
Menikmati pemandangan pantai bersama sahabat, nyatanya membuat Sandra benar-benar sangat bahagia. Apalagi ada suami dan juga abangnya. Rasanya lengkap sekali kebahagiaan yang Sandra rasakan. Dan Sandra harap, semoga dia bisa merasakan kebahagiaan ini selamanya. Kalaupun iya harus sedih, semoga tidak lama.
"Kamu kayanya senyum terus dari tadi, Yang? Ada apa?" Tanya Daven.
Saat ini Sandra dan Daven sedang dalam perjalanan pulang seusai dari pantai. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam, masih belum terlalu malam kan? Dan sepanjang perjalanan, Daven dibuat penasaran kenapa Sandra terus saja tersenyum.
"Aku lagi bahagia tau, Bang. Karena hari ini akhirnya aku bisa ke pantai sama Abang, sama Aleera sama Bang Kendra juga." Jawab Sandra.
Daven tersenyum tipis.
"Benarkah? Kalau gitu, lain kali kita pergi ke pantai bareng-bareng lagi." Ujar Daven.
Mengetahui kalau sesuatu yang sederhana seperti ini nyatanya sudah bisa membuat Sandra bahagia, tentu saja Daven akan melakukan hal ini sesering mungkin agar Sandra bisa terus bahagia.
Sandra menoleh kearah Daven.
"Bang Cio mau kalau kita sering-sering ke pantai?" Tanya Sandra dengan mata berbinar.
Daven menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu mau, aku ayo-ayo aja." Jawab Daven.
"Oke, kalau gitu kita agendakan ke pantai paling enggak sebulan sekali. Kalau bisa, ehmm... 2 minggu sekali." Ujar Sandra.
Daven menganggukkan kepalanya lagi.
"Oke, aku setuju." Jawab Daven.
Hari ini Sandra ikut mengantarkan Aileen ke sekolah. Hal ini karena tadi pagi Sandra minta untuk ikut Daven ke kantor.
Karena sekolah Aileen tudak mengizinkan orang tua ataupun wali mengantarkan anak mereka sampai depan kelas, jadi Sandra dan Daven hanya mengantarkan Aileen sampai lobby sekolahan. Lagi pula di lobby memang sudah ada beberapa guru yang menyambut kedatangan para siswa.
Sandra mengusap kepala Aileen lembut.
"Yang baik ya di sekolah, nanti Bunda sama Daddy jemput. Kakak mau ikut ke kantor Daddy kan?" Ujar Sandra.
Aileen tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Iya, Kakak bakalan baik di sekolah." Jawab Aileen.
Setelah memberikan kecupan didahi Aileen, Sandra dan Daven melanjutkan perjalanan mereka menuju kantor. Tapi tenang saja, ada suster Ati yang senantiasa menemani Aileen.
"Jam segini dimsum yang ada di cafetaria kantor udah buka belum ya, Bang. Aku kok tiba-tiba pengen banget makan dimsum yang disana." Ujar Sandra tiba-tiba.
Daven melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya. Saat ini jam masih menunjukkan pukul setengah 8 pagi. Dan dijam sepagi ini Sandra sudah memulai ngidamnya.
"Aku kurang tau sayang, kan aku enggak pernah datang ke cafetaria kantor di jam sepagi ini. Tapi nanti kita coba liat dulu, udah buka atau belum." Jawab Daven.
Sandra menganggukkan kepalanya paham. Kemudian Sandra kembali memfokuskan diri untuk menikmati perjalanan ke kantor. Rasanya Sandra ingin cepat-cepat langsung sampai kantor. Karena Sandra sudah sangat tidak sabar ingin menikmati lembutnya dimsum cafetaria.
Ya beginilah Sandra sejak hamil. Kalau dia sedang menginginkan sesuatu, rasanya harus saat itu juga apa yang dia inginkan ada dihadapannya.
