Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Cemburu sama Dokter


"Ya udah, sekarang Bang Cio tidur lagi aja. Ini masih malem soalnya. Aku juga udah ngantuk." Ujar Sandra kepada Daven.


Mendengar ucapan Sandra, Daven segera melepaskan pelukan tangannya dari pinggang Sandra.


Daven beranjak dari sofa.


"Loh kenapa bangun? Aku kan minta Bang Cio buat tidur." Ujar Sandra lagi.


"Aku anter kamu dulu." Jawab Daven.


Daven menggandeng tangan Sandra dan membantu wanita itu untuk naik keatas ranjang. Padahal jarak sofa dengan ranjang yang Aileen tiduri tidak sampai 5 langkah.


Sandra sendiri hanya bisa mengulum senyum. Meskipun sebenarnya Sandra merasa sedikit aneh dengan perlakuan Daven kepada dirinya yang tidak biasa ini.


"Tidur yang nyenyak, San." Ujar Daven kepada Sandra. Daven bahkan memberikan sebuah kecupan di dahi Sandra.


Sandra menganggukkan kepalanya.


"Iya, Bang Cio juga tidur ya." Jawab Sandra.


Setelah mengatakan itu, Sandra langsung memejamkan mata. Sementara Daven langsung kembali ke sofa. Rasa kantuknya saat ini sudah benar-benar hilang. Daven sendiri tidak tau apakah dia bisa tidur lagi atau tidak. Tapi yang jelas, sebelum matanya terpejam terbawa oleh kantuk, Daven akan memanfaatkan matanya ini untuk menatap Sandra sepuasnya.


Sebenarnya saat ini Daven sangat ingin sekali ikut naik keatas ranjang dan memeluk tubuh Sandra. Daven ingin merasakan lagi tidur bersama Aileen dan Sandra. Mungkin dulu Daven akan menganggap hal seperti itu adalah hal yang biasa dan sama sekali tidak istimewa. Tapi... Tidak, sekarang itu menjadi hal yang istimewa untuk Daven. Dan Daven berharap setelah ini dia bisa merasakannya lagi.




Sandra terbangun dari tidurnya saat merasakan wajahnya sedang diciumi oleh seseorang. Hal ini membuat Sandra mau tidak mau membuka matanya. Dan... Begitu mata Sandra terbuka, dia mendapati Aileen yang sedang menciumi wajahnya. Kebiasaan yang seringkali Aileen lakukan untuk membangunkan Sandra dari tidurnya. Bukankah Aileen sangat so sweet?



Sandra yang melihat itu tersenyum.


"Haii.. Anak Bunda udah bangun duluan nih." Ujar Sandra kepada Aileen.



Aileen yang melihat mata Sandra sudah terbuka menghentikan kecupannya. Gadis cilik itu tersenyum. Kemudian tanpa aba-aba langsung menindih Sandra dan memeluknya.



Hal ini membuat seseorang yang sejak tadi tersenyum melihat pemandangan itu langsung panik bukan main. Dengan segera laki-laki itu beranjak dari sofa dan mengalihkan Aileen dari atas Sandra.



"Aileen... Jangan tindih Bunda. Nanti adek didalam perut kesempitan." Ujar Daven kepada Aileen.



"Iiihh... Ilin mau peluk Bunda, Daddy..." Ujar Aileen seraya memanyunkan bibirnya.



"Iya... Tapi perut Bunda jangan ditindih. Aileen kan tau kalau didalam perut Bunda ada adek." Jawab Daven dengan lembut.



Sementara itu, Sandra hanya tersenyum. Hatinya semakin terasa hangat saat Daven menghawatirkan bayi didalam kandungnya. Mungkinkah ini pertanda kalau Daven sudah mulai menerima kehadiran bayi mereka yang ada di perut Sandra?



"Ya ampun, Ilin lupa..." Ujar Aileen seraya menepuk dahinya.



Aileen saat ini benar-benar terlihat sangat menggemaskan.



"Lain kali nggak boleh tindih perut Bunda lagi ya?" Ujar Daven mengingatkan Aileen.



Aileen dengan semangat menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Daven.



Dan kini tatapan Daven beralih kepada Sandra.


"Perutnya nggak sakit kan? Apa kita cek ke dokter aja, mumpung sekalian kita ada disini. Kayanya tadi Aileen tindihnya keras begitu. Apalagi sekarang badan Aileen udah semakin berat." Ujar Daven kepada Sandra.



Sandra tersenyum.


