
Pagi ini Sandra bangun dengan perasaan yang lebih bahagia. Bagaimana tidak, sebentar lagi dia akan menjadi istri Daven. Ehh… bukan-bukan, tapi menjadi ibu sambung Aileen. Ya, tujuan utama Sandra menikah dengan Daven adalah untuk menjadi ibu sambung Aileen kan? Benar, dan Sandra bahagia karena itu.
Dengan semangat Sandra beranjak dari ranjang untuk mandi. Rasanya Sandra tidak sabar untuk segera sampai kantor. Entah karena apa, yang pasti Sandra hanya merasa pagi ini dia merasa sangat semangat. Sudah, itu saja.
Selesai mandi dan sholat subuh, Sandra langsung bersiap-siap menganti bajunya dengan baju kantor. Seperti biasa, Sandra menggunakan blouse dan celana panjang yang membuat Sandra terlihat semakin jenjang. Rambutnya Sandra ikat menjadi satu agar tidak merepotkan dirinya sewaktu bekerja.
Dapat Sandra lihat saat ini jam menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Masih cukup pagi karena biasanya Sandra baru selesai bersiap sekitar jam 7 an. Baru saja Sandra beranjak mengambil tas dan hendak keluar kamar, tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada pesan yang masuk.
from Bang Cio
Hari ini aku nggak ke kantor, nanti tolong kamu handle pekerjaan aku.
Begitu bunyi pesan yang Daven kirimkan kepada Sandra.
Membaca pesan itu, Sandra menghela nafas kemudian mendudukkan dirinya diatas ranjang. Mendadak semangat yang Sandra rasakan sejak bangun tidur tadi, menjadi menguap begitu saja. Sandra menjadi tidak semangat setelah membaca pesan itu. Entahlah, ada rasa kecewa yang saat ini Sandra rasakan.
“Padahal baru aja semalam Bang Cio lamar aku, kenapa hari ini malah jadi nggak masuk?” Ujar Sandra sembari bergumam dengan kesal.
“Selamat pagi Sandra.” Ujar seseorang menyapa Sandra.
Sandra yang yang sejak tadi sedang tidak fokus tentu saja sedikit terkejut, dia bahkan tidak sadar kalau saat ini sudah ada didalam lift. Dengan ketidak fokusannya ini, sebuah keberuntungan Sandra bisa mengendarai mobilnya dan sampai kantor dengan selamat. Karena Sandra benar-benar sedang tidak bisa fokus.
“Eeh, Mas Daniel, selamat pagi juga Mas.” Ujar Sandra membalas sapaan Daniel dengan ramah.
“Pagi-pagi udah bengong aja, ada apa?” Tanya Daniel.
Sandra tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
“Enggak, enggak ada apa-apa kok Mas, cuma masih ngantuk aja, jadinya nggak sadar tiba-tiba aja udah bengong.” Jawab Sandra beralasan.
“Ooo gitu, nanti minum kopi dulu biar agak segeran. Kalau kamu masih ngantuk gini yang ada malah nggak fokus kerjanya loh, aku nggak mau kamu sampai dimarahin sama Pak Daven.” Ujar Daniel kepada Sandra.
“Tenang aja Mas, hari ini Pak Daven nggak masuk, jadi ya amanlah kalau hari ini agak nggak fokus.” Jawab Sandra santai.
“Ooo iya, Pak Daven nggak masuk? Kenapa?”
Sandra mengangkat kedua bahunya.
“Nggak tau, cuma bilang kalau hari ini nggak masuk.” Jawab Sandra.
Memang benar Sandra tidak tau, pasalnya saat Sandra bertanya alasan kenapa Daven hari ini tidak masuk ke kantor, laki-laki itu tidak membalas pesannya.
Obrolan antara Daniel dan Sandra harus berhenti karena Daniel sudah sampai dilantai ruang kerjanya.
“Aku duluan ya, jangan lupa kalau misal nanti kamu nggak ada temen buat makan siang, kamu bisa hubungin aku.” Ujar Daniel kepada Sandra sebelum dia benar-benar keluar dari lift.
Sandra sendiri hanya tersenyum kemudian mengangkat satu jempolnya kepada Sandra.
Lagi-lagi Sandra tersenyum, dalam hati dia mengakui kalau Daniel adalah orang yang cukup menyenangkan untuk dia jadikan teman.
