Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Twins keluar inkubator


Berhubung twins lahir lebih awal dari bulan yang ditentukan. Dan berhubung berat badan twins juga bisa dikatakan agak kurang, jadi dengan terpaksa twins harus mendapatkan perawatan di inkubator. Tidak apa-apa, itu semua demi kebaikan twins juga. Yang penting menurut dokter anak di rumah sakit ini, twins dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Kata dokter, kalau kondisi twins sudah lebih kuat, mungkin besok sudah bisa keluar dari inkubator.


Di temani Bunda Sya, Daven mengumandangkan adzan di telinga twins yang saat ini ada di dalam inkubator.


“Malam ini kalian bobok disini dulu ya, besok inshaallah bisa bobok bareng Bunda dan Daddy.” Ujar Daven saat berpamitan untuk kembali ke kamar rawat Sandra.


Setelahnya Daven kembali ke kamar Sandra bersama dengan Bunda Sya. Di ruangannya, saat ini Sandra sedang ditemani Ayah Radit.


“Twins mana Bang, enggak dibawa kesini?” Tanya Sandra kepada Daven.


Daven menggelengkan kepalanya.


“Malam ini belum boleh sayang, twins masih harus di rawat di inkubator dulu. Mungkin besok baru boleh dibawa kesini.” Jawab Daven.


Sandra menghela nafas pelan. Padahal dia sangat ingin bersama twins. Tapi karena kondisi belum memungkinkan, ya sudah lah. Lagi pula ini juga sudah malam, sudah hampir jam setengah 12. Sudah waktunya untuk mereka semua istirahat setelah pecah ketuban yang membuat Sandra mendadak harus melahirkan malam ini.



Sekitar jam 7pagi, Sandra sedang sarapan di suapi oleh Daven. Bersamaan dengan itu, Bunda Sya dan Ayah Radit juga sedang pulang ke rumah terlebih dahulu. Pasalnya baik Bunda Sya maupun Ayah Radit tidak membawa baju ganti ke rumah sakit, jadi mereka harus pulang ke rumah terlebih dahulu.



“Habis ini kita lihat twins ya, Bang. Aku kangen banget sama mereka. Semalam aja baru gendong sebentar doang.” Ujar Sandra.



Daven tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.


“Iya, nanti kita kesana.” Jawab Sandra.



Kemudian Sandra kembali fokus dengan makanan yang Daven suapkan. Sampai tiba-tiba Sandra teringat akan Aileen. Benar, bersama siapa putri kecilnya saat ini?



“Aileen sekarang dimana Bang? Aileen ada yang jagain kan?” Tanya Sandra kepada Daven.



Memikirkan Aileen yang dia tinggal sendiri hanya bersama dengan Suster Ati membuat Sandra merasa bersalah. Bukan bermaksud mengabaikan Aileen, tapi karena semalam semua terjadi dengan sangat tiba-tiba, Sandra jadi tidak fokus dengan Aileen. Apalagi dari semalam Bunda Sya dan Ayah Radit ada di rumah sakit juga menemani dirinya.



“Enggak sayang, aku udah minta Davian buat ajak Aileen ke rumah Mama. Nanti siang sepulang sekolah Aileen bakal kesini kok.” Jawab Daven dengan lembut.




Sandra baru selesai sarapan saat tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Dan saat Daven mempersilahkan untuk masuk, tau siapa yang datang? 2 suster yang mambawa twins dalam box bayi masing-masing.


“Selamat pagi ibu Sandra, sekarang waktunya untuk menyusui.” Ujar salah seorang suster.


Sandra dan Daven yang mendengar itu tentu saja langsung tersenyum lebar.


“Loh bukannya twins masih harus di inkubator, Sus?” Tanya Sandra.


Meski Sandra bahagia karena twins diantar kesini, Sandra juga cukup bertanya-tanya kenapa twins sudah boleh keluar dari inkubator.


“Dari awal kondisi twins memang sehat, Bu. Semalam harus masuk inkubator agar twins terhindar dari infeksi bakteri dan suara bising. Serta menjaga agar tubuhnya tetap hangat. Dan sekarang kondisinya sudah sangat baik. Ibu Sandra sudah boleh menyusuinya secara langsung.” Ujar Suster menjelaskan. “Lagi pula dekapan hangat seorang ibu adalah inkubator terbaik untuk baby.” Tambahnya lagi.


Bahagia? Kalau itu tidak perlu ditanyakan lagi. Sandra amat sangat bahagia mendengar kabar kalau twins sudah sangat baik.


Dengan bantuan suster, Sandra memberikan ASI nya secara langsung kepada twins. Daven? Tentu saja laki-laki itu juga ikut turut serta membantu Sandra. Bagaimana pun suport seorang suami sangat diperlukan oleh istri.


Setelah memastikan kalau Sandra sudah bisa menyusui twins secara langsung, para suster berpamitan untuk keluar.



Setelah menyusu, kedua bayi yang terbalu dengan bedong berwarna biru dan putih itu tampak tertidur. Ya namanya bayi baru lahir jadi tidak heran kalau waktunya lebih banyak dihabiskan utuk tidur.



“Enggak nyangka ya Bang, semalam aja aku masih makan nasi pake telur dadar sama Kak Vio. Eehh pagi ini twins udah lahir aja.” Ujar Sandra.



Daven tersenyum.


“Sama, aku juga masih enggak nyangka.” Jawab Daven. “Apalagi waktu liat kamu pecah ketuban dengan tiba-tiba, rasanya jantung aku hampir aja mau copot. Dan waktu kamu di operasi… aku… sulit untuk menjelaskan apa yang aku rasakan semalam. Yang jelas aku sangat takut kehilangan kamu.” Sambung Daven dengan suara sendu.



Sandra menatap lembut wajah Daven, tangannya terangkat untuk mengusap pipi sang suami.


“Yang penting sekarang aku dan twins selamat. Bang Cio jangan lagi mikirin yang enggak-enggak.” Ujar Sandra. “Sekarang Bang Cio percaya kan kalau hidup dan mati seseorang memang sudah memiliki takdirnya masig-masing.”



Daven menganggukkan kepalanya. Ya, sekarang Daven percaya. Tidak semua wanita melahirkan akan berakhir sama dengan Larisa. Dan apa yang terjadi dengan Larisa memang sudah menjadi bagian dari takdirnya. Kalau memang Larisa tidak meninggal saat melahirkan, Tuhan tetap akan mengambil nyawa Larisa dengan cara lain karena itu sudah menjadi takdir Larisa memiliki umur sampai itu saja.