"Enggak papa, perutnya nggak sakit kok, Bang." Jawab Sandra.



Sandra mencoba untuk bangun dari posisi berbaringnya, melihat itu dengan sigap Daven langsung membantu Sandra.


"Terima kasih." Ujar Sandra kepada Daven.



Daven hanya menganggukkan kepalanya



"Abang bis tolong buatin Aileen susu? Aku mau ke kamar mandi dulu soalnya." Ujar Sandra kepada Daven.



Lagi-lagi Daven menganggukkan kepalanya.



Setelah Sandra masuk ke kamar mandi, Daven langsung melakukan apa yang tadi Sandra perintahkan.



Tapi...



"Ini berapa sendok ya?" Ujar Daven bingung.




Aileen yang melihat itu seolah tau kalau Daddy-nya sedang mengalami kesulitan.


"Susunya segini, Daddy..." Ujar Aileen.



Aileen memperlihatkan 3 jarinya kepada Daven. Melihat hal itu Daven tersenyum.


"Tiga sendok?" Tanya Daven kepada Aileen.



Aileen menganggukkan kepalanya.


"He.em..." Jawab Aileen.



Aileen kembali membaringkan tubuhnya, gadis kecil itu sudah bersiap untuk menikmati susu yang sedang Daven buatkan.



Setelah memastikan susu Aileen tidak terlalu panas, barulah Daven memberikannya kepada Aileen. Dan tidak lama kemudian Sandra keluar dari kamar mandi.



"Udah selesai bikin susunya? Bisakan?" Tanya Sandra kepada Daven.



Daven menganggukkan kepalanya.


"Udah... Takarannya 3 sendok kan?" Ujar Daven balik bertanya.



Sandra menganggukkan kepalanya.


"Iya benar, takarannya 3 sendok." Jawab Sandra seraya tersenyum.



"Tadi Ilin yang kasih tau Daddy, Bunda." Ujar Aileen kepada Sandra.



Membuat Daven yang tadinya mau menyombongkan diri kepada Sandra jadi mengurumgk niatnya.


"Iya, tadi aku lupa berapa takarannya, jadi Aileen kasih tau aku." Ujar Daven.



"Iya nggak papa, yang penting Abang berhasil bikinin susu buat Aileen." Jawab Sandra.



Setelah menghabiskan susunya, tidak lama kemudian seorang dokter masuk ke ruangan Aileen untuk mengecek kondisi gadis kecil itu.



"Bagaimana, Bu? Apa semalam Aileen masih rewel?" Tanya Dokter Rian kepada Sandra.



Dokter muda yang sejak kemarin menangani Aileen.



"Enggak dok, semalem Aileen nggak rewel. Dia juga tidur nyenyak sampai pagi." Jawab Sandra.



Dan interaksi itu tentu saja tidak luput dari perhatian Daven. Dan sekarang entah karena apa, Daven merasa kesal melihat interaksi itu. Padahal interaksi Sandra dan Dokter Rian hanyalah interaksi biasa yang dilakukan oleh dokter kepada wali pasiennya. Tapi masalahnya mata Dokter Rian terlihat memancarkan sebuah ketertarikan kepada Sandra. Sebagai sesama laki-laki, Daven tentu saja sangat mengetahuinya. Lagi pula kenapa Dokter Rian tidak bertanya mengenai kondisi Aileen ke dirinya saja? Kenapa harus ke Sandra? Padahal posisi Dokter Rian lebih dekat dengan Daven.



"Baiklah, dikare suhu badan Aileen sudah normal dan sekarang juga sudah mulai aktif lagi, nanti setelah infus habis sudah boleh pulang kok. Tapi tolong pola makan Aileen di perhatikan ya, Bu. Pastikan juga kalau Aileen istirahat dengan cukup." Ujar Dokter Rian.



Sandra menganggukkan kepalanya.


"Baik Dok, terima kasih banyak." Jawab Sandra.



"Kalau begitu saya permisi dulu. Mari Bu, Pak." Ujar Dokter Rian dengan ramah.



"Mari, Dok." Jawab Sandra tidak kalah ramah.



Setelah Dokter Rian keluar, tiba-tiba...



"Itu si dokter suka sama kamu." Ujar Daven.



Mendengar itu, Sandra langsung menatap Daven.


"Ha? Maksudnya?" Tanya Sandra dengan wajah bingung.



"Iya, itu Dokter Rian suka sama kamu. Dan aku nggak suka liat dia." Jawab Daven.