Karena hari ini Daven tidak masuk kantor, akibatnya Sandra menjadi sangat sibuk. Hari ini bahkan Sandra memiliki 3 jadwal rapat untuk mewakili ketidakhadiran Daven. Dan jujur Sandra agak sedikit kerepotan. Mau meminta bantuan Marcel juga tidak mungkin, karena Sandra melihat Marcel juga tidak kalah sibuk darinya. Rasanya tidak pengertian sekali kalau Sandra meminta bantuan Marcel. Walaupun Sandra yakin, kalau dia memintanya, pasti Marcel juga akan membantunya.
“Huftt…” Sandra menghela nafas pelan setelah menyelesaikan rapat keduanya.
Dilihatnya jam yang menunjukkan pukul setengah 12 siang, sementara jam 1 nanti Sandra harus rapat lagi.
Sandra menelungkupkan wajahnya diatas meja. Matanya terpejam, dia benar-benar lelah. Bukan lelah tenaga, melainkan lelah pikiran. Ternyata mewakili rapat seperti ini sangat melelahkan. Biasanya Sandra hanya menemani Daven rapat saja, dan rasanya tidak selelah ini.
Ceklek… Terdengar suara pintu yang terbuka. Sandra mengabaikan, dia tau kalau yang masuk pasti adalah Marcel.
Seperti dugaan Sandra, yang datang adalah Marcel.
“Ke Cafetaria yuk San, udah jam istirahat nih.” Ujar Marcel.
Sandra mengangkat kepalanya.
“Enggak ah, aku nggak laper Mas. Ngantuk, mau tidur aja.” Jawab Sandra menolak. “Tapi nanti kalau Mas Marcel balik dan aku belum bangun, tolong bangunin ya, soalnya jam 1 aku masih ada rapat lagi.” Tambah Sandra.
Marcel yang mengerti kalau Sandra saat ini sedang benar-benar lelah menganggukkan kepalanya.
“Ya udah, tidur aja dulu. Nanti aku bangunin. Mau aku bawain makan siang apa? Setidaknya nanti sebelum rapat perut kamu udah keisi makanan.” Ujar Marcel.
Memang pada dasarnya Marcel sebaik ini, Marcel memperlakukan Sandra seperti adiknya.
“Nggak usah repot-repot Mas, aku beneran nggak laper kok.” Jawab Sandra.
“Apanya yang repot sih, udah tinggal bilang aja, kamu mau aku beliin apa buat makan siang? Ayam goreng kakek? Nanti aku pesenin.”
Ayam goreng kakek? Yang benar saja, Marcel padahal tadi bilang mau makan siang di Cafetaria kantor, kalau beli ayam goreng kakek itu berarti harus delivery dong. Yang ada Sandra akan semakin membuat Marcel semakin repot.
“Enggak usah Mas, makanan yang ada di Cafetaria aja, apa aja yang penting jangan pedes. Ayam bakar atau sop aja boleh.” Jawab Sandra pada akhirnya.
“Oke kalau gitu, ya udah tidur lagi aja, aku keluar dulu ya.” Ujar Marcel.
Baru saja Sandra akan mengambil dompetnya.
“Nggak usah ambil uang, hari ini aku yang bayarin.” Ujar Marcel saat tau kalau Sandra hendak mengambil uang.
“Iihh… Kok gitu sih, ak…”
“Udah ah, aku duluan, lapeerrr.” Jawab Marcel memotong ucapan Sandra.
Sebelum Marcel keluar…
“Makasih ya Mas buat traktirannya.” Ujar Sandra dan hanya dijawab dengan Oke oleh Marcel.
Setelah Marcel keluar dari ruangan mereka, kini Sandra kembali menelungkupkan wajahnya diatas meja. Dengan perlahan matanya mulai terpejam, Sandra memang sudah sangat mengantuk.
5 menit…
10 menit…
Sandra yang masih belum benar-benar lelap mendengar suara pintu ruangannya terbuka. Tapi Sandra mengabaikannya karena berpikir bahwa itu adalah Marcel.
Tapi…
Sandra merasa kalau orang itu tengah duduk didepan mejanya, yang tentu saja membuat Sandra mau tidak mau membuka matanya. Sandra mengangkat kepalanya untuk melihat kira-kira siapa yang sedang duduk didepannya saat ini.
Dan ternyata…
“Bang Cio?”
.
.
.