
Sandra dan Daven sedang menemani Aileen bermain di ruang keluarga. Lebih tepatnya Sandra sih yang menemani, karena Daven hanya duduk dengan tenang sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya. Ya, Daven dengan pekerjaannya memang sulit untuk dipisahkan.
"Ini jeruknya warna orange sayang." Ujar Sandra kepada Aileen.
Aileen saat ini memang sedang mewarnai gambar berbagai macam buah-buahan.
"Oyen Enda? Yan iniii..." Aileen mengambil pensil warna dan menunjukkannya kepada Sandra.
Sandra menganggukkan kepalanya.
"Iya sayang, pinter deh Aileen." Tidak lupa Sandra selalu memberikan pujian sebagai bentuk apresiasi karena Aileen sudah pintar dan mulai hafal dengan warna-warna.
Saat sedang asik bersama dengan Aileen, tiba-tiba ponsel yang Sandra letakkan diatas sofa dekat dengan Daven duduk, bergetar karena ada panggilan masuk. Sandra sendiri tidak menyadarinya.
"San, ada telfon dari Aleera." Ujar Daven memberitahu Sandra.
Sandra segera beranjak dari karpet dan duduk disamping Daven untuk menerima panggilan telefon Aleera.
"Assalamualaikum, halo Ly..." Ucap Sandra begitu mengangkat panggilan telefonnya.
"Wa'alaikumsalam, San. Kamu lagi apa?" Pertanyaan Aleera ini entah kenapa membuat Sandra mengerutkan dahinya. Bukan apa-apa, Sandra merasa aneh saja. Karena tidak biasanya Aleera telfon untuk sekedar basa-basi seperti ini dengan menanyakan apa yang sedang Sandra lakukan. Biasanya Aleera langsung to the point mengenai tujuan dirinya menelfon Sandra.
"Aku? Aku lagi sama Bang Daven nih, lagi nemenin Aileen main. Ada apa Ly? Nggak biasanya kamu basa-basi begini. Pasti ada sesuatu yang kamu pengen dari aku ya? Kamu ngidam apa lagi? Aku sebagai Onty si calon baby siap sedia kalau harus masakin kamu." Ujar Sandra. dengan semangat.
Sandra tentu tidak akan lupa waktu dimana di kehamilan pertamanya, Aleera ngidam ingin Sandra memasakkan ayam goreng. Dan ya, meskipun Sandra tidak bisa memasak, tapi sebagai aunty yang baik Sandra tetap melakukannya. Sandra memasak dibantu oleh Bunda Sya. Dan walaupun hasilnya agak sedikit gosong, tapi Sandra berhasil masak ayam goreng. Mengingat itu semua Sandra menjadi rindu dengan keponakan pertamanya yang saat ini sudah berada di surga itu. Andai Aleera tidak mengalami kecelakaan, sekarang Chyara pasti sudah besar dan akan menjadi kakak yang sangat menyayangi adik-adiknya. (Baca di Pregnant Kendra's Baby)
"San.. Sandra... Kamu dengerin aku ngomong kan?"
Sandra tersadar dari lamunannya saat Aleera memanggil. Bisa-bisanya Sandra melamun disaat dia sedang telfonan dengan Aleera. Memang kebiasaan melamun Sandra ini sangat sulit dihilangkan.
"Maaf maaf, coba di ulangi lagi tadi kamu ngomong apa Ly?" Tanya Sandra.
Tanpa Sandra sadari, Daven memperhatikan dirinya saat sedang melamun. Namun Daven tetap diam sama sekali tidak mengatakan apa-apa.
"Aku bukan mau minta kamu masakin San, baby nggak minta itu. Baby pengennya ke pantai sama Onty dan Uncle nya." Ujar Aleera mengulang ucapannya.
"Pengen ke pantai sama aku dan Mas Rendra?" Tanya Sandra memastikan.
"Bukan, tapi kamu sama Bang Daven. Mau kan? Besok sore ya, nanti anak-anak dititipin ke Bunda aja." Jawab Aleera.
Sandra terdiam. Aleera ingin besok dirinya dan Daven ikut ke pantai?
