
Setelah malam dimana Daven dan Sandra melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan dimalam setelah pernikahan, kini hubungan mereka jauh lebih baik dari sebelumnya.
Meski masih beberapa kali tidur dikamar Aileen, tapi sekarang Sandra jadi lebih sering tidur dikamar Daven. Dan... Tentu kalian sudah tau apa yang Sandra dan Daven lakukan jika hanya berdua saja di kamar bukan?
Hanya saja prinsip Daven tetap sama, dia tidak ingin Sandra hamil. Dan jadilah, selama ini Sandra menggunakan alat kontrasepsi guna mencegah agar dirinya tidak sampai hamil.
Setelah seminggu lamanya berkutat dengan pekerjaan, akhirnya tiba juga weekend dimana Sandra dan Daven bisa melepas penat dari aktivitas yang menguras waktu, tenaga dan juga pikirin mereka. Ya walaupun untuk Daven tidak benar-benar 100% bisa bersantai tanpa adanya pekerjaan yang harus dia selesaikan. Karena meskipun weekend dan libur, ada saja pekerjaan yang menuntut Daven untuk menyelesaikannya.
Seperti saat ini, di jam yang masih menunjukkan pukul setengah 9 pagi, Daven sudah memulai rapat *daringnya* dengan beberapa koleganya.
"Setiap weekend Daven masih tetap kerja, San?" Tanya Mama Laras kepada Sandra.
Benar, weekend kali ini adalah jadwal Daven, Sandra dan Aileen menginap di rumah keluarga Persada.
"Bang Daven kan orangnya gila kerja, iya nggak San?" Ujar Della menyahuti.
Sandra tersenyum tipis.
"Enggak juga kok Ma, Mbak, kadang-kadang aja begini. Emang lagi banyak kerjaan aja makanya weekend juga masih ada meeting" Jawab Sandra.
"Tapi kalau Mama inget-inget dulu Daddy-nya nggak sesibuk Daven deh." Ujar Mama Laras. "Kamu jangan lindungi Daven terus, San. Mama tau gimana Daven. Dari dulu yang dipikirin cuma kerja-kerja dan kerja. Kalau saran Mama nih ya, kalau weekend kaya gini Daven tetap sibuk sama kerjaan, umpetin aja laptopnya." Tambah Mama Laras.
Sandra dan Della tertawa mendengar ucapan Mama Laras. Sepertinya Mama Laras benar-benar kesal karena disaat weekend seperti ini Daven masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Padahal saat ini Davian dan Daddy Dani saja sedang asik bermain PS di ruang keluarga bersama dengan Aileen yang tidak ingin kalah untuk ikut main juga. Walaupun sebenarnya stik yang Aileen mainkan sebenarnya tidak tersambung ke PS. Tapi tidak apa-apa, karena Aileen belum paham, jadi balita itu terlihat senang-senang saja diantara Opa dan Uncle-nya.
"Sandra enggak berani lah Ma, nanti kalau kerjaan itu penting banget gimana? Enggak ah, Sandra takut." Jawab Sandra.
"Kamu cari tau dulu San, itu penting banget atau enggak. Kalau nggak terlalu penting, kamu bisa ikutin saran Mama." Ujar Della.
"Iya San, kalau sesekali nggak papa kok. Mama juga dulu pernah gitu ke Daddy." Tambah Mama Laras.
Sandra tersenyum tipis.
"*Mama berani ngelakuin itu karena buat Daddy, Mama yang paling penting diantara yang lainnya. Jelas Daddy nggak akan marah kalau Mama ngelakuin itu. Lah kalau aku? Aku aja nggak tau gimana perasaan Bang Daven ke aku. Walaupun Bang Daven udah pernah bilang kalau dia bakal berusaha buat mencintai aku, tapi sampai sekarang Bang Daven nggak pernah bilang secara langsung gimana perasaan dia ke aku sekarang*." Ucap Sandra dalam hati.
