Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Daddy boleh ikut main?


Selesai acara resepsi, Sandra dan Aileen naik ke kamar lebih dahulu. Sementara Daven baru naik 30 menit kemudian. Daven pikir malam ini Aileen akan tidur bersama salah satu Opa dan Oma-nya. Karena biasanya memang seperti itu. Tapi ternyata kali ini tidak, karena saat ini Aileen berada di kamar bersama Sandra.


"Aileen kok tumben nggak bobok sama Oma Sya atau Oma Laras?" Tanya Daven kepada Aileen.


Saat ini Aileen tengah berbaring diatas ranjang bersama dengan Sandra. Gadis cilik itu memeluk Sandra seolah wanita itu hanya miliknya seorang.


Aileen menggelengkan kepalanya.


"Enggak, Ilin mau bobok sama Bunda aja." Jawab Daven.


Sandra menoleh kearah Daven. Tidak biasanya Daven bertanya seperti itu.


"Kenapa Bang?" Tanya Sandra kepada Daven.


Daven memberikan senyum tipisnya, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Enggak papa kok, cuma pengen tanya aja." Jawab Daven. "Ini Aileen udah mau bobok kan? Lampunya Daddy matiin ya." Ujar Daven kepada Aileen.


Aileen menganggukkan kepalanya. Gadis cilik itu kembali asik mengajak Sandra bercerita dan mengabaikan Daven. Selalu seperti ini, kalau Aileen sudah mengambil alih Sandra, maka Daven secara tidak langsung akan tersingkirkan.


Daven merebahkan dirinya disamping kanan Sandra, tiba-tiba Aileen yang awalnya berada disamping kiri Sandra beranjak dan pindah ke tengah-tengah antara Daddy dan Bundanya.


"Loh, ini kenapa Aileen jadi pindah ke tengah?" Tanya Daven kepada Aileen.


Sementara Sandra hanya tersenyum tipis.


"Bial Daddy nggak deket-deket Bunda. Soalnya Daddy nakal." Jawab Aileen dengan polosnya.


Entah Aileen sedang kenapa, sejak tadi Aileen memang agak sensitif kepada Daven. Padahal Daven sendiri tidak tau kesalahan apa yang telah dia perbuat sampai Aileen sebegitunya kepada Daven.


"Lohh... Kok gitu sih? Emangnya Daddy nakalin Bunda? Kapan Daddy nakalin Bunda?" Tanya Daven bingung.


Daven benar-benar tidak tau apa yang Aileen maksud dengan nakal kepada Sandra. Seingat Daven dia tidak pernah melakukan apa-apa yang berpotensi membuat Sandra terluka.


"Iya, emang Daddy nakalin Bunda gimana, nak?" Tanya Sandra.


Sandra sendiri juga bingung.


"Kemalin Ilin liat Daddy nakalin Bunda, Daddy gigit bibilnya Bunda. Kan nggak boleh gigit-gigit." Jawab Aileen dengan menggebu.


Daven dan Sandra kompak terdiam, mereka saling bertatapan mendengar jawaban Aileen. Sungguh, Daven dan Sandra tidak menduganya.


Mengenai Aileen yang melihat Daven menggigit Sandra, kini keduanya ingat. Kemarin saat Aileen tidur, Daven dan Sandra memang sempat berciuman. Dan ditengah ciuman mereka, Aileen terbangun. Tapi Aileen tidak mengatakan apa-apa, jadi Sandra dan Daven pikir kalau Aileen tidak melihatnya. Tapi ternyata... sepertinya Sandra dan Daven harus lebih berhati-hati lagi.


"Itu... eehmm..." Sandra tidak tau harus menjawab apa.


Daven memberikan kode kepada Sandra untuk tidak menanggapi ucapan Aileen. Karena kalau sekali saja mereka menjawab, maka Aileen akan memberikan lebih banyak pertanyaan yang justru akan membuat Sandra dan Daven semakin bingung untuk menjawabnya.


"Iya, kemarin Daddy nakal. Tapi Daddy udah minta maaf sama Bunda kok. Daddy juga janji nggak bakal nakalin Bunda lagi." Ujar Daven.


Daven memilih untuk mengakui kesalahannya agar Aileen tidak lagi sensitif kepada dirinya. Karena kalau tidak, bisa-bisa Aileen akan semakin menjauhkan Sandra dari dirinya. Pasalnya Aileen akan menganggap kalau Daven memang nakal.


