
Hari perkiraan lahiran Aleera sudah tiba, dan anak ke 4 yang menjadi putra kedua dari Kendra juga Aleera akhirnya lahir tepat jam 3 sore. Sandra yang memang sudah menemani Aleera sejak pagi merasa sangat bersyukur karena Aleera melahirkan dengan lancar. Dan Alhamdulillah baik Aleera maupun baby dalam keadaan sehat.
Setelah satu persatu anggota keluarga masuk ke ruang bayi untuk melihat baby boy, kini tiba giliran Sandra dan Daven.
Bayi laki-laki yang namanya masih dirahasiakan ini terlihat sangat lucu dan juga tampan. Wajahnya terlihat sangat mirip dengan Aidan saat bayi.
“Heyy kesayangan Onty San…” Sandra tersenyum hangat saat melihat ponakan barunya. "Selamat datang sayang... Jadi anak sholeh dan pintar ya." Ujar Sandra berbicara dengan sang bayi.
Dalam hati...
"Aku juga pengen suatu saat nanti bisa melahirkan seorang anak." Ujar Sandra.
Sandra selalu dibuat takjub setiap melihat bayi yang baru lahir. Sementara Daven, laki-laki itu menatap bayi yang saat ini tengah tertidur itu dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. Daven juga tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada yang bisa menebak apa yang ada dipikiran Daven saat ini.
"Lucu banget kan, Bang?" Ujar Sandra kepada Daven.
Sandra tau dengan jelas kalau Daven terlihat tidak nyaman sejak mendengar kabar kalau Aleera akan segera melahirkan. Sandra sendiri tidak tau alasannya apa. Mungkinkah Daven ada masalah dengan pekerjaannya? Kalau ada memangnya masalah apa? Sandra yang saat ini masih menjadi sekretaris Daven saja tidak tau sebenarnya kalau memang ada masalah.
Daven hanya menganggukkan kepalanya. Sejak tadi tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir Daven.
Mendapatkan respon yang datar-datar saja dari Daven, Sandra memilih untuk tidak mengatakan apa-apa lagi.
Seperti kejadian beberapa bulan yang lalu dimana Daven langsung masuk ke kamar setelah memenuhi ngidam Aleera untuk mencium pipi Sandra. Kini Daven kembali melakukan hal yang sama.
Setelah pulang dari rumah sakit untuk menjenguk bayi Kendra dan Aleera, Daven langsung masuk ke kamar.
"Aku capek, aku langsung ke kamar ya." Ujar Daven kepada Sandra.
Bahkan tanpa menunggu jawaban Sandra, Daven langsung meninggalkan Sandra begitu saja.
"Sepertinya Bang Cio emang lagi ada masalah." Ujar Sandra dalam hati.
Tidak ingin mengganggu Daven, Sandra memutuskan untuk masuk ke kamar Aileen. Sandra akan membersihkan diri disana. Lagi pula di lemari Aileen memang ada beberapa pasang baju rumah milik Sandra.
Lalu, kemana Aileen sekarang? Aileen sedang ada di rumah keluarga Persada. Karena tadi Sandra dan Daven sengaja tidak mengajak Aileen ke rumah sakit. Karena keadaan di rumah sakit tadi tidak memungkinkan untuk mereka membawa Aileen serta. Lagi pula Aidan dan Ariel juga tidak dibawa ke rumah sakit. Mereka tetap berada di rumah bersama susternya. Dan mungkin besok atau lusa baru Sandra akan mengajak Aileen untuk bertemu dengan adik sepupunya yang baru itu.
Karena sejak tadi Daven tidak kunjung keluar, Sandra memutuskan untuk masuk ke kamar untuk melihat apa yang sedang Daven lakukan.
Begitu Sandra masuk, ternyata kamar terlihat kosong. Hanya saja pintu balkon terlihat sedikit terbuka. Sandra menduga kalau Daven pasti ada disana.
