
Sandra mengerjapkan matanya, terpaksa dia harus terbangun dari tidur nyenyaknya. Karena cahaya matahari yang masuk melalui jendela menyorot tepat diwajah Sandra. Begitu matanya sudah terbuka sepenuhnya, bukannya langsung bangun, Sandra justru hanya berdiam diri diatas ranjang tanpa mengubah posisinya. Sudah menjadi kebiasaan kalau setiap bangun tidur Sandra akan bengong setidaknya 5 sampai 10 menit. Sampai akhirnya barulah Sandra sadar akan sesuatu.
“Jam berapa ini?” Ujar Sandra bergumam kepada dirinya sendiri.
“Jam 8.” Jawab seseorang.
Suara itu membuat Sandra dengan cepat langsung beranjak dari posisi berbaringnya menjadi duduk. Sekarang Sandra bisa melihat Daven yang saat ini sedang menyisir rambutnya dan sudah berpakaian rapi.
“Bang Cio udah bangun dari tadi?” Tanya Sandra kepada Daven.
Daven menganggukkan kepalanya.
“Sudah sejak satu setengah jam yang lalu.” Jawab Daven santai.
Daven memang sudah bangun sejak jam masih menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Daven tadi bahkan sudah sempat menikmati secangkir kopi dan 2 batang rokok di balkon.
“Abang kenapa nggak bangunin aku?” Tanya Sandra.
“Nggak papa.” Lagi-lagi Daven menjawabnya dengan kata-kata singkat.
Sandra tidak lagi bertanya. Sandra memilih untuk beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Daven sudah rapi, itu berarti Sandra juga harus segera bersih-bersih. Apalagi yang lain pasti sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama.
Dengan dress bunga-bunga berwarna baby blue, Sandra turun menuju restoran hotel bersama Daven. Sesampainya restoran, terlihat kalau semua anggota keluarga yang lain sudah berkumpul disana.
“Endaa...” Aileen yang duduk di baby chairnya bersebalahan dengan Aidan dan Ariel langsung berteriak dengan semangat memanggil Sandra begitu melihat ibu barunya itu.
Semua menoleh kearah Sandra dan Daven. Seketika hampir semua orang dengan serentak memasang wajah menggoda kearah Sandra dan Daven. Dan Daven juga Sandra tentu saja sangat paham dengan maksud tatapan itu. Secara tadi malam merupakan malam pertama bagi Sandra dan Daven. Pasti isi pikiran orang-orang juga tidak jauh dengan hal *itu*.
Jika Daven memasang wajah biasa saja dan tetap stay cool. Berbeda dengan Sandra yang tentu saja menjadi malu-malu.
Padahal nyatanya semalam sama sekali tidak terjadi apa-apa diantara Sandra dan Daven. Tidak seperti malam pengantin pada umumnya, seperti yang kita tau bahwa Sandra dan Daven malah justru tidur seara terpisah.
“Sayangnya Bunda...” Sandra langsung meraih Aileen kedalam gendongannya setelah tadi bayi berusia 2 tahun itu memberontak di kursinya ingin ikut bersama dengan Sandra.
Saat Aileen berada di gendongan Sandra, Daven mendekat dan tiba-tiba mencium dahi Aileen. Membuat jantung Sandra seketika langsung berdetak dengan kencang karena posisinya saat ini sangat dekat dengan Daven.
“Duduk-duduk, kalian pasti udah laper kan? Ayo sarapan dulu.” Ujar Mama Laras kepada Sandra dan Daven.
Saat ini keluarga Santoso dan keluarga Persada berkumpul semua. Membuat suasana benar-benar ramai. Celotehan Aileen, Aidan, dan Ariel membuat suasana semakin menyenangkan.
Tanpa mengatakan apa-apa, Daven menarik sebuah kursi dan memberikan kode kepada Sandra untuk duduk. Sebuah tindakan yang sebenarnya sangat simple namun sangat berefek untuk Sandra. Sekali lagi Sandra dibuat berdebar oleh Daven. Dan semua itu tentu saja tidak luput dari perhatian yang lain.
Kini Sandra duduk dengan Aileen yang berada di pangkuannya. Balita cantik itu tidak mau kembali duduk di baby chairnya dan memilih untuk tetap bersama dengan Sandra. Daven dan Mama Laras pun sudah mencoba membujuk Aileen untuk kembali duduk di kursinya, tapi tetap saja tidak berhasil. Jadi ya sudah, Sandra sendiri juga tidak masalah. Toh dengan Aileen dipangkuannya tidak membuat Sandra kesulitan memakan sarapannya.
