Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Jangan menyerah Sandra


"Ya udah, bentar aku panggilin Bang Cio dulu." Ujar Sandra pada akhirnya.


Sandra keluar dari kamar Aileen, sementara ponselnya yang masih terhubung dengan Aleera, Sandra tinggalkan diatas meja. Sandra perlu berbicara dulu dengan Daven terlebih dahulu, dan dia tidak ingin Aleera mendengar pembicaraan antara dirinya dengan Daven.


Sebenarnya bisa saja Sandra membawa ponselnya bersama dengannya lalu dia bisukan saat berbicara dengan Daven. Tapi... ribet, jadi lebih baik ponselnya ditinggal di kamar saja.



Sesampainya di luar kamar, Sandra justru hanya diam sembari menatap pintu kamar Daven yang seperti biasa selalu tertutup rapat jika ada laki-laki itu di dalam. Sandra ragu untuk memberitahu Daven mengenai ngidam Aleera ini. Sandra khawatir hal ini justru akan membuat Daven semakin tidak nyaman kepadanya, seperti kejadian ngidam Aleera kemarin. Tapi, Sandra juga tidak bisa mengabaikan ngidam Aleera ini. Bagaimana kalau ngidam Aleera tidak terpenuhi lalu saat ponakannya itu lahir, dia bakal ileran? Kan kasihan.



Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian dan juga tekad, Sandra mengetuk pintu kamar Daven.



Tok... tok... tok...



Sandra kemudian menurunkan tangannya. Menunggu apakah pintu akan terbuka atau tidak. Dan ternyata, tidak sampai 1 menit pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok Daven yang berdiri di pintu dengan wajah datarnya.



"Ada apa, San?" Tanya Daven kepada Sandra.



Sandra berdehem sebentar sebelum menjawab pertanyaan Daven.


"Eehmm, gini Bang. Maaf sebelumnya kalau aku ganggu Bang Cio. Tapi..."



"Langsung saja Sandra, aku malah tidak suka kalau kamu bertele-tele seperti ini. Ada apa?" Tanya Daven.



"Aleera lagi ngidam, katanya dia pengen nonton video aku sama Abang masak bareng." Sandra menuruti ucapan Daven untuk berbicara langsung pada intinya.



"Aku masak bareng sama kamu?" Tanya Daven.



Sandra menganggukkan kepalanya.



"Kamu bisa masak memangnya? Bukannya setau aku kamu nggak bisa masak?" Tanya Daven lagi.



Daven sama sekali tidak memiliki maksud apa-apa mengenai pertanyaannya ini. Bukan juga maksudnya meremehkan Sandra. Tapi setau Daven, Sandra memang tidak bisa memasak kan? Apa Aleera tidak tau kalau Sandra tidak bisa memasak? Rasanya sangat mustahil kalau Aleera tidak tau. Pasalnya Sandra dan Aleera sudah bersahabat cukup lama. Ditambah sekarang status mereka juga kakak adik ipar.



Mendengar ucapan Daven, Sandra hanya bisa tersenyum kecut. Hatinya mendadak mencelos. Padahal ucapan Daven itu memang benar, Sandra tidak bisa memasak.



"Ya emang nggak bisa masak sih Bang." Jawab Sandra. "Tapi kalau cuma potong-potong aku bisa kok, jago malah." Tambahnya lagi.



Tanpa Sandra duga, Daven tersenyum tipis setelahnya. Membuat Sandra mendadak merasa gugup karena dia terpesona dengan senyuman Sandra.



"Eehmm, mending Abang ngomong dulu sama Aleera. Ini tadi katanya Aleera juga mau ngomong sama Abang." Ujar Sandra kepada Daven.



Tanpa menunggu Daven menjawab ucapannya, Sandra membalikkan tubuhnya dan berjalan ke kamar Aileen meninggalkan Daven begitu saja. Membuat Daven mau tidak mau mengikuti langkah Sandra.



"Bang Daven, maaf banget kalau karena ngidam ini aku jadi ngrepotin Abang." Ujar Aleera.


"Aku juga direpotin Ly, tapi kamu nggak minta maaf ke aku." Ujar Sandra menggerutu dalam hati.


"Nggak papa, santai aja, Ly. Daripada nantinya anak kamu malah ileran kalau nggak diturutin keinginannya." Jawab Daven kalem.


"Udah, itu aja sih Bang. Cuma video Abang sama Sandra masak bareng." Ujar Aleera.


"Apa Ly? Cuma kamu bilang? Cuma itu kalau kamu ngidamnya minta mangga muda doang." Lagi-lagi Sandra hanya bisa menggerutu dalam hati.


"Tapi aku sama Sandra harus masak apa Ly?" Tanya Daven.


"Eehmm, apa ya. Apa aja deh Bang Dave. Yang simpel-simpel saja, tapi jangan nasi goreng atau mie ya." Jawab Aleera sembari tersenyum tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Daven menganggukkan kepalanya.


"Ya udah kalau gitu." Jawab Daven.


Setelah Aleera mendapatkan keinginannya, kini panggilan video call langsung dengan matikan. Dan sekarang Sandra dan Daven berdua saja. Eehh, bertiga dengan Aileen sih. Tapi kan Aileen sudah tidur, jadi ya hitung saja berdua.


"Abang setuju buat masak, itu berarti Abang bisa masak kan?" Tanya Sandra kepada Daven.