"Janji, Daddy nggak nakalin Bunda lagi?" Ujar Aileen seraya mengangkat jari kelilingnya.


Daven menganggukkan kepalanya.


"Iya, Daddy janji." Jawab Daven seraya menautkan kelingkingnya pada kelingking mungil Aileen.


Sandra lagi-lagi hanya tersenyum saat melihat itu. Melihat interaksi Daven dengan Aileen memang sangat menggemaskan.


"Udah, sekarang bobok yuk. Udah malem loh." Ujar Sandra kepada Aileen.


Aileen langsung menurut, dia langsung menyusupkan wajahnya di dada Sandra. Sementara tangan mungilnya memeluk pinggang Sandra yang masih tampak ramping.


Meski usia kandungan Sandra sudah memasuki 2 bulan dan dia juga hamil kembar, tapi tubuh Sandra belum mengalami perubahan bentuk yang berarti. Meskipun perutnya saat ini sudah mulai terlihat buncit.


Sementara itu, Daven hanya menatapnya dengan tatapan sedikit iri. Tapi mau bagaimana lagi, Aileen putrinya sendiri. Masa iya Daven tidak mau mengalah.


"Bobok yang nyenyak sayang." Bisik Daven.


Sementara Aileen mulai terlihat nyenyak, Sandra juga mulai ikut tidur. Daven? Dia malah sama sekali tidak bisa tidur. Padahal sebenarnya tubuhnya sudah terasa lelah, tapi entah kenapa Daven tidak bisa tidur.


Ingin rasanya Daven memindahkan Aileen ke samping. Tapi masalahnya ranjang di hotel tidak memiliki safety bed-nya, jadi Daven khawatir kalau dia memindahkan Aileen ke samping nanti putrinya itu akan jatuh.


Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Untuk malam ini, lebih baik Daven mengalah. Hanya karena keegoisannya, Daven tidak ingin membuat Aileen dalam bahaya.




Daven terbangun dari tidurnya saat dia mendengar suara tawa Aileen dan juga Sandra. Dengan segera Daven membuka matanya untuk melihat apa yang sebenarnya sedang Sandra dan Aileen lakukan.



Ternyata, Sandra dan Aileen sedang main salon-salonan. Karena terlihat Aileen sedang menyisir rambut Sandra. Di meja juga ada banyak jepitan-jepitan dan kucir rambut yang Daven tau itu merupakan milik Aileen.



Daven segera mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk untuk melihat dengan jelas apa yang sedang Sandra dan Aileen lakukan.



Melihat pemandangan itu, hati Daven terasa menghangat. Lihat bagaimana Sandra dan Aileen terlihat saling menyayangi satu sama lain. Dan bayangkan apa yang terjadi kalau seandainya Daven saat itu melepask Sandra. Tidak, Daven bahkan tidak berani membayangkannya.



Daven melihat jam di dinding yang masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Tapi 2 orang kesayangan itu sudah asik bermain.



"Ekhem... Kayanya asik banget nih mainnya." Ujar Daven membuka suara.



Sandra dan Aileen seketika menoleh kearah Daven. Sandra tersenyum, begitu juga Aileen.



"Selamat pagi, Daddy." Ujar Sandra kepada Daven.



Tidak mau kalah dengan sang Bunda, Aileen juga ikut mengucapkan selamat pagi kepada Daven.


"Selamat pagi, Daddy." Sambung Aileen.



Seperti dugaan Sandra, Aileen pasti akan menirukannya. Oleh karena itu Sandra sengaja mengganti panggilan Abang, menjadi Daddy.



Daven tersenyum.


"Selamat pagi juga Bunda dan Aileen." Jawab Daven.



Sebelumnya Daven paling tidak bisa kalau harus menghadapi anak kecil. Bahkan disaat dia sudah memiliki Aileen pun Daven masih kaku. Tapi tidak apa-apa, dengan perlahan Daven akan mencoba untuk sedikit menghilangkan kekakuannya.



"Daddy boleh ikut main nggak?" Tanya Daven kepada Aileen.



Daven pikir Aileen akan menganggukkan kepalanya dan memberinya izin untuk ikut bergabung bermain. Tapi ternyata...


"Enggak boleh. Kan lambut Daddy pendek, nggak bisa dikucil kaya lambut Bunda." Jawab Aileen.