Dan ternyata tebakan Sandra benar, Daven terlihat sedang duduk di sofa balkon. Hanya saja ada yang membuat Sandra sangat terkejut. Yaitu tumpukan putung rokok didalam asbak. Bahkan antara jari telunjuk dan jari tengah Daven juga masih mengapit sebatang rokok masih setengah yang terlihat menyala. Jujur ini adalah kali pertama Sandra melihat Daven merokok seperti ini. Apalagi jika dilihat dari putung rokok yang ada, sepertinya sudah lebih dari 10 batang Daven habiskan. Dan itu dalam kurun waktu 2 jam.
"Bang Cio..." Sandra memanggil Daven dengan suara tercicit.
Daven yang mendengar suara Sandra seketika langsung menoleh. Terlihat kalau sebenarnya Daven sedikit terkejut dengan keberadaan Sandra. Hanya saja secepat mungkin Daven merubah ekspresinya menjadi biasa saja.
"Udah jam 7, bukannya kita mau jemput Aileen?" Tanya Sandra kepada Daven.
Tanpa di duga, Sandra juga tidak bertanya apa-apa mengenai alasan kenapa Daven merokok.
"Iya, aku siap-siap dulu." Ujar Daven sembari mematikan rokoknya.
Sandra menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu aku tunggu Bang Cio dibawah." Jawab Sandra.
Setelah mengatakan itu Sandra langsung masuk dan keluar dari kamar meninggalkan Daven yang masih terdiam di balkon.
"Kenapa kamu memilih diam dan tidak bertanya Sandra? Aku tau kamu kecewa dengan apa yang kamu lihat ini kan?" Ujar Daven bergumam dengan tatapan kosong.
Sungguh awalnya Daven hanya mau merokok 1 batang saja untuk melepaskan stress-nya. Tapi yang terjadi, Daven justru seperti kalap. Karena memang sudah berbulan-bulan lamanya Daven tidak pernah merokok lagi. Dan baru kali ini Daven merasa butuh rokok lagi.
Sementara itu, saat ini Sandra terduduk di ruang keluarga sembari menatap layar hitam televisi dengan tatapan kosong. Sebenarnya Sandra bukan mempermasalahkan kenapa Daven merokok. Karena bagi Sandra itu bukan masalah yang terlalu penting untuk dibesar-besarkan.
Yang Sandra permasalahkan adalah kenapa Daven tidak bercerita kepadanya jika sedang ada masalah. Sandra sangat paham kalau alasan Daven merokok pasti karena suaminya itu sedang ada masalah.
Sandra pikir sekarang ini Daven sudah benar-benar menganggap dirinya sebagai seorang istri. Tapi kenapa Sandra merasa Daven masih menganggap dirinya asing?
Sebagai seorang istri, bukankah Sandra sangat bisa untuk dijadikan tempat bercerita dan juga bersandar? Tapi kenapa Daven tidak pernah melakukan hal itu? Sandra jadi merasa kalau dia bukanlah istri yang berguna untuk Daven.
Kurang lebih 20 menit menunggu, akhirnya Sandra mendengar suara derap langkah kaki dari tangga. Sandra yakin kalau itu adalah Daven.
Dengan segera Sandra mengubah ekspresi wajahnya menjadi biasa seolah tadi tidak terjadi apa-apa.
"Udah siap, Bang?" Tanya Sandra kepada Daven begitu laki-laki itu berdiri dihadapannya.
Daven menganggukkan kepalanya.
"Ya udah ayo, Aileen pasti udah nunggu kita lama." Ujar Sandra.
Sandra dan Daven berjalan bersisian menuju mobil. Daven membukakan pintu untuk Sandra, hal yang akhir-akhir ini selalu Daven lakukan kepada Sandra.
Dan sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Persada. Sama sekali tidak ada pembicaraan diantara Daven dan Sandra. Kalau Daven sibuk dengan kemudinya, Sandra sibuk menikmati jalanan yang terlihat masih ramai sembari sesekali memainkan ponselnya.
Sampai akhirnya...
"Bang, mampir bentar beli martabak yuk. Mau nggak?" Tanya Sandra kepada Daven.
"Kamu mau martabak?"
Sandra menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, kita beli mampir beli martabak." Jawab Daven.