
"Kamu sudah tidur, San?" Ujar Daven berbisik di telinga Sandra.
Padahal Daven bisa merasakan bagaimana tubuh Sandra mendadak terasa menegang saat dia memeluk gadis itu. Tapi entah kenapa Daven merasa kalau dia perlu memastikan secara langsung.
Dan sama seperti dugaan Daven, Sandra memang belum tidur. Lagi pula bagaimana Sandra bisa tidur disaat untuk pertama kalinya dia berada disatu ranjang yang sama berdua saja seperti ini. Ditambah, Daven tiba-tiba memeluknya. Membuat jantung Sandra menjadi berdetak dengan sangat kencang seolah sebentar lagi akan meledak.
"San..." Terdengar lagi suara lembut Daven yang memanggil Sandra.
"Belum, Bang." Jawab Sandra pada akhirnya.
Sandra tidak mungkin terus berpura-pura tidur sementara kenyataan dia masih terjaga. Dan sekarang bisa Sandra rasakan bagaimana Daven memeluk tubuhnya semakin erat. Sandra bukan gadis kecil yang polos, Sandra tau dengan pasti apa yang kemungkinan besar Daven inginkan darinya.
"Boleh nggak kalau malam ini aku minta hak aku dari kamu?" Bisik Daven ditelinga Sandra.
Degg... degg... degg...
Jantung Sandra berdetak dengan sangat cepat. Sandra tidak menyangka kalau apa yang dia duga memang benar adanya. Daven... Daven menginginkan dirinya.
"San..." Lagi-lagi terdengar suara lembut Daven memanggil dirinya.
Dengan perlahan Sandra membalikkan tubuhnya hingga saat ini dia dan Daven saling berhadapan. Kini mata Sandra bertatapan dengan mata Daven. Dan... bisa Sandra lihat bagaimana saat ini mata Daven memancarkan sebuah... sesuatu yang sulit untuk Sandra jelaskan. Tapi yang pasti, Daven terlihat sangat menginginkan dirinya.
Tanpa sadar salah satu tangan Sandra terangkat untuk mengusap dengan lembut wajah Daven. Mendapat sentuhan itu, Daven memejamkan mata untuk menikmatinya. Sudah sangat lama Daven tidak merasakan gairah sebesar ini. Dan sekarang, ingin rasanya Daven segera menuntaskannya.
Meski rasanya sudah tidak sabar, Daven tidak akan melakukan hal itu jika Sandra belum mengizinkan. Daven ingin, dia melakukannya jika Sandra pun juga menginginkannya.
"Aku mengizinkan Bang Cio untuk mengambil hak, Abang." Ujar Sandra dengan senyum tipisnya.
Saat ini Sandra sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Yang Sandra pikirkan hanya Daven yang saat ini menginginkan dirinya.
Apa Sandra bahagia? Iya, Sandra sangat bahagia. Ini adalah momen dimana Sandra sudah menunggunya sejak sahnya dia dan Daven menjadi sepasang suami istri. Dan setelah hampir satu tahun lamanya, akhirnya Daven memintanya. Tentu saja Sandra akan dengan senang hati memberikan hak Daven.
Tidak menunggu lama...
Untuk pertama kalinya sepanjang pernikahan mereka, dimalam yang kemungkinan besar akan menjadi malam pertama mereka, Daven mencium bibir Sandra.
Beberapa menit hingga akhirnya Sandra mulai kehabisan nafas, barulah Daven melepaskan ciumannya.
Daven dengan lembut mengusap bibir Sandra yang basah dan juga terlihat mulai bengkak karena ulah dirinya. Sebuah senyum bahkan tersungging dibibir Daven.
"Ini ciuman pertama aku." Ujar Sandra kepada Daven.
Terkejut? Tentu saja Daven terkejut dengan pernyataan Sandra itu. Daven sama sekali tidak menyangka kalau dirinya merupakan laki-laki yang menjadi first kiss seorang Alvira Aleesandra Putri Santoso. Dan ini membuat ego Daven sebagai seorang laki-laki langsung saja melambung dengan sangat tinggi. Ada sebuah perasaan bangga saat Daven sadar kalau dialah laki-laki pertama yang akan mendapatkan segalanya dari seorang Sandra.
"Sebelumnya kamu nggak pernah pacaran, San?" Tanya Daven dengan senyum tipisnya.
