
Sejak jam 3 pagi Daven dan Sandra sudah bangun, hal ini karena hari ini Daven akan keluar kota, tepatnya ke Kota Surabaya. Lalu kenapa pagi sekali mereka bangun? Karena Daven mengambil penerbangan jam 5 pagi. Seperti biasa Sandra tidak akan ikut jika Daven memiliki pekerjaan luar kota. Maka sebagai gantinya, Beni yang akan mendampingi Daven mengurus pekerjaannya itu.
"Udah semua kan? Nggak ada yang ketinggalan, Bang?" Tanya Sandra memastikan.
Selayaknya seorang istri, Sandra tentu saja membantu Daven menyiapkan barang-barang yang akan laki-laki itu bawa.
"Iya, udah semua sepertinya. Nanti kalau ada yang kurang, bisa beli disana." Jawab Daven.
Daven memang tipe laki-laki yang simpel. Yang penting berkas-berkas penting sudah terbawa semua, masalah baju dan lainnya itu bisa dia beli disana.
Sandra menganggukkan kepalanya.
Tidak lama kemudian terdengar suara klakson mobil. Itu berarti Beni sudah ada dibawah.
"Di rumah hati-hati ya, kalau ada apa-apa langsung kabarin aku." Ujar Daven kepada Sandra.
"Iya Bang." Jawab Sandra seraya tersenyum manis. "Eehmm, kalau aku nginep di rumah Bunda boleh nggak?" Tanya Sandra.
Sandra pikir kalau hanya dia dan Aileen saja yang ada di rumah, maka akan sangat sepi. Kalau di rumah di rumah keluarga Santoso kan setidaknya Sandra dan Aileen bisa menemani Bunda Sya dan Ayah Radit agar mereka tidak lagiii kesepian. Selain Sandra dan Kendra yang sudah berpisah rumah karena mereka sudah menikah, Rendra sekarang juga memutuskan untuk tinggal di Apartemen. Alasannya apa? Katanya untuk memudahkan Rendra mengurus pekerjaannya. Karena sejujurnya jarak kantor Rendra dengan rumah keluarga Santoso memang cukup jauh.
"Iya boleh." Jawab Daven.
Kini Sandra mengantarkan Daven sampai depan rumah. Sebelum Daven benar-benar berangkat, terlebih dahulu laki-laki itu meninggalkan kecupan pada dahi dan bibir Sandra. Hal yang sebelumnya tidak pernah Daven lakukan. Padahal biasanya Daven hanya mencium dahi Sandra.
"3 hari lagi aku pulang kok." Ujar Daven kepada Sandra.
Sandra tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku tau Bang." Jawab Sandra. "Abang di Surabaya juga hati-hati. Kerja boleh, tapi jangan sampai lupa waktu. Jangan sampai telat makan juga. Pokoknya aku bakalan pantau Bang Cio dari Mas Beni." Ujar Sandra.
"Kenapa mantau aku dari Beni? Kenapa nggak tanya langsung aja?" Tanya Daven dengan dahi berkerut.
"Ya kalau tanya Bang Cio jarang dibales. Abang kan sibuk terus. Udah gitu Abang suka bohong, kalau ditanya udah makan atau belum jawabnya udah, padahal kenyataannya belum. Jadi mending aku tanya Mas Beni aja, biar jawabannya akurat" Jawab Sandra.
Daven tertawa kecil kemudian mengacak puncak kepala Sandra.
"Ya udah, aku berangkat sekarang. Kasihan Beni sama supir taksinya kalau nunggu terlalu lama." Ujar Daven.
Sandra menganggukkan kepalanya.
Dan sekarang, taksi yang ditumpangi oleh Daven dan juga Beni pergi meninggalkan halaman rumah. Sementara itu Sandra hanya diam berdiri menatap langit yang masih gelap dengan pandangan kosong. Entah apa yang saat ini sedang Sandra pikirkan, tidak ada yang tau. Selama ini Sandra seolah menutup rapat semua apa yang ada dipikirannya agar orang lain tidak bisa mengetahuinya. Tapi berbeda dengan saat ini kesedihan, kebimbangan dan rasa lelah terpancar jelas dimata seorang Sandra.