Setelah tadi Daven sempat keluar dari ruangan kerjanya selama kurang lebih 1 jam, kini Daven sudah kembali masuk ke ruang kerjanya lagi. Bahkan sekarang sudah lewat jam makan siang, tapi sampai sekarang Daven tidak kunjung keluar. Padahal Mama Laras sudah beberapa kali meminta Daven untuk berhenti bekerja dan keluar, tapi perintah Mama Laras itu tidak diindahkan oleh laki-laki itu. Daven terus saja mengatakan sebentar setiap Mama Laras menyuruhnya untuk turun.
"Biarin aja lah Ma, Daven emang gila kerja orangnya. Kalau laper juga bakal keluar sendiri." Ujar Davian menanggapi dengan santai.
Sementara Daddy Dani sejak tadi tidak berkomentar apapun. Lagi pula apa yang mau dikomentari? Saat Daddy Dani seusia Daven, beliau juga tidak berbeda jauh dengan putra sulungnya itu, sangat cinta dengan pekerjaannya. Hanya, bedanya saat itu Daddy Dani masih lajang, dia masih tinggal di Canberra dan berprofesi sebagai seorang Photografer.
Sandra sendiri diam-diam naik ke lantai 2 menuju ruang kerja Daven yang sebenarnya ada didalam kamarnya.
Dengan perlahan Sandra membuka pintu kamar Daven. Terlihat saat ini Daven benar-benar fokus mengetik sesuatu di keyboard laptopnya. Sandra pikir ini waktu yang tepat untuk Sandra berbicara dengan Daven karena saat ini suaminya itu sudah selesai meeting.
Sandra melangkahkan kakinya dan berjalan menuju Daven.
"Bang Cio belum selesai kerjanya?" Tanya Sandra yang membuat Daven langsung menoleh kearahnya.
"Belum, San." Jawab Daven yang kemudian melanjutkan jarinya mengetik pada keyboard.
"Masih banyak, nggak?" Tanya Sandra lagi.
"Lumayan. Kenapa emangnya?" Jawab Daven tanpa menoleh kearah Sandra.
"Enggak papa sih, tapi ini udah lewat jam makan siang. Abang belum makan loh. Tadi cuma minum kopi sama sarapan nggak banyak." Ujar Sandra.
Daven Sendiri memilih untuk tetap diam. Karena dia sendiri tidak tau harus menjawab apa.
"Abang udah laper belum?" Tanya Sandra saat melihat Daven hanya diam saja.
"Belum." Jawab Daven singkat.
Sandra tersenyum tipis.
"Belum? Bohong banget. Aku ambilin makan aja ya? Abang nggak boleh kelamaan telat makannya. Nanti bisa-bisa kena magh loh." Ujar Sandra.
Karena lagi-lagi Sandra tidak mendapatkan respon dari Daven. Sandra memutuskan untuk keluar dari kamar.
Daven pikir Sandra keluar karena istrinya itu sudah lelah membujuknya untuk keluar kamar. Tapi ternyata dugaan Daven salah. Karena ternyata Sandra datang lagi ke kamar dengan sebuah nampan berisi sepiring makanan dan segelas air putih.
"Buat apa?" Tanya Daven kepada Sandra.
"Ya buat makan Abang, lah. Karena Abang nggak bisa keluar buat makan siang, jadi aku bawain aja makan siangnya." Jawab Sandra santai.
"Nggak perlu, San. Sebentar lagi aku juga turun." Ujar Daven mengelak.
"Sebentarnya itu berapa lama? berapa menit atau berapa jam lagi?" Tanya Sandra.
Dan lagi-lagi Daven tidak bisa menjawabnya. Karena Daven sendiri tidak tau berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaannya ini dan kemudian keluar untuk makan siang.
"Ya udah, Bang Cio kerja aja nggak papa. Aku yang suapin Abang. Jadi Bang Cio bisa tetap kerja dan perutnya juga nggak kosong." Ujar Sandra memberikan solusi.
Sekali lagi, untuk seorang Daven, Sandra memang selalu bisa mengertikan. Sandra tidak pernah mempermasalahkan apapun yang Daven lakukan. Meskipun Daven selalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang memiliki waktu untuknya, Sandra selalu bisa mengerti. Karena yang terpenting untuk Sandra, dalam satu hari Daven harus meluangkan waktu untuk Aileen. Dan tadi, Daven memang sudah memberikan sedikit waktunya untuk menemani Aileen.