"Jadi, kalian bener-bener nggak mau bulan madu nih?" Ujar Mama Laras yang membuka pembicaraan begitu mereka selesai dengan sarapannya.
"Enggak Ma, aku sama Bang Cio sama-sama sibuk di Kantor. Mungkin nanti kalau kita udah punya waktu luang." Jawab Sandra kalem.
Mengenai bulan madu, pembahasan ini sudah ditanyakan sejak semalam oleh keluarga besar Santoso dan Persada. Dan Sandra juga Daven sudah sepakat untuk tidak melakukan bulan madu dengan alasan kesibukan mereka di kantor. Padahal Daddy Dani sendiri sudah memberikan izin kepada Daven dan juga Sandra untuk mengambil cuti lebih lama. Tapi mereka berdua menolak.
Dan keputusan ini tentu saja sudah Daven dan Sandra bahas sebelum mereka menikah.
***Flashback***
"*Bang, kalau kita menikah nanti, pasti keluarga bakal tanya kita bakalan bulan madu dimana kan? Jadi Abang pengennya kita pergi kemana?" Tanya Sandra*.
*Daven seperti biasa dengan wajah datarnya menatap Sandra*.
"*Kamu mau kita pergi bulan madu?" Tanya Daven kepada Sandra*.
*Sebenarnya nada bicara Daven biasa saja, tapi dengan Daven yang balik bertanya seperti itu, membuat Sandra langsung berkesimpulan kalau Daven pasti tidak ingin pergi bulan madu dengannya. Dalam hati, Sandra menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia lupa kalau pernikahan ini bukanlah pernikahan yang Daven inginkan. Bisa-bisanya Sandra lancang menanyakan perihal bulan madu*.
"*Enggak sih, aku biasa aja. Terus kalau ditanya kenapa kita nggak bulan madu, alasannya apa Bang?" Sandra berusaha untuk terlihat biasa saja saat mendapat pertanyaan itu*.
"*Bilang aja kalau kita sibuk dengan kerjaan Kantor. Mereka pasti bakal ngerti kok. Lagian kalau kita nggak mau pergi, mereka juga nggak bakal bisa maksa kan." Jawab Daven*.
*Mendengar jawaban Daven membuat Sandra semakin yakin kalau apa yang dia pikirkan memang benar. Daven tidak ingin pergi bulan madu*.
"*Oke, kita pakai alasan itu." Jawab Sandra*.
*Padahal jauh didalam lubuk hati Sandra, dia sangat ingi pergi bulan madu bersama Daven. Oke, jangan katakan sebagai bulan madu, anggap saja sebagai liburan Sandra juga tidak masalah. Tapi... Ya sudah, Daven secara tidak langsung sudah menjelaskan bahwa laki-laki itu tidak ingin melakukannya. Jadi Sandra akan menghargainya*.
*Lagi dan lagi Sandra membohongi dirinya sendiri*.
***Flashback off***
Sementara Sandra dan Daven yang merupakan pengantin baru tidak akan melakukan perjalanan bulan madu mereka, Kendra dan Aleera lah yang justru akan melakukan bulan madu ke 2 mereka.
Tidak apa-apa, Sandra sama sekali tidak iri. Sandra justru sangat bahagia karena rumah tangga Abang dan sahabatnya itu sekarang harmonis. Sandra tentu saja sangat tau bagaimana awal-awal perjuangan Kendra dan Aleera dalam mempertahankan rumah tangga mereka.
Sandra justru berdoa, semoga nantinya rumah tangga dirinya dan Daven kelak bisa seperti rumah tangga Kendra dan Aleera, harmonis dan penuh cinta.
Meskipun saat ini Daven belum memiliki perasaan apa-apa kepada dirinya, Sandra akan berusaha sekuat yang dia bisa untuk membuat Daven mencintainya. Sandra yakin kalau suatu saat nanti dia bisa mendapatkan hati Daven.
Sekarang semua Sandra pasrahkan kepada Allah SWT. Kalau memang Daven adalah jodohnya, apapun yang terjadi pasti mereka akan tetap bersama. Dan Sandra sangat berharap kalau Daven memang benar jodohnya.
"Kamu bengong dek?" Sandra tersentak dan terkejut saat mendapatkan tepukan di bahu dari Rendra.
"Ha? Enggak, aku nggak bengong kok Mas." Jawab Sandra seraya tersenyum tipis.
"Enggak apanya, dari tadi Mas panggil-panggil nggak nyaut." Ujar Rendra.
Sandra justru tertawa kecil.
"Emang nggak bengong, cuma ngelamun doang." Jawab Sandra santai.