Sesampainya di kantor, Daven langsung membawa Sandra ke cafetaria kantor untuk membeli dimsum. Ya sebenarnya belum tau juga sih apakah sudah ada dimsum atau belum.
Sesuai dugaan, sesampainya di stand dimsum, ternyata belum buka. Para karyawan dimsum baru menyiapkan bahan-bahan untuk membuat dimsum. Dan otomatis belum ada dimsum yang siap untuk di jual. Karena mereka selalu membuat dimsum di tempat dengan adonan fresh.
"Mungkin sekitar jam 9-nan sudah siap, Pak." Jawab Aris.
Aris tentu saja merasa tidak enak hati kepada Daven dan Sandra. Tapi mau bagaimana lagi, biasanya mereka memang membuka stand sekitar jam 9. Karena dimsum bukan menu yang biasanya dimakan saat sarapan, otomatis baru siap saat jam menjelang siang.
Daven menoleh kearah Sandra yang tampak kecewa.
"Gimana? nggak papa kan nunggu sampai jam 9? Sekitar 1 jam lagi kok." Ucap Daven dengan lembut.
Masalahnya Daven juga tidak bisa memaksa Aris untuk siap saat ini juga kan? Karena proses membuat dimsum harus melalui berbagai proses. Tidak bisa yang langsung jadi begitu saja.
Sandra yang memang sangat menginginkan dimsum ini, mau tidak mau setuju untuk menunggu.
"Ya udah nggak papa." Jawab Sandra.
Daven menganggukkan kepalanya.
"Jadi mau pesen yang apa?"
"Yang mix aja, 2 porsi. Tapi kalau Abang mau, 3 porsi boleh." Jawab Sandra.
Daven tersenyum mendengar jawaban Sandra, kemudian menoleh kearah Aris.
"Ya udah, kalau gitu dimsum yang mix 3 porsi. Nanti kamu minta tolong ke OB buat antar ke ruangan saya." Ujar Daven.
Aris menganggukkan kepalanya.
"Baik Pak, nanti saya antarkan ke ruangan Pak Daven." Jawab Aris.
Untuk satu porsi dimsum dihargai 25 ribu. Karena Daven memeasan 3 porsi, totalnya menjadi 75 ribu. Tidak lupa Daven juga memberikan tips untuk untuk Aris beserta karyawan yang lain.
Selesai dengan urusan dimsum, Daven dan Sandra langsung masuk ke kantor. Dan kebetulan sekali mereka berpapasan dengan Davian.
"Kamu ikut ke kantor San?" Tanya Davian kepada Sandra.
Padahal sebenarnya itu pernyataan yang tidak perlu lagi ditanyakan. Karena sudah jelas saat ini Sandra ada di kantor, otomatis jawabannya sudah jelas kan?
"Iya, Kak. Abis nganter Aileen sekolah, tiba-tiba pengen dimsum yang ada di cafetaria." Jawab Sandra.
Sementara Daven hanya diam. Seperti biasa, kalau tidak ditanya ya Daven tidak akan bersuara.
"Ngidam dimsum? Kok tumben ngidamnya enggak aneh?" Tanya Davian.
Sebagai korban dari ngidam aneh Sandra, tentu saja Davian merasa agak sedikit heran kenapa kali ini ngidam Sandra tidak aneh. Sekaligus bersyukur karena dia lolos dari ngidam Sandra.
"Emang biasanya ngidam aku aneh ya, Kak?" Tanya Sandra memasang wajah sedihnya.
Daven yang melihat kalau Sandra tampak sedih, seketika langsung menajamkan tatapannya kearah Davian. Dan Davian yang paham akan arti tatapan itu langsung tersenyum.
"Enggak kok, biasanya enggak aneh." Jawab Davian.
Selamat-selamat, kalau saja Sandra sampai menangis karena ucapannya. Entah akan jadi apa Davian nanti. Mungkinkah Davian akan menjadi ayam geprek ditangan Daven? Ya bisa jadi sih.