"Bang Kendra ikut juga kan?" Tanya Sandra.
"Iya dong, nanti biar kita sekalian double date." Jawab Aleera dengan semangat.
Mendengar itu, Sandra jadi tidak enak untuk menolaknya. Dan kini Sandra mencuri pandang kearah Daven yang tetap fokus dengan laptopnya.
"Nanti aku kabarin deh bisa atau enggak. Aku bilang dulu ke Bang Cio dia mau atau enggak." Ujar Sandra.
Mendengar ucapan Sandra, refleks Daven langsung menoleh. Dan kini mereka saling bertatapan.
"Aku aja deh yang bilang sama Bang Daven. Pasti dia mau kok. Coba aku mau ngomong sama Bang Daven, San." Ujar Aleera.
Akhirnya Sandra memberikan ponselnya kepada Daven. Daven juga langsung menerimanya tanpa bertanya apa-apa.
"Iya Ly, ada apa?" Seperti biasa suara Daven terdengar datar-datar saja.
"....."
Sandra sendiri tidak mendengar apa yang Aleera katakan kepada Daven. Hanya saja setelahnya suaminya itu menjawab 'iya' sebagai jawaban.
"Iya." Jawab Daven.
"...."
"Nggak sibuk kok, nanti kamu atau Bang Kendra share lokasinya aja. Besok aku sama Sandra usahain datang sebelum Maghrib." Jawab Daven.
Setelahnya Daven memberikan ponselnya kepada Sandra lagi.
"Bang Daven udah setuju San. Pokoknya besok jangan telat ya. Byeee... Assalamualaikum." Terdengar suara Aleera sangat semangat.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Sandra.
Setelah telefon dimatikan.
"Abang beneran nggak sibuk? Kalau sibuk nggak papa kok nggak usah dateng. Aleera pasti bisa ngerti. Nanti aku yang bakal kasih pengertian ke dia." Ujar Sandra.
"Aku bisa kok. Nggak masalah." Jawab Daven singkat.
Kini Aleera, Kendra, Sandra, dan Daven sudah berkumpul di restoran. Setelah tadi mereka bersama-sama menikmati keindahan sunset sore hari, kini masih dengan pemandangan pantai, mereka menikmati olahan seafood untuk makan malam kali ini.
"Heyy... Bengongin apa?" Ujar Kendra lagi-lagi menyadarkan Aleera dari aksi melamunnya.
"Pasti ada yang Aleera pengen lagi tuh." Ujar Sandra menyahut. Sandra sudah sangat paham gerak-gerik Aleera kalau wanita yang sedang hamil 4 bulan itu sedang menginginkan sesuatu.
Kehamilan Aleera sudah 4 bulan? Benar sekali. Waktu berlalu dengan begitu cepat bukan? Namun waktu sama sekali tidak membuat rumah tangga antara Sandra dan Daven terjadi perkembangan yang berarti. Sejak awal menikah sampai sekarang hubungan Sandra dan Daven tetap sama. Hanya saja mereka menjadi agak lebih santai karena sudah terbiasa dengan keberadaan masing-masing.
"Bener sayang? Kamu pengen apa? Biar Abang cariin." Ujar Kendra kepada Aleera. Kendra memang tipe suami dan ayah yang siaga.
"Memang harus begini dek, nanti kalau kamu hamil pasti Daven juga harus jadi suami dan ayah yang siaga." Ujar Kendra. "Jadi kamu pengen apa sayang?" Kendra beralih kepada Aleera.
Sementara itu Sandra kembali menyibukkan diri dengan makanannya setelah Kendra mengatakan hal itu. Sedangkan Daven, laki-laki itu bersikap seolah dia tidak mendengar ucapan Kendra. Dan tanpa Sandra dan Daven tau, semua itu tidak luput dari mata Aleera pastinya.
"Pengen liat Bang Daven cium pipi Sandra." Jawab Aleera dengan wajah polosnya.
Mendengar itu, sontak saja dengan kompak Sandra dan Daven terbatuk karena tersedak makanan yang sedang mereka makan. Jelas mereka sangat terkejut dengan permintaan Aleera ini.