Pasalnya Sandra tidak tau apakah Daven bisa memasak atau tidak. Karena kalau Daven sama seperti Sandra yang juga tidak bisa memasak. Pasti akan kacau jadinya kan? Masa tugas Sandra dan Daven sama-sama potong-memotong bahan.


"Nggak jago, tapi ya lebih baik dari kamu sih." Jawab Daven dengan nada sombong.


Dan ini kali pertama Sandra melihat Daven memamerkan kesombongannya. Bukannya membuat Sandra kesal, tapi justru membuat Sandra senang entah karena apa. Mungkinkah karena ini adalah nada dan ekspresi baru dari Daven yang Sandra lihat?


"Iya deh iya yang bisa masak. Aku mah apa atuh. Bisanya cuma tunggu masakan mbok mateng." Ujar Sandra sok dramatis.


Dan itu membuat Daven tertawa kecil. Ingat! Tertawa loh ya, bukan tersenyum. Sandra? Entah sudah keberapa kalinya dia terpesona kepada Daven.


Namun tawa Daven tentu saja tidak lama. Kini Daven sudah kembali dengan wajah datarnya seperti semula, membuat Sandra mendadak jadi bingung dengan perubahan itu.


Tiba-tiba Daven melangkahkan kakinya kearah Aileen yang sedang tertidur dengan pulas. Dengan perlahan Daven mendudukkan dirinya disisi ranjang. Tangannya dengan lembut mengusap puncak kepala Aileen yang kini rambut halusnya sudah mulai panjang.


"Aileen ternyata sudah sebesar ini ya." Ujar Daven bergumam.


Tentu saja gumaman Daven ini terdengar jelas oleh Sandra.


"Iya, udah mau 3 tahun." Jawab Sandra.


Daven menghela nafas pelan.


"Selama ini aku tidak pernah jauh dari Aileen. Tapi meski begitu, aku tidak pernah benar-benar memperhatikan perkembangannya, San." Ujar Daven dengan nada suara sendu. "Kapan Aileen mulai tumbuh gigi, kapan Aileen mulai bisa merangkak, kapan Aileen mulai mengucapkan kata pertamanya, dan kapan Aileen mulai bisa berjalan. Aku tidak menyaksikan itu. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan meratapi kepergian Larisa. Dan selama ini aku sudah mengabaikan Aileen, Sandra." Ujar Daven.


Dari nada suaranya, Sandra bisa menangkap perasaan kecewa yang sedang Daven ungkapkan. Kekecewaan akan diri sendiri yang selama ini mengabaikan Aileen.


Sandra sendiri memilih untuk diam. Sandra sadar kalau yang Daven butuhkan sekarang adalah teman untuk mendengarkan curahan hatinya. Laki-laki juga boleh menunjukkan sisi lemahnya bukan?


"Kapan pertama kali kamu bertemu dengan Aileen, San?" Tanya Daven tiba-tiba.


"Saat usia Aileen 1 tahun." Jawab Sandra.


"Pada saat itu, apa yang baru bisa Aileen lakukan?" Tanya Daven lagi.


"Aileen baru bisa merangkak dan mengucapkan beberapa kosa kata, termasuk Daddy." Jawa. Sandra lagi.


Daven tersenyum.


"Selama ini, secara tidak langsung kamu lah yang sudah merawat dan membesarkan Aileen. Terima kasih Sandra." Ujar Daven seraya menatap lembut kearah Sandra.


Sandra sendiri hanya terpaku ditempatnya.


"Abang kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Bang Cio?" Melihat sikap Daven yang tidak biasa tentu saja membuat Sandra khawatir. Karena sebelumnya Daven memang tidak pernah seperti ini.


"Iya, aku terganggu dengan sikap yang selama ini aku lakukan ke kamu, Sandra. Maaf kalau selama ini aku seringkali memperlakukan kamu dengan tidak baik." Ujar Daven.


"Abang..." Hanya itu yang bisa Sandra keluarkan dari bibirnya.


"Seharusnya aku memperlakukan kamu dengan lebih baik, San. Dan seharusnya aku berterimakasih kepada kamu atas semua pengorbanan kamu selama ini. Bukan malah tidak tau diri seperti ini." Ucap Daven. "Aku sadar, menjadi kamu sangatlah tidak mudah. Di usia kamu yang masih terbilang muda, kamu harus berperan sebagai seorang istri dan juga ibu. Apalagi kamu menikah dengan seorang laki-laki yang masih terbelenggu dengan mendiang istrinya. Sekali lagi maafkan aku kalau selama ini aku menyakiti kamu." Daven menatap dalam mata Sandra.


"Abang nggak perlu minta maaf. Menikah dengan Abang, menjadi istri Abang, dan juga menjadi ibu untuk Aileen adalah keputusan aku sendiri. Toh sejak awal juga aku sudah tau kalau Bang Cio masih mencintai Kak Larisa. Tidak apa-apa, aku akan menunggu sampai nanti dimana Bang Cio juga bisa sedikit mencintai aku." Jawab Sandra.


Daven beranjak dari ranjang dan berjalan menuju Sandra. Tanpa Sandra duga, Daven memeluknya.


"Jangan menyerah ya, sekarang aku juga akan berusaha untuk bisa mencintai kamu. Aku harap kamu masih bisa sabar untuk menunggu. Aku sadar, kalau baik Aileen maupun aku sangat membutuhkan kamu di hidup kita."