Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Makan siang bersama


Selesai mencuci wajahnya, Sandra segera menuju ruangan Daven. Pasti sudah cukup lama Daven menunggunya, karena tadi Sandra touch up terlebih dahulu sebelum dia keluar dari ruangannya. Sebagai seorang sekretaris, penampilan adalah hal yang penting bukan? Tidak mungkin Sandra dengan muka bantalnya keluar begitu saja, apalagi dia akan bertemu dengan Daven, bos sekaligus calon suaminya. Calon suami? Iya dong, semalam kan Daven sudah melamar Sandra, jadi statusnya sudah berubah menjadi calon suaminya.


Tok… tok… tok…


Sandra mengetuk pintu ruangan Daven.


“Masuk.” Terdengar suara bass Daven menjawab.


Setelah mendapatkan izin, Sandra segera membuka pintu ruangan Daven dan masuk ke dalam. Begitu Sandra masuk, dia terkejut melihat cukup banyak makanan yang sudah tertata diatas meja. Dan yang membuat Sandra lebih terkejut adalah bahwa makanan itu adalah makanan favoritnya, ayam goreng kakek.


“Makan.” Ujar Daven saat melihat Sandra yang malah terpesona dengan makanan diatas meja.


“Eeeh?” Sandra menatap Daven bingung.


“Duduk, dan sekarang makan. Kamu belum makan siang kan?” Ujar Daven kepada Sandra.


Tanpa menunggu lama Sandra langsung mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan posisi duduk Daven saat ini.


Mengenai Marcel yang tadi bilang akan membelikan Sandra makan siang, nanti Sandra akan mengirim pesan untuk membatalkannya.


“Ini buat aku semua Bang?” Tanya Sandra tanpa malu. Ayam goreng kakek memang membuat rasa malu seorang Sandra untuk sejenak menghilang begitu saja.


“Kita bagi dua.” Jawab Daven santai.


Mendengar jawaban Daven, refleks Sandra menepuk dahinya sendiri. Lagian ada-ada saja pertanyaannya. Jelas-jelas saat ini mereka berdua, jelas makanan sebanyak itu tentu saja untuk dimakan bersama. Sandra kan jadi malu.


Sementara Daven yang melihat reaksi Sandra hanya mengulum senyum tipis, sangat tipis. Sampai-sampai Sandra tidak bisa melihatnya.


Dan jadilah, siang ini Sandra dan Daven makan siang bersama. Selain Sandra bahagia karena makan siang hari ini adalah ayam goreng kakek, Sandra juga bahagia karena makan siang kali ini dia ditemani oleh Daven, laki-laki yang Sandra cintai. Jadi, nikmat mana lagi yang kau dustakan?


“Abang kenapa dateng ke kantor? Bukannya tadi izin buat nggak masuk kantor?” Sandra kembali mengulang pertanyaan yang sebelumnya belum Daven jawab.


“Bosen di rumah.” Jawab Daven singkat dan tetap fokus menguyah makanannya.


Padahal alasan yang sebenarnya adalah karena Daven merasa kasihan kepada Sandra. Karena dirinya, Sandra sampai harus kerepotan menghandle pekerjaannya.


“Rapat selanjutnya jam berapa?” Tanya Daven kepada Sandra.


"Jam 1, Bang." Jawab Sandra.


Setelah itu, keheningan kembali terjadi diantara keduanya. Sandra dan Daven fokus dengan makanan masing-masing. Karena pada dasarnya Sandra tau kalau Daven tipe orang yang tidak suka diajak berbicara jika sedang makan.


Sampai akhirnya Daven lebih dulu selesai makan. Tanpa berbicara apa-apa, Daven langsung beranjak dari sana dan berjalan menuju kamar mandi. Sandra yang belum selesai makan, cuek saja saat melihat Daven yang melewatinya begitu saja. Ayam goreng kakek benar-benar menjadi pusat perhatian Sandra. Apalagi bertambah enak karena Sandra memakannya sambil menonton drakor. Terlalu nyaman membuat Sandra agak sedikit seenaknya sebenarnya. Ditambah Daven sama sekali tidak memprotes tindakan Sandra itu.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Daven mengagetkan Sandra.


"Eeehh, apa Bang?" Sandra yang terlalu fokus sedikit terkejut.


"Sekarang jam berapa?" Ujar Daven mengulang pertanyaannya lagi.


Sandra melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Jam satu kurang 10 menit, Bang." Jawab Sandra.


"Oke... Kalau gi..." Ucapan Daven terhenti karena pekikan Sandra.


"ASTAGA.... AKU HARUS RAPAT." Dengan cepat Sandra langsung berlari ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.


