
Dikarenakan Sandra mengalami pecah ketuban yang begitu tiba-tiba, akhirnya mau tidak mau Sandra melahirkan di rumah sakit dimana Rendra dirawat saat ini. Karena untuk ke rumah sakit tempat Dokter Susan bertugas jaraknya cukup jauh dari sini. Lagi pula baby twins didalam perut harus segera di lahirkan melalui operasi caesar karena sejauh ini Sandra hanya mengalami pecah ketuban tanpa kontraksi. Dan kalau baby twins tidak segera di keluarkan, itu akan sangat berbahaya untuk mereka.
Daven, kedua kalinya dia menemani wanita melahirkan. Di pengalaman pertama dia harus merasakan sebuah trauma karena Larisa tidak bisa selamat saat melahirkan. Dan di pengalaman ke dua ini, Daven berdoa dengan sangat sungguh-sungguh semoga Sandra selamat. Tidak bisa dipungkiri kalau trauma yang Daven miliki masih ada sedikit meskipun dia sudah melakukan berbagai macam pengobatan.
“Tenang saja Dave, Ayah yakin Sandra pasti akan kuat.” Ujar Ayah Radit menepuk pelan bahu Daven.
Ayah Radit tau dengan pasti kalau saat ini Daven sedang takut. Menghilangkan sebuah trauma tentu saja bukan hal yang mudah, dan Ayah Radit bisa melihat kalau masih ada trauma dalam diri Daven. Bunda Sya yang berada disamping Daven juga memberikan tepukan kecil dibahu sebagai sebuah penguat untuknya.
Daven tersenyum tipis, kemudian menganggukkan kepalanya. Setidaknya semangat yang Ayah Radit dan Bunda Sya berikan membuat Daven tidak terlalu pesimis. Kalau Ayah Radit saja yakin Sandra bisa dan kuat, maka Daven juga harus yakin.
Tidak lama setelahnya, seorang suster keluar untuk bertanya apakah Daven mau menemani Sandra di dalam selama proses operasi caesar berlangsung atau tidak.
Dan tentu saja Daven menganggukkan kepalanya. Meskipun ada sedikit rasa takut dan juga khawatir, tapi Daven tidak mungkin membiarkan Sandra berjuang sendirian didalam sana untuk melahirkan anak-anak mereka.
Setelah mengganti bajunya dengan jubah steril, Daven masuk ke ruang operasi. Terlihat Sandra sudah berbaring diatas ranjang. Obat bius juga sepertinya sudah disuntikkan. Daven langsung berdiri disamping Sandra dekat kepala sang istri. Sandra yang menyadari keberadaan Daven membuka matanya, kemudian tersenyum saat tatapannya bertemu pandang dengan Daven.
Sejujurnya Sandra tidak berharap kalau Daven akan masuk ke ruang operasi untuk menemani dirinya. Karena sejak awal Sandra juga tidak pernah meminta hal itu. Sandra tidak ingin membuat Daven tertekan karena harus melihat dirinya dalam kondisi tidak berdaya seperti ini. Ya, Sandra tidak ingin menambah trauma yang Daven alami dengan meminta suaminya itu untuk berada disampingnya selama proses melahirkan. Tapi ternyata Daven mengambil keputusan untuk menemani dirinya, dan itu membuat Sandra merasa sangat-sangat bahagia.
“Haii…” Ujar Sandra menyapa Daven.
Daven tersenyum, kemudian memberikan sebuah kecupan di bibir Sandra.
“Terima kasih karena Bang Cio udah mau disini temenin aku.” Ucap Sandra lirih.
Daven menganggukkan kepalanya, dia tidak bisa berbicara apa-apa untuk menjawab ucapan Sandra. Sejujurnya Sandra tidak perlu berterima kasih, karena biar bagaimana pun ini sudah menjadi tugas Daven untuk menemani Sandra saat melahirkan.
Setelah Dokter masuk dan obat bius Sandra juga sudah bekerja, operasi caesar segera di lakukan. Disaat semua orang tampak santai, hanya Daven sendiri yang tampak tegang. Ya, Daven benar-benar takut saat ini. Hanya saja Daven berusaha untuk tetap terlihat santai.
“Jangan liatin perut aku, liatin aku aja, Bang.” Ujar Sandra kepada Daven.
Benar, yang membuat Daven tegang karena dia melihat proses bagaimana perut Sandra dibedah. Sebenarnya Daven bukan orang yang takut dengan darah, jadi bukan darah yang membuat Daven tegang. Karena yang membuat Daven tegang adalah membayangkan bagaimana sakitnya Sandra karena tubuhnya dibedah seperti ini.
Daven yang mendengar ucapan Sandra seketika menoleh kearah sang istri, kemudian tersenyum menatapnya. Sampai tiba-tiba, entah dimenit keberapa suara tangisan bayi terdengar. Daven refleks langsung menoleh kearah dokter.
“Selamat Pak Daven, Ibu Sandra, bayi pertama laki-laki. Alhamdulillah semuanya sempurna.” Ujar Dokter Surya.
Sebuah senyum haru langsung tersungging dibibir Daven dan Sandra. Tanpa sadar keduanya sudah meneteskan air mata. Daven berlutut disamping Sandra dan memberikan sebuah kecupan di dahi.
“Laki-laki sayang…” Bisik Daven lirih.
Berselang 5 menit kemudian, terdengar suara tangisan bayi lagi.
Owekkk… Owekkk…
“Laki-laki lagi, dan alhamdulillah, sempurna tanpa kurang suatu apapun.” Ujar Dokter Surya.
Ya, sesuai dengan hasil usg dimana jenis kelamin twins adalah laki-laki. Semua bayi juga terlahir laki-laki.
“Terima kasih sayang… terima kasih.” Daven kembali memberikan kecupan di dahi dan juga dibibir Sandra.
Lega? Ya, Daven merasa sangat lega saat ini. Persalinan Sandra berlangsung dengan lancar tanpa kendala apapun meski sebenarnya sangat mendadak. Siapa yang akan menyangka kalau malam ini twins akan lahir? Mengingat usia kandungan Sandra masih 8 bulan dan sejak tadi pun Sandra tidak merasakan kontraksi apa-apa. Tapi tidak apa-apa, Daven sangat bersyukur dengan kelahiran putra-putranya.
Saat Daven keluar dari ruang operasi, terlihat ada Rendra, Viola dan juga Mama Nisa juga disana. Kenapa tidak ada Mama Laras dan Daddy Dani? Itu karena Daven memintanya untuk datang besok saja. Terlebih Daven juga meminta tolong mereka untuk menjagakan Aileen. Lagi pula saat ini sudah jam 9 malam, jam besuk juga sudah habis. Kalau Ayah Radit dan Bunda Sya kan memang sudah sejak tadi disini. Sedangkan Rendra disini karena dia merupakan pasien di rumah sakit ini.
“Gimana Dave?” Tanya Bunda Sya kepada Daven.
Daven tersenyum.
“Semuanya lancar Bun, mereka laki-laki. Sekarang Sandra dan twins sedang dalam perawatan. Sebentar lagi bakal di pindah ke ruang perawatan.” Jawab Daven.
Mendengar itu, semua langsung mengucapkan kata syukur.
Rendra yang duduk di kursi roda tersenyum haru. Rasanya tidak menyangka kalau saat ini Sandra sudah memiliki seorang anak yang dia lahirkan sendiri.
Btw soal perlengkapan Sandra dan twins, Ayah Radit sudah meminta supir untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Jadi semuanya sudah aman.