
Pagi-pagi seperti ini, Daven sudah bangun. Bersama dengan Ayah Radit, dia sedang menjemur Saga dan Dewa di halaman depan rumah agar bisa mendapatkan vitamin D. Kebetulan sekali di jam yang masih menunjukkan pukul setengah 7 pagi ini cuaca sudah panas. Jadi lebih baik Saga dan Dewa di jemur sekarang. Dari pada menunggu lebih siang lagi, kasian nanti karena cuaca terlalu panas.
Tapi kenapa Daven menjemur Saga dan Dewa bersama dengan Ayah Radit? Kenapa tidak bersama dengan Sandra? Karena saat ini Sandra sedang mengurus Aileen yang hendak berangkat sekolah. Jangan lupa kalau Sandra bukan hanya Bunda dari Saga dan Dewa. Aileen juga memiliki Sandra sebagai Bunda-nya. Jadi meskipun sekarang sudah ada Saga da Dewa, bukan berarti Sandra mengabaikan tugasnya untuk mengurus Aileen. Apalagi sebelum lahir Saga dan Dewa, mengurus Aileen sebelum berangkat sekolah adalah kebiasaan dan juga merupakan rutinitas Sandra.
Lagi pula saat ini Saga dan Dewa bersama dengan Daven dan Ayah Radit. Mereka juga sama sekali tidak rewel. Jadi tidak ada alasan untuk Sandra meninggalkan kebiasaan rutinnya setiap pagi.
"Kakak mau iket berapa sayang?" Tanya Sandra kepada Aileen.
Setelah mandi dan memakai seragam, Sandra pasti akan selalu mengikat rambut Aileen. Hal ini agar saat di sekolah nanti Aileen tidak direpotkan dengan rambutnya. Ya memang sih rambut Aileen tidak terlalu panjang, tapi kalau dibiarkan tergerai itu juga bisa mengganggu aktivitas Aileen.
"Iket dua telus pakai jepitan yang stlobeli, Bunda." Jawab Aileen.
Selain itu, Sandra juga selalu bertanya terlebih dahulu kepada Aileen mengenai rambutnya yang akan diikat berapa dan seperti apa. Agar apa yang Sandra lakukan ini sesuai dengan keinginan Aileen, jadi Aileen pun semangat saat sekolah nanti.
Sandra tersenyum.
"Okey, kita iket dua. Terus pakai jepit yang Strawberry." Ujar Sandra. "Yang ini kan?" Sandra mengambil jepitan strawberry berwarna merah yang ukurannya kecil.
Aileen menganggukkan kepalanya.
Dan sekarang Sandra mulai mengikat rambut Aileen seperti permintaan gadis kecilnya ini. Setelah 5 hari berada di rumah sakit dan membuat Sandra absen tidak mengikatkan rambut Aileen, akhirnya sekarang Sandra bisa melakukannya lagi. Bahagia? Tentu saja Sandra bahagia. Mengurus anak yang hendak berangkat sekolah merupakan sebuah kebahagian tersendiri untuk Sandra.
Lalu kalau tugas Sandra mengurus Aileen, tugas Suster Ati apa? Ya tugas Suster Ati adalah membantu Sandra mengurus Aileen kalau dia sedang kerepotan. Seperti kalau pagi-pagi seperti ini, tugas Suster Ati adalah memastikan barang-barang yang Aileen butuhkan untuk dibawa sekolah sudah lengkap.
Dan sekarang semuanya sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Saga dan Dewa juga sudah selesai di jemur. 20 menit sudah lebih dari cukup untuk menjemur bayi kan?
Disaat yang lain sarapan, Saga dan Dewa justru kembali tidur. Padahal keduanya belum menyusu dan juga belum mandi. Tapi tidak apa-apa, dengan begini Sandra bisa fokus dulu mengurus Aileen. Setelah Aileen berangkat ke sekolah, barulah Sandra akan mengurus kedua jagoan kembarnya itu.
"Kakak mau sarapan sereal apa roti aja?" Tanya Sandra kepada Aileen.
Untuk sarapan, Aileen memang hampir tidak pernah mau makan nasi. Kalau makan nasi ya biasanya nasi goreng yang Bunda Sya bikin. Tapi hari ini Bunda Sya tidak membuat nasi goreng untuk sarapan.
"Loti aja, telus pakai nuttela." Jawab Aileen.