Tangan Daven mengusap dengan lembut rambut Sandra. Daven pikir, kalau Sandra tidak pernah melakukan sebuah ciuman, itu berarti Sandra tidak pernah berpacaran. Karena yang Daven tau dan juga yang dia alami, ciuman dalam sebuah hubungan yang namanya pacaran adalah sebuah hal yang lumrah. Dulu, saat Daven berpacaran dengan Larisa, mereka juga sudah melakukan yang namanya ciuman disaat mereka belum menikah. Bahkan saat Daven dan Larisa masih duduk di bangku SMA, mereka sudah mulai berciuman.
Dengan malu-malu Sandra menggelengkan kepalanya.
"Enggak pernah." Jawab Sandra lirih.
"Kenapa?" Tanya Daven.
Daven pikir jawabannya adalah karena Ayah Radit, Kendra, ataupun Rendra melarang Sandra berpacaran. Daven tentu sangat mengetahui bagaimana posesifnya ke tiga laki-laki di keluarga Santoso itu kepada Sandra. Jadi bukan hal tidak mungkin kalau mereka melarang Sandra untuk memiliki pacar. Tapi jawaban Sandra adalah...
"Karena sejak kecil, aku sudah jatuh cinta sama Bang Cio. Setiap aku mencoba untuk memiliki hubungan dengan laki-laki lain, aku nggak bisa. Aku selalu membandingkan mereka dengan Bang Cio. Bahkan, disaat Bang Cio sudah menikah sama Kak Larisa pun, aku masih tetap mencintai Bang Cio. Dan sampai sekarang, rasa cinta ini masih milik Bang Cio." Jawab Sandra jujur.
Sandra pikir, sudah tidak ada lagi yang perlu dia tutup-tutupi dari Daven. Karena sebentar lagi Sandra akan sepenuhnya menjadi milik Daven. Sandra tidak peduli apa yang akan Daven pikirkan mengenai dirinya. Yang pasti Sandra sama sekali tidak menyesal setelah memberitahu Daven mengenai semua rahasia yang selama ini dia simpan.
Daven sendiri langsung saja terpaku ditempatnya. Daven sama sekali tidak menyangka jika alasan Sandra tidak pernah berpacaran adalah dirinya. Daven sama sekali tidak tau kalau Sandra sejak kecil mencintai dirinya. Karena... Karena memang sejak dulu Daven selalu menganggap Sandra sebagai seorang adik.
Lamunan Daven seketika buyar saat Sandra mengusap dengan lembut wajahnya.
"Jangan dipikirkan Bang. Bang Cio bilang tadi mau ambil hak Abang kan?" Tanya Sandra dengan lembut. "Sekarang aku udah siap." Tambah Sandra.
Daven pikir setelah mengetahui fakta itu gairahnya kepada Sandra sudah padam karena rasa bersalah yang tiba-tiba saja menyusup didalam hatinya. Tapi nyatanya tidak, gairah yang Daven rasakan justru semakin tinggi. Daven ingin malam ini juga Sandra menjadi miliknya.
Tanpa menunggu lama, dengan perlahan namun pasti, Daven kembali mencium Sandra dan tangannya dengan lincah mencoba untuk melepaskan dress yang Sandra pakai.
Sandra? Sandra yang tidak tau apa-apa mengenai hal seperti ini tentu saja hanya bisa pasrah dengan apa yang Daven lakukan kepada dirinya. Sandra membiarkan Daven melakukan apapun yang laki-laki itu inginkan.
"Pelan-pelan, aku takut." Bisik Sandra saat Daven sudah dalam tahap yang paling inti.
Daven tersenyum lembut kemudian memberikan Sandra banyak ciuman pada wajah hingga tubuh bagian atasnya. Sebisa mungkin Daven akan membuat Sandra kembali rileks.
Hingga saat Sandra sudah mulai terbuai, Daven berhasil mengambil sesuatu milik Sandra yang paling berharga yang selama 24 tahun ini gadis itu jaga.
Sebuah air mata menetes dari mata Sandra. Saat ini perasaan Sandra benar-benar terasa campur aduk. Tapi yang pasti Sandra merasa sangat bahagia.
"Maaf kalau aku menyakiti kamu, tapi... terima kasih Sandra." Daven dengan lembut mengusap air mata yang mengalir dipipi Sandra.
Dengan lembut, sekali lagi Daven memberikan banyak kecupan pada wajah dan juga tubuh Sandra.
Dan akhirnya malam ini Sandra dan Daven benar-benar menyatu sebagaimana pasangan suami istri lainnya.
.
.
.
Akhirnya setelah penantian panjang ya kanπ
Kurang apa nih? Pasti bakal pada jawab kurang panjang sama kurang 'ehem' π€£π€£
Seperti biasa, aku nggak bisa kalau harus nulis adegan itu π€£
Jangan lupa kritik dan sarannya π
Terima Kasih π₯°π