"Sayang..." Kendra memanggil Aleera dengan lembut sebagai tanda peringatan. Bukan apa-apa, meskipun Sandra adalah adiknya, tapi Kendra merasa tidak enak kepada Daven atas permintaan Aleera ini. Biar bagaimana pun tidak semua orang suka mempertontonkan kemesraan mereka kepada orang lain. Berbeda dengan dirinya yang akan dengan senang hati melakukannya jika ada seseorang yang meminta dirinya untuk mencium Aleera.
"Apa? baby pengen liat Onty San pipinya dicium Uncle Daven." Jawab Aleera seraya tetap memasang wajah polos yang kemungkinan membuat orang lain sangat sulit untuk bisa menolak keinginannya itu.
"Ly... Kamu ngerjain aku kan? Jangan aneh-aneh deh. Ini kita lagi makan loh." Ujar Sandra kepada Aleera.
Sandra bukan tidak tau mengenai ngidam Aleera yang dibuat-buat ini. Mana ada ngidam pengen liat pasangan lain ciuman. Eeh ralat, bukan ciuman. Tepatnya, Daven mencium Sandra. Walaupun hanya sekedar pipi sih.
Dalam sekejap Aleera seketika memasang wajah sedihnya. Ditambah dengan matanya yang mulia berkaca-kaca membuat Kendra, Sandra dan Daven akhirnya memilih untuk percaya kalau Aleera memang sedang ngidam ingin melihat Daven mencium pipi Sandra.
"Oke oke, jangan nangis. Cuma cium pipi Sandra doang kan?" Ujar Daven kepada Aleera. Daven tidak tega melihat Aleera yang hampir menangis. Daven juga merasa tidak enak dengan Kendra kalau dia menolak keinginan Aleera.
Sandra jelas terkejut mendengar ucapan Daven yang menyetujui permintaan absurd Aleera ini. Walaupun tetap, dalam hati Sandra juga mendadak merasa excited. Karena memang Sandra tidak pernah sekalipun di cium oleh Daven. Kecuali dulu saat mereka selesai akad.
"Bang Daven memang uncle terbaik buat baby. Nggak kaya Onty San, masa baby cuma pengen liat dia dicium Uncle Daven aja nggak mau." Aleera dengan santainya menyindir Sandra.
Membuat Sandra hanya bisa memelototkan matanya kepada Aleera. Sementara itu Aleera membalasnya dengan senyum penuh kemenangan. Melihat senyum Aleera, Sandra tidak jadi percaya kalau Aleera sedang ngidam. Dan ini bukan bagian dari ngidam Aleera. Memang sahabatnya itu berniat untuk mengerjainya.
Dan
Cup...
Sandra terdiam membeku di tempat saat merasakan sebuah kecupan di pipi kirinya. Ya, tanpa aba-aba Daven mencium pipi Sandra seperti permintaan Aleera.
"Udah kan Ly? Baby nggak bakal ngiler nanti karena keinginannya udah terpenuhi." Ujar Daven kepada Aleera seraya memberikan senyum tipisnya.
Hanya sekitar 2 detik, tapi berhasil membuat jantung Sandra rasanya seperti akan copot.
"Iya udah, makasih Bang." Jawab Aleera dengan senyum lebarnya.
"Dasar jahil... " Bisik Kendra di telinga Aleera. Kendra juga melihat bagaimana Aleera tersenyum penuh kemenangan kepada Sandra tadi.
Tentu ucapan Kendra ini tidak didengar oleh Sandra dan Daven. Karena saat ini keduanya sudah sibuk kembali dengan makanan masing-masing.
Aleera hanya diam sembari tersenyum mengabaikan ucapan Kendra yang hanya bisa dia dengar saja.
"Udah jangan bengong terus San. Cuma cium pipi sampai buat kamu membeku di tempat kaya gini." Aleera kembali menggoda Sandra.
Sandra mengerjapkan matanya kemudian melanjutkan acara makannya.
"Apaan sih, aku biasa aja." Jawab Sandra sok cool.