Dengan sigap Sandra langsung mengambil 2 lembar roti tawar dan mengolesinya dengan nuttela seperti permintaan putri sulungnya itu.
"Telima kasih, Bunda." Ujar Aileen saat Sandra meletakkan roti dipiring miliknya.
Sandra tersenyum.
"Sama-sama Kakak." Jawab Sandra
Setelah mengurus sarapan Aileen, barulah Sandra mengurus sarapan bayi besarnya. Siapa lagi kalau bukan Daven ya kan? Sandra juga tidak boleh mengabaikan bayi yang satu ini.
Apa yang Sandra lakukan ini membuat Bunda Sya dan Ayah Radit tersenyum melihatnya. Sebenarnya ini adalah hal biasa yang memang setiap hari Sandra lakukan. Tapi entah kenapa saat ini mereka merasa ada yang berbeda dengan Sandra. Setelah melahirkan, aura ibu yang Sandra pancarkan semakin terlihat. Sandra tampak terlihat lebih dewasa daripada sebelumnya.
Saat ini Saga dan Dewa memang ditidurkan di depan TV. Sengaja agar keduanya tidak tidur lama karena sebentar lagi harus mandi dan menyusu.
"Adek... Kakak belangkat sekolah dulu ya. Nanti kalau Kakak udah pulang sekolah, kita main baleng lagi." Ujar Aileen berpamitan kepada Saga dan Dewa.
Cup...
Cup...
Tidak lupa Aileen memberikan sebuah kecupan dipipi Saga dan Dewa.
"Opa juga mau cium, dong." Ujar Ayah Radit.
Selesai sarapan Ayah Radit memang langsung ke ruang keluarga untuk menemani cucu kembarnya itu.
Aileen beranjak, kemudian berjalan kearah Ayah Radit dan memberikan sebuah ciuman di pipi Opa nya itu.
"Terima kasih, sekolah yang pinter ya cucu Opa." Ujar Ayah Radit kepada Aileen.
Aileen tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.
"Pasti dong, Kakak pasti bakalan sekolah yang pintel. Bial besok kalau besal bisa jadi Altis." Jawab Aileen.
Ya, cita-cita Aileen memang selalu berubah-ubah. Kadang jadi dokter, kadang jadi guru, dan sekarang jadi Artis.
Ayah Radit, Bunda Sya, Sandra dan Daven yang mendengar jawaban Aileen seketika langsung tertawa. Aileen ini terkadang kalau menjawab sebuah pertanyaan jawabannya sering kali tidak terduga.
Setelah berpamitan kepada Saga, Dewa, Ayah Radit, dan Bunda Sya, Sandra mengantarkan Aileen ke depan. Berhubung Daven masih dalam masa cutinya, jadi Daven sendiri yang akan mengantarkan Aileen berangkat ke sekolah. Tentu saja bersama dengan Suster Ati pastinya. Semen Sandra, dia belum 40 hari. Jadi belum boleh keluar rumah jauh-jauh.
"Semangat belajarnya ya anak Bunda." Ujar Sandra kepada Aileen.
"Siap Bunda..." Jawab Aileen dengan semangat.
Setelahnya Aileen masuk ke dalam mobil. Sementara Daven...
"Kamu enggak semangatin aku Yang?" Tanya Daven kepada Sandra.
Membuat Sandra mengerutkan dahinya bingung. Semangat untuk apa coba?
"Buat apa? Bang Cio kan enggak mau kemana-mana." Jawab Sandra.
Daven menghela nafas pelan.
"Ini mau pergi antar Aileen sekolah. Itu bikin kita selama 1 jam kedepan enggak ketemu loh. Jadi kasih aku semangat ." Ujar Daven.
Ya ampun, Daven ini memang ada-ada saja. Timbang satu jam tidak bertemu saja rasanya seperti mau berpisah seminggu lamanya.
"Semangat sayang, hati-hati dijalan ya. 1 jam lagi kita ketemu di rumah." Ujar Sandra pada akhirnya.
Daven tersenyum, kemudian memberikan sebuah kecupan dipipi Sandra. Tidak dibibir, karena di mobil ada Aileen dan Suster Ati yang bisa saja melihat.
"Tunggu aku ya sayang." Ujar Daven.
Sandra tertawa kecil.
"Udah sana berangkat, nanti Aileen bisa telat kalau Abang kelamaan." Ujar Sandra.
Baru setelahnya Daven beranjak dan masuk kedalam mobil untuk mengantar Aileen ke sekolah.