Merasa hawa dingin mulai menusuk kulitnya yang hanya terbalut piyama, Sandra memutuskan untuk masuk kedalam rumah.
Meskipun saat ini Daven sedang ada di luar kota, bukan berarti Sandra bisa libur. Sandra tetap bekerja karena dia masih harus menghandle beberapa pekerjaan yang Daven tinggalkan.
"Sus nanti pulang sekolah langsung ke rumah Bunda aja ya, nanti kita nginep disana 3 hari. Jadi kalau sekiranya ada barang atau mainan Aileen yang perlu dibawa, dibawa aja ya." Ujar Sandra kepada Suster Ati.
"Baik, Bu." Jawab Suster Ati.
Kini perhatian Sandra beralih kepada Aileen yang sedang memakan sarapannya. Terlihat sekarang Aileen sudah sangat pintar makan sendiri. Biasanya kalau makan sereal seperti ini maka susunya akan berceceran diatas meja dan juga menetes mengotori bajunya, tapi sekarang... Waoww... Aileen sudah benar-benar pintar. Hal ini membuktikan kalau Aileen memang sudah besar.
"Aileen nanti bobok di rumah Opa Radit sama Oma Sya mau nggak?" Tanya Sandra kepada Aileen.
"Bobok di lumah Opa Ladit? Mau Bunda..." Jawab Aileen senang.
Lihat, tidak hanya sudah pintar makan sendiri. Aileen juga sudah bisa memanggil Sandra dengan sebutan Bunda. Tidak seperti sebelumnya yang hanya bisa memanggil Enda.
"Oke, nanti pulang sekolah Aileen kerumah Opa Oma sama Sus ya. Nanti kalau Bunda udah pulang kerja, Bunda nyusul kesana." Ujar Sandra.
Aileen dengan semangat menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di kantor, Sandra langsung masuk ke ruangannya.
"Huftt..." Sandra menghela nafas.
Akhir-akhir ini Sandra benar-benar merasa sangat gelisah. Sandra gelisah karena sesuatu yang harusnya datang 2 minggu yang lalu sampai saat ini tidak kunjung datang juga.
Memangnya apa yang sedang Sandra tunggu? Kalau kalian menjawab tamu bulanan, maka jawabannya benar. Saat ini Sandra dibuat gelisah dengan tamu bulanannya yang tidak kunjung datang. Dan... entah kenapa Sandra memiliki firasat kalau saat ini disalah rahimnya sedang tumbuh darah dagingnya.
Kenapa Sandra bisa sangat yakin seperti ini? Ya karena selama ini tamu bulanan Sandra selalu datang dengan teratur. Ditambah Sandra ingat kalau beberapa Minggu yang lalu dia pernah melakukan hubungan suami istri dengan Daven. Dan saat itu kondisinya Sandra belum suntik kontrasepsi lagi. Apalagi, saat itu Sandra dalam kondisi masa suburnya.
Sandra menatap perutnya yang terlihat datar. Meskipun Sandra memiliki firasat kalau saat ini anaknya sedang tumbuh, tapi Sandra juga sedikit sanksi. Hal ini karena Sandra sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan seperti mual atau ngidam. Tanda yang Sandra alami hanya berupa tamu bulanannya saja yang tidak kunjung datang.
"Apa kamu memang sudah tumbuh di perut Bunda, nak?" Ujar Sandra berbicara dengan perutnya sendiri. Tangannya dengan lembut mengusap perutnya.
Kalau memang Sandra benar hamil, lalu bagaimana Sandra akan menjelaskan ini semua kepada Daven? Secara selama ini Daven sangat tidak ingin Sandra hamil. Sandra takut kalau... Kalau Daven tau dirinya saat ini sedang hamil, maka suaminya itu akan meminta dirinya untuk menggugurkannya. Tidak, Sandra tidak mau itu sampai terjadi.
Memikirkan itu semua, tanpa sadar air mata Sandra menetes.
"Apapun yang terjadi nanti, kalau kamu memang benar sudah ada disini, Bunda akan mempertahankan kamu, nak." Ujar Sandra.
Untuk mengetahui dirinya benar hamil atau tidak, nanti sepulang dari kantor Sandra akan membeli testpack dan besok pagi akan langsung mengeceknya. Ya, secepatnya Sandra harus segera tau dia benar hamil atau tidak.