagi-lagi Daven mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Rasanya Daven tidak sabar untuk meminta penjelasan kepada Sandra mengenai kenapa Sandra tiba-tiba saja menggugat cerai dirinya.
Setibanya di kediaman keluarga Persada, Daven langsung masuk kedalam. Terlihat didalam ternyata sudah ada Daddy Dani, Davian, dan juga Della. Tapi tentu saja perhatian Daven bukan tertuju kepada mereka bertiga. Karena Daven langsung menuju Mama Laras.
"Sandra masih diatas sama Aileen kan Ma?" Tanya Daven kepada Mama Laras.
Mama Laras sendiri memilih diam. Saat ini matanya terlihat berkaca-kaca, tapi sepertinya hal itu luput dari pandangan Daven. Karena saat ini fokusnya benar-benar hanya Sandra.
"Ma..." Wajah Daven terlihat sangat frustasi.
Mengetahui Mama Laras tidak akan menjawab pertanyaan dirinya, Daven memutuskan untuk langsung naik ke lantai dua dimana kamarnya dan juga kamar Aileen berada. Daven yakin kalau Sandra pasti ada disana. Tapi, belum juga Daven melangkahkan kakinya naik, Davian sudah mencekal tangannya.
"Sandra nggak ada diatas. Cuma ada Aileen sama Suster Ati. Sekarang lo duduk, dan jelasin ke kita semua tentang apa yang sebenarnya terjadi." Ujar Davian dengan nada suaranya yang sangat tenang. Meskipun sebenarnya dibalik itu semua Davian sedang menyimpan amarah. Davian memang tidak tau akar permasalahan yang membuat Daven dan Sandra sampai memutuskan untuk bercerai. Tapi Davian sangat yakin kalau Daven lah penyebabnya.
"Enggak, lo pasti bohong kan. Sandra pasti diatas." Ujar Daven tidak terima.
Daven sudah akan naik, tapi suara Daddy Dani menghentikan langkahnya.
"Duduk disini Daven. Dan jelaskan sejelas-jelasnya. Sandra tidak ada diatas, karena Sandra memang tidak ada di rumah ini." Ujar Daddy Dani dengan suara datar yang terdengar sangat tegas.
Hal ini membuat Daven menghentikan langkahnya kemudian membalikkan tubuhnya. Terlihat saat ini Mama Laras sedang menangis dipelukan Della.
Pemandangan itu seketika membuat hati Daven terasa mencelos. Kini, untuk pertama kalinya Daven membuat Mama Laras menangis kecewa.
Seperti Davian, sepertinya Mama Laras juga sadar kalau pihak bersalah adalah Daven sendiri. Karena selama ini Mama Laras sangat tau bagaimana Sandra sangat sabar mengertikan Daven.
Kini, mau tidak mau Daven duduk diantara mereka semua.
"Sekarang jelaskan, kenapa kamu dan Sandra bisa bercerai Dave?" Tanya Daddy Dani kepada Daven.
Daven menundukkan kepalanya.
"Sandra yang menggugat cerai aku, Dad." Jawab Daven.
"Alasannya? Pasti ada alasannya dong kenapa Sandra tiba-tiba menggugat cerai kamu? Pasti ada suatu kesalahan yang sudah kamu buat sampai membuat Sandra menyerah dengan rumah tangga kalian, Dave." Ujar Daddy Dani.
Daven menghela nafas.
"Karena Sandra hamil. Dan aku tidak setuju kalau Sandra hamil." Jawab Daven jujur.
Ucapan Daven ini membuat semua yang ada disitu seketika terkejut. Pasalnya mereka tidak tau kalau ternyata saat ini Sandra sedang hamil.
"Sandra lagi hamil?" Tanya Mama Laras sangat terkejut.
Daven menganggukkan kepalanya.
Sementara Daddy Dani, Davian, dan Della, mereka memang sama terkejutnya. Sampai-sampai mereka tidak tau harus mengatakan apa.
Daven menatap Mama Laras dengan tatapan nanar.
"Karena aku nggak mau Sandra mengalami hal yang sama dengan Larisa, Ma. Aku nggak mau Sandra meninggalkan aku hanya karena melahirkan darah daging aku. Aku... Aku takut Ma." Ucap Daven dengan lirih.