Dan tingkah Sandra itu membuat Daven tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Memang lucu Sandra ini.


Tidak sampai 5 menit, Sandra keluar dari kamar mandi.


"Teruskan makan siangnya, habiskan. Jangan sampai ada yang tersisa." Ujar Daven.


Membuat Sandra langsung menghentikan langkahnya. Dahi Sandra berkerut saat mendengar ucapan Daven.


"Maksud Pak Daven?" Tanya Sandra tidak paham.


Kali ini Sandra sudah mengaktifkan mode formalnya.


"Saya yang akan menghadiri rapat. Kamu lanjutkan makan siangnya dan habiskan. Jangan sampai ada yang tersisa." Jawab Daven datar.


Setelahnya Daven langsung keluar begitu saja meninggalkan Sandra yang masih terdiam di depan pintu kamar mandi.



Jam setengah 3 Daven keluar dari ruangan rapat. Langsung saja dia melangkahkan kaki menuju ruangannya. Dan begitu sampai sana, terlihat ruangannya sudah kembali rapi. Ya, jelas Sandra yang merapikan semua ini. Karena kalau bukan Sandra siapa lagi? Tidak ada orang yang berani masuk ke ruangan Daven tanpa izin darinya. Namun tidak Daven dapati Sandra di ruangannya ini. Pasti gadis itu sudah kembali ke ruangannya sendiri.



Daven mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, dia melepaskan jasnya, melonggarkan dasi, dan membuka 2 kancing teratas dari kemejanya. Menampilkan dada bidang yang pastinya sangat digilai kaum hawa.



Rasanya Daven membutuhkan kopi untuk menambah menambah semangatnya.



Dan...



Melalui sambungan intercom, Daven menghubungi Sandra.



"Sandra, buatkan saya kopi." Ucap Daven.



Setelahnya Daven menyandarkan kepalanya, menutup matanya dengan salah satu tangannya. Jujur Daven merasa sangat lelah.



Sandra yang mendapatkan perintah melalui sambungan intercom, dengan segera langsung beranjak dari kursinya. Tentu saja untuk melakukan perintah dari Daven itu.


Marcel yang berada dalam satu ruangan dengan Sandra tentu saja mendengar semuanya. Marcel tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat tingkah Sandra yang sejak setelah makan siang terlihat begitu semangat dan ceria.


"Inget belum halal, jangan aneh-aneh di ruangan Pak bos." Ujar Marcel menggoda Sandra.


Bukannya marah dengan godaan Marcel, Sandra justru ikut tertawa.


"Nggak janji nggak bakalan khilaf." Jawab Sandra yang kemudian langsung berlari keluar sembari tertawa.


Sandra hanya bercanda ya gaes ya, Sandra masih tau batasan. Tidak mungkin Sandra melakukan hal yang tidak pantas sebelum kata sah terucap dari penghulu dan saksi. Lagi pula, Sandra yakin tidak mungkin juga Daven melakukan hal seperti itu. Secara... Oke mari kita lupakan, membahas fakta ini membuat mood Sandra akan menjadi buruk.




Selesai membuat kopi, Sandra langsung menuju ruangan Daven. Namun, setelah Sandra mengetuk pintu ruangan laki-laki itu, tidak terdengar jawaban sama sekali. Membuat Sandra pada akhirnya memutuskan untuk langsung masuk saja.



Dan...



Sandra cukup terkejut melihat penampilan Daven saat ini. Daven terlihat... Ehhm, bisa Sandra katakan seksi. Ya ampun, padahal Abangnya sendiri, Kendra dan Rendra juga memiliki tubuh kekar seperti milik Daven. Tapi Sandra merasa kalau mereka sangat berbeda. Dimata Sandra, tubuh Kendra dan Rendra biasa-biasa saja meskipun sama kekarnya. Tapi tubuh Daven, justru terlihat sangat mempesona dimata Sandra.



"Kamu sudah disini?"



Sandra yang sejak tadi hanya berdiri fokus menatap dada bidang Daven seketika langsung terkejut saat tiba-tiba saja Daven membuka matanya. Katakanlah Sandra mesum, dan dia tidak peduli.



"Eehh, iya Pak. Ini mau anterin kopi. Maaf langsung masuk, soalnya tadi saya panggil-panggil Bapak nggak nyaut." Jawab Sandra dengan gugup.



Daven hanya menganggukkan kepalanya. Dia bukannya tidak tau kalau sejak tadi gadis didepannya ini terpesona kepada dirinya. Saat Sandra masuk tadi, Daven sebenarnya langsung terbangun. Hanya saja Daven memilih untuk tetap memejamkan matanya. Menunggu kira-kira apa yang akan Sandra lakukan setelahnya.