"Astaghfirullah Daven... Kenapa kamu bisa memiliki pikiran seperti ini? Setiap orang sudah punya takdir hidup dan matinya masing-masing. Tidak seharusnya kamu seperti ini, Dave." Ujar Mama Laras. "Dan satu hal yang harus kamu tau. Bagi seorang wanita, bisa merasakan yang namanya hamil dan melahirkan adalah sebuah anugerah. Kamu tidak seharusnya memiliki pikiran seperti itu Daven." Tambah Mama Laras.
Daven menundu kepalanya, dia tidak tau harus menjawab apa ucapan Mama Laras.
"Kalau kamu berpikir bahwa setiap perempuan yang melahirkan akan meninggal, harusnya dulu Mama juga meninggal. Kamu tau bagaimana dulu Mama menjalani kehamilan kembar 3? Itu berat dan sulitnya berkali-kali lipat dari kehamilan biasa. Selama hamil Mama bahkan harus bedrest dan memakai kursi roda setiap harinya. Tapi Mama bisa melahirkan kalian dengan selamat. Itu karena Allah belum mentakdirkan Mama untuk meninggal pada saat itu." Ujar Mama Laras. "Tidak seharusnya kamu membandingkan semuanya hanya karena Larisa meninggal karena melahirkan. Kenapa kamu tidak melihat betapa banyaknya proses melahirkan yang mana baik ibu dan bayinya selamat? Kamu benar-benar menyakiti Sandra, Daven." Mama Laras terlihat sangat kecewa kepada Daven.
"Dan sekarang Sandra meninggalkan kamu bukan karena melahirkan Dave, tapi karena bercerai dari kamu. Lalu sekarang apa bedanya? Kamu sama-sama ditinggalkan oleh Sandra." Sambung Daddy Dani.
Daven terdiam, dalam hati dia membenarkan ucapan Daddy Dani. Pada akhirnya pun sekarang Sandra meninggalkan dirinya. Bukan karena melahirkan, tetapi karena berpisah darinya.
"Daddy yakin itu bukan satu-satunya alasan yang membuat Sandra menyerah semudah itu dengan pernikahan kalian. Daddy sangat paham betapa gigihnya anak-anak Radit, Dave." Ujar Daddy Dani.
Kembali Daven menatap satu persatu keluarganya. Sampai akhirnya...
"Karena aku meminta Sandra untuk menggugurkan kandungann." Jawab Daven.
Dan...
Bugh... Bugh...
Davian seketika langsung memberikan bogem mentahnya diwajah Daven.
"Bajing*n Lo Dave... Bisa-bisanya lo bilang kaya gitu ke Sandra."
Mama Laras dan Della yang melihat itu langsung beranjak untuk menghentikan Davian memukuli Daven. Apalagi Daven terlihat diam saja tanpa perlawanan seolah memang mengizinkan Davian memukuli dirinya. Sementara Daddy Dani, dia hanya diam menatap Daven yang sedang dipukuli oleh Daven. Karena menurut Daddy Dani, Daven pantas mendapatkan hal itu. Bagaimana bisa Daven berpikir untuk membunuh darah dagingnya sendiri.
Della menarik Davian mundur kemudian memeluk laki-laki itu agar berhenti memukuli Daven. Karena biar bagaimanapun Della tidak tega kepada Daven. Della tau kalau Daven memang bersalah, tapi tidak seharusnya Davian memukulinya seperti itu.
"Kak.. Udah kak, kasian Bang Daven."
Air mata Mama Laras semakin menetes melihat. Davian memukuli Daven. Sama seperti Della, Mama Laras juga tidak tega melihat Daven dipukuli seperti itu.
Daven sendiri saat ini tidak bereaksi apa-apa. Wajahnya tetap terlihat datar. Meskipun sebenarnya terlihat penyesalan diwajahnya.
Melihat Mama Laras yang terus menangi, Daddy Dani memutuskan untuk membawa Mama Laras naik ke kamar.
"Tunggu disini. Daddy masih mau bicara sama kamu Daven. Dan jangan coba-coba buat pergi dari sini." Ujar Daddy Dani